
Setelah Rahma mendapatkan kabar dari Sinta, hari ini orang yang mau menyewa rumahnya akan bertemu dengannya sekaligus memantau rumahnya itu.
Rahma telah janjian dengan temannya itu untuk bertemu di rumahnya yang akan ia sewakan itu.
Setelah Rahma mengirim sharelock pada Sinta, ia pun melajukan mobilnya perlahan dan keluar dari pelataran rumah abang nya.
Setelah beberapa saat, Rahma tiba di rumahnya kemudian ia keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobil itu tepat di depan rumahnya.
[Sin, aku udah nyampe, kamu langsung masuk aja ya.]
Satu pesan Rahma kirim pada sahabatnya, lalu ia masukan kembali ponselnya ke dalam tas slempangnya.
Kemudian ia memasukan anak kunci ke lobang pintu rumahnya. Meski tidak di huni rumah itu selalu bersih dan rapi, karena setiap seminggu sekali asisten rumah abangnya selalu membersihkannya.
Lima belas menit kemudian mobil berwarna silver itu sampai di halaman sebuah rumah besar dan elegan.
Lalu ke empat orang yang berada di mobil itu turun secara bersamaan.
"Waaah,, rumahnya besar dan mewah ya pah." tutur sang istri itu.
"Iya ma, halamannya juga luas, papa suka." tutur si suaminya.
"Gimana menurut kamu Rey, kamu suka." ucap ibu-ibu yang usianya baru menginjak empat puluh tahun itu.
"Bagus ma, Rey juga suka."
"Yaudah daripada di liatin, mending kita masuk yuk, orang nya udah nunggu di dalem." ucap Sinta kemudian, ia pun berjalan lebih dulu dan ketiga nya mengikuti dari belakang.
"Assalamualaikum..." ucap Sinta.
"Waalaikumsalam.. Hai Sin ayo masuk pak bu silahkan masuk.
"Iya Ra makasih." tutur Sinta, dan kemudian Sinta serta om tante nya pun duduk di sofa ruang tamu.
"Nih Ra, kenalin om sama tante aku." ucap Sinta kembali.
"Hallo, saya Surya, dan ini Mega, istri saya." ucap om Sinta yang bernama Surya itu.
"Hallo Om, Tante, saya Rahma."
Ketiganya pun bersalaman sebagai awal perkenalannya.
"Lah, Reyhan mana Sin.?" tanya tante nya kemudian.
"Di luar kali Tan, biasa lah ngurusin cewek nya." tutur Sinta.
__ADS_1
Kemudian setelah beberapa saat, Reyhan pun memasuki rumah tersebut dan menuju sofa yang di duduki ke empat orang di sana.
Seketika Rahma pun menoleh begitu juga dengan Reyhan menatap pada nya.
"Kamu."
"Kamu."
"Ja-jadi. Ini pemilik rumah nya Sin." tanya Reyhan pada sepupunya Sinta.
"Iya kak Rey, kenapa? Kakak kenal."
"Bukan kenal lagi tapi ini cewek rese yang pernah aku ceritain waktu itu." tutur Reyhan dengan menunjuk ke arah Rahma.
"Sin jangan bil-."
"Ini sepupu aku Ra. Anaknya om sama tante ku." ucap Sinta.
"Ma, pa, gak jadi deh kita sewa rumah ini, jelek." tutur Reyhan dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Rey, kamu apa-apaan sih, yang mau sewa rumah ini papa sama mama kok, kalau kamu gak suka ya udah sana tinggal di hotel sendiri." sarkas sang papa.
"Ayo Ra, kita lihat-lihat dalemnya boleh kan." tutur Sinta kembali.
"Boleh Sin, yuk! Tante, Om silahlkan." tutur Rahma dengan sopan. Lalu menjulurkan lidahnya pada lelaki aneh yang ia temui waktu di toko buku itu.
"Rey, gak boleh gitu ah." ucap sang mama.
Lalu keempat orang itu meninggalkan Reyhan dengan segala umpatannya pada wanita yang ia temui beberapa hari yang lalu.
"Ini kamar utama nya bu, dan di sebelah sana kamar tamu nya." tutur Rahma menunjukan dua kamar di bawah.
"Untuk kamar yang lainnya berada di lantai atas, ada tiga kamar berikut kamar mandi nya juga di dalam." tutur Rahma kembali.
"Jadi total ada lima kamar ya." tutur sang suami itu.
"Gak ada kamar buat asistennya." kembali si ibu itu bertanya.
"Ada bu tuh di samping pintu meja makan itu arah ke kamar asisten dan di sana ada tiga kamar dan satu gudang." tangan Rahma mengarah ke pintu tersebut.
"Wah enak ya pah,mama suka pah, kenapa gak langsung beli aja pah, ini nih yang mama suka ruang makannya menghadap kolam renang." tutur sang istri itu.
"Itu nanti biar kita bicara lagi sama Nak Rahma, bukan begitu yaa Nak.?" Ucap sang suami itu.
"Saya tergantung om sama tante saja, mau sewa silahkan mau beli juga silahkan, tapi kalau untuk pembelian sekarang belum bisa, sebab sertifikatnya tidak saya bawa." tutur Rahma dengan seulas senyum ia berikan.
__ADS_1
"Santai aja Nak, yang penting saya dan istri saya cocok sama rumahnya." tutur pak Surya kembali.
"Makasih pak sebelumnya, oya ibu mau naik ke atas sekedar melihat-lihat ruangan yang lainnya." tutur Rahma dengan sopan.
"Gak usah lah saya sudah cocok, gak perlu lihat-lihat lagi dari sini aja sudah terlihat mewah dan bagus." fuji bu Mega dengan membanggakan rumah itu.
Rahma pun hanya mengganggukan kepala nya seraya tersenyum.
"Jadi deal nih om." tanya Sinta menatap om nya itu.
"Yes! Nanti kamu bantu pindahan ya bawain barang-barang tante kamu tuh yang hampir satu kamar." tutur om nya itu melirik istrinya dan hanya di sambut tawa oleh sang istri.
"Siap om, biar nanti aku sama kak Rey beres-beres." tutur Sinta.
"Apa beres-beres.?" tiba-tiba suara Reyhan terdengar dari balik ruang tamu.
"Iya kak Rey, om sama tante jadi bahkan mau beli sekaligus rumahnya." tutur Sinta.
"No no no! Aku gak suka, jelek rumah nya, mending cari yang lain aja yang lebih bagus dari rumah ini." ucap Rey dengan mata mengelilingi rumah itu.
"Dasar munafik, tadi waktu masih di luar muji rumahnya bagus, hey kak jangan terlalu dendam sama orang, kalau udah jatuh cinta, nyaho loh." ucap Sinta lagi.
"What aku jatuh cinta sama dia, ogah, lagian kamu tau sendiri aku udah punya cewek." tutur Reyhan dengan bangga.
"Heh cowok aneh, lagian siapa juga yang mau sama situ, enggak yaaaa." Rahma pun membalas ucapannya si laki-laki aneh itu.
Pak Surya dan sang istri yang tersenyum melihat kedua nya.
"Pak, Bu, maaf ya abis anaknya rese." ucap Rahma lalu mendelikkan matanya pada Reyhan.
"Gak apa-apa nak, Reyhan emang gitu kok anaknya suka ngasal kalau bicara." timpal bu Mega seraya tersenyum ke arahnya.
"Ma, Pa, udah selesaikan pulang yuk."
"Sabar dong Rey, kamu kenapa sih, gak mau liat kamar dulu, pilih mau yang mana, biar nanti orang-orang langsung naro barangnya di kamar kamu." tutur sang Mama.
"Gampang Ma, nanti aja." tutur laki-laki itu kemudian ia berjalan ke arah depan menuju pintu utama rumah itu.
"Nak Rahma, maafin anak saya ya, dia emang begitu." timpal pak Surya setelah anaknya menghilang dari ruangan itu.
"Santai aja Pak." ucap Rahma dengan tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit undur diri, mau beres-beres dulu." timpal Pak Surya kembali.
"Oh baik Pak, besok saya kembali lagi untuk menyelesaikan urusan rumah ini. Di depan ada satpam nya, jadi nanti bisa sekalian nge bantu-bantu." tutur Rahma kembali dengan seuntai senyum.
__ADS_1
Keempatnya pun kembali ke ruangan tamu menuju pintu utama rumah itu, setelah saling berpamitan kedua mobil itu meninggalkan rumah mewah tersebut.
-Bersambung...