Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab044. Bertemu Mantan Ipar


__ADS_3

Hari ini cuaca tidak begitu menentu, sebentar hujan sebentar panas, tapi kali ini tidak membuat wanita cantik itu bermalas-malasan dan berdiam diri di rumah.


Setelah ia melanjutkan menulis bab novelnya, ia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Setengah jam kemudian Rahma telah selesai memanjakan tubuhnya berendam di bathtub beraromakan mawar itu.


Lalu ia membuka lemari bajunya dan memilih dress yang akan ia kena kan untuk pergi ke rumah makan nya itu.


Dress warna donker menjadi pilihannya kali ini, dress yang berlengan panjang dan panjang selutut Rahma kena kan di tubuhnya, lalu ia berjalan ke arah meja rias untuk merias dirinya.


Setelah selesai bermake-up ia pun meraih tas slempang warna hitam dan memakai sepatu kets warna putih. Kemudian ia keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.


"Mau berangkat mbak.?" tanya Dina yang sedang duduk di sofa nonton televisi sambil memainkan ponselnya.


"Iya nih, kamu ada kuliah gak, kalau gak ada temenin mbak yuk, sekalian nanti kita jalan-jalan ke mall." tutur Rahma setelah menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal ruang keluarga itu.


"Kebetulan gak ada sih, ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya." ucap Dina kemudian, lalu ia berdiri dan berjalan ke arah tangga menuju kamarnya di lantai atas.


"Gak mandi dulu.?" kekeh Rahma sedikit mengeraskan suara nya.


"Udah dong." timpal Dina, yang sudah sampai di ujung tangga atas.


.


"Selamat siang mbak."


Ucap salah satu karyawan yang berpapasan dengan Rahma saat ia akan menuju ruangannya.


"Siang kembali." balas Rahma.


Lalu ia melanjutkan langkahnya kembali.


"Wahh ruangannya geude banget mbak, ada tivi pula." tutur Dina setelah kedua nya memasuki ruangan pribadi Rahma.


"Ya gitu dehh, kalau mau istirahat kamu tidur aja di sana." ucap Rahma sambil menunjuk pintu yang berada di ujung sebelah kanan ruangan itu.


"Ada kamarnya juga." tutur Dina kembali sambil membulatkan mata nya.

__ADS_1


"Yupss!" timpal Rahma sambil mengehempaskan bokong nya di sofa ruangan itu.


"Kerenn..." Dina berucap lalu ia juga ikut menghempaskan tubuhnya juga di sofa yang di duduki Rahma tersebut.


Tok! Tok! Tok!....


"Iya masuk." jawab Rahma sambil menyimpan ponselnya di samping paha nya.


"Mbak, ini saya mau ngasih laporan minggu ini." tutur Erina seraya menyerahkan sebuah buku berisi laporan setiap minggunya.


"Oke! Makasih Rin." tutur Rahma seraya tersenyum dan menerima buku yang di sodorkan gadis itu.


"Mbak, dan Dina mau minum apa, biar nanti saya bilangin ke Heru." ucap Erina, sebelum ia pamit kembali keluar.


"Mau apa kamu Din." ucap Rahma seraya menolehkan kepalanya ke arah Dina.


"Jus alpukat, kaya nya enak deh."


"Boleh, ya udah. Rin jus alpukat dua ya." baik mbak, biar nanti Heru antar minumannya.


"Oke! Makasih ya Rin." ucap Rahma seraya tersenyum ke arah gadis itu dan senyuman serta anggukan kepala sebagai jawaban dari gadis yang memakai kaos seragam biru itu.


"Din, bentar ya mbak cek dulu laporannya, nanti setelah selesai baru kita jalan-jalan." ucap Rahma tanpa menoleh le arah gadis itu.


"Santai aja sih mbak, jus nya juga baru di minum dikit." jawab Rahma sambil terkikik.


"Oke! Kalau makan di luar nanti gak apa-apa ya." ucap Rahma sambil membenarkan posisi kacamata nya.


"Santai mbaaakkuuu." jawab Dina bernada gemas.


"Oke deh, dan akhirnya Rahma pun larut dalam memeriksa laporan bulanannya.


Setelah beberapa saat akhirnya Rahma pun selesai memeriksa laporan bulanannya itu, lalu ia tutup buku itu dan menyimpannya di meja.


Kemudian ia menyeruput jus alpukatnya hampir habis setengahnya.


"Haus buu." kekeh Dina.

__ADS_1


"Buangeeettt." timpal Rahma sambil tertawa.


"Yuk kita berangkat." ucap Rahma kembali setelah menyimpan gelas jusnya dan menyimpan kacamatanya di tempatnya semula.


"Came on." ...


"Tolong bawain gelas nya keluar ya." ucap Rahma seraya berdiri dan meraih tasnya serta buku laporan tersebut.


"Oke." timpal Dina sambil jarinya membentuk hurup O.


Lalu keduanya pun berjalan keluar ruangan Rahma, tak lupa Rahma mengunci kembali ruangannya itu.


.


Hari ini mall begitu ramai dan padat, ternyata meskipun bukan hari libur akan tetapi tidak membuat salah satu pusat belanja itu sepi.


Rahma dan Dina pun berjalan beriringan melewati ruko-ruko baju tersebut. Saat keduanya sedang asyik melihat-lihat ruko sebelah kiri, tak sengaja Rahma bertubrukan dengan orang yang berjalan dari arah berlawanan.


Bruuukkk!!!


"Woy!!! kalau jalan pake mat-.?" mbak Rahma ucap seorang gadis yang hampir saja mencaci nya.


"Rina.." ucap Rahma juga sedikit kaget dan Dina hanya diam terpaku di tempatnya saat melihat Rina sedang berjalan dengan seorang pria yang lebih pantas menjadi bapak nya itu.


"Ma-maaf mbak, aa-aku kira orang lain." tutur Rina tergugup.


"Iya gak apa-apa, kamu apa kab-.?"


"So-sorry yaa mbak, aa-aku buru-buru." timpal Rina menjeda pertanyaan Rahma, lalu gadis itu berjalan cepat sambil menarik tangan lelaki yang jauh lebih tua dari nya.


"Itu kak Rina, kira-kira jalan sama siapa ya mbak." tanya Dina akhirnya, setelah beberapa saat kepergian Rina tadi.


"Gak tau, mungkin om nya." timpal Rahma lagi.


"Om, tapi yang aku tau kita gak punya om yang kaya tadi." ucapan Dina sambil matanya menerawang jauh.


"Udah gak usah di fikirin itu urusan dia, yuk kita lanjutin." ajak Rahma sambil menarik lengan gadis yang masih terdiam itu.

__ADS_1


Bukan serta merta ingin mencampuri urusan Rina, akan tetapi Dina hanya takut, gadis itu akan terjerumus ke hal yang negatif, meskipun Dina telah mengetahui bahwa Rina bukan sodara kandungnya, tapi rasa sayang itu, tetap terpatri di hati Dina untuk Rina yang ternyata bukan kakak nya itu.


-Bersambung...


__ADS_2