Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab018. Surat Untuk Andhika


__ADS_3

Pukul lima pagi, Rahma sudah bangun dan menunaikan kewajibannya.


Keputusannya sudah benar benar bulat untuk mengajukan perceraian ke pengadilan.


....


Pukul tujuh pagi Rahma telah siap untuk berangkat ke pengadilan. Saat ia akan beranjak dari kursi riasnya, terlihat Andhika masuk, ia juga telah siap dengan pakaian kerja nya.


Seminggu ini ia telah pindah ke kamar bawah bersama istri muda nya.


"Maaf Ra, mas mau ambil dasi." Ucapnya.


Rahma pun hanya melihatnya dari pantulan cermin tanpa ingin menjawabnya.


"Kamu mau kemana pagi pagi udah rapi.?" tanya nya kemudian.


"Ada keperluan sedikit." Tukas Rahma.


"Pagi pagi begini.?" Andhika melihat heran ke arah istri tua nya itu.


"Ya, emang kenapa, ada masalah.?" tutur Rahma kemudian.


"Kamu mau pergi tapi gak izin dulu sama aku Ra." kembali Andhika berucap tak terima Rahma bepergian tanpa seizinnya, tidak seperti dulu, pergi ke taman bermain saja, meminta izinnya. Tapi tidak dengan sekarang.


"Lalu, kamu juga nikah lagi tanpa izinku mas." Tukas Rahma lugas.


"Ya itu kan beda Ra, suami berhak kok nikah lagi, punya istri dua." lagi, Andhika menjawab tidak terima yang di ucapkan Rahma.


"Kamu fikir bisa seenaknya berpoligami tanpa se izin istri pertama mu mas, sudah lah ini masih pagi aku malas ribut." kemudian Rahma berlalu dari kamarnya.


Andhika menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia pun berlalu setelah mendapatkan apa yang ia cari.


.


"Sebelum ke pengadilan sebaiknya aku sarapan dulu deh". Sesaat setelah turun dari taksi online nya. Kemudian ia pun berjalan ke arah pinggir jalan yang terlihat disana ada penjual ketoprak.


Setelah Rahma memesan satu ketopraknya, kemudian ia duduk di bangku yang di sediain bapak penjual ketoprak.


"Silahkan neng ketopraknya." Ucap bapak penjual ketoprak itu sambil tersenyum dan sesaat kemudian menyodorkan satu gelas teh hangat.


"Makasih pak." tutur Rahma membalas senyuman si bapak penjual ketoprak.


"Mau ke pengadilan neng." Tanya si bapak ketoprak.


Rahma pun mengulas senyumnya. "Iya pak."


"Mau sidang." Tanya nya kembali.


"Mungkin selanjutnya saya akan sidang, sekarang lagi mau ngajuin cerai pak." Tutur Rahma.


"Oh begitu neng, semoga lancar ya." ucap si bapak ketoprak dengan tersenyum ramah.


"Iya pak makasih."


Sepiring ketoprak telah tandas tak tersisa. Kemudian Rahma berjalan ke arah si bapak yang sedang meracik ketopraknya kembali.


"Jadi berapa pak." Tanya Rahma.


"Sepuluh ribu aja neng." Tutur si bapak ketoprak


Kemudian Rahma merogoh tas kecilnya dan menyodorkan uang lima puluh ribuan.


"Aduh belum ada neng, neng pembeli pertama soalnya." imbuh si bapak ketoprak.


Rahma pun kemudian tersenyum. "Kembaliannya untuk bapak aja."


"Makasih ya neng, semoga lancar rejekinya." Ucap si bapak ketoprak.


"Aamiin."


Rahma pun berlalu dari si penjual ketoprak itu dan menyebrangi jalan guna melanjutkan niatnya mengugat Andhika ke pengadilan.


Beberapa menit kemudian.


Gugatan Rahma di terima, dan seminggu kemudian surat panggilan akan di terima oleh Andhika.


Saat Rahma sedang menunggu taksi online nya, ada seseorang yang melihatnya. Ia pun berlalu tanpa niat untuk menyapa nya.

__ADS_1


'huh lama sekali sih taksi nya' gumam batin Rahma.


'apa sebaiknya aku beli mobil saja ku rasa sisa pembelian rumah kemarin cukup buat beli satu unit mobil' gumam nya kembali.


Tin.. Tin..


Klakson mobil membuyarkan lamunan Rahma.


"Atas nama bu Rahma." Ucap si driver tersebut setelah membuka kaca mobilnya.


"Iya betul." Rahma pun masuk ke dalam mobil tersebut.


....


Baru saja Rahma sampai di rumah terdengar suara perdebatan di ruang tengah.


"Kamu ngapain aja sih di rumah Win, jam segini belum tersedia makan siang, ibu udah laper tau gak". Terdengar suara bu Lia memarahi menantu kedua nya.


"Duh bu Wina bukan pembantu ya, harus masak dan siapin makan, aduhhh enggak banget deh." Jawab Wina.


"Kamu emang beda ya sama Rahma." tutur bu Lia kembali.


"Ya jelas beda lah, beda kelas." Tutur Wina dengan bangga.


Rahma pun berjalan melewati kedua orang yang sedang berseteru itu.


"Rahmaaa.. Dari mana saja kamu jam segini baru pulang, cepat masak ibu lapar." sarkas bu Lia.


"Maaf bu Rahma capek, kalau lapar ya tinggal masak apa susahnya, gak usah nungguin di masakin." Ucap Rahma kemudian ia berlalu menaiki anak tangga. Tanpa mendengarkan ocehan mertua nya itu.


Rahma pun masuk ke kamar nya dan melemparkan tas nya ke arah sofa yang tersedia di kamar nya, kemudian menghempaskan tubuhnya.


"Bener bener tuh ya ibu mertus makin kesini makin menjadi aja." Gumam Rahma, tak lama kemudian setelah ia melamun beberapa saat matanya terpejam.


...


Rahma, terbangun dari tidurnya setelah deringan ponsel nyaring di telinganya, ia pun bangun dan menggapai ponselnya yang terlegetak di kasur.


Saat melihat siapa yang membangunkan tidurnya.


"Bang Zein."


"Baru bangun tidur bang, tumben sore sore gini telpon." Ucap Rahma kemudian.


"Emangnya kenapa, gak boleh abang telpon adikku sendiri." tutur Zein.


"Boleh boleh aja kok." Kembali Rahma menjawab ucapan abanya sambil, menyandarkan diri, di sandaran ranjangnya.


"Kata temen abang, tadi ngeliat kamu keluar dari kantor pengadilan." Tanya Zein tanpa basa basi lagi.


"HAH!!!" Rahma terperanjat kaget!.


"Kok kaget gitu sih, tinggal jawab Ra." Apa yang terjadi pada rumah tangga mu abang berhak tau.


"A-aku ngajuin gugatan cerai." Tutur Rahma di sela ucapannya yang sedikit gugup.


"Kamu gugat cerai suamimu. Ada apa cerita sama abang.?" Terdengar suara Zein agak sedikit meninggi.


Kalau sudah begini tentu Rahma tau akan seperti apa kemarahan sang kakak, saat adikknya di madu.


"Oke! Kalau gitu besok kamu dateng ke rumah abang dan jelaskan semuanya." tutur Zein dengan suara datar.


"Iya bang, besok pagi jam sembilan aku ke rumah abang." tutur Rahma dengan raut wajah yang khawatir.


"Oke! Abang tunggu."


Klik!


Telpon di matikan sepihak oleh Zein.


Rahma sudah tidak heran lagi dengan sifat Zein yang seperti itu, tentu abangnya itu marah, besar kemungkinan ia telah tau kalau sang adik tersakiti, tidak mungkin kalau tidak terjadi apa apa Rahma sampai menggugat Andhika ke pengadilan.


...


Tok! Tok! Tok!..


"Iya sebentar." Terdengar suara seseorang dari dalam.

__ADS_1


"Eh non Rara, apa kabar." Ucap Sumi asisten rumah tangga abangnya.


Ya! Tepat jam sembilan pagi Rahma mengunjungi rumah abangnya.


"Baik teh, bang Zein nya ada." Tanya Rahma.


"Ada non, lagi ngopi sambil liatin ikan berenang". Kekeh Sumi sambil tertawa.


"Non mau minum apa, biar teteh bikinin." Tutur Sumi kemudian.


"Apa aja deh, bebas.!"


"Oke deh siap non cantik". Ucap Sumi sambil mengedipkan sebelah mata nya.


Rahma pun menggelengkan kepala nya seraya tersenyum.


"Pagi abang ganteng." tiba-tiba Rahma muncul dari arah samping, tempat Zein duduk.


"Hai my baby girl, good morning, apa kabar sayang." Sapa sang kakak.


"Kabar aku baik kok bang." Jawabnya kemudian ia menghempaskan dirinya di kursi sebelah abangnya.


"Oya Ra, apa to the point aja yaaa. Karna siang nanti abang ada meeting sama temen-temen." Ucap Zein.


"Ah abang gak asyik." protes Rahma sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maaf Ra, abang kan lagi kejar target." Kembali Zein berucap dengan lembut agar adik kesayangannya tidak bersedih.


"Permisi, non Rara silahkan di minum." Ucap Sumi seraya meyodorkan satu cangkir coklat panas.


"Makasih yaaa teh, Ucap Zein dan Rahma bersamaan."


"Sami-sami." Ucap Sumi dengan bahasa sunda nya.


Beberapa saat hening.. Tidak ada yang mulai berbicara, detik berikutnya Zein membuka suara.


"Apa yang terjadi sama rumah tangga kamu Ra."


"Mas Andhika selingkuh bang, bukan selingkuh lagi tapi dia udah nikah diam-diam dan membawa wanita itu ke rumahku." Ucap Rahma lugas dengan tatapan yang tak bisa Zein simpulkan.


"APA???... Andhika menikah lagi.?? Kurang ajar dasar brengsek? Bajingan." Umpat Zein dengan raut muka yang emosi.


Zein menetralkan nafasnya yang memburu akibat kemarahannya terhadap Andhika.


"Kamu pintar Ra, kamu telah mengambil keputusan yang benar. Abang akan bantu proses perceraian kamu, kalau perlu kita pake pengacara." tutur Zein.


"Pengacara.?" Ucap Rahma melongo.


"Yapz!. Kamu masih ingat gak temen mas yang namanya Pandu.?" Tanya Zein sambil menoleh ke arah Rahma.


"Pan-du.. Oh iyaaa ingat, temen abang yang kalau main ke rumah suka jailin aku kan." Tutur Rahma setelah mengingat-ngingat teman abangnya tersebut.


"Dia udah jadi pengacara hebat loh." Tutur Zein kemudian.


"Oyaaa.?" Ucap Rahma setengah tak percaya.


"Iya lah makanya abang mau pake dia kalau suatu saat kamu memerlukannya." Ucap Zein kembali dan tersenyum ke arah adiknya.


"Terserah gimana baiknya aja menurut abang." Ucap Rahma pasrah.


Zein pun menganggukan kepala nya seraya mengacak pucuk kepala adiknya itu.


....


Seminggu Kemudian..


"Permisi..!!"


"Iya Pak."


"Ini ada surat atas nama Andhika Sadega."


"Saya sendiri Pak, mana suratnya."


"Ini pak silahkan, permisi."


Saat Andhika membaca amplop surat itu.

__ADS_1


"Pengadilan, Rahma benar-benar ingin bermain-main denganku, lihat saja perceraian itu tidak akan pernah terjadi." umpat Andhika seraya menatap ke arah jauh.


-Bersambung...


__ADS_2