
Pagi ini langit di selimuti awan mendung, rupanya hujan tipis-tipis telah menyirami bumi ini. Hawa dingin membuat anak manusia enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Begitu juga dengan Rahma, pagi ini masih berbaring di kasur empuknya dengan selimut tebal yang menempel di badannya. Kemudian ia meraih remote AC yang berada di bantal kiri nya. Lalu mematikan AC nya.
"Huh dingin sekali rupanya diluar sedang hujan." gumam Rahma lalu ia pun memaksa kan tubuhnya beranjak dari peraduan.
Kemudian ia berjalan ke arah balkon kamarnya dan mengibas tirai yang menjuntai tinggi. Rupanya di luar hujan sudah turun deras.
"Ya hujan gimana mau keluarnya kalau hujan kaya gini." gumamnya kembali.
Siang nanti rupanya Rahma ada janji bersama Zein di salah satu kafe di kota yang mereka tinggali saat ini.
"Meskipun naik mobil tetep aja lah males keluarnya."
Lalu ia pun berjalan ke arah kamar mandinya, kemudian menutup pintu kamar mandi setelah sebelumnya ia masuk. Lantas ia berjalan ke arah shower dan menekan kran air hangat guna membasuh seluruh tubuhnya.
Setengah jam kemudian Rahma selesai dengan ritual mandinya tersebut. dan keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas dada dan handuk kecil diatas kepalanya yang basah.
"Seger rupanya kalau udah mandi gini." gumamnya seraya terkekeh sendiri.
Beberapa menit kemudian ia telah selesai memakai baju santainya dan merias diri. Meskipun di dalam rumah Rahma pandai merawat dirinya.
Ia pun keluar kamar dan kemudian menuruni anak tangga satu persatu.
Setelah sampai di anak tangga terakhir ia heran dengan tatapan Wina yang menelisik dirinya. Mata Wina tak lepas memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Rahma pun terheran-heran dengan tingkah Wina pagi itu.
"Kamu kenapa Win, ngeliat aku gitu banget, biasa aja kali. Aku emang cantik kok." tutur Rahma dengan suara juteknya kemudian ia berjalan ke arah dapur.
Tatapan Wina masih terarah pada Wanita itu, tanpa dia sadari ia mengikuti langkah Rahma menuju dapur.
Rahma yang menyadari Wina mengikutinya kemudian ia pun membalikan badannya.
"Hallo Wina kamu ke sambet hantu hujan." ucap Rahma kembali, kemudian tawa nya pun berderai.
__ADS_1
Wina yang baru saja sadar kalau dirinya mengikuti Rahma pun gelagapan.
"Si-siapa yang ngikutun kamu, aku juga mau ke dapur kok dari tadi juga." jawabnya dengan tatapan ke segala arah.
"Oyaaa.. Gak salah seorang Wina mau masuk ke dapur bukannya alergi bau dapur ya.?" cibir Rahma dengan senyuman mengejek. Kemudian Rahma mengambil toples krimer serta kopi bubuk dan kemudian menuangnya ke dalam cangkir kramik warna abu-abu.
"Ya mulai sekarang aku harus terbiasa dengan aroma dapur demi mas Andhika." tuturnya dengan bangga.
"Oo.. Gitu, bagus dong ya biar mas Andhika nya makin klepek-klepek sama kamu." ejek Rahma lagi, kemudian ia berjalan ke arah dispenser guna menyeduh kopinya tersebut.
Saat Rahma akan duduk di mini bar area dapur dan mengaduk kopinya, ia melihat aktivitas Wina yang ingin membuat teh manis hangat. Wina pun yang sadar sedang diperhatiin Rahma kemudian menoleh.
"Ngapain liat-liat, aku lagi bikinin mas Dhika teh manis, dia pasti suka apalagi hujan-hujan begini." tuturnya dengan bangga.
Tiba-tiba Rahma tergelak!.
"Sejak kapan mas Andhika suka minum teh manis.? Mas Andhika itu tidak menyukai minuman beraroma teh." ucap Rahma dengan senyum di bibirnya kemudian ia pun berlalu dari dapur.
"Sial! Sial! Sial.!" umpat Wina seraya menepuk-nepuk jidatnya.
"Gue tuh ke dapur bukan mau bikin ginian." Ucap Wina seraya menggeser cangkir yang sudah terisi gula putih.
"Kenapa kok gak jadi bikin teh manisnya." cibir Rahma.
"Diem loh! Gue lagi kesel." umpat Wina dengan sedikit lantang.
"Eittt! Biasa aja dong, aku kan cuma ngasih tau kamu aja kalau mas Andhika tidak menyukai yang berbau teh, kamu mau kalau sampai suami mu itu sakit perut gara-gara kamu kasih teh." ucap Rahma kemudian seraya menyimpan cangkir kopinya di meja.
"Diem loh wanita sialan, lo seharusnya keluar dari rumah ini, ngapain masih betah disini udah mau cerai juga, belum ikhlas status nyonya Andhika terlepas dari hidup lo." tutur Wina kembali, ia meluapkan amarahnya yang sudah tidak tahan lagi ingin segera memiliki apa yang Rahma miliki.
"Coba sekali lagi bilang, kamu fikir ini rumah siapa, masih untung aku gak usir kamu dan mas Andhika, aku pertahanin kalian di sini, karna apa?. Aku kasian sama ibu mertuamu, tapi kayanya kalian gak perlu di kasianin. Sebelum aku marah, sebelum emosiku tinggi. Kalian tinggalkan rumahku." ucap Rahma kemudian ia pun beranjak ke lantai atas.
"Enggak ini gak boleh terjadi, sebelum aku yang keluar dari rumah ini, wanita sialan itu harus mampus dulu di tanganku." tutur Wina dengan tatapan menyeringai.
...
__ADS_1
"Hallo.. Baron, lo kasih racun apa ke gue, kok gak ada reaksi apa-apa sih, pokoknya gue minta racun yang paling ampuh, yang sekali teguk langsung KO." sarkas Wina pada seseorang di telepon.
Entah apa yang di katakan pria bernama Baron itu di ujung telepon sana.
"Oke! Gue tunggu berapa pun biaya nya gue transfer sekarang, tapi lo pastiin malam ini obat itu sampai di alamat rumah yang udah gue kasih ke lo tempo hari." tutur Wina kembali.
Tanpa Wina sadari di balik pintu ruang tamu ada sepasang mata dan telinga ikut melihat dan mendengarkan percakapan Wina dengan laki-laki yang bernama Baron tersebut.
"Gawat!!! Ini udah fatal banget, ini udah gak bener dan ini harus secepatnya di hentikan, perbuatan mbak Wina benar-benar di luar batas."
...
Malam kian merangkak ke peraduan, empat manusia sedang bicara serius, di salah satu kamar mereka.
"Kaya nya racun itu gak mempan buat perempuan sial itu." umpat Wina.
"Iyaa. Ibu juga ngeliat dia baik-baik aja malah tuh mukanya tambah berseri aja." tutur bu Lia, yang duduk di salah satu sofa di kamarnya tersebut.
"Lalu rencana mu berikutnya apa sayang, mas juga udah gak tahan pengen cepet-cepet dia mati dan kita nikmati harta nya."
"Kamu tenang aja sayang, aku udah pesan obat racun paling ampuh. Dan ku pastikan si Baron mengirim obat itu malam ini juga." kemudian tawa keempat orang tersebut tergelak.
"Tapi..?" tiba-tiba tawa Rina berhenti di ikuti ketiga nya.
"Kenapa Rin, kamu masih ragu atau kamu juga mau ikut-ikutan sama si anak haram itu." tutur sang ibu.
"Bukan itu bu, tapi bagaimana dengan bang Zein." ucap Rina menoleh seraya begantian pada ketiga orang yang ada di depan dan di samping kiri dirinya.
"Tenang saja kamu Rina, bang Zein biar jadi urusan mbak, mbak tau kok kelemahan dia dimana, secara mbakmu ini mengenal Rahma sangat dekat begitu juga dengan abangnya." tutur Wina kembali.
'Kamu lihat saja abang Zeinku sayang, dengan ancaman itu, kamu akan luluh ke pelukanku.' Ucap Wina di dalam hatinya.
"Mas, si Baron akan sampai di rumah kita jam 2 malem, ingat mas lewat pintu belakang." tutur Wina.
"Beres sayang."
__ADS_1
Kemudian keempat orang tersebut membuarkan dirinya. Wina dan Andhika masuk ke kamarnya, begitupun dengan Rina melakukan hal yang sama.
_Bersambung....