
"Mas katanya ada kenaikan karyawan gimana.?" tanya Wina saat suaminya sedang memakai kemeja kerja nya.
"Bukan mas, tapi temen mas dari divisi lain." tutur Andhika tanpa menoleh ke arah Wina.
"Yaaa.. Gak jadi naik gaji dong." ucap Wina dengan mengerucutkan bibirnya.
"Udahlah Win, mungkin belum rejeki mas." tutur Andhika sambil berlalu dari hadapan istrinya itu.
"Bu, cuma ini sarapannya." Andhika membuka tudung saji meja makan.
"Iya terus apa lagi, cuma cukup beli itu aja uang nya." tutur sang ibu.
Andhika pun kemudian duduk tanpa menjawab ucapan ibu nya lagi.
"Kehidupan kita sekarang jauh banget ya bu saat kita masih tinggal di rumahnya mbak Rahma." tutur Rina seraya menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Iya lah jauh banget, kita juga gak pernah tuh harus keluar uang buat belanja." kembali timpal sang ibu.
"Iyalah jangankan makan enak, semuanya udah tersedia. Kalau kaya gini, aku jadi nyesel prnh jahat sama mbak Rahma, coba aja kalau seperti Dina, mungkin sekarang aku masih makan makanan yang enak dan tinggal di rumah mewah itu, sekarang mh rumah kecil apalagi kamarnya juga sempit."
"Rinaaa CUKUP!!" tiba-tiba Andhika membentak adiknya.
"Yang di bilang adikmu benar Dhik, ibu juga nyesel."
"Tuh denger bang, mbak Wina mh pelit di minta uang buat jajan aja gak ngasih, tapi kerjaannya keluyuran mulu, tiap hari pulang nenteng belanjaan." ucap Rina kemudian.
"A-apaaa.?" mata Andhika membulat tak percaya.
"Gak usah sok kaget bang, dia sendiri yang bilang atas izin abang juga." sarkas Rina.
"I-izin.?" Andhika masih kaget.
Rina pun tak menjawab hanya di anggukkan kepala sebagai jawabannya.
.
Siang itu di kantor tempat kerja Andhika
"Kenapa lu bro! Ngelamun aja nggk kaya biasanya." ucap teman sekantor Andhika kala itu.
"Gue cuma lagi pusing aja Roy." timpal Andhika.
__ADS_1
"Tumben lu pusing, biasa juga hidup lo enjoy-enjoy aja." Ucap teman Andhika yang bernama Roy itu.
"Entahlah setelah gue cerai dari Rahma, kehidupan gue agak beda aja, dari materi bahkan sehari-hari gue di rumah terasa hampa dan beda aja gitu." tutur Andhika sambil memutar-mutar cangkir kopinya yang berada diatas meja.
"Lo nyesel.?"
Andhika hanya mengedikkan kedua bahu nya saja, kemudian kepala Roy pun menggeleng.
"Itu lo nyesel bro!"
"Masa sih"?. Timpal Andhika kembali.
"Ya lo fikir aja sendiri PE'A.!"
"Selama gue berumah tangga sama Rahma, ekonomi gue lancar-lancar aja bro, gak pernah lah kekurangan ini dan itu, tiap hari gue makan enak, lah sekarang tiap gue mau sarapan menu nya gak jauh dari tumis kangkung atau bayam." timpal Andhika.
"Berarti rejeki lo itu emang ada pada Rahma, lo nya aja yang bego, punya istri baik, pengertian, ngebantu ekonomi lo. Apalagi kekurangan lo." sarkas Roy,. Roy mengetahui seluk beluk rumah tangga nya Andhika, sampai Rahma yang menopang kekurangan materi pun, Roy mengetahuinya.
"Entahlah, bini gue yang sekarang boro-boro mau nyiapin baju kerja gue, ngebangunin gue aja kagak pernah." kembali timpal Andhika.
"Nah dari situ juga lu udah bisa bedain."
.
"Sama-sama asal setiap kali di ajak kamu harus mau dan bersedia." timpal lelaki yang sedang menyetir mobilnya tersebut.
"Tentu sayang aku pasti mau." ucap wanita itu kembali.
"Turun seperti biasa atau mau kuantar sampai kamar." ucap si pria seraya terkekeh.
"Jangaaann.. mas mau cari mati."
"Aku hanya bercanda sayang."
"Ya udah bentar lagi nyampe gang, aku turun ya." tutur si wanita itu seraya memeluk dan mencium sekilas pipi si pria tersebut.
"Okey! Baby. Sampai ketemu besok, bye!"
"Perasaan tiap hari belanja terus mbak." tutur Rina yang melihat Wina menenteng beberapa paper bag di tangannya.
"Kenapa?? Syirik??.. Lagian mas Andhika kok yang ngasih." tutur Wina dengan memutar bola mata nya jengah.
__ADS_1
"Setiap hari.?" tiba-tiba bu Lia muncul dari arah dalam rumah yang pintu nya terbuka.
"Gak usah kaget deh bu, udah gak di kasih jatah yaaa, kasian deh loh!, sorry yaaa Wina tidak sebodoh Rahma yang mau membagi gajinya sama mertua." tutur Wina sambil berlalu melewati Rina yang sedang mengecat kuku tangannya dan bu Lia yang berdiri terpaku tepat di depan pintu.
"Keterlaluan emang wanita itu, mau merebut Andhika dariku, lihat saja wanita ular, takkan ku biarkan kau menguasai anakku." ucap bu Lia geram sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ibu sih, dulu aja ngebet pengen ngusir mbak Rahma dan jadiin mbak Wina istri satu-satunya bang Dhika, hanya karna mbak Rahma belum hamil juga, tuh lihat mbak Wina hamil belum, belum kan." tutur Rina.
"Diam kamu."
"Biasa aja bu gak usah nge gas, aku nyesel ya udah dukung ibu untuk musuhin mbak Rahma, yang ternyata mbak Rahma kakak ipar yang baik. Aku nyesel dulu pernah mau ikut celakai mbak Rahma. Coba ibu fikir setelah mbak Rahma cerai sama bang Dhika, semuanya berubah dan berbeda bu, akan ku temui mbak Rahma, dan aku akan minta maaf sama mbak Rahma." tutur Rina panjang lebar, kemudian ia pun beranjak dan meninggalkan ibunya yang masih terpaku di depan pintu.
.
Malam kian beranjak ke peraduan, Andhika yang saat itu sedang duduk di bangku teras, pandangannga menerawang jauh entah apa yang sedang ia fikirkan.
Tiba-tiba Rina datang dan membawa secangkir kopi untuknya.
"Di minum bang, jangan ngelamun gak baik apalagi malem-malem gini." ucap Rina seraya duduk di bangku kosong sebelah abang nya.
"Makasih Rin, abang gak ngelamun kok, cuma lagi nikmatin suasana malem aja." tutur Andhika.
"Kirain bang."
"Sepi ya Rin."
Spontan Rina pun menoleh ke arah abangnya.
"Sepi.. Yaa pantes sepi bang orang di sini cuma kita berdua" tutur Rina seraya terkekeh.
"Iya kaya ada yang berbeda gitu, tidak seperti biasanya." timpal Andhika kemudian, dengan tatapan masih menerawang jauh.
Bukan Rina tidak mengerti apa yang di maksud sepi oleh abangnya tersebur, melainkan abangnya udah merasa sedikit kehilangan mantan istrinya tersebut.
Rina pun kemudian tersenyum seraya menepuk bahu abangnya itu.
"lya emang sepi bang, setelah abang berpisah sama mbak Rahma semuanya berbeda, aku juga dapat rasain apa yang abang rasain, dulu waktu kita tinggal di rumahnya mbak Rahma yang sangat luas, kita tidak pernah merasakan kesepian, setiap hari nya kita sering mendengar tawa mbak Rahma dan Dina. Ada saja hal konyol yang mereka lakuin bersama kucing itu." tutur Rina panjang lebar dengan tawa mengejek kebodohannya yang mengikuti hawa nafsu sang ibu yang ingin menguasai rumah Rahma itu, tapi akhirnya tak ke sampaian.
Kemudian kakak beradik itu pun larut dalam fikirannya masing-masing.
-Bersambung...
__ADS_1