Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab025. Wina Berulah


__ADS_3

"Gimana Rin lancar.?" ucap Wina, Rina baru saja turun dari lantai atas dengan mengjingjing nampan yang sudah kosong.


"Keliatannya nampan ini kosong kan, dan sekarang jus beracun itu mungkin sudah di minum sama mbak Rahma." tutur Rina kemudian menyimpan nampan itu di meja ruang tengah detik berikutnya ia menghempaskan bokongnya di sofa.


"Bagus! Emang pinter kamu, paling bisa di andalkan." ucap Wina dengan senyum merekah.


'Lihat saja Rahma dengan cepat racun itu akan menggrogoti tubuhmu, karna aku berikan racun itu banyak, supaya kamu cepat mati.' ucap Wina di dalam hatinya.


"Haha Rina gitu loh. Terus mbak reaksi obat itu nanti gimana." tanya Rina penasaran.


"Kamu lihat saja nanti pertunjukannya."


"Aku jadi gak sabar mbak pengen melihat pertunjukan itu." kemudian tawa keduanya pun berderai.


.


"Huh selamat! Kalau aja aku terlambat sedikit, mungkin racun itu sudah masuk ke tubuh mbak Rahma." gumam Dina setelah kembali ke kamarnya dan menutup pintunya.


"Aku gak bisa bayangin marahnya bang Zein, kalau aku lalai menjaga adiknya. Tuhan bantu aku." ucap Dina kemudian seraya kepalanya mengadah ke atas langit-langit kamarnya.


"Apa aku bilang aja ya ke bang Zein, biar cepet selesai gitu masalahnya, aku gak bisa terus-terusan begini, kaya di hantui aja aku tuh huh.!" Dina terus bergumam seraya berjalan ke arah tempat tidurnya kemudian ia merebahkan dirinya di atas kasur empuknya.


Setelah Dina berfikir matang-matang lebih baik ia kasih tau abangnya Rahma itu, agar ia juga terlepas dari tuntutan anangnya Rahma tersebut.


Kemudian Dina bangun dari acara rebahannya detik berikutnya ia ambil benda pipih itu yang tergeletak begitu saja di atas meja nakas samping tempat tidurnya.


Tuuutttt!!! Telepon pun tersambung akan tetapi belum ada jawaban di seberang sana.


Setelah panggil ketiga baru telpon itu diangkat.


"Iya Din, ada apa.?" tanya Zein to the poin.


"Bang, tadi ampir aja aku telat. Tadi mbak Rahma di kasih jus sama kak Rina, dan mbak Rahma menerimanya, tapi untung aja jus nya aku buang ke closet." jawan Dina langsung panjang lebar.


"Bagus! Kamu liatin aja apa yang mereka lakukan, ini tidak gratis, abang akan kasih kamu imbalan, oke."


"Ta-tapi bang, bukan masalah imbalannya aku ikhlas bantu abang jagain mbak Rahma. Tapi aku cuma takut aja kalau tiba-tiba aku lagi gak ada di rumah atau deket di sekitar mbak Rahma bagaimana? Lebih baik abang langsung bertindak aja yaaa, terus tadi juga pas mbak Rahma pulang dari pengadilan ibu marahin mbak Rahma habis-habisan, ibu itu kekeh pengen dapetin rumah ini serta semua milik mbak Rahma." ucap Dina kembali dengan ucapannya yang menggebu.


Zein pun berfikir keras, apa yang di katakan Dina ada benarnya juga.

__ADS_1


"Oke nanti abang fikirin lagi, kamu tenang ya."


"Bagaimana aku bisa tenang bang, tadi aja liat tingkah aku yang buang tiba-tiba jusnya, mbak Rahma sampai melongo, kaya kaget gitu."


"Jangan terlalu di fikirin. Yang penting Rahma selamat, makasih ya Din, abang mau lanjut kerja dulu."


"Iya bang sama-sama." obrolan di telepon pun di akhiri keduanya.


...


Pukul empat sore Rahma mengajak Dina keluar untuk menghilangkan penat di otaknya.


Saat itu Dina yang sedang menonton televisi di sofa atas, sambil sesekali membalas chat di ponselnya.


"Din temenin mbak yuk keluar." ucap Rahma seraya menghempaskan dirinya di samping Dina duduk.


Dina pun menoleh dan menyimpan ponsel di samping pahanya.


"Kemana mbak." tanya nya.


"Biasa kita jalan-jalan sekalian cari cemilan atau makan gitu." tutur Rahma seraya menatap adik iparnya itu.


"Eum boleh deh, tapi aku ganti baju dulu ya."


"Oke siap."


Dina pun kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Saat Rahma menunggu sang adik ipar selesai ganti baju, ia mengotak-ngatik channel tv yang terpajang di sana.


"Gak ada asyik, acaranya gitu-gitu mulu." kemudian ia menekan tombol power di remote tersebut dan menyimpan remote itu asal setelah layar besar di depannya mati.


Kemudian ia membuka ponselnya guna melihat sosmednya.


"Hah gak ada yang asyik juga."


Tak lama Dina pun keluar, dengan memakai celana jeans warna hitam di padu kaos putih polos yang di masukanya ke dalam celana, tak lupa tas selempang warna hitam senada dengan celana yang ia kena kan.


"Yuk Mbak." ucap Dina kemudian seraya menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Oke let's go.!"


Keduanya pun turun menapaki anak tangga satu persatu.


Wina yang melihat Rahma yang masih biasa saja tidak menunjukan reaksi apa-apa, keningnya berkerut.


Tiba-tiba sang mertua menyongsong dari balik kamarnya, dan ia pun melihat Rahma serta Dina yang akan pergi sore itu.


"Mau kemana kamu, belum juga resmi cerai udah berani kelayapan." tutur bu Lia tiba-tiba.


"Bu, mbak Rahma keluar bukan untuk kelayapan atau ngelakuin hal yang gak bener, kita cuma jalan-jalan aja kok." bela Dina kemudian.


"Heh bocah kecil, lu sebenarnya anak ibu atau bukan sih, kenapa lo belain si cewek ini." sarkas Rina dan menunjuk wajah Rahma.


"Turunkan tanganmu itu. Mau dia anak kamu ataupun bukan, bukan urusan kamu juga kan, terserah dia mau jalan sama siapa, orang yang otaknya waras tau kok mana yang baik dan mana yang buruk." jawab Rahma dengan tatapan menyeringai.


"Sudah biarin Rin, mungkin ini saatnya Dina tau siapa dirinya." bu Lia kembali berucap, kemudian ia duduk di sofa ruang tengah itu.


"Maksud ibu apa." tanya Dina dengan raut muka penasaran.


"Din jangan ladenin mereka, yuk pergi aja. Kamu tenang aja apapun yang terjadi nanti sama kamu, mbak akan lindungi kamu. Kamu tenang aja." Ucap Rahma menenangkan Dina seraya mengelus kedua pundaknya, dan setelahnya mereka melangkahkan kakinya kembali.


"Kok si Rahma masih baik-baik aja Rin, kamu yakin kan tadi dia minum jus itu." tanya Wina setelah kepergian Rahma dan Dina.


"Belum aja kali mbak, aku yakin kok dia minum itu jusnya, orang dia bawa ke kamar kok jusnya." tutur Rina.


"Kalau misalkan jusnya udah di minum, setengah jam setelahnya obat itu akan bereaksi, tapi kok si Rahma biasa-biasa aja sih."


"Mbak kan baru sekali ngasihnya jadi belum bekerja itu obat, tenang aja sih mbak, gak usah panik gitu." tutur Rina lagi kemudian ia pun berjalan ke lantai atas, guna meminjam charger di kamar adiknya, Dina.


Saat Rina sampai di lantai atas ia melihat gelas bekas jus tadi teronggok diatas meja, habis tak tersisa. Kemudian senyum itu terbit dari bibirnya. Tak lama ia pun turun tergesa-gesa dengan membawa gelas tersebut.


"Mbaaakkk, mbak Winaaaa, lihat ini deh." ucap Rina sedikit berteriak dan mengangkat tangannya yang sedang memegang gelas tadi.


"Mbak lihat deh, tuh ini gelas bekas jus tadi aku melihatnya di meja depan tv di atas, gelasnya kosong melongpong, itu artinya mbak Rahma udah minum ini, bekerja atau belumnya obat ini kita lihat saja nanti." tutur Rina lagi.


Senyum Wina pun merekah dan hatinya bersorak gembira. "Ini baru awal Rahma."


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2