Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab055.


__ADS_3

Bukan ambisi lagi yang tertanam di hati laki-laki itu untuk kembali mendapatkan mantan istrinya lagi.


Namun cinta juga baru ia sadari, setelah beberapa minggu ini, ia diam-diam selalu memperhatikan setiap aktivitas yang di lakukan mantan istri nya itu.


Kecantikan yang Rahma miliki saat ini baru di sadari laki-laki itu, juga kepiawaiannya dalam melayani dan menyiapkan segala kebutuhannya, baru di sadari nya, itu semua setelah Wina juga pergi dan telah resmi bercerai.


"Aku baru sadar sekarang Ra, ternyata kamu memang istri terbaikku." gumamnya saat melihat Rahma sedang berdiri di depan rumah yang di tinggali bersama abangnya.


Andhika juga baru mendapatkan alamat rumah Zein itu dengan susah payah dan akhirnya mendapatkan alamat rumah itu dari salah satu karyawan restorannya Rahma.


...


"Bagaimana usahamu dekati Rahma lagi Dhik.." tiba-tiba Lia menghampiri anaknya yang baru saja sampai rumah.


Andhika yang mendengar pertanyaan dari ibunya, menghelakan nafasnya. "Entahlah bu, sekarang aku baru sadar."


Lalu Lia mendudukan dirinya di samping anak laki-lakinya itu. "Baru sadar bagaimana kamu Dhik, jangan bilang kamu mau mengagalkan rencana kita untuk kembali menguasai harta nya Rahma."


Andhika menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan itu bu tujuan aku sekarang, tapi perlahan aku akan rebut dulu hatinya, cintanya seperti dulu, karna aku baru menyadari bahwa aku mencintainya bu."


"Nah itu lebih bagus dong, akan lebih mudah buat ngeluluhin hatinya Rahma, kamu tinggal bilang saja kalau kamu sangat mencintainya." tutur Lia lugas.


"Tidak bu!, tidak se gampang itu, dia bukan Rahma yang aku kenal dulu." ucap Andhika memelankan suara nya di akhir kalimat.


Lia pun kesal dengan penuturan anak laki-laki nya itu. "Yo wis terserah kamu lah Dhik, yang penting Rahma kembali, ibu udah bosan hidup kaya gini, pengen seperti dulu saat di rumah mewah itu, semuanya terasa normal gak ada beban sama sekali."


Kemudian Lia meninggalkan anaknya sendiri setelah uneg-unegnya ia keluarkan.


Andhika hanya bisa menggeleng dan pasrah mendengar penuturan dari ibunya tersebut.


..


Di tempat lain.


"Hallo bro, gimana udah dapet info yang gue minta waktu itu." sapa Pandu di dalam sambungan teleponnya.


"Anjjriiitt.. Gue lupa, nanti deh lepas pulang kerja gue coba tanyain sama Dina."


Pandu mencebikkan bibirnya kesal. "Jangan coba-coba deh langsung aja, tadi gue sempet kasih foto Dina ke nyokap, terus dia kaya yakin banget kalau itu adik gue yang hilang."


"Hah serius lo..?" Zein kaget sendiri di balik sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Serius curut, makanya lo cepetan nyokap gue udah gak sabar pengen ngebuktiiin semuanya.."


"Oke oke bro, santai ya, nanti malem gue pastiin lo dapetin bukti itu." tutur Zein


"Oke deal. Nanti malem jam sembilan gue tagih janji lo."


"Oke deal.."


Lalu sambungan telepon itu terputus begitu saja.


Ya! Zein dan Pandu jika berteleponan memang begitu adanya jika sudah tidak kepentingan akan mematikan teleponnya tanpa saling berpamitan dulu.


Tepat jam delapan malam Rahma serta Zein dan Dina baru saja selesai makan malam, ketiga nya akan seperti biasa berkumpul dulu di ruangan keluarga ketika ngantuk belum menyapa mereka.


Lalu Zein pun membuka percakapannya setelah menyesap kopi hitam nya. "Gimana kuliah kamu, lancar."


"Untuk saat ini lancar-lancar aja bang." tutur gadis itu lembut.


"Baguslah, abang seneng dengernya." ucap Zein kembali, di antara mereka sudah tidak ada ke canggungan lagi, karena Zein sendiri juga Rahma telah menanggap Dina sebagaimana adik kandung mereka. Apalagi gadis itu adalah penolong Rahma di saat mantan suami juga mantan mertuanya ingin mencelakai Rahma pada saat itu.


"Din, boleh abang tanya sesuatu." ucap laki-laki itu pelan dan hati-hati.


Dina yang dilontarkan pertanysan itu sedikit membulatkan mata nya. "Apa itu bang, boleh-boleh aja asal jangan bikin aku jantungan." kekeh gadis itu di akhir ucapannya.


Rahma tersenyum dan menganggukan kepala nya pelan.


"Sebelumnya abang sama mbak minta maaf. Tapi ini demi kebaikan dan mengungkap yang sebenarnya." tutur Zein, ia menarik nafasnya sebentar.


"Boleh gak abang lihat kotak kayu yang di berikan bu Lia waktu itu." tuturnya kembali, pelan-pelan Zein katakan itu agar tidak menyinggung gadis bernama Dina itu.


Dina hanya tersenyum kecil. "Untuk apa bang, aku saja tidak ingin melihat itu."


Zein menghelakan nafas berat nya, sedangkan Rahma hanya jadi pendengar.


"Boleh abang cerita sesuatu, tapi sebelumnya abang minta maaf kalau udah lancang."


"Boleh.." tutur gadis itu.


"Setelah kepergian bu Lia dengan ucapannya bahwa kamu hanya anak angkat, saat itu juga abang meminta teman abang, Pandu. Mencari informasi tentang keluarga kamu, dan kemarin Pandu baru menemukan satu bukti ketika dia memperlihatkan foto kamu sama mama nya, dan mama nya bilang, itu anaknya yang hilang, dia bilang sangat hafal dengan bentuk wajahmu, apalagi matamu yang mirip dengan almarhum suaminya." tutur Zein panjang lebar.


Dina pun tersenyum sinis. "Gak mungkin bang, aku di temuin di tong sampah kan, apa mungkin mereka buang aku dan sekarang mencari keberadaanku."

__ADS_1


"Suuuutt.. Jangan bilang seperti itu Din, kita belum tau kebenarannya tentang kejadian beberapa tahun ke belakang." Rahma menenangkan gadis yang duduk di depannya itu.


"Maaf mbak, aku tidak bermaksud begitu, lalu mau mereka apa bang."


Zein tersenyum. "Kamu cukup kasih liat kotak itu sama abang, biar nanti abang kasih ke Pandu, dan dari kotak itu semuanya akan terungkap siapa jati diri kamu."


"Gadis itu menolehkan tatapannya pada Zein, Zein pun tersenyum seraya menganggukan kepala nya.


"Oke, aku ambil dulu kotak nya."


Gadis itu beranjak dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar nya di lantai atas.


"Abang yakin.." ucap Rahma, saat sosok Dina tak terlihat lagi.


"InsyaAllah abang yakin, apalagi dari penuturan Pandu sendiri."


Dan tak lama sosok Dina kembali berjalan menuruni undakan tangga satu persatu.


"Ini bang.." tutur gadis itu menyodorkan kotak kayu tersebut di meja tepat di depan Zein duduk.


Zein sedikit ragu namun ia teringat akan janjinya pada sahabatnya itu.


Ragu-ragu mengambilnya. "Boleh abang buka.."


"Silahkan.."


Zein pun perlahan membuka kotak itu dan terdapat sebuah kalung, cantik. Disana terukir di tengah-tengah kalung itu ada inisial JW.


"Boleh abang foto buat di kasih ke Pandu."


Gadis itu hanya menganggukan kepala nya.


Tepat pukul jam sembilan sebuah pesan masuk ke ponsel Zein yang tergeletak di meja kerja nya.


[Mana janji lo, curut.]


[Ish, gak sabaran luh, kaya emak-emak, nih.]


Balasan pesan Zein pada Pandu di sertakan bukti yang di minta laki-laki itu.


[Oke! Thanks yaaa, kerja yang baik brother.]

__ADS_1


Zein hanya membuka pesan itu tanpa berniat membalasnya, lalu ponsel itu ia simpan kembali dan laki-laki tersebut berjalan menuju tempat tidurnya untuk menyambut mimpi di malam hari.


"Bersambung...


__ADS_2