
Hari ini seperti biasa Rahma menjalani aktivitasnya, rencananya setelah mengecek resto sebentar, ia akan mampir ke panti asuhan.
Rahma pun membelokkan mobilnya setelah sampai di halaman parkiran mobil panti asuhan tersebut.
"Assalamualaikum" sapa nya setelah masuk ke ruang utama panti.
"Waalaikumsalam,, ehh ada kakak, apa kabar kak.?" ucap salah satu panti itu.
"Alhamdulillah baik Sar, gimana urusan panti lancar" tanya Rahma pada gadis yang bernama Sari tersebut.
"Alhamdulillah lancar jaya mbak, kan ada mbak anggi juga yang mengelola nya." ucap Sari dengan santun.
"Ibu mana". Tanya Rahma setelahnya.
"Ada lagi di dalem kakak langsung masuk aja" tutur Sari.
"Oke baiklah, makasih ya" ucap Rahma sebelum berlalu dari hadapan Sari.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, silahkan masuk".
Rahma kemudian membuka pintu perlahan setelah yang di dalam mempersilahkannya untuk masuk.
"Eh nak Rahma, ibu kira siapa" sapa bu Lasmi pemimpin panti asihannya itu.
"Iya bu!. Ibu apa kabar.?" sapa Rahma.
"Ibu baik Nak!. Silahkan duduk, mau minum apa biar nanti ibu panggilin Sari." ucap bu Lasmi setelah mempersilahkan Rahma untuk duduk di sofa panjang ruangannya.
"Syukurlah kalau ibu baik, gak usah bu tadi di depan aku udah ketemu sama Sari." tutur Rahma kembali.
__ADS_1
Setelahnya keduanya pun larut dalam obrolan mengenai kemajuan panti dan sudah ada beberapa donatur yang masuk ke panti asuhan tersebut.
.
Di tempat lain, di sebuah restoran mewah, Wina berkumpul bersama teman-temannya.
"Lo jahat banget Win, rebut suami sahabat lo sendiri, padahal si Rahma kurang baik apa sama lo."
"Hahaha! Sahabat??. Sorry gue gak punya sahabat kaya si Rahma itu, dia nya aja yang bodoh dan terlalu polos mau gue kadalin". Tutur Wina dengan bangga.
"Lagian apasii yang lo harepin dari si Andhika perasaan tuh cowok kagak kaya-kaya banget dah, cuman dapet tampan doang." ucap salah satu temannya Wina.
"Mmmm apa yaaa, awalnya sih gue, emang beneran suka sama tuh laki, tapi kesini-sini nya biasa aja, cuman entah kenapa gue selalu gak terima dengan yang di miliki si Rahma itu, termasuk suami ganteng, yaa walaupun kere, tapi dia penyanyang banget, di situ gue mulai terobsesi pengen memilikinya". Ucap Wina kemudian menderaikan tawa nya.
"Emang bener-bener lo yaaa, terus lo dapetin barang-barang mahal sama duit itu dari mana.?"
"Inceran baru" ucap Wina lagi dengan masih tawa yang terbahak.
Kedua temannya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Wina.
"Win hati-hati loh, nanti lo kena karma."
"HAH karma?!, tau apasih kalian dengan karma, sekarang tuh mending nikmatin hidup aja." tawa Wina masih saja terdengar di telinga kedua temannya itu.
'Apa Rahma janda?. Gak salah nih aku denger'
Alan tanpa sengaja mendengar percakapan Wina dan kedua sahabatnya itu, yang kebetulan saat itu juga ia sedang makan siang di restoran yang sama dan restoran itu punya Rahma.
Senyum terbit di sudut bibir lelaki itu, cinta yang masih tumbuh untuk sang mantan, akan ia kembangkan lagi dengan meraih Rahma kembali.
Kemudian ia pun beranjak dari duduknya dan keluar dari resto tersebut.
Setelah sampai di rumah senyuman itu tak lepas dari bibirnya sambil bersenandung kecil, Alan menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya terletak di sana.
__ADS_1
"Kelihatannya anak mama lagi bahagia nih! Bagi-bagi dong." ucap Rika yang melihat tingkah anaknya itu.
"Mama kepo ahh, ini belum saatnya, kalau udah saatnya Alan kasih tau oke.!" ucap Alan seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Ah kamu gak asyik" rajuk sang mama.
"Asyikin aja ma."
Alan pun langsung melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan rajukan sang mama.
Setelah sampai di kamarnya, Alan menghempaskan tubuhnya begitu keras ke kasur empuknya.
"Aku harus ketemu Rahma lagi" gumamnya. Dengan senyum sejak tadi masih ia terbitkan di bibir tipisnya.
"Tapi bagaimana caranya, kemarin aja hanya kebetulan ketemu, nomornya harus minta ke siapa ya kira-kira, kagak mungkin dong minta ke si ulet gatal mh." gumamnya kembali.
Kemudian ia pun hanya bisa mengenang sosok Rahma saat masih berpacaran dengannya, begitu banyak kenangan dirinya saat bersama Rahma saat itu. Namun keesokan harinya ia di kejutkan oleh Wina bahwa Rahma telah selingkuh dengan teman satu kelasnya, dengan kebohongan Wina yang meyakinkan Alan saat itu, membuat alan kalap dan secara sepihak dengan tiba-tiba Alan memutuskan Rahma saat itu juga, dan sedikitpun Alan tak mau mendengar penjelasan dari Rahma, hubungan mereka pun kandas dan setelah putus tidak ada lagi kontak mata diantara keduanya.
Saat itu Alan benar-benar patah hati akan sosok Rahma, sehingga ia memutuskan pindah kuliah untuk melupakan perempuan kesayangannya itu, tapi sayangnya, selama dua tahun berpisah dengan Rahma, Alan sedikitpun tidak bisa move on dari sosok Rahma.
Dan mungkin sekaranglah saatnya meraih cinta itu kembali, Alan tidak peduli dengan masalah masa lalu nya dengan Rahma yang penting sekarang ia harus mendapatkan wanita itu kembali.
.
"Baru pulang mbak" tanya Dina yang saat itu sedang duduk di kursi teras depan membaca sebuah majalah.
"Iyaaa capek banget, mbak langsung masuk ya gerah nih mau mandi dulu." tutur Rahma seraya berjalan melewati Dina yang sedang duduk.
"Oke, mau di bikinin minum atau apa gitu sekedar pengusir capek" cegah Dina sebelum Rahma benar-benar masuk ke dalam.
"Nanti deh, mbak mandi dulu yaaa, kita bikin rujak" ucap Rahma kemudian kembali melangkahkan kaki nya.
"Oke baiklahh tuan putri" tutur Dina seraya terkekeh dan berteriak.
__ADS_1
-Bersambung...