
Siang itu Rahma dan Dina lagi duduk santai di teras samping, sambil mengobrol kecil seputar kegiatannya Rahma menulis novel, Dina bertanya tentang bagaimana bisa hasilkan uang dari hasil menulis karya novel walaupun pendapatannya hanya sedikit.
"Gak banyak sih Din, mbak iseng-iseng aja kan waktu jadi istrinya mas Andhika, gak ada kegiatan sama sekali." tutur Rahma saat itu.
"Boleh lah nanti aku coba-coba juga siapa tau berhasil dan dapet walaupun buat jajan." timpal Dina setelah Rahma menjelaskan cara dan penghasilannya dari hasil karya menulis novel.
"Duhh panas banget yaaa Din, enak kaya nya kalau berenang." tutur Rahma kembali.
"Hooh! Seger kaya nya, tapi aku gak punya baju renang nya." timpal Dina kembali sambil nyengir kuda.
"Tenaaang!. Mbak ada stok baju renang, bentar ya mbak ambil dulu." ucap Rahma kemudian beranjak dari duduknya.
.
Siang itu di sebuah kafe.
"Lo ada perlu bantuan apa sama gue Ze." tanya Pandu, setelah keduanya memesan minuman masing-masing.
"Gue minta bantuan lo buat seledikin kedua orangtua gadis ini." tutur Zein sambil menunjukan foto seorang gadis.
"Siapa?. Cewek lu.? Akhiiirrnyaaaa setelah sekian lama lo putus dari Emily, lo move on juga, selamat ya bro." tutur Pandu dengan antusias sambil menepuk-nepuk bahu sebelah kiri sahabatnya itu.
Zein pun hanya berdecak kesal pada sahabatnya ini.
"Lo gak ada niatan gitu nanya dulu, apa kek, maen samber aja." tutur Zein agak sedikit kesal.
"Iya apa-apa.? Sorry kalau gue sok tau." tutur Pandu seraya tertawa kecil.
"Lo mau dengerin dulu kagak." ucap Zein kembali.
"Oke gue dengerin." jawab Pandu seraya menyandarkan bokongnya di kursi kafe tersebut.
"Gadis ini, kira-kira masih 18 tahunan lah. Nah kemaren ini gue baru tau kenyataannya dari mantan mertua adik gue, kalau dia bukan anaknya, melainkan anak pungut gitu, bahasa kasarnya."
"Lalu." potong Pandu, seraya menyuruput jus mangga nya.
"Ya gue mau balas budi aja gitu sama dia karna dia kan kemaren udah ngejagain adik gue, dari kejahatan mantan mertua nya itu, lo kan selain jago jadi pengacara lo juga jago dalam pencarian identitas seseorang, gue berharap lo bisa ketemu tuh orangtua kandung nya si Dina." tutue Zein panjang lebar.
"Oke! Gue bisa bantu lo buat nyari tuh identitas gadis itu, tapi gak terlalu cepet juga kan, lo tau sendiri nyokap gue juga masih nyuruh nyari adik gue yang hilang di bawa sama orang gila, nyokap gue masih yakin kalau adik gue masih hidup." tutur Pandu.
"Nah, lo bisa kan nyari nya bareng-bareng atau siapa tau gadis ini adik lo, tidak menutup kemungkinan." sarkas Zein.
"Kagak mungkin Suneo, adik gue namanya Jihan. Lah gadis ini Dina namanya, jauh banget." jawab Pandu kemudian.
"Ya udah sekarang lo mending maen ke rumah gue dan bertemu gadis itu, yuk." tutur Zein setelah membayar minumannya bersama Pandu.
"Oke deh, kebetulan gue laper." timpal Pandu seraya tergelak.
__ADS_1
Keduanya pun beranjak dari kafe tersebut dan menuju ke rumahnyq Zein.
.
Saat sampai di rumah, kelihatan begitu sepi.
"Tumben kok sepi, tapi mobil nya Rahma ada." tutur Zein.
"Lagi pada di dalem kali Zei. Hawa panas gini mana betah orang-orang berdiam diri di luar rumah." jawab Pandu.
Kemudian keduanya pun berjalan menaiki undakan teras. Dan setelah beberapa langkah memasuki ruang keluarga keduanya pun mendengar gelak tawa serta suara bersin-bersin dari arah dapur.
"Haaaciihh".. "Haaciihh.."
Zein dan Pandu pun bersin secara bersamaan.
"Ini lagi pada masak apa sih cabenya nyengat banget" tutur Pandu seraya menggosok-gosok lubang hidung nya.
"Aaa haaciihh.. Gak tau gue, lo gak tau aja. Kelakuan tuh dua perempuan kalau di rumah." timpal Zein.
"Eh abang udah pulang." sapa Rahma yang masih menggunakan handuk kimono karna belum selesai dari acara berenangnya bersama Dina.
Kemudian di susul oleh Dina dari arah yang sama, sambil membawa nampan yang isinya duah buah mangkok isi seblak dan dua gelas jus jeruk dingin.
"Apaan itu, sayur kerupuk." ucap Zein seraya menunjuk nampan yang di bawa Dina.
Rahma dan Dina pun kompak tertawa terbahak-bahak.
"Jadi ini, yang udah bikin kita bersin-bersin." timpal Pandu kemudian.
"Eh ada BangPan. Kirain siapa gitu." tutur Rahma kembali dan tergelak.
"Abang kalau mau, biar Dina ambilin.?"
"Gak usah Din, nanti minta tolong sama teh Sumi aja buat ngambilin." tutur Zein seraya tersenyum.
"Abang di sebelahnya mau.?" tanya Dina menoleh pada Pandu.
"Enggak jangan Din, orang ini jangan dikasih hati, nanti minta jantung." tutur Zein kembali, sebelum Pandu menjawab tawaran Dina.
"Asem lu." tutur Pandu setelahnya.
"Dinn ayo sini cepetan nanti gak enak tau seblaknya kalau udah dingin" timpal Rahma sedikit berteriak karna ia telah duluan kembali ke teras samping kolam renang.
"Iyaaa mbak."
Dina pun berlalu dari hadapan kedua laki-laki itu.
__ADS_1
.
"Aw sakit-sakit, pelan-pelan mijitnya."
"Siapq yang mijit ih, orang cuma ngelusin minyak telon, makanya kalau gak biasa makan pedes jangan sok sok an makan pedes." protes Dina pada sang abang, yang sakit perut akibat makan seblak tadi.
"Abang liat si curut itu tuh, makan seblak kaya nya enak banget, abang jadi ngiler." tutur Zein dengan suara manja pada sang adiknya.
"Iyaaa tapi kan abang gak biasa makan pedes." tutur Rahma kesal.
"Iya-iya abang minta maaf." ucap Zein kembali.
Sedangkan dua orang di depan kakak beradik itu hanya bisa mentertawakan kelakuan sang kakak pada adiknya itu.
"Kalian itu yaaa, kalau orang gak tau, pasti nyangka nya kalian sepasang kekasih." tutur Pandu.
"Masa sihh." tutur Zein.
"Iyaaa, abangnya ganteng dan mbak Rahma nya cantik." timpal Dina.
"De, emang kita gak ada mirip-miripnya gitu." tukas Zein seraya melirik pada sang adik.
"Ada, di mata, sama manja nya sama." tutur Dina lagi.
Kemudian kakak-beradik itu tertawa.
"Den, ada paket untuk aden Zein." ucap teh Sumi sambil menyodorkan sebuah paket dus kecil.
"Abang beli apaan." mata Rahma memicing.
"Nggk abang gak pesen apa-apa." tutur Zein sambil membolak-balikan dus paket tersebut.
"Tinggal buka aja, siapa tau dari penggemar rahasia lo Zei." timpal Pandu.
Kemudian Zein pun membuka dus paket tersebut.
[Semoga suka yaaa sama jam tangannya, ini hadiah buat kamu, oleh-oleh dari Amerika-Bye Emily]. Zein membaca isi surat itu di dalam hatinya.
"Wihh jam tangannya bagus banget bro, lo beli berapa.?" tanya Pandu dan membolak-balikan jam tangan tersebut.
"itu si Emily yang ngirim Pan, dia udah balik ke indonesia."
"What?.. Balik ke indonesia.?" suara Pandu memekik.
"Ya, kemarin dia ngechat gue bahkan telpon gue minta di jemput di bandara, tapi gak gue bales." tutur Zein dengan suara sedikit lesu.
"Good! Bagus Zei, emang tuh cewek gak seharusnya lo kasih hati lagi setelah dia tinggalin lo demi karier nya, lantas mau kembali ke lo, no way, gue mendukung keras." sarkas Pandu.
__ADS_1
"Lo tenang aja, gue juga males sama dia." jawab Zein.
-Bersambung....