Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab06. Mulai Melawan


__ADS_3

Setelah hari dimana kedatangan Wina, Rahma kembali seperti biasanya menjalani hari hari dengan omelan sang ibu mertua.


"Rahma, hari ini anakku yang bungsu mau pulang, cepat kamu masak dan bersihkan kamar untuknya". Perintah bu Lia


"Ada Rina kan dia tidak ngapa ngapain kenapa tidak suruh dia saja bu, Rahma baru aja selesai nyuci". Timpal Rahma.


"Kamu ini di suruh bisanya melawan saja, apa susahnya turutin perintah ibu". Sungut bu Lia kembali.


"Aku disini bukan pembantu bu yang setiap saat harus mengikuti apa yang ibu inginkan. Jadi tolong ya biar Rina saja yang membereskan kamar untuk anak ibu itu, aku capek mau istirahat". Ucap Rahma sambil berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.


Pukul dua sore Dina sampai di rumah Rahma ia mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, setelah ada jawaban dari dalam dan seseorang membuka kan pintunya.


"Dinaaa..." Ucap Rina setelah membuka pintu.


"Ayo masuk Na ibu lagi istirahat di kamarnya". Ucap Rina setelah menutup pintu kembali.


"Mbak Rahma nya kemana kak?". Tanya Dina kemudian setelah duduk di sofa.


"Ada tuh di kamarnya mungkin lagi nulis novel gak jelas" Jawab Rina dan sedikit malas menjawab pertanyaan Dina.


"Kok gitu sih kak, kakak emang gak tau karya novel mbak Rahma bagus bagus tau, aku sering membacanya". Ucap Dina.


Tak lama Rahma turun dari lantai atas.


"Mbak Rahma, assalamualaikum mbak". Ucap Dina dan segera menyongsong Rahma dan menyalaminya dengan mencium tangan Rahma dengan takzim.


"Wa-waalaikumsalam".. Ucap Rahma sedikit terbata. Ia kaget ternyata Dina jauh lebih sopan di banding sang kakak, Rina.


"Bentar ya mbak ambilin minum, kamu mau minum apa?" Tanya Rahma.


"Gak usah repot repot mbak, nanti aku bisa ambil sendiri kok" ucap Dina dengan senyum manis yang ia berikan pada sang kakak ipar.

__ADS_1


"Kalau gitu mbak beresin kamar dulu buat kamu ya, kamu mau di atas atau di bawah". Tanya Rahma kembali.


"Udah mbak gak usah repot repot biar nanti aku beresin sendiri, aku mau di atas ya boleh gak?" Tanya Dina kemudian.


"Boleh terserah kamu nyamannya dimana". Ucap Rahma dengan seuntai senyum ia berikan pada Dina.


Ternyata Dina tidak seburuk yang ia fikirkan, ternyata Dina jauh lebih baik dan sopan tentunya menghargai dirinya, itu membuat Rahma sedikit senang dan tenang.


Malam kian merangkak ke peraduan.


"Gimana Dhik kapan kamu merencanakan pernikahan kamu dengan Wina, sebaiknya di percepat ibu ingin segera mengusir menantu yang tidak berguna seperti Rahma itu". Lagi lagi sungut bu Lia menjelekkan menantu nya.


"Minggu depan bu, aku sama Wina udah merencanakannya". Andhika menjawab dengan sangat mantap.


"Bagus! Setelah itu kamu ceraikan si Rahma usir dia dari sini dan bawa Wina kesini, dia jauh lebih baik dari pada si yatim piatu itu", Ucap bu Lia sambil berlalu pergi ke kamarnya.


"Ibu gak tau bahwa rumah ini mutlak milik Rahma, aku tidak ikut andil dalam rumah ini". Batin Andhika berucap.


Ya! Setelah kehadiran sang mertua Andhika jarang memperhatikan kebutuhan istrinya di rumah apalagi ia tau bahwa Rahma sering menggunakan uangnya untuk menympal kekurangan kebutuhannya di rumah, dan itu membuat Andhika senang karna ia bisa sesuka hatinya memberikan uangnya terhadap ibu adik serta selingkuhannya. Bahkan uang jajan untuk Dina, Andhika selalu menyuruh Rahma untuk mentransfernya tentu saja Rahma pula yang menambahkan uang jajan serta kebutuham Dina selama ngekos.


Sungguh Andhika tidak bersyukur memiliki istri sebaik Rahma, ia di butakan cinta oleh sahabat istrinya sendiri.


"Belum tidur Ra.." Ucap Andhika setelah masuk ke kamarnya


"Belum mas, kenapa.?" Tanya nya.


"Gini minggu depan mas ada proyek di luar kota mungkin di sana satu atau 2 minggu, setelah itu mas pulang, gak apa apa kan mas tinggal di rumah ada ibu juga sama adik adik mas". Ucap Andhika dengan intonasi suara se pelan mungkin dan tidak menunjukan gelagat kecurigaan Rahma.


"Selama itu mas.. Tumben?." Ucap Rahma sedikit kaget.


"Namanya juga kerjaan Ra mau gimana lagi, nanti kalau mas berhasil bangun proyeknya, kamu juga yang seneng dan nikmatin uangnya" kembali Andhika berucap.

__ADS_1


"Biji matamu seneng mas, uang 3 juta yang kamu berikan tidak cukup membuat aku senang, di tambah ibumu yang kalau masak harus banyak, dan harus ada ini dan itu, sudah tua juga tapi makannya rakus". Sungut Rahma di dalam hatinya.


"Iya mas terserah kamu yang penting kamu disana jaga kesehatan dan kasih aku kabar" Ucap Rahma dengan seuntai senyum yang ia berikan.


Seketika Rahma melihat raut bahagia di wajah sang suami, ia hanya bisa berucap dalam hati. "Tumben dikasih proyek sebahagia itu, kok aku agak curiga ya". Batin Rahma tapi tak lama kemudian ia menepis kecurigaan itu.


Satu minggu kemudian..


"Mas berangkat dulu ya sayang hati hati dan jaga kesehatan" Ucap Andhika pagi itu sesaat sebelum dirinya menaiki taksi yang di pesan untuk mengantarkannya ke bandara.


"Iya mas, kamu juga hati hati dan jangan lupa kabarin aku ya". Ucap Rahma.


"Pasti sayang...".


Andhika pun berangkat setelah pamit pada istri ibu serta kedua adiknya.


Dua hari kemudian...


"Rahma ibu mau ke sumatra dulu ya ada sodara jauh dari almarhum bapak nikahan, ibu di undang tidak enak kalau tidak datang". Ucap sang mertua sambil menenteng tas kecilnya.


"Iya bu, Dina gak ikut..?" Tanya nya.


"Anak itu susah kalau di ajak ke acara acara beginian jadi dia sama kamu aja jaga rumah, ibu sama Rina pamit ya itu taksi nya udah nungguin". Ucap mertuanya.


Padahal Dina bukan tidak suka pergi ke acara seperti itu, akan tetapi ia tau acara siapa dan pernikahan siapa yang di datangi sang ibu.


Setelah kepergian ibu mertua serta adik iparnya, Rahma kembi masuk ke kamarnya guna melanjutkan bab cerita novelnya, akan tetapi sebelum ia meneruskan menulisnya, ia iseng membuka aplikasi yang berlogo hijau itu dan seketika melihat postingan Wina. "Otw pulang kampung, go to sumatra" begitu isi caption foto Wina di dalam pesawat. Seketika fikiran Rahma melayang jauh, "ada apakah ini apa cuma kebetulan saja, mas Andhika ada proyek di sumatra, ibu pergi ke sumatra dan juga kepulangan Wina". Batin Rahma berucap seketika ia kembali berucap. "Kan sumatra luas yaaa, huh dasar Rahma" Ucapnya sambil mengetuk kepalanya sendiri menggunakan jarinya.


Akan tetapi ia teringat kejadian beberapa minggu ke belakang, ia segera menepisnya dan kalau pun itu terjadi ia tidak akan membiarkan kedua pengkhianat itu hidup bahagia dan tenang.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2