Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab015. Kesialan Andhika


__ADS_3

-PoV Andhika


Pagi ini aku telah siap dengan kemeja biru donker dan dasi yang melingkar di leherku, aku bercermin melihat penampilanku. Satu kata dalam bantinku 'Keren'.


Ya! Kemeja serta dasi yang ku kena kan ini Rahma yang telah menyiapkannya, ia begitu tau seleraku. Emang istri top sih Rahma ini, makanya aku tidak akan menceraikannya sampai kapanpun.


Meski pengkhianatan yang telah aku berikan dan luka yang juga ku torehkan untuknya, aku tetap akan mempertahankannya menjadi istri pertamaku. Karena apa kalau aku terusir dari sini mau tinggal dimana aku nanti. Begitu fikirku.


Saat aku akan memasukan dompet ke dalam saku belakang celana yang ku kenakan, aku mengecek dompet tersebut, dan saat membukanya betapa terkejutnya aku, isi dompetku hanya di isi si warna ungu. Betapa menyedihkannya, bukan.


Akan tetapi aku berfikir, lebih baik aku minta saja ke Rahma dia kan pasti punya uang dari hasil nulis novelnya itu.


Saat ku cari Rahma di luar kamar ternyata tidak ada, dan saat aku akan menuruni anak tangga, aku melihat Rahma, Dina serta Wina sedang duduk di meja makan. Aku pun urungkan niatku untuk turun, biar ku tunggu saja Rahma kembali ke kamar. Aku pun kembali dan untuk menunggu Rahma, aku duduk di kursi balkon, sekedar menghirup udara pagi yang begitu menyejukan.


Terdengar suara langkah kaki menapaki anak tangga, itu pasti Rahma, siapa lagi kalau bukan dia, di lantai atas hanya di tinggali aku, Rahma serta adik bungsuku Dina. Sedangkan Dina terlihat sedang main di taman samping, entah kenapa itu anak hobby nya bisa sama kaya Rahma, sama sama menyukai hewan berbulu itu, emang lucu sih. Kadang aku juga suka mengelusnya.


Saat aku memasuki kamar terlihat Rahma sedang menggenggam ponselnya. entah apa yang sedang ia lihat, mukanya terlihat begitu senang dan tersenyum manis menambah kecantikan diwajah putihnya.


"Ra, bagi uang dong mas gak ada pegangan buat makan siang nanti." ucapku.


Rahma pun menoleh dan memicingkan matanya.


Ada sedikit keheranan mungkin?.


"Kok minta ke aku, gaji kamu yang kamu berikan ke aku, udah. Abis emang". jawabnya begitu lugas tanpa menatapku.


"Ya habis, kan sekarang istri mas ada dua, jadi otomatis uangnya mas bagi dua." jawabku kemudian.


Bukan hanya ke Rahma dan Wina saja aku memberikan jatah gajiku, termasuk sama ibu juga Rina Adikku, kalau ke Dina aku jarang ngasih karna ia gak pernah memintanya kalau tidak aku yang ngasihnya sendiri.


"Oh begitu! Lalu kamu kasih uang belanja ke aku cuma satu juta, sedangkan kamu ngasih ibu serta adikmu lebih dari itu hanya untuk foya foya saja." Sorot mata Rahma menajam.


"Itu kan udah kewajiban kamu Ra, mengurus segala keperluan rumah tangga." ucapku kemudian.


"Lalu jika ada kekurangan kewajiban aku juga harus nambahin gitu mas. Kamu tau tidak suami tidak ada hak dalam uang yang di hasilkan keringat istri."


"Kita kan udah berumah tangga Ra, jadi ya apa apa harus sama. Lagian kerjaan apa yang bikin kamu berkeringat, tibang duduk lalu nulis doang mah gak bikin kamu capek kan apalagi berkeringat." kembali, aku menjawab ucapan Rahma.


"Keterlaluan kamu ya mas, kamu manjain ibu serta adikmu juga istri muda mu itu, tapi kamu buatku tersiksa." Ucap Rahma.


"Sudahlah gak usah berdrama seperti itu, mana sini cepet uangnya, aku mau berangkat." Ucapku kembali, tinggal ngasih duit donag susah banget. Batinku berucap!.


"Gak ada mas, minta saja sama ibu mu."


Sial! Ucapku.

__ADS_1


...


"Rahmaaaa.. Mana ini sarapan nya kok meja makan masing kosong." suaraku menggema di ruang makan. Karena pagi ini meja makan kosong melongpong.


"Istri baru mu lagi nganggur kan, kenapa gak suruh dia aja sih yang bikinin kamu sarapan, itu kan kewajiban dia juga."


Ucap Rahma tiba tiba!. Dia sekarang agak berubah, entahlah. Mungkin rasa sakit yang aku berikan membuatnya sedikit berubah, padahal sebelumnya ia istri yang lembut.


"Mau kemana kamu, pagi pagi bukannya siapin sarapan malah keluyuran." Kembali aku masih mengomeli istri tuaku.


"Aku ada keperluan mas, tuh istrimu lagi nganggur kan, pagi pagi enak udah selonjoran sambil nonton televisi".


Rahma berlalu tanpa menoleh ke arah ku lagi, apa dia tidak tau aku sangat lapar sekali pagi ini. Huh sungguh sial! Batinku


"Win, mas pinjam uang kamu dulu, buat beli sarapan sama makan siang, mas udah gak pegang uang lagi, mas janji nanti mas ganti." Ucapku mengiba pada istri kedua ku.


"Mas ini kenapa nggak sama Rahma aja sih minta nya kok ke aku, uang yang udah masuk ke kantong aku gak bisa balik lagi sekali pun itu meminjamnya." Ucap Wina dan beranjak dari duduknya


Sungguh kata kata yang keluar dari mulutnya membuatku menganga!.


"Kok kamu gitu sih Win, mas cuma minjam nanti mas ganti". Ucapku kembali setengah mengiba. Udah kaya pengemis aja aku ini. Huh sungguh sial, teramat sial.


"Gak ada mas. Tuh minta aja sama ibu kamu." lagi. Wina kekeh tidak mau ngasih pinjam uang nya.


"Males ah! Udah mandi nanti aku bau asap dapur, iiiuwww. Gak mau ah." Ucap Wina seraya bergidik.


"Kok kamu gitu sih Win, katanya sayang sama mas". Ucapku


"Iya sayang sih. Tapi aku bukan pembantu mas harus bikinin kamu sarapan, makanya pake jasa pembantu dong, biar apa apa tuh gampang gak nyusahin istri, denger ya mas aku gak biasa nyium bau dapur, aku alergi." Lagi Wina berucap.


"Ya udah aku berangkat dulu, udah telat." Ucapku dengan suara melemah.


Lebih baik aku mengalah saja.


"Yaudah berangkat sih, ngapain masih diem di situ, masih mau minta duit, gak ada mas".


"Kamu gak salaman dulu sama mas". Ucapku, menatapnya.


"Udah kaya lebaran aja pake harus salaman segala, yaudah sana, aku juga mau siap siap pergi sama temen temen aku". Ucap Wina, kemudian ia pun berlalu ke kamarnya.


Sungguh sifat Rahma dan Wina berbeda, Rahma tanpa ku minta ia selalu meraih dan mencium tanganku dengan takzim.


Ah pusing aku memikirkan kedua istriku itu, aku mencintai Wina, tapi aku juga membutuhkan Rahma.


Saat aku berjalan ke luar rumah menuju mobil yang terparkir di halaman.

__ADS_1


Sesaat aku melihat Dina sedang menyiram tanaman, kemudian aku menghampirinya.


"Din.."


"Iya bang.."


Hening beberapa saat, aku tidak sanggup melanjutkan kata kataku. Malu!.


Kemudian Dina berucap kembali.


"Ada apa bang?".


"mmm.. Anu- ee itu.." aku gugup, teramat gugup!.


"Itu apa bang yang jelas dong". Ucap Dina seraya mematikan kran airnya.


"Mas mau pinjam uang kamu boleh tidak!. nanti mas ganti setelah gajian, mas sudah gak pegang uang sama sekali, mas perlu buat sarapan sama makan siang." akhirnya aku bisa melancarkan kalimatku, sedikit bergetar tubuhku, tapi untung Dina tidak menyadarinya.


"Ini mas, cuma ada segini, ini juga di kasih mbak Rahma tadi pagi sebelum ia berangkat.


Dina menyodorkan dua lembar Warna Merah.


"Ambil aja bang, gak usah di ganti." Ucap Dina dengan seulas senyum ia berikan.


"Ma-makasih ya Din." Akhirnya aku menerima uang pemberian adikku, dia emang baik tidak seperti Rina.


"Sama sama bang, ya udah berangkat sana nanti telat." Ucap Dina dengan seulas senyumnya yang manis.


Aku pun berlalu setelah aku membalas senyumannya.


....


Di kantor aku tidak fokus bekerja! Aku masih memikirkan bagaimana kelanjutan rumah tanggaku ini.


Tidak! Tidak!. Aku tidak boleh bercerai dengan Rahma begitu pun Wina.


Sejak pertemuan itu dengan Wina, entah kenapa ada yang lain dari diri Wina, ia begitu sangat menggoda, tubuhnya yang sexy dan sedikit montok membuatku bergairah, entahlah aku juga heran, padahal Rahma jauh lebih cantik tapi yang membedakannya Rahma sedikit tertutup. Rahma mengenalkan Wina sebagai sahabatnya sejak SMA.


Setelah pertemuanku dengan Wina beberapa minggu kemarin.


aku gak sengaja ketemu dia lagi di salah satu kafe dekat kantorku. Dia yang menyapaku lebih dulu.


Kami pun terlibat perbincangan disana, hingga menghabiskan dua jam lamanya, sebelum kami berpisah di cafe itu, kami saling bertukar nomor telepon dan dari situlah perselingkuhanku dengan Wina di mulai.


-Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2