
Hari terus berganti, tak ada perubahan dalam rumah tangga Andhika dan Wina, setiap harinya selalu di penuhi dengan pertengkaran.
Perekonomian yang semakin menurun membuat Wina jengah harus terus bertahan dengan Andhika.
"Kalau begini terus lebih baik kita cerai saja mas, aku tidak sanggup harus terus begini serba kekurangan." tutur Wina kala itu saat Andhika baru saja pulang dari kantornya.
Andhika bukan tidak ingin meladeni Wina akan tetapi seharian tenaga serta otaknya telah terkuras dengan pekerjaan yang terus menumpuk.
Dua bulan yang Andhika di pindahkan kerja ke tahap yang sedikit rendah, itu sebabnya Wina sering uring-uringan karena gajinya yang sekarang jauh lebih kecil dari jabatan sebelumnya.
"Aku capek Win, kamu bisa sehari saja tidak ngomel-ngomel."
hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Andhika.
Lalu ia menyimpan tas kerja nya dan berlalu ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
'Aku tak bisa seperti ini terus aku harus bangkit' gumam Andhika di dalam hatinya sambil air shower yang mengguyur tubuhnya.
"Rahma..." lirihnya kembali.
"Kenapa saat-saat seperti ini selalu wajah Rahma yang terbayang, apakah aku telah menyesal meninggalkannya."
Andhika berucap sambil tangannya terus meninju dinding kamar mandi. "Aarrrggghhh,.. Sialll.."
.
"Dhik uang bulanan ibu mana, ibu belum bayar arisan malu kalau belum di bayar." tutur Lia saat akan makan malam bersama.
"Ibu, bisa gak biarkan aku makan dulu." tuturnya kemudian meraih centong nasi dan menyendoknya.
"Oke baiklah." senyum Lia merekah.
Tiba-tiba Wina datang dari belakang Lia. "Enak sekali mas ibumu, bisanya cuma minta-minta aja."
"Lah emang kenapa Andhika itu anak saya, saya berhak atas dia." Lia berucap sedikit meninggi.
Laki-laki yang akan menikmati makan malamnya pun ia hempaskan sendoknya dengan keras lalu berdiri. "Teruskan bertengkarnya sampai kalian bosan."
Kedua wanita itu pun sontak terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Assalamualaikum.. Buuu Rina pulang."
Suara Rina terdengar keras saat memasuki rumah yang tak begitu besar itu, terlihat di tangannya membawa beberapa kantong.
"Waalaikumsalam,, kamu bawa apa Rin." Lia segera beranjak dari duduknya dan menyongsong sang putri menyambut kepulangannya.
__ADS_1
"Ini ada oleh-oleh buat ibu." tutur gadis itu secara menyerahkan satu kantong warna hiam ke arah ibunya.
Lia pun menerima kantong itu dengan mata berbinar. "Makasih ya Rin."
"Dan ini buat mbak sama mas Dhika." Rina kembali menyodorkan dua plastik lagi ke arah Wina, wanita itu pun menerimanya dengan sumringah.
"Makasih yaa Rin."..
"Sama-sama, aku ke kamar dulu ya gerah pengen mandi."
Lalu tanpa menunggu jawaban keduanya Rina melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
.
Rahma sedang bersantai ria duduk di bangku teras samping sambil memperhatikan tingkah lucu hewan berbulu itu.
Lalu dari arah belakang ia duduk, Zein menghampirinya dan menepuk sebelah pundak adiknya tersebut. "Itu sikut kamu kenapa Ra.?"
"ini, biasalah ketemu cowok aneh bin rese." tuturnya dengan memanyunkan bibirnya
Kening Zein berkerut, "kok bisa ada cowok aneh bin rese."
Lalu Rahma mendelikkan matanya. "Ada bang, tuh buktinya anaknya yang beli rumah aku sekaligus sepupunya Sinta."
Tawa Zein seketika terbahak. "Jangan terlalu benci ahh, nanti suka."
Zein pun mengulas senyumnya. "Benci sama kesel beda tipis loh."
"Abang apaan sih."..
Lalu Zein pun tergelak kembali..
.
Malam kian merangkak ke peraduan.
Rahma kemudian naik ke atas ranjangnya setelah ritual membersihkan muka nya dan rutin memakai cream malamnya.
Sebelum ia memejamkan matanya, Rahma iseng membuka sosial medianya yang berwarna biru tersebut.
Saat sedang asyik mengscroll beranda sosial medianya. Satu buah pesan messenger masuk.
Ting..!!!
[Hai Ra, kamu apa kabar, udah lama kita tidak ketemu.] isi pesan inbox tersebut Rahma baca dalam hatinya.
__ADS_1
'Mas Andhika, ngapain ngechat aku.'
Lalu Rahma keluar dari pesan inbox nya itu tanpa membalas pesan dari mantan suaminya.
'Gak penting.' begitu lirihnya dalam hati, kemudian ia simpan kembali benda pipih itu di atas meja nakas samping tempat tidurnya.
Di sisi malam lain.
Seorang pria uring-uringan memikirkan wanita yang ia tabrak dua hari ke belakang, belum sempat ia minta maaf karena setelah melihat luka di sikutnya kemarin baru ia menyadari bahwa itu kesalahannya.
"Tolol kamu Rey, wanita itu pasti kesakitan sikutnya terluka." ucapnya sambil memukul-mukul keningnya.
"Kamu kenapa sih Rey, mama perhatiin dari tadi mondar-mandir kaya setrikaan, jangan bilang kamu bertengkar dengan wanita itu, sudah berapa kali mama bilang mama gak setuju kamu menjalin hubungan dengan wanita itu."
Rey pun lalu menghampiri Mega, dan duduk di sampingnya.
"Maa, kenapa sih mama se benci itu sama Emily, Emily gadis yang baik kok."
"Menurutmu baik, tapi feeling mama dia gak baik buat kamu dan bukan tipe perempuan yang setia, kalau kamu masih berhubungan dengan wamita itu, jangan harap kamu bisa memimpin perusahan papamu."
Rey pun sontak berdiri. "Kok mama ngancam sih."
Mega menatap anaknya itu lekat. "Bukan maksud mama ngancam kamu Rey, tapi wanita itu juga matre. Mama tau udah berapa banyak jumlah uang dan barang yang kamu berikan untuk wanita itu.
Rey pun tak mampu lagi menjawab ucapan Mega, apa yang di bilang perempuan itu memang ada benarnya, Rey sering mengirimi Emily uang yang cukup banyak untuk keperluannya. Tak hanya uamg setiap pertemuan jika mereka berpisah lama Rey akan memberikannya hadiah entah itu barang atau perhiasan.
Rey yang sangat royal pada Emily, membuat gadis itu memanfaatkan laki-laki itu, tidak dengan Zein, Zein jarang sekali mengirimi nya uang apalagi sekedar memberikan hadiah, akan tetapi hati wanita itu telah terpatri pada sosok Zein Alfian.
"Kamu ngerti kan apa yang mama bilang."
Mega menyadarkan lamunan anaknya.
"Iya ma Rey ngerti, sekarang mama istirahat ya udah malem gak baik marah-marah." tutur Zein lembut sambil meraih kedua bahu sang mama.
Hati wanita itu pun seketika melunak mendapatkan perlakuan manis dari anak semata wayang nya.
Senyun Mega pun terbit lalu menggenggam tangan anaknya. "Terimakasih nak, semoga kamu bisa dan menurut apa yang orang tua mu katakan, mama lakuin ini demi kebaikan serta kebahagiaan kamu."
Rey pun menganggukan kepalanya dan membalas senyuman wanita di depannya. "Iya ma Rey ngerti, yuk masuk ke dalam nanti mama masuk angin."
Lalu keduanya pun berjalan beriringan tak lupa setelah masuk ke dalam Rey menutup pintu serta menguncinya karna waktu telah menunjukan pukul 10 malam.
"Mama masuk ke kamar ya, papa pasti udah nungguin mama, Rey mau ngecek pintu dan jendela samping juga belakang."
Senyuman serta anggukan wanita itu berikan pada anak bujangnya itu, lalu Rey pun melangkahkan kakinya guna mengecek pintu yang belum terkunci.
__ADS_1
-Bersambung...