
"Tumben pagi-pagi udah rapi.?" sapa Dina yang saat itu sedang duduk di meja makan, hari ini juga hari pertama Dina masuk kuliahnya.
"Iya mbak ada janji sama seseorang buat beli rumah makan yang di simpang dua itu." tutur Rahma kemudian ia duduk dam setelahnya mengambil satu roti beserta slai coklat.
"Maaf ya aku gak bisa temenin mbak." tutur Dina seraya menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
"Santai aja Din, mbak bisa sendiri kok, kamu fokus sama kuliah kamu aja, kejar cita-cita kamu." ucap Rahma seraya tersenyum.
"Makasih ya mbak, kalau gak ada mbak sama bang Zein, entah gimana nasib aku, mungkin luntang-lantung gak jelas di jalan." ucap Dina kembali seraya menundukkan kepalanya.
"Udah jangan di fikirin itu, yang penting sekarang kamu bersama mbak dan bang Zein, kita adalah keluarga, mbak juga sama udah gak punya orangtua, kita bisa saling melengkapi kekurangan kita." tutur Rahma kembali dengan semyum hangat ia berikan pada Dina.
Dina pun menganggukan kepala nya dan membalas senyuman Rahma.
"Mbak berangkat dulu ya, kamu gak apa-apa kan naik taksi online dulu, nanti kapan-kapan mbak anter kamu." tutur Rahma kembali.
"Iya mbak gak apa-apa, mbak hati-hati ya semoga jual beli rumah makannya lancar." ucap Dina senyum manis pun ia berikan.
"Aamiin.. Makasih yaaa.." Rahma membalas senyuman Dina.
.
"Terimakasih mbak atas kerja sama nya, semoga setelah nanti mbak kelola rumah makannya tambah maju" ucap bapak-bapak tersebut sambil menjabat tangan Rahma.
"Aamiin, makasih Pak, kalau gitu saya permisi dulu."
"Sama-sama, silahkan mbak."
Rahma pun beranjak dan berlalu setelah pamitan sama si Bapak tadi.
Bruuukkk!!!
"Maaf-maaf gak sengaja, Anda gak apa-apa?"
Rahma pun menoleh dan si Pria tersebut melakukan hal yang sama.
"Rara.?? alias Rahma kan.?" tanya laki-laki itu.
Kening Rahma pun berkerut mengingat siapa lelaki yang ada di depannya saat ini.
"Alan?"
"Yapz! Kamu apa kabar, kok sendirian?"
"Aku baik Lan, kamu sendiri apa kabar.?" tutur Rahma.
"Aku juga baik, lama ya kita gak ketemu setelah dua tahun nikah." jawab Alan.
"Ahh iya, kamu terlalu sibuk dengan bisnismu." kekeh Rahma
__ADS_1
"Kamu bisa aja, oya kamu belum jawab pertanyaanku, kamu kok sendirian, suami mu mana."
Rahma pun terdiam sejenak bingung harus jawab apa.
"Hey! Kok bengong?. Iyaaa aku tau suami kamu kerja, santai aja sih aku cuma nanya aja kok, kasian aja cewek secantik kamu jalan sendirian." ucap Alan seraya terkekeh.
"Kamu tuh dari dulu nge gombalnya bisa aja."
"Siapa yang nge gombal serius kok." tutur Alan kembali.
"Hmmm.. Ya ya yaaa, kalau gitu aku pulang dulu ya." pamit Rahma.
"Kok cepet-cepet amat sih, takut suami mu marah." tutur Alan.
"Enggak! Nanti sore aku ada janji sama temen, bye!" tutur Rahma.
"Ra, tunggu! Aku boleh minta nomor kamu."
"Mmmm.. Lain kali aja yaa aku buru-buru". Tutur Rahma kemudian ia masuk ke mobilnya setelah sebelumnya membuka kunci pintu mobilnya.
.
"Rahma, akhirnya kita ketemu lagi, perasaanku ke kamu dari dulu tidak pernah berubah, tapi sayang kamu ninggalin aku demi laki-laki lain." gumam Alan, sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
"Aku harus dapetin nomornya, tapi dari siapa minta nya?. Ahh iyaaa Wina, dia kan sahabatnya, ya meskipun.status dia telah bersuami tidak apa-apa kali hanya untuk silatuhrahmi saja." gumam nya kembali.
Tok! Tok! Tok!
"Den Alan, dipanggil ibu, buat makan malam." tutur asisten rumahnya.
"Iya bi, sebentar lagi aku turun."
"Iya den, permisi." pamit si asisten tersebut.
Alan pun bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya untuk makan bersama ibu tercinta nya.
"Sampai kapan sih kamu begini terus Lan, udah kamu gak usah mikirin Rahma lagi, Rahma sudah nikah mungkin sekarang hidupnya sudah bahagia bersama suaminya, sebaiknya kamu cepet cari penggantinya." nasehat bu Rika pada anaknya.
"Tenang sih ma, nanti juga Alan bakalan nikah kok, mama gak usah mikirin hal tidak penting seperti itu." tutur Alan.
"Apanya yang gak penting Lan, usia mama semakin tua, mama ingin melihat anak semata wayang mama nikah punya anak dan hidup bahagia, biar nanti kalau mama pergi nyusul papa mu, mama bisa tenang." sarkas sang mama.
"Iya ma Alan tau, tapi nyari calon istri zaman sekarang tuh gak gampang, yang bisa nerima Alan apa adanya tuh susah, kalau cewek matre mh banyak mah, sekali nyari juga bisa dapet tiga atau empat, mama sabar dulu ya Alan pasti nikah kok." tutur Alan dengan nada bicara membujuk sang mama.
Bu Rika pun tak dapat bicara apa-apa lagi, hanya bisa pasrah pada keputusan anaknya itu.
"Ya sudah mama istirahat dulu, mama capek." tutur bu Rika.
"Iya ma, mama jangan terlalu banyak fikiran ya. Jangan lupa di minum vitaminnya." Alan tersenyum pada sang mama.
__ADS_1
.
"Gimana beres pembelian rumah makannya" tanya Zein kala itu, sesaat setelah makan malam usai.
"Rebess!!!" tutur Rahma seraya mengacungkan kedua jempolnya.
"Semangat banget sih adik abang ini." tutur Zein sambil mengacak rambutnya Rahma.
"Ini semua karena atas dukungan abang, kalau gak ada dukungan abang, aku gak mungkin ngelakuinnya sendirian, makasih yaa." tutur Rahma seraya tersenyum.
"Sama-sama, apapun yang membuatmu bahagia, abang juga bahagia."
"Aku boleh tanya sesuatu gak sama abang" ucap Rahma dengan hati-hati.
"Apa itu." Zein memalingkan kepala nya ke arah adiknya itu.
"Abang mau balikan sama Emily?" Rahma tersenyum nyengir setelah kata-katanya terucap.
"Emang kenapa, kok nanya nya seperti itu."
"Yaaa nanya, emang gak boleh."
"Boleh kok, dan jawabannya, ENGGAK!" ucap Zein dengan mantap.
"Beneran bang?" tanya Rahma kembali.
"Iya beneran, abang udah ilfeel sama dia."
"Bagus deh, aku juga begitu." tutur Rahma dan kemudian keduanya tertawa di tengah ruangan yang luas dan hanya mereka berdua di sana.
"Oya rencana kamu ke depannya apa Ra".
"Mengelola rumah makan sama panti asuhan aja bang, sebelum aku dapetin orang yang bisa di percaya untuk mengurus kedua nya, atau salah satu nya aku yang urus."
"Terus apa lagi."
"Rencana nya aku mau nerusin kuliah bang." tutur Rahma.
"Boleh-boleh, abang selalu dukung yang menjadi keputusan kamu."
"Makasih ya abang emang yang terbaik, aku semakin sayang sama abang." tutur Rahma dan kemudian memeluk abangnya dari samping.
"Abang juga sayang sama kamu, jadi apapun keputusan kamu selama itu positif dan buat kamu bahagia, abang selalu dukung." tutur Zein seraya mengelus punggung adiknya.
"Ya sudah berhubung udah malem, aku istirahat dulu ya, abang juga istirahat gih, jangan nonton bola mulu." tutur Rahma seraya berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan ke lantai atas menuju kamar nya.
"Iyaaa siapp, selamat istirahat, good night!".
"Good Night abang".
__ADS_1
-Bersambung...