Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab065. PDKT


__ADS_3

[Hai Ra, hari ini kamu ada acara gak?].


Rahma membaca pesan itu sambil mengunyah sarapannya.


[Enggak, hari ini aku free. Kenapa?].


[Jalan yuk]. Balasan pesan dari seorang laki-laki tersebut membuat senyum di bibir wanita itu terbit.


"Lagi chat sama siapa sih?, serius banget". Tutur Zein yang melihat sang adik asyik berbalas pesan dengan seorang laki-laki.


"Ih abang kepo". Rahma menjawab pertanyaan abangnya seraya menjulurkan lidahnya.


"Rupanya sekarang adik abang ini udah mulai membuka hatinya deh". Zein terus menggoda sang adiknya yang duduk bersebrangan dengannya.


Kemudian Rahma refleks tertawa. "Abang sejak kapan sih jado suka nebak-nebak gitu?".


"Ah nggk, abang gak nebak-nebak kok, emang keliatannya sekarang adik abang ini udah mulai membuka hatinya, abang ikut senang Ra, siapapun laki-laki itu nanti yang akan jadi suamimu gak masalah bagi abang, asal dia baik, penyayang tidak main kasar, dan satu lagi, dia bukan-?"


"Bukan siapa bang?" Rahma sontak memotong pertanyaan dari abangnya.


Zein tersenyum. "Bukan mantan suamimu, ingat itu abang tidak akan pernah rela dan sudi kamu kembali padanya".


Rahma menghembuskan nafasnya. "Tidak mungkin bang, lagian siapa pula yang mau kembali lagi sama dia".


"Bagus, ini baru adik abang namanya."


"Tapi benerkan apa yang abang ucapkan tadi, siapapun pria itu abang akan mendukungnya".


Lagi-lagi Zein hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


...


[Aku udah di kafe ya].


Sebuah pesan Rahma kirim pada seseorang.


[Oke! Sebentar lagi sampai].


Rahma pun membaca balasan pesannya tanpa membalasbya kembali, ia duduk di meja pojok menghadap jalanan.


"Rahma.. Kamu disini juga?"


Suara itu tidak asing di telinga Rahma.


"Mas Andhika?".


Orang yang disebut namanya itu tersenyum hangat ke arah Rahma.


"Iya, kamu apa kabar?".


"Baik mas!".


"Syukurlah, kamu sama siapa disini, boleh aku gabung?".

__ADS_1


"Maaf mas, aku lagi ada janji sama orang lain jadi tolong tinggalin aku sendirian". Tutur Rahma tegas dan tanpa melihat ke arah Andhika.


Andhika tersenyum dan mencoba menahan sedikit ambisinya. "Oke baiklah aku pergi, tapi kapan-kapan bisa kita makan siang bareng?" tutur laki-laki itu kembali.


"Aku gak bisa janji mas, maaf!".


"Oh oke! Aku pergi dulu ya good luck Ra". Andhika memberikan senyum terbaiknya pada mantan istrinya itu, lalu tak lama ia pun pergi dari hadapan Rahma.


"Huh! Ganggu saja". Gumam Rahma, sambil menghempaskan bokongnya ke kursi.


"Maaf ya nunggu lama, tadi di jalan sesikit macet." tiba-tiba sebuah suara mengagetkan wanita itu.


"Bang Pan?".


"Iya ini aku, kamu kenapa kok mukanya pucet gitu kaya abis ketemu setan?" tutur Pandu sambil mendudukan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Rahma.


"Ah nggak, mana ada setan di siang bolong begini, aku hanya sedikit gak enak badan aja". Ucap Rahma beralasan.


"Kamu sakit, kok gak bilang sama aku, kalau tau sakit kita gak usah makan siang dulu di sini". Tutur Pandu panjang lebar.


"Abang jangan lebay deh, aku cuma masuk angin aja mungkin, lagian kerasanya juga barusan kok".


"Yaudah kita pulang aja yuk, makan siangnya di rumah aja".


"Udah gak apa-apa, lagian si teteh di rumah gak masak, soalnya aku udah bilang gak makan siang di rumah".


"Kamu yakin kuat?" tutur Pandu memastikan kondisi wanita di depannya itu.


"Kuat bang, yaudah pesen dulu makanannya, kalau ngobrol terus kapan makan nya". Ucap Rahma sambil terkekeh.


"Oh jadi si Pandu, orang yang kamu maksud Ra, lihat saja aku tidak akan membiarkan dia memilikimu".


Andhika yang belum benar-benar pergi dari tempat itu melihat keakraban Rahma dan Pandu, Andhika mengepalkan kedua tangannya saat melihat Rahma tersenyum ke arah Pandu.


"Gimana enak?"


"Enak bang". Tutur Rahma sambil menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.


"Mau cobain punya aku gak?" tutur Pandu sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng seafood.


Rahma yang melihat tingkah Pandu menganga. "Hah!"


"Kok hah sih ini mau cobain gak". Pandu mendekatkan sendoknya ke mulut Rahma, Rahma pun refleks membuka mulutnya dan nasi goreng seafood tersebut lolos ke mulutnya Rahma.


"Enak bang!" tutur Rahma setelah menelan nasi goreng seafood tersebut.


Pandu tersenyum sambil menyuapkan nasi goreng seafood ke mulutnya.


"Abang mau gak cobain mie ayam pangsit punya aku".


"mmm nggk deh, abang sering makan itu jadi udah tau rasanya gimana, tapi berhubung kamu yang nawarin bolehlah aku mencobanya". Pandu tersenyum di akhir kalimatnya.


"Nih!" Rahma menyodorkan mangkok yang berisi mie ayam pangsit tersebut.

__ADS_1


"Gak ada niatan buat nyuapin gitu" tutur Pandu sambil melihat ke sembarang arah.


"Hmm bilang dong pengen di suapin gitu".


"Iya dong biar romantis". Tutur Pandu kembali sambil tersenyum.


Lalu Rahma menyendokkan mie ayam pangsit tersebut menggunakan sumpit lalu mengarahkannya ke hadapan Pandu. "Aaaa.."


Tanpa menunggu lama Pandu langsung melahap mie ayam pangsit tersebut.


"Kok beda ya rasanya, ini lebih enak dari kaya biasanya atau jangan-jangan karna di suapin wanita cantik ya". Pandu bergumam sambil mengunyah mie ayam pangsit tersebut.


Rahma terkekeh sambil menepuk meja pelan. "Gak usah gombal deh."


"Nggak gombal kok ini nyata".


Lalu keduanya saling melempar senyum dan tanpa mereka sadari ada sosok yang cemburu melihat ke akrabannya.


"Sialan semakin aku liatin, semakin emosi saja, awas kamu Pandu, kamu fikir aku gak bisa dapetin Rahma kembali, lihat saja siapa yang lebih pantas mendapatkan Rahma".


Kemudian dengan gejolak cemburunya Andhika meninggalkan kafe tersebut dengan langkah lebarnya.


...


"Makasih yaa bang, udah teraktir makan siang terus dianterin pulang segala, pantesan tadi larang aku bawa mobil sendiri". Tutur Rahma.


Kini keduanya sedang di perjalanan menuju rumah Zein yang masih di tempati Rahma.


Pandu menoleh sekilas lalu kembali fokus lagi ke jalanan. "sama-sama, santai aja sih, kita kenal bukan sebulan dua bulan gak usah sungkan begitu".


"Iya sih, tapi kan kita jalan berdua baru kali ini" Rahma sedikit memelankan suara diakhir kalimatnya.


"Oke lain kali kita jalan berdua lebih sering, biar gak sungkan". Tutur Pandu sambil terkekeh.


Rahma refleks memukul lengan Pandu. "Abang ihh."


"Kenapa, seneng ya jalan sama aku?" Pandu menggoda wanita di sampingnya tersebut.


Dan si wanita itu pun hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Apa itu manggut-manggut" Pandu masih saja terus menggodanya.


"Tinggal jawab iya atau tidak saja, kaya nya susah ya?".


Rahma pun menatap laki-laki di sampingnya itu.


"Abang ngeselin".


"Lah kok ngeselin sih, aku cuma minta jawaban iya atau tidak kok, itu saja".


"Iya bang aku seneng".


"Nah gitu dong kan enak". Tutur Pandu sambil mengelus kepala Rahma.

__ADS_1


Lalu keduanya saling bertatapan dan saling melempar senyum.


-Bersambung....


__ADS_2