Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab060.


__ADS_3

Hari berganti, begitu juga dengan kehidupan terus berjalan.


"Ra, hari ini kamu ada acara gak.?" tutur Zein pagi itu saat sarapan keduanya berlangsung.


"Gak ada sih bang, kenapa..?" tanya Rahma sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Abang nanti mau ketemu klien, bahas soal kerjaan, kamu bisa gak temenin abang sekalian makan siang."


"Cuma nemenin ketemu klien sambil makan siang, langsung ke resto aja kalau gitu bang. Makan di restoran aku." tutur Rahma kembali.


"Emang boleh..?" tanya Zein kemudian.


"Ya boleh, aku kasih gratis.." timpal Rahma sambil mengedipkan sebelah mata nya.


"Oke deh kalau gitu nanti abang kasih alamat restorannya ke klien abang." tutur Zein dengan senyum sumringah.


Rahma sesaat menoleh pada abangnya lalu kembali fokus ke nasi goreng yang masih tersisa beberapa sendok lagi. "Tumben, minta di temenin, biasa juga sendiri atau sama sekretaris abang." tutur Rahma kembali.


Zein berfikir sejenak lalu laki-laki itu terkekeh. "Gak tau soalnya klien yang ini beda dari yang lain." laki-laki itu menderaikan tawa di akhir kalimat nya.


Rahma hanya bengong melihat tingkah sang abang pagi itu.


"Ya udah kalau gitu, aku duluan berangkat ya bang, nanti berkabar aja." ucap wanita itu, setelah menghabiskan sarapan nasi goreng beserta air putih hangat. Kemudian ia menyambar tas nya yang tersimpan di kursi sebelah kursi yang di duduki nya.


"Okey, makasih my baby girl, hati-hati jangan ngebut-ngebut."


"Siiiaaapp komandan."


Lalu wanita itu pun berlalu dari hadapan abangnya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.


Rahma memasuki mobilnya dan mengendarai kendaran berroda empat itu keluar gerbang, melewati beberapa rumah tetangga nya, sesekali ia menyapa tetangga nya yang sedang berjemur di depan pagar rumahnya.


Beberapa menit kemudian ia memasuki jalan raya yang cukup ramai, akan tetapi tiba-tiba ia merasakan hal yang tidak enak dari mobilnya, kemudian wanita itu keluar untuk segera mengecek keadaan mobilnya tersebut.


"Whaaatt!!... Apeeesss.." wanita itu menepuk jidatnya setelah keluar dari mobil nya dan melihat keadaan ban mobil tersebut kempes.


"Kok bisa kempes sihh.." wanita itu masih bergumam sendiri menatap keadaan ban mobilnya yang kempes.


Tiba-tiba dari arah berlawan sebuah mobil menghampirinya, kemudian sipemilik mobil tersebut keluar setelah sampai di sana.


"Kenapa Ra, mobil nya mogok." tanya laki-laki tersebut.


Kemudian Rahma menolekan kepala nya pada sumber suara itu.


"Eh bang Pan, iya nih ban nya kempes." tutur Rahma dengan nyengir kuda.


"Kamu ini ada-ada aja, mau kemana emang, biar abang anter.?" tanya Pandu kemudian.

__ADS_1


"Biasa bang, mau ke resto. Terus mobil aku gimana..?"


Pandu tersenyum. "Kebetulan abang bawa supir, biar nungguin dulu disini sebelum montir bengkel langgangan abang jemput mobil kamu."


"Emang gak apa-apa." tutur Rahma.


"Gak apa-apa, yuk. Kamu kasih kunci mobil nya sama supir abang."


"Tapi bang.." Rahma masih sungkan.


"Udah nurut aja. Pak tolong jagain mobil adik saya dulu ya, nanti saya telpon montir buat jemput mobil nya." tutur Pandu pada sang supir tersebut.


"Baik Den." supir itu menjawab dengan sopan.


"Yuk masuk!.." tutur Pandu pada wanita yang berdiri di belakang nya.


Lalu mobil itu pun meluncur ke arah tujuan restoran Rahma.


"Bang, makasih ya, kalau gak ada abang gak tau aku harus minta tolong sama siapa.?" Rahma membuka percakapan di dalam perjalanan menuju restoran nya itu.


Pandu menolekan kepala nya sesaat pada wanita di sampingnya, lalu kembali fokus ke depan lagi.


"Santai aja Ra. Kaya sama siapa aja." tutur laki-laki itu sambil tersenyum.


'Rahma, bagaimana cara nya aku mengungkapkan perasaanku terhadapmu' laki-laki itu bergumam di dalam hati nya.


"Ahh iya maaf, abang lagi mikirin kasus yang lagi abang tangani, agak susah." tuturnya dengan tawa kikuk.


"Loh kok bisa..? Biasa juga abang lancar-lancar aja kan kalau lagi tangani kasus se berat apapun."


Lagi, Pandu hanya tertawa kikuk, ia bingung harus menjawab apa pada wanita di samping kemudi nya.


"Dah! Sampe deh.." tutur Rahma.


Pandu memarkirkan mobilnya yang telah tersedia di sana.


"Mau mampir dulu gak, sekedar minum kopi atau teh hangat." ucap Rahma menawarkan pada laki-laki di sampingnya.


"Gak usah Ra, abang mau langsung aja, bentar lagi mau ketemu sama klien."


"Oke deh!.. Makasih ya bang atas tumpangannya." tutur Rahma dengan di iringi seulas senyum.


"Sama-sama, hati-hati yaaa, semangat..!" jawab Pandu refleks mengucapkan kata-kata tersebut.


Rahma hanya tersenyum dan menganggukan kepala nya, kemudian ia keluar mobil dan segera memasuki restoran nya.


"Sekian lama aku ingin jalan berdua dengan kamu Ra, baru kali ini kesampaian, semoga ini awal yang baik." Pandu bergumam sambil menatap punggung wanita yang di pujanya memasuki restoran tersebut.

__ADS_1


...


Siang itu, Zein telah sampai di restoran milik adiknya, ia juga telah memberikan alamat restorannya pada klien kerja nya.


"Selamat siang.." sapa gadis yang berdiri di depan kursi yang sedang Zein duduki.


"Selamat siang juga, maaf saya merubah tempat ketemu kita." tutur Zein seraya berdiri menyambut klien nya.


"Oh gak apa-apa Pak Zein santai saja."


"Permisiii.. Silahkan di minum.."


"Mbak.."


"Mbak.."


Zein bengong melihat kedua wanita di depannya saling sapa.


"Kalian saling kenal..?" tanya Zein menatap bergantian kedua wanita di depan nya.


"Kenal nggk bang, cuma kita pernah ketemu di rumah sakit." tutur Rahma.


"Iya Pak, kita pernah ketemu sebelumnya." tutur gadis yang bernama Nayla itu menanggapi ucapan Rahma.


"Oh begitu. Oya nih kenalin, Rahma. Adik saya." tutur Zein.


Lalu kedua nya pun berkenalan, dan Zein serta Nayla pun membicarakan perihal proyek yang akan mereka segera di lakukan pengerjaannya.


Satu jam lamanya kedua insan tersebut membahas soal kerjaan kini mereka bicara soal kehidupan sehari-hari, ngobrol ngaler-ngidul hingga tanpa terasa keduanya larut dalam tawa yang entah apa yang membuat kedua nya tertawa.


"Ada yang asyik nih, gak ngajak-ngajak." tiba-tiba Rahma menghampiri kedua insan yang sedang tertawa itu.


"Hey, sini gabung.." tutur Nayla meraih lengan Rahma dan mengajaknya duduk di kursi samping ia duduk.


"Nggak pada makan nih, cuma ketawa-ketiwi doang, abang punya klien bukannya di ajak makan." tutur Rahma menatap abangnya di depan.


"Abang lupa saking asyiknya ngobrol." tutur laki-laki itu beralasan.


"Hmm kebiasaan, ya udah abang sama mbak Nay mau pesen apa, bebas, aku kasih gratis." tutur Rahma sambil menyodorkan buku menu pada Nayla dan abang nya.


"Gratis! Janganlah gak enak saya, baru kenal udah di kasih gratis." tutur Nayla.


"Ya udah kalau mbak gak mau gratis, nanti biar bang Zein yang bayarin."


Zein mencebikkan bibirnya. Lalu setelahnya ketiganya pun larut dalam tawa.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2