
"Rahmaaa.. Apa-apaan ini." tutur Andhika seraya melayangkan surat dari pengadilan itu.
"Masa kamu tidak bisa membaca nya mas, apa perlu aku yang bacain." Ucap Rahma dengan nada suara kecutnya.
"Kamu fikir gampang apa, tidak bisa sebelum kamu tanda tangani ini." tutur Andhika kembali seraya menyodorkan maps ke arah Rahma.
"Tanda tangani itu, baru aku akan ceraikan kamu dengan sukarela." Umpat Andhika kembali.
"APA???, kamu menginginkan rumah berikut isinya." Ucap Rahma setelah membaca isi maps yang di sodorkan Andhika.
"Baik! Kalau begitu perceraian kita tidak akan terjadi Rahma, ingat itu." Andhika pun berlalu dan menutup pintu kamar dengan keras.
'Enak saja kamu mas, kamu fikir rumah ini hasil keringatmu'. Tutur Rahma di dalam hatinya.
....
"Gimana Dhik, si Rahma mau kan tanda tangani surat itu." ucap ibunya dengan antusias.
"Belum bu, tapi akan ku pastikan dia akan segera mentanda tangani surat itu, kalau enggak aku akan buat hidupnya tersiksa dan sakit sakitan lalu setelah itu mati, dan harta nya akan jatuh ke tanganku." Ucap Andhika dengan sorot mata tajam.
"Aku setuju mas, aku akan membantumu, kalau perlu kita buat dia kecelakaan, jatuh dari tangga misalnya." Wina menimpali ucapan suaminya itu.
"Nah aku juga setuju, itu lebih baik mbak Win dan lebih cepat prosesnya, biar si mbak Rahma itu cepat-cepat ke neraka." Umpat Rina.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan sepasang telinga melihat dan mendengar apa yang telah mereka rencana kan.
'Aku harus kasih tau mbak Rahma, dan untungnya aku video semua yang mereka rencanakan." Tutur Dina di dalam hatinya.
Saat ia akan berbalik, tiba-tiba ia menyenggol vas bunga yang terletak di meja yang ia punggungi.
Prang!!!!
"Siapa itu, jangan- jangan ada yang mendengar semua rencana kita." Ucap bu Lia.
"Meong.."
"Bukan. Ternyata kucing sialan itu". Umpat Wina seraya mengelus dada nya dan kompak hal itu di lakukan yang lainnya juga.
Setelah Dina sampai di halaman belakang, ia menetralkan nafasnya sejenak. Alih-alih takut ketahuan tanpa ia sadari, ia setengah berlari.
"HUH!! Selamat.".
"Apanya yang selamat Din.?"
Dina tersentak kaget dan mengadahkan kepalanya.
"Mbak Rahma". Matanya seketika membulat.
"Kamu kenapa ngeliat mbak kaya ngeliat setan aja." timpal Rahma.
"En-enggak mbak, tadi aku abis lari larian ngejar si Thomas." jawab Dina setengah gugup.
"Kamu ini ada-ada saja, lalu si Thomas nya kemana.?" Tanya Rahma seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Aaa-eee.. I-itu mbak, gak tau, hehehe." Ucap Dina seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu aneh ih, mending ikut mbak yuk, kita jalan jalan, beli sesuatu misalnya". Ajak Rahma kemudian.
"Kemana mbak.?" Tanya Dina masih di landa kebingungan.
__ADS_1
"Pokokntya ikut aja, Ayo kita siap-siap dulu." Ajak Rahma seraya ia berjalan lebih dulu meninggalkan Dina yang masih berdiri di tempatnya.
Untuk beberapa saat Dina masih terpaku di tempat. Rahma yang menyadari akan hal itu, ia pun kembali menoleh ke belakang.
"Dinaaa... Nanti ke sambet loh, kamu gak tau ya kalau di pohon itu ada kuntilanaknya." Ucap Rahma terkikik geli, kemudian ia pun segera berlalu.
"Mbaaaakkk!... Awas yaaaa." Dina yang di kagetkan Rahma berlari menyusul kakak iparnya, bukannya ia takut dengan yang di ucapkan Rahma tadi, melainkan sedikit kesal dengan candaan kakak iparnya itu.
.
Rahma dan Dina pun bersamaan menuruni anak tangga, dengan di iringi obrolan ringan serta tawa keduanya.
"Kompak bener yaaa adek-kaka ipar yang satu ini." ketus Wina tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan gelas di tangan kanannya.
"Dih sirik aja mbak Win ini, emang kenapa kalau aku kompak bareng ka Rahma, gak bikin mbak Win rugi kan." Timpal Dina.
"Dinaaa apa-apaan kamu. Lagian bener apa kata Wina, kamu rupanya kompak sekali dengan mbak mu itu." Sarkas bu Lia yang muncul dari arah samping kolam ikan.
"Bu, emang ada yang salah kalau aku deket sama mbak Rahma, lagian kan dia juga kakak ipar ku juga istri dari bang Dhika." Jawab Dina se sopan mungkin terhadap ibu nya tersebut.
"Halah! Gausah kamu akrab-akrab lagi toh sebentar lagi mereka akan bercerai." kembali bu Lia melayangkan ucapannya.
Rahma yang tidak ingin mendengarkan keributan itu ia segera melanjutkan langkahnya. "Din. Jadi ikut gak, kita senang-senang."
"i-ikut mbak." Dina pun mengikuti langkah kaki Rahma.
"Dinaaa kamu berani melawan ibu, berarti kamu udah ingin tau siapa kamu seb-."
"Buu, jangan ucap Rina, ini belum saatnya Dina tau." sanggah Rina tiba-tiba dan mengelus tangan sang ibunda.
Bu Lia pun hanya bisa mengela kan nafas beratnya.
....
Dina pun mengikuti Rahma, turun dari mobil tersebut.
"Showroom?.. Mbak mau ngapain.?" tanya Dina bingung.
"Mau tidur, ya beli mobil lah. Yuk anter mbak bantu pilih mobil yang bagus dan cocok buat mbak."
"O-oke mbak."
"Duhh mobilnya keren-keren yaaa." tutur Rahma.
"Ho'oh mbak, aku bingung milihinnya." Jawab Dina sambil mengedarkan pandangannya melihat-lihat mobil yang berbaris rapi.
Saat mata Dina tertuju pada satu mobil, ia segera meraih tangan mbak ipar nya itu.
"Mbakk,. Siniii.?"
"Apa Din, udah ada yang cocok." Tutur Rahma.
"Iya sini ikut." Dina pun menarik tangan Rahma
"Nih, cocok buat mbak, selain mobilnya, warna nya juga bagus buat mbak, warna merah, ciri-ciri pemberani." tutur Dina.
Rahma pun menatap sebuah mobil honda civic yang di tunjukan Dina. Setelah menatapnya lama, kemudian tanpa banyak bicara lagi Rahma memilih mobil yang di pilihkan adik iparnya tersebut.
Setelah Rahmaa deal dengan penjual mobil tersebut, ia pun meninggalkan showroom itu dan langsung mengendarai mobil baru nya itu.
__ADS_1
"Wahh!! Ternyata mbak pinter nyetir juga." puji Dina sambil tersenyum.
"Iya dong, hehehe." Jawab Rahma.
"Abis ini kita kemana mbak.?" tanya Dina.
"Emmm... Makan yuk, mbak laper nih, cacing nya udah kukuruyuk." tumpal Rahma seraya terkikik geli.
"Ayo, aku juga lapar mbak." Ucap Dina, dan kemudian tawa kedua nya berderai.
"Oya Din, kamu mau makan apa." Tanya Rahma kembali setelah tawa keduanya terhenti.
"Terserah mbak deh. Aku mah ikut aja, yang penting kenyang." Tutur Dina seraya mengelus perutnya.
"Gimana kalau nasi padang, kebetulan di simpang sana ada warung nasi padang." tutur Rahma.
"Oke deh yuk! Come on!".
...
Pukul satu siang, Rahma dan Dina pun kembali pulang setelah sebelumnya mampir di warung nasi padang.
"Din, boeh minta tolong." tutur Rahma seraya tatapannya di alihkan pada pintu gerbang yang tertutup.
Dina yang mengerti apa maksud Rahma pun, kemudian turun dari mobilnya.
Mobil Rahma pun melaju dengan cantik setelah pintu gerbang terbuka lebar.
Bu Lia, Wina, serta Rina yang sedang duduk santai di ruang tamu pun, mendengar ada suara deru mobil di halaman.
"Mobil siapa itu bu." Tanya Wina.
"Mana ibu tau, kan ibu disini." tutur bu Lia.
Rina pun segera berdiri dari duduknya. "Biar aku yang liat siapa tau bang Zein lagi yang tiba-tiba datang."
"Rina bener bu." tutur Wina.
"Buu. Mbak Win sini dehh." ucap Rina tanpa menoleh ke arah ibu serta kakak ipar kedua nya itu.
Bu Lia dan Wina pun sontak kaget melihat Rahma yang turun dari mobil tersebut dan di iringi langkah Dina dari belakang mobil.
"Si Rahma dapet duit dari mana bisa beli mobil se keren itu." tutur Wina masih dengan raut muka kagetnya dan ada rasa iri di mata nya itu.
"Pada ngapain diem disini, udah kaya maling aja." tiba-tiba Rahma sudah berdiri di depan pintu dan melihat ketiga orang sedang mengintip di balik jendela.
"Kamu dapet duit dari mana bisa beli mobil sebagus itu." sarkas Wina.
"Kerja lah, emang kamu yang cuma ngandelin duit suami." timpal Rahma seraya menyunggingkan senyumnya kecut.
"Kerja apaan cuma nulis doang sampe bisa beli mobil semahal itu." bu Lia pun ikut menimpali.
"Gak perlu kalian tau berapa uang yang ku hasilkan." tutur Rahma kembi dan berlalu berjalan ke arah tangga.
Dina yang masih mematung di tempat pun sontak kaget saat suara Wina bertanya. "Dina pasti kamu tau kan berapa uang yang di hasilkan mbak kesayanganmu itu."
"Mereketehe." jawab Dina seraya menaikkan kedua pundaknya, ia pun berlalu juga dari tempatnya.
"Sialan.." Umpat Wina.
__ADS_1
-Bersambung...