Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab016. Kedatangan Zein


__ADS_3

Pukul sebelas siang, Wina sedang duduk santai di rumah Rahma yang ia tinggali juga rencana yang sudah ia susun tadi pagi untuk hang out bersama teman temannya batal begitu saja.


"Rahmaaa... My baby girl i'm cooming..."


Tak,,, tak,,, tak,,, terdengar suara langkah sepatu dari arah ruang tamu, melihat pintu yang terbuka lebar ia begitu saja masuk ke rumah yang sering ia datangi sebelum kesibukannya sekarang ini.


Wina yang saat itu berada di ruang tengah refleks menoleh ke arah suara tersebut.


"Bang Zein.?" Panggilnya..


Yapz! Yang datang siang itu Zein, kakak satu satu nya Rahma yang begitu menyanyanginya.


"Hai Wina.. Sedang apa disini kok sendirian, mana adikku yang cantik.?" Sapa Zein.


"Mmm... Anu itu.. Eee". Wina gugup menjawab pertanyaan Zein.


Kening Zein berkerut dan kedua alisnya terangkat, heran melihat gelagat Wina yang gugup.


"Kenapa Win, ada apa dengan adikku.?" Tanya Zein masih santai, detik berikutnya ia mendudukan dirinya di sofa tunggal ruang tengah.


"Itu bang, Rahma nya lagi keluar". Ucap Wina setelah kegugupan melanda nya.


"Keluar..? Lalu kamu di sini ngapain, sementara Rahma gak ada di rumah". Kembali, Zein melayangkan pertanyaannya.


'Duh! Mati gue..!' Batin Wina berucap. 'Lagian ngapain sih bang Zein tiba tiba kesini bikin mood ku makin ancur aja'.


"Itu bang, aku juga gak tau, aku fikir Rahma ada di rumah, aku juga baru nyampe juga sih barusan". Akhirnya Wina bisa memberikan alasan kepada Zein.


Ia berfikir Zein tidak boleh tau, kalau sekarang ia juga tinggal di rumah Rahma sebagai adik madu nya.


"Oh! Bilang dong dari tadi, kenapa harus pake acara gugup segala". Ucap Andhika kembali.


"Lalu kok kamu bisa masuk ke rumah ini, emang Rahma gak mengunci pintunya saat ia bepergian". Lagi, kembali Andhika bertanya, dan membuat Wina di landa ke gugupan lagi.


"Ehh ada nak Zein, kapan dateng". Tiba tiba ibu mertua Rahma menghampiri Zein dan Wina.


"Eh, ibu apa kabar." Zein pun berdiri dan menyalami mertua Rahma tersebut lalu mencium tangannya dengan takzim.


"Kabar ibu baik nak, tumben kesini ada apa?" Tanya bu Lia kembali, setelah Zein dan dirinya duduk.


"Syukurlah bu, Zein hanya kangen aja sama Rahma, eh pas kesini Rahma nya tidak ada di rumah". Jawab Zein kemudian, seraya tersenyum manis, dan tanpa ia sadari Wina menatap Zein dari tadi.


"Eh iya bang, tadi yang bukain pintu rumah tante Lia". Ucap Wina seraya melirik ke ibu mertuanya dan mengerlingkan sebelah matanya, bu Lia yang di kasih kode seperti itu pun mengerti apa yang maksud Wina.


"Iya nak Zein, ibu bersama kedua adik Andhika udah lama tinggal disini, rumah kami yang di kampung kami jual." ucap bu Lia.


'Kok Rahma gak bilang sih ke aku, kalau mertua serta adiknya tinggal disini' batin Zein berucap.

__ADS_1


"Oh gitu bu, ya sudah Zein mau telpon Rahma dulu suruh pulang, Zein kangen". Ucap Andhika kembali seraya merogoh saku jaket yang ia kena kan, guna mengambil ponselnya.


"Ra.. Kamu dimana sayang, ini abang di rumah kamu loh, kok kamu nya malah tidak ada di rumah". ucap Zein setelah salamnya di jawab Rahma di sebrang telepon.


Entah apa yang Rahma katakan pada abangya tersebut.


"Ya sudah kamu hati hati, kalau emang masih lama, abang pulang aja deh, bentar lagi sekitar jam dua ada meeting sama anak anak, kamu hati hati ya. Kalau udah selesai urusannya segera pulang, oke bye!"


Klik! Sambungan telepon terputus dan Zein pun kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku jaketnya.


"Hey Win! Kok bengong, ada yang aneh sama diri abang.?" tanya Zein, setelah ia sadar bahwa Wina menatapnya begitu dalam.


"Ah nggak bang". Wina pun gelagapan.


"Aku lagi mikir aja makin kesini abang makin cakep aja" . Ucapnya seraya di iringi tawa ringan.


"Ah kamu bisa aja, ya udah kalau gitu abang pulang dulu ya, nungguin Rahma mah lama, biar lain kali kesini lagi aja, kamu mau bareng gak, atau mau nungguin Rahma saja.?. Tutur Andhika.


"A-aku disini aja bang, paling bentar lagi temen aku mau jemput". Ucap Wina berbohong!.


"Oke deh sampai ketemu lain waktu". Ucap Andhika dengan seulas senyumnya.


"Iya bang" jawab Wina dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tak lupa Zein pun pamit kepada mertua Rahma yang sedang duduk santai di depan kolam ikan, setelah sebelumnya ia pamit mencari udara segar


"Iya nak Zein, hati hati ya, kapan kapan kesini lagi" Ucap bu Lia, padahal dalam hatinya ia tidak ingin kakak dari menantunya itu kembali ke rumah itu.


"Insya Allah bu". Tutur Zein.


Kemudian ia pun berlalu setelah mengucapkan salam dan bu Lia tentu menjawabnya.


...


"Gilaaaa..! Bang Zein sekarang makin ganteng dan cute aja" Ucap Wina di dalam kamarnya. Setelah kepergian Zein ia buru buru masuk ke dalam kamarnya.


"Tau begini, gue pacarin aja tuh kakaknya si Rahma, apalagi sekarang kaya nya dia udah dapet kerjaan yang menjanjikan deh, dari penampilannya cool abis". Kembali, Wina bergumam sambil menghempaskan dirinya ke atas kasur.


"Duhh! Bagaimana ya gue bisa dapetin abangnya si Rahma sekaligus suaminya, gue mau keduanya". Greget Wina.


Tok!


Tok!


Tok!..


"Win ini ibu, boleh ibu masuk.?"

__ADS_1


"Iyaaa bu masuk aja" Jawab Wina.


Kemudian bu Lia pun membuka pintu kamar Wina lalu berjalan cepat dan duduk di bibir ranjang Wina.


"Gawat Win". Sarkas bu Lia.


"Apanya yang gawat bu". Jawab Wina masih santai dengan rebahannya.


"Itu Zein, bagaimana kalau ia tau pernikahan kamu dengan Andhika, bisa bisa marah besar tuh abangnya si Rahma".


Sontak Wina terbangun dari acara rebahannya, ia baru menyadari hal itu.


"Iya bu, kok aku enggak kefikirannya". Lirik Wina ke arah mertuanya.


"Kita harus atur strategi Win, bagaimana dan apapun caranya". Kembali suara bu Lia berucap.


"Ibu tenang aja, nanti biar Wina sama mas Dhika yang fikirin caranya". Ucap Wina menenangkan ibu mertuanya tersebut.


"Oke deh kalau gitu, ibu istirahat dulu ya, ibu capek". Ucap bu Lia seraya berdiri dan meninggalkan kamar Wina.


....


"Akhirnya urusanku selesai".


Setelah deal dengan orang yang menjual rumahnya tersebut.


Rahma kembali pulang, setelah menaik taksi online yang sebelumnya ia pesan melalui aplikasi.


'Kalau kaya gini kan aman, mau di tinggali atau nggaknya rumah itu, biar nanti aku fikirin lagi, yang penting uangku tidak habis cuma cuma hanya untuk menutupi kekurangan di rumahku itu'. Rahma berucap dalam hatinya.


Bukannya Rahma tidak ikhlas, akan tetapi mereka akan keenakan dan berlaku semene mena terhadapnya.


'Langkah selanjutnya, aku harus segera mengajukan perceraianku dengan mas Andhika'.


"Sudah sampai mbak". Ucap sang driver menyadarkan Rahma dari lamunannya.


"Oh iyaaa,, terimakasih ya pak". Rahma pun keluar dari taksi online tersebut setelah membayarnya.


"Rahmaaaa, jam segini baru pulang, cepat sediain makan siang ibu sudah lapar". Tiba tiba bu Lia berdiri dari duduknya melihat Rahma yang baru sampai rumah dan ingin naik ke lantai atas, bu Lia segera menyerbunya.


"Aku capek bu, emangnya ibu di rumah ngapain aja dari pagi, hanya untuk mengisi perut sendiri saja kenapa harus nungguin aku, maaf bu aku di sini pemilik rumah bukan asisten rumah ini, yang apa apa harus aku yang kerja kan, ada menantu kesayangan ibu dan juga anak ibu kan, gunakan mereka bu, permisi". Ucap Rahma panjang lebar, ia pun segera melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamar, Rahma pun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai ala rumah, ia mengenakan celana jeans selutut, dan kaos t-shirt warna biru muda.


"Sepertinya aku harus benar benar segera mengajukan perceraian, lama lama mereka semakin seenaknya saja". Lirih Rahma.


Kemudian ia pun merebahkan dirinya dan tidur siang guna menghilangkan rasa capeknya hari ini.

__ADS_1


-Bersambung...


__ADS_2