
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini Dina tinggal bersama ibu serta kakak kandungnya, Pandu.
Nama nya pun kini menggunakan nama asli pemberian dari orangtua nya, yaitu Jihan Wijaya.
"Gimana Ji, kamu suka dengan desain kamarnya." tutur Susi saat sedang menemani anak gadisnya menyusun baju-baju nya di lemari.
Gadis itu menoleh lalu menghampiri sang mama, "Suka ma, makasih yaa.."
Susi tersenyum dan berulang kali mengucapkan rasa syukur atas kehedak Allah yang telah menemukan anaknya setelah 20 tahun hilang.
"Ji, kalau ada yang kurang atau tidak cocok dengan desain yang mama bikin kamu bilang aja."
"Nggak maa, aku suka kok."
"Syukurlah.. Oya kalau kamu ada perlu apa-apa minta sama si bibi aja yaa.."
"Iyaaa ma, tenang aja, selama aku bisa ngelakuinnya sendiri aku akan lakuin sendiri ma." tutur gadis itu lembut dan menatap sang mama yang baru ia sadari diantara mereka berdua ada sedikit kemiripan.
"Kamu anak baik nak, mama sangat berterimakasih sama orang yang udah menjaga dan mengurus kamu, kalau boleh tau, siapa orang itu mama ingin bertemu dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih." tutur Susi.
Jihan menghentikan aktivitasnya yang sedang membereskan peralatan kuliahnya. "Orangnya udah lama meninggal bu, untuk ibu yang merawat aku, entah dimana sekarang. Setelah kejadian itu sampai sekarang aku belum bertemu ibu itu lagi." tutur Jihan alias Dina nanar menerawang masa lalu nya saat Lia mengatakan bahwa dirinya bukanlah anak kandung nya.
Saat itu hati dan perasaan Jihan atau Dina, hancur lebur, ia tak menyangka bahwa kasih sayang yang Lia berikan untuknya hanya lah topeng semata. Akan tetapi walaupun begitu Jihan tetap menganggap bu Lia ibu nya, dan selama ini ia sudah mencari nya, namun Lia enggan bertemu dengannya, hingga pada titik menyerah Jihan tak lagi mencari ibu angkat nya itu.
"Kamu udah mencarinya nak,." tanya Susi kemudian.
__ADS_1
"Udaj bu, beberapa kali aku mencarinya dan sempat ketemu alamatnya, tapi ibu angkatku gak mau ketemu sama aku."
"Kok begitu. Kalau boleh mama tau apa penyebabnya." Susi memberanikan diri menanyakan konflik sang anak terhadap ibu angkat nya itu.
"Cerita nya panjang ma, tapi aku akan ceritakan intinya saja." gadis itu menolehkan tatapan nya pada sang mama.
"Iya boleh nak."
"Hanya karna aku lebih berpihak sama mbak Rahma dan melindunginya dari kejahatan mantan suaminya. Dia mengungkapkan semuanya bahwa aku bukanlah anaknya, aku hanya anak pungut yang di temukan di tong sampah oleh almarhum suaminya. Saat itu cuma bapak yang selalu tulus dan benar-benar menyanyangi aku." Cerita gadia itu mengalir begitu saja.
Susi terharu dan meneteskan air mata nya. "Serumit itu sayang hidupmu dulu." Susi mengelus rambut anak gadisnya yang tergerai panjang.
"Aku udah melupakan semuanya dan telah memaafkan semuanya, aku hanya ingin hidup tenang ma, itu aja kok."
Susi menganggukan kepala nya, apa yang di ucapkan putrinya memang benar, jika kita ingin hidup tenang, maka kita harus bisa dan ikhlas memaafkan yang telah terjadi di masa lalu.
Rahma mondar-mandir di ruangan keluarga. Siang itu ia baru saja pulang dari restoran nya.
"Neng kenapa..?" tanya asisten rumahnya itu.
"Teteh liat si Thomas gak.?"
Sumi terkekeh mendengar suara Rahma yang begitu mengkhawatirkan hewan berbulu itu.
"Tuh neng lagi bobo ganteng di kursi samping kolam ikan." tutur Sumi sambil berlalu ke arah dapur.
__ADS_1
"Oh makasih yaa teh." ucap Rahma sedikit berteriak.
Sore menjelang, tapi matahari masih terlihat panas. Membuat Rahma malas untuk keluar dari kamarnya yang ber AC itu, ia masih bersantai ria di kasurnya bersama hewan kesayangannya yang tertidur lelap di atas kasur yang empuk.
"Males banget sih mandi." gumamnya sambil mengotak-atik benda pipihnya.
Sesaat ia ingin menyimpan benda tipis itu, sebuah notifikasi masuk ke gawainya itu.
[Hai mbak apa kabar, lagi ngapain.?]
Sebuah pesan ia terima dari Jihan, setelah kepindahan Jihan seminggu yang lalu, mereka sekarang hanya berkomunikasi lewat pesan atau pun telepon.
[Hai Ji, kabar mbak baik, lagi rebahan aja nih sama si bulu. Kamu apa kabar.]
Rahma segera membalas pesan tersebut di sertakan foto kucingnya yang sedang tidur terlentang.
[Kabar aku juga baik mbak.. Ahh rindu banget aku sama si Thomas.] balas gadis itu disertakan emot cium di akhir kalimat nya.
[Main dong kesini, mbak tunggu yaa.]
[Ok mbak, besok aku langsung kesana.] balas Jihan kembali di sertakan emot tertawa.
-Bersambung...
Notes:
__ADS_1
Maaf yaaa kalau cerita nya monoton, aku cuma menceritakan kehidupan sehari-hari di rumah, dan maaf banget kalau ada kata-kata kurang pas atau tidak nyambung, maklum masih belajar🙏🏻