
Seminggu sudah Andhika bercerai dari Rahma, tapi entah kenapa tiba-tiba dihati lelaki itu ada sedikit rasa yang mengganjal.
"Dhik, kamu bener-bener gak bisa dapetin apa-apa dari pernikahanmu dengan wanita sialan itu kalau tau kaya gini ibu nyesel sudah kasih restu." tiba-tiba bu Lia menghampiri laki-laki itu yang sedang duduk di bangku teras depan.
"Bu, ibu kan tau sendiri waktu sidang kemaren, di situ tertera emang gak ada harta yang harus di bagi dua dengan Rahma."
"Ya kamu sih jadi laki gak tegas." sarkas sang ibu kembali.
"Apanya yang gak tegas bu, ibu kan yang mau menginginkan aku cerai dari Rahma dan menjadikan Wina istri satu-satunya." tutur laki-laki itu.
"Kalau kaya gini jadinya, ibu juga nyesel udah nyuruh kamu cerai dari Rahma, kalau aja kita masih tinggal di rumah itu kita gak bakalan kekurangan, masih bisa makan enak tidur nyenyak." ucap bu Lia meratapi penyeselannya.
"Ya gimana gak enak bu, orang kebutuhan rumah tangga segala keperluan di bantu sama uang nya Rahma."
"Mas, bagi duit dong aku mau jalan sama temen-temen." tiba-tiba Wina muncul dari dalam rumah.
"Kamu kenapa sih Win, tiap hari keluar mulu, bantuin ibu kek beres-beres rumah, masak, nyuci, jangan cuma minta duit sama main aja di otak kamu itu." timpal sang ibu.
Wina pun memutar bola matanya malas!.
"Ibuuu, aku ini istrinya mas Andhika bukan babunya, enak aja harus ngerjain kerjaan rumah, itu anak ibu si Rina kerjaannya jangan cuma rebahan aja, nonton tv sama main hp, bila perlu suruh kerja sekalian biar bisa membantu kekurangan kita." tutur Wina panjang lebar.
"Udah-udah kenapa jadi pada berantem sih." ucap Andhika sambil mengacak rambutnya, kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan istri serta ibunya disana.
Wina pun tiba-tiba mengejar suaminya masuk ke dalam.
"Mas, tunggu. Mana uang nya aku mau pergi." tutur Wina dengan mengadahkan tangan kanannya.
"Uang-uang terus, gak ada Wina, udahlah mas lagi pusing jangan uang mulu yang kamu minta. Gak kamu gak ibu, Rina. Semuanya mata duitan." tutur laki-laki itu dengan nafas sedikit memburu, kemudian ia hempaskan bokongnya di sofa sana.
..
"Ra, rencana kamu apa ke depannya nanti, mau tetep sama abang disini atau tinggal di rumah kamu lagi, bukan abang ngelarang kamu buat tinggal disini, abang seneng-seneng aja. Tapi takutnya kamu ingin lebih bebas atau leluasa." tutur Zein, saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi teras balkon.
"Jujur sih bang, aku lebih nyaman disini, dan soal rumah itu aku mau jual ada deh kaya nya, aku gak mau di hantui sama masa laluku, nanti uang hasil jualnya, aku mau buka usaha rumah makan atau bikin panti asuhan." tutur Rahma dengan lugas.
"Abang setuju aja sih dan seneng juga kamu mau tetep tinggal disini. Kamu yakin mau jual rumah itu." kembali Zein memastikan keputusan adiknya tersebut.
"Yakin bang sangat yakin, semalem juga udah aku pertimbangkan, dan keputusan aku udah bulat." ucap Rahma dengan seulas senyumnya ia berikan.
"oke kalau itu udah fixs, nanti biar abang rekomendasi kan ke temen-temen abang, kalau gak salah si Roni mau nikah, dan katanya lagi cari rumah buat dia tinggal bareng istrinya." tutur Zein.
__ADS_1
Seketika mata Rahma pun merona bahagia.
"ide bagus bang, semakin cepat, itu lebih baik." tutur Rahma lagi.
"Yaudah nanti abang rekomendasi dulu sama si Roni, kalau dia tertarik sama rumahnya, nanti kamu tinggal kasih harga rumah itu. Oya mau sama isinya atau rumah aja." ucap Zein kembali.
"Sama isinya aja deh, nanti ribet mindahin barangnya, mau taro dimana coba, di rumah yang beberapa bulan aku beli juga, udah ada isinya dan semuanya komplit."
"Beli rumah.. kapan? Kok gak ada bilang sama abang." mata Zein memicing.
"Haha aku lupa bang. Maaf yaaa, aku beli rumah itu juga gak sengaja sih, kan waktu itu pendapatan aku dari nulis novel lumayan kan, terus masih ada sedikit uang peninggalan almarhum mama sama papa, yaudah aku beli aja." ucap Rahma panjang lebar.
"oke gak masalah sih buat abang. Terus kamu beli nya dimana.?" tanya Zein kemudian.
"Perumahan Graha Hijau." tutur Rahma.
"Oh itu, belakang kompleks ini dong."
"Makanya, selain cocok sama rumah itu, aku keinget juga biar deket sama abang." tutur Rahma seraya terkekeh.
"Dasar kamu ya." ucap Zein dengan menjitak kepala adiknya tersebut.
"Abaaanggg.." Rahma, mengerucutkan bibirnya.
..
"Mbak! Malem-malem cekikikan nanti ada yang niruin loh." tiba-tiba Dina menghampirinya dan ikut duduk di kursi panjang yang sedang Rahma duduki.
"itu liat deh Din, si Thomas ngejar apaan gitu, dari tadi juga tuh di dalem dia lari-lari terus naik sana naik sini. Lucu deh pokoknya." tutur Rahma menceritakan tingkah laku hewan kesayangannya itu.
"Iya mbak, akhir-akhir ini aku juga sering ngeliat si Thomas lari sana-sini, mungkin disini ia punya kebebasan tersendiri, sama seperti mbak setelah cerai dari mas Dhika, aku liat mbak lebih fresh, lebih bahagia, ahh pokoknya aku gak bisa jelasin, yang aku liat mbak itu seperti ringan aja gitu menjalani hari-hari mbak." tutur Dina.
Rahma pun tersenyum dan menoleh pada mantan adik iparnya itu.
"Ah masa sihh, perasaan biasa aja deh." tutur Rahma. Akan tetapi di dalam hatinya ia membenarkan ucapan gadis itu, apa yang di ucapkan Dina memang ada benarnya, ia lebih ringan menjalani hari-harinya setelah bercerai dari Andhika. Apa mungkin ia terlalu bahagia cerai dari laki-laki itu, hanya Rahma saja lah yang dapat merasakannya.
"Iya mbak, selamat ya." tutur Dina kemudian.
"Kamu apaan sih pake kasih selamat juga." ucap Rahma dengan terkekeh.
"Ya karna mbak udah terlepas dari lelaki yang bernama Andhika itu, yang kenyataannya juga. Bukan kakakku." tutur Dina kemudian menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Cuppp! Udah jangan sedih-sedih gitu ahh, sekarang mbak sama bang Zein, keluarga kamu. Kamu jangan sungkan sama mbak atau bang Zein." tutur Rahma sambil menangkup kedua pipi gadis itu.
Secara tidak sadar Dina pun menangis dan berhambur kepelukan Rahma.
"Makasih mbak, makasih banget udah mau nampung aku disini, aku gak tau kalau gak ada mbak, aku mau tinggal dimana."
"Abang juga terimakasih sama sama kamu Din, karna kamu Rahma ada dalam perlindungan, dan kamu jangan banyak fikiran, sekarang kamu keluarga kita." tutur Zein, entah dari kapan laki-laki itu sudah berada di belakang kursi yang sedang di duduki Rahma dan Dina.
"Udah adik mbak jangan cengeng, nanti cantiknya ilang." tutur Rahma mengurai pelukannya kemudian menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.
"Den Zein dan neng-neng geulis, geura makan heula, teteh udah siapin." tiba-tiba teh Sumi muncul di balik pintu yang terbuka lebar.
"Oke teh siap!" jawab Zein.
Saat teh Sumi membalikkan badannya.
"Teh..?"
"Iya neng geulis Rahma ada apa."? Jawab teh Sumi.
"Boleh minta di bikinin milktea gak." ucap Rahma dengan wajah memohonnya.
"Eleuh-eleuh, boleh atuh neng, teteh bikinin. Neng geulis Dina mau gak.?" tanya teh Sumi seraya menatap ke arah Dina.
"Enggak bi.! Makasih. Aku gak suka." ucap Dina.
"Oke deh kalau gitu."
"Aku gak di tawarin nih." tiba-tiba Zein bersuara.
Teh Sumi pun menoleh. "Aden sejak kapan suka sama milktea."
"Ah si teteh mah gak peka." ucap Zein kemudian mendahului ketiga wanita itu.
.
Makan malam ini, merupakan makan malam kesekian kalinya selalu rame dengan obrolan ketiga anak manusia itu.
"Den! tong pundung nya, nih kopi special buat aden ganteng." tutur teh Sumi, lalu menyodorkan secangkir kopi hitam yang masih mengepul asapnya ke arah Zein.
Kemudian tawa ketiga nya pun tergelak.
__ADS_1
-Bersambung...