Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab027. Zein Bertindak


__ADS_3

Dina kala itu yang sedang mondar-mandir di kamarnya sambil membolak-balikan ponselnya di buat bimbang, beberapa kali juga ia menggigit jari telunjuknya


"Duh, kok deg-deggan gini ya, gimana ya bilangnya ke bang Zein." ucap Dina masih modar-mandir dikamarnya.


Setelah beberapa menit berfikir ia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi kakaknya Rahma.


"Hallo Din, ada kabar apa hari ini." ucap Zein setelah mengangkat telepon dari Dina.


"I-ya bang." jawab Dina dengan terbata.


"Gak usah gugup bilang aja to the point." tutur Zein kembali.


"Gini bang, kemarin aku denger mbak Wina menelpon seseorang, kalau gak salah namanya Baron." tutur Dina kemudian menghela kan nafasnya.


"Ya, lalu. Apalagi yang kamu dengar."


"Mbak Wina fikir, jus yang kemarin di kasih kak Rina di minum mbak Rahma kan, padahal tidak sama sekali, nah mbak Wina itu curiganya sama racun yang gak ada efeknya terhadap mbak Rahma, kemudian mbak Rahma pesen racun lagi, tapi gak tau racun apa, yang jelas semalem racun itu baru sampe bang, tepat jam 2 aku terbangun dan di halaman belakang aku melihat bang Dhika sama seseorang yang ngasih racun itu."


Ya! Tepat jam 2 malam Dina melihatnya, yang kebetulan jendela kamarnya ada yang menghadap ke halaman belakang, Dina yang kala itu terbangun dari tidurnya karna di dera haus, ia terbangun dan mendengar percakapan orang diluar sana,malam yang begitu sepi membuat telinga Dina mendengar percakapan orang di luar, meski terdengar samar-samar tapi Dina melihat jelas aktivitas dua orang di halaman belakang.


"Keterlaluan. Ini gak bisa di biarin, oke makasih Din atas info nya, abang pastikan mereka akan keluar dari rumah itu hari ini juga." tekan Zein di seberang telpon sana.


Meskipun Dina tak dapat melihat raut muka marahnya abang Rahma tersebut, tapi Dina bisa mengetahuinya bagaimana marah dan murka nya laki-laki itu.


"Iya bang sama-sama, aku yakin mereka akan melancarkan aksinya hari ini, jadi aku minta sebelum jam makan siang abang sudah di sini, karna pagi ini aku melihat ibu dan mbak Wina lagi heboh masak di dapur." tutur Dina.


Akhirnya ia bisa bernafas dengan lega setelah memberi tahukan perihal kejahatan yang akan di lakukan abangnya tersebut terhadap Rahma.


"Oke baiklah Din, makasih banyak ya."


Kemudian telepon itu berakhir, setelah Dina menjawab ucapan Zein.


.


Siang itu pukul sebelas, menantu dan mertua itu sedang di sibukkan dengan acara menata masakannya yang telah terhidang di meja makan, senyum keduanya pun merekah.


"Akhirnya beres juga ya Bu, huh.!" tutur Wina saat itu.


"Iya Win, kalau bukan karna rencana kita yang mau nyingkirin tuh perempuan ibu ogah masuk dapur." ucap bu Lia seraya mengipas-ipaskan tangannya.


"Apalagi aku bu, aku juga males, pokoknya setelah si Rahma keluar dari rumah ini, aku mau pake jasa pembantu, kalau perlu tiga orang sekalian." senyum Wina dengan bangga nya.


"Harus itu Win, biar kita gak usah capek-capek kalau ada-apa tinggal panggil pembantu." tutur bu Lia dan tawa keduanya pun tergelak, tenggelam dalam khayalan masing-masing.


Khayalan Wina serta bu Lia telah melanglang buana, mereka sudah membayangkan hidup enak.


"Kamu udah siapin belum makanan buat si Rahma."


"Tenang aja bu, nih satu gelas milktea kesukaan Rahma. Aku udah bikinin yang sangat special." tutur Rahma dengan menunjuk satu gelas milktea diatas meja makan.


"Kamu yakin.? wanita sialan itu akan meminumnya." ucap bu Lia dengan raut muka tidak percaya.


"Yakin bu si Rahma paling suka sama milktea, aku tau kok minuman apa yang dia sukai." senyum Wina merekah.

__ADS_1


"Oke deh, semoga dia minum itu milktea nya."


"Pasti bu." tutur Wina dengan yakin.


Tanpa mereka sadari di pintu ruang tamu ada sesosok mata melihat interaksi mereka. Seseorang itu menatap mereka tajam dengan kedua tangannya yang mengepal.


Sesaat kemudian sosok yang mereka tunggu, sedang berjalan menuruni anak tangga. Beberap detik kemudian diikuti Dina di belakangnya.


"Kebetulan pada turun, tadinya ibu panggil buat makan siang bareng." ucap bu Lia dengan berramah tamah.


Rahma dan Dina pun saling tatap.


"Ayo makan Ra, tunggu apalagi, aku juga udah bikinin kamu milktea kesukaan kamu." Wina pun refleks menarik tangan Rahma dan menuntunnya ke meja makan.


Rahma pun kemudian duduk. Di ikuti Dina di sebelah kirinya.


"Bentar ya aku panggilin mas Andhika dulu, kayanya mandinya udah deh." ucap Wina seraya tersenyum kemenangan.


Beberapa saat kemudian, semuanya telah terkumpul di meja makan, dan seseorang itu masih berdiri di tempatnya tadi.


"ini ada acara apa sih tumben ibu sama mbak Wina masak." tanya Dina berbasa-basi.


"enggak ada acara apa-apa sih, ibu cuma ingin keluarga kita harmonis aja, gak mau lagi ada pertengkaran, ibu mau nanti setelah Rahma dan Andhika cerai kita masih bisa berkeluarga." ucap bu Lia dengan sok bijaknya.


"Iya yang di bilang ibu bener, dan aku mau kita tetep jadi sahabat ya Ra." timpal Wina.


"Kalian salah minum obat atau gimana sih. Aku heran sama kalian." tutur Rahma.


"Iya Ra, Wina udah capek-capek loh bikinin minuman itu buat kamu." tutur Andhika seraya memakan steak nya.


"Tau nih mbak Rahma, jadi orang gak tau berterimakasih." Rina ikut menimpali.


"Betul itu, apa susahnya tinggal minum aja susah banget." ucap bu Lia kembali dengan mood juteknya.


"Kalian kompak sekali sih ada apa.?" tutur Rahma kemudian setelah mendengarkan celoteh ke empat orang yang berada di meja makan itu.


"Duhh Rahma, gausah kebanyakan mikir deh ting-."


"HENTIKAAANN!!!"


Tiba-tiba seseorang yang dari tadi memperhatikan dibalik dinding ruang tamu, melangkah lebar ke arah meja makan dengan rahang yang mengeras dan dua tangannya terkepal.


Kemudian semua orang yang ada di sana menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara itu.


"Bang Zein." Lirih Rahma seraya berdiri dari tempat duduknya. Dan ke empat orang itu hanya terkejut dengan mata yang kaget, sedangkan Dina hanya bersikap biasa saja, karna ia tau akan kedatangan Zein siang ini.


"Hentikan semua kejahatan kalian, kalian mau membunuh adikku IYA?. Kalian ingin menguasai semuanya IYA.?" tutur Zein dengan rahang semakin mengeras.


"Hei anak muda, jangan sembarangan menuduh ya, kalau gak ada bukti." tutur bu Lia menunjuk laki-laki itu.


"Harus ada buktinya dong, kalau kalian menuduh kita mau bunuh ade lo ini." ucap Andhika dengan senyumnya yang kecut.


"Oke ini buktinya."

__ADS_1


Zein pun merogoh ponselnya dari saku jaketnya dan kemudian ia mengotak-ngatik benda pipih tersebut dan setelah yang dicari ia dapatkan kemudian ia menyalakan rekaman. terdengar obrolan kedua orang di rekaman itu, sontak mereka pun kaget, akan tetapi tidak pada Dina, ia tau suara siapa yang ada di dalam rekaman tersebut.


Beberapa saat mereka larut dalam percakapan di rekaman ponsel milik Zein itu.


"Gimana?. Masih belum ada yang ngaku, dan saya pun tau dalam minuman itu, kamu beri racun kan." ucap Zein menatap Wina dan telunjuknya terarah ke milktea tersebut.


Wina pun gelagapan!.


"Dina apa-apaan kamu. Kamu mau menusuk kami dari belakang." tiba-tiba bu Lia meneriaki Dina.


"Dina gak salah bu, justru Dina benar." tutur Zein lagi.


Bu Lia pun menatap Dina dengan tajam. "a-ampun bu." ucap Dina terbata.


"Sudahlah Dina, kamu berada di posisi benar." Tutur Rahma


Ya! Saat Dina menceritakan semua kejahatan keluarganya, dengan sengaja Zein merekam percakapannya dengan Dina di telepon tadi, disitulah emosi bu Lia meluap.


"Sekarang kalian mau ngakuin kesalahan kalian dan mendekam di penjara atau kalian pergi dari rumah ini, hanya membawa baju kalian saja." tutur Zein menatap ke empat orang tersebut secara bergantian.


Lama tak ada menjawab.


"JAWABBB??" turur Zein dengan suara yang sudah di isi emosi.


"Enak saja harusnya si Rahma laknat ini yang keluar dari rumah ini." tutur bu Lia.


Zein pun kembali di landa emosi.


"Oke kalau gitu saya telepon polisi sekarang dan-."


"Oke bang kita pergi." tutur Andhika.


"Bagus kalau gitu berarti kalian sadar diri." ucap Zein dengan memalingkan wajahnya ke arah kiri.


"Dhika kamu apa-apaan sih." tutur bu Lia.


"CEPAAAATTT PERGIII." Usir Zein


Ke empat orang itu pun panik dan berlari ke arah kamarnya masing-masing.


Beberapa saat kemudian keempat orang itu muncul dan menarik kopernya masing-masing.


"Ingat Andhika ku pastikan sidang kedua nanti hakim ketuk palu." tutur Zein.


Andhika pun tak menjawab yang di ucapkan laki-laki itu, ia terus berjalan ke arah ruang tamu dan di ikuti ketiga orang tersebut.


Akan tetapi, tiba-tiba bu Lia berhenti tanpa menoleh ke arah belakang ia berkata.


"Dina, mungkin ini saatnya kamu mengetahui jati diri kamu, kamu bukan anakku dan bukan adik dari kedua anakku, kamu hanya anak haram yang di temukan suamiku di tong sampah, cih menjijikan. Mulai sekarang kamu urus hidupmu sendiri jangan panggil aku ibu atau mencariku, karna aku sudah tidak sudi melihat wajahmu, kotak ini di temukan suamiku saat kamu bayi, mungkin itu milik kedua orangtua harammu juga." ucap bu Lia dengan lugas dan menjatuhkan kotak tersebut, kemudian ia melenggang pergi.


Seketika tubuh Dina pun luruh dengan airmata yang berderai hebat dari pelupuk matanya.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2