
-PoV Zein
[ Abang udah di dalem, kamu masuk aja, abang duduk di meja nomor 12 .]
Hari ini aku janjian sama Dina, adik dari iparku. Aku ingin lebih tau detailnya rencana Andhika, biar nanti aku tak salah melangkah.
Aku sedikitpun tidak terfikirkan Andhika akan menduakan adikku apalagi sekarang yang ku dengar dia akan mencelakai adikku seraya perlahan. Aku tidak bisa biarkan ini.
"Hai bang, maaf ya telat.!" ucap seseorang dan setelah aku menoleh ke arah belakang ternyata Dina.
"Gapapa, silahkan duduk.!" jawabku mempersilahkannya untuk duduk, kemudian ia pun mendudukan bokongnya tepat di depanku, yang ditengahnya di batasi meja.
"Mau minum apa.?" tanyaku kemudian
"Teh manis hangat aja bang." tuturnya.
Aku pun memanggil pelayan yang kebutulan sedang mengantarkan pesanan pada seseorang di sebrangku.
Setelah aku memesan minuman kini, aku kembali ngobrol basa-basi dengan Dina.
"Apa yang mereka rencanakan untuk mencelakai Rahma.?" tanyaku, aku sudah tidak sabar lagi rencana apa yang mereka susun.
"Mbak Wina sama bang Dhika merencanakan pembunuhan seraya perlahan terhadap mbak Rahma." ucap Dina dengan memelankan suaranya di akhir kalimatnya.
"Apa.?" Suaraku terpekik aku kaget, dan untuk beberapa saat aku melamun.
"Bang." Suara Dina membunyarkanku dari lamunan.
"Apa yang mereka rencana kan.?" tanyaku kemudian.
"Intinya mereka meracun mbak Rahma dengan perlahan." lirih Dina, ucapannya terjeda ketika minuman yang ku pesan sampai.
"Silahkan di minum." Ucap sipelayan dengan senyum simpul.
"Terimakasih." ucapku dan Dina secara bersamaan.
Setelag kepergian pelayan kafe tersebut, aku melanjutkan obrolkanku dengan Dina.
"Tadi sampai mana.?"
"Mereka mau ngeracunin mbak Rahma, entah obat apa yang di beli mbak Wina dari yang katanya temannya itu, obat tersebut di tetesin ke minuman atau makanan untuk mbak Rahma." tutur Dina dengan kepala sedikit di tundukkan.
"Minum dulu Din, santai aja kamu gak usah takut atau grogi, bilang semuanya sama abang." tuturku, aku sengaja menenangkan gadis itu supaya bisa ku cari lebih detailnya rencana abang serta madu adikku itu, tak ku sangka juga ternyata Wina yang berkedok sebagai sahabat adikku tega menusuknya dari belakang, takkan ku biarkan itu terjadi.
"Semalem juga kayanya mereka meluncurkan aksi pertamanya." tutur gadis itu kemudian.
"Apa yang mereka lakukan, dan keadaan adik abang gimana." jawabku dengan ingin segera mengetahuinya.
"Ya tumben-tumbenan aja semalem bang Dhika ngasih kopi ke mbak Rahma, mbak Rahma kan kalau lagi nulis suka sambil minum kopi." tuturnya dan segera ku anggukan kepala ini membenarkan kebiasaan adikku meminum kopi saat menulis novelnya.
"Lalu.?" ucapku setenang mungkin, biar gadis di depanku juga dengan tenang menceritakan semuanya.
"Untungnya mbak Rahma sama sekali gak minum kopi tersebut, katanya sih udah dingin, jadi gak enak, gitu katanya." tuturnya kembali, sepertinya gadis itu mulai tenang setelah menceritakan semuanya.
"Kamu pantau terus mereka ya. Kalau ada yang mencurigakan sebisa mungkin kamu cegah, abang minta tolong dengan sangat, jagain adik abang." ucapku dengan sedikit rasa sedih dan bersalah.
__ADS_1
Refleks!. Gadis itu menganggukan kepalanya, tanda setuju.
.
Setelah pertemuanku dengan Dina tadi pagi, kayanya aku jangan terlalu fokus sama kerjaanku adikku lebih penting dari segalanya apalagi sekarang nyawanya sedang terancam.
Beberapa saat aku merenungkan penyesalanku yang telah menerima pinangan dari seorang Andhika. Tiba-tiba ponselku berbunyi, segera ku rogoh benda pipih itu dari saku jaketku.
Terpampang nama sepanggil di sana! Segera ku tekan icon hijau dan. "Hai baby, tumben telpon abang, ada yang kangen nih rupanya." kekehku, aku berpura-pura tidak tau dulu tentang dia yang akan di celakai, aku takutnya ia panik dan melakukan hal ceroboh yang akan merugikan dirinya sendiri.
"Huh ngarep!. senin besok sidang pertamaku, aku minta doa nya semoga lancar ya bang." ucapnya dengan suara yang aku pun pasti tidak tau, mungkin masih ada rasa cinta di dalam hati adikku, untuk si brengsek Andhika itu.
"Doa abang selalu menyertaimu Ra. Besok abang temenin mau ya.?" ucapku menawarkan diri menemaninya di persidangan.
"Kalau abang tidak sibuk boleh." jawabnya kemudian.
Setelah kamu berbincang sebentar, akhirnya obrolan kami di telepon di akhiri.
Kemudian aku berjalan gontai ke arah kamarku, rasanya hari ini otakku tidak bekerja dengan baik, apalagi setelah ku dengar penuturan Dina. Kau jahat sekali Andhika.
Tunggu! Sebelum rencanamu berhasil akan ku pastikan kau mendekam di penjara, lihat saja, kau fikir kau siapa tanpa adikku kau bukan siapa-siapa tidak ada rasa bersyukur sedikitpun di hidupmu.
Kuhempaskan tubuh ini di atas kasur menatap langit-langit kamar, tetapi fikiranku melayang jauh. Aku teringat akan nasehat kedua orangtua ku, yang harus menjaga adik satu-satunya.
Kini aku tak bisa menjalankan amanah kedua orang tuaku, aku gagal jadi seorang kakak, serta pengganti kedua orangtua untuk Rahma, kini adikku dalam bahaya. Maafkan abangmu yang payah ini Rahma.
Abang tidak akan tinggal diam, akan ku balas perlakuan keluarga suamimu serta sahabatmu. Tunggu abang ya sayang, bertahanlah.
Tak terasa air mataku jatuh. Cengeng juga rupanya aku sebahai laki-laki, ku hapus air mataku dan senyum ku terbitkan sudah terlintas rencana apa yang akan ku balas untuk membalas sakit hati adikku.
.
Ketukan di pintu kamar membangunkanku dari tidur siangku, ternyata setelah aku meratapi kemalangan adikku, aku tertidur.
Segera aku bangun dari tempat tidurku dan membuka pintu kamar, terlihat teh Sumi, asisten rumah tanggaku tersenyum lebar.
"Maaf Den, di depan ada temennya." ucapnya.
"Siapa.?" kataku seraya mengucek mata ini.
"Mas Pandu." jawabnya kemudian.
"Oh yaudah suruh tunggu aja, nanti aku turun." ucapku seraya membalikkan badan, guna ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Hai bro! Tumben luh kesini ada angin apa.? Ucapku setelah turun dari lantai atas dan berjalan ke arah temanku di ruang tamu.
"Kebetulan aja gue, lewat daerah sini dan mampir deh ke rumah lo." tuturnya dengan tawa nya yang khas.
"Alesan luh." sanggahku seraya melemparkan bantal sofa di sebelahku duduk, dan lemparan itu segera ia tangkap dengan kedua tangannya
"Lu, ada tamu bukannya tawarin minum atau makan kek hays nih gue, laper pula." tuturnya dengan raut muka pura pura sedih.
"Ah elu, tiap kesini makan mulu, sono ke dapur tanya teh Sumi, masak apa, tapi kaya nya gak masak deh." candaku.
"Ziaaahh! Jahat luh sama temen gue ke laperan juga."
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah ruang tengah teh Sumi datang dengan membawa nampan di atasnya terisi dua gelas jus dan cemilan kecil.
"Di minum dulu mas Pandu, pasti haus kan." tutur teh Sumi.
"Makasih teh." Ucapku dan Pandu pun mengucapkan hal yang sama denganku.
"Tuh teh Sumi aja asisten lu pengertian sama gue, lah lu tega amat asli sama temen sendiri." rajuknya, aku pun tergelak dam teh Sumi yang masih berada di sana hanya tersenyum kemudian ia bertanya.
"Mas Pandu kenapa.?" tanya nya.
"Aku laper nih teh, nih majikan teteh gak mau ngasih aku makan." rajuk si Pandu, ah dasar temen yang satu ini emang rada-rada, kok ada ya pengacara modelan dia.
"Yaudah makan atuh mas, tadi teh Sumi udah masak sop daging, ambil aja udah teteh siapin di meja." tutur adistenku.
Dengan cepat si Pandu ini berdiri dan segera menuju meja makan.
"Setelah lo makan, bantuin gue ya, ada hal penting." ucapku mencegah sebentar si Pandu.
"Beres!!! Lu gak makan.?" tanya nya.
Aku pun hanya menggelengkan kepala, kemudian tanpa bertanya lagi si Pandu melesat ke arah meja makan.
.
"Huh.. Kenyangnyaaaa." ucap Pandu seraya mengelus perutnya, kemudian menghempaskan bokongnya di sebelahku.
Kini aku sudah berpindah, duduk di teras samping sambil melihat ikan-ikan koi peliharaanku.
"Alhamdulillah dodol abis makan tuh." tuturku seraya melirik ke arahnya.
"Lu kenapa Ze, kaya kaga ada semangat hidup lagi luh, pengen kawin ya." ucapnya kemudian dengan tawa tergelak.
"Gue lagi ada masalah Pan."
"Masalah apa yang menerpa sahabat kece ku ini." ucapnya lagi dengan masih di iringi tawa nya.
"Ini masalah Rahma Pan, ade gue di selingkuhin dan parahnya sekarang tuh istri mudanya si Andhika tinggal juga di rumah itu." tuturku, dengan tatapan ku luruskan ke depan.
"Busyeeett!!! Jadi si culun Andhika itu poligami.?" tanyanya kemudian dengan suara sedikit kaget.
Bagaimana Pandu tidak kaget dengan yang ku ceritakan kini, Pandu lebih tau dan mengenal Andhika itu, makanya dulu ia sangat menentang hubungan Rahma dengan Andhika. Ternyata sahabatku yang satu ini peduli juga dengan adikku.
"Lu baru tau kan bagaimana tuh kelakuan si Andhika, dia emang brengsek dasar lu nya aja yang payah, dan si Rara terlalu bucin sama si culun itu. Lantas apa yang mesti gue bantu.?" tanya Pandu kemudian, setelah omelan panjangnya, percis emak-emak yang belum menerima gaji suaminya, hahaha...
"Rahma, sudah mengajukan perceraian, dan senin besok sidang pertama nya, gue minta bantuan sama lo, biar tuh si Andhika gak bertingkah, lu tau gak dia minta harta gono gini dan dia minta itu rumah di bagi dua, gila kan, padahal itu rumah warisan dari almarhum nyokap-bokap gue. Dan tadi pagi gue abis ketemu sama adik bontotnya si Andhika, mereka merencanakan pembunuhan terhadap adik gue. Gue minta tolong banget supaya perceraian adik gue lancar dan cepet lo bisa kan Pan.?" ucapku kemudian panjang lebar ku ceritakan saja semuanya.
"Pantesan dari tadi lo kaya gak ada gairah hidup saja, lo tenang serahin semuanya sama gue, gue pasti akan bantu semua prosesnya." tutur Pandu seraya menepuk pundak kiri ku.
Aku pun tersenyum "Thanks Pan."
"Santai aja sih kaya sama siapa aja. Nah sekarang lo makan jangan banyak fikiran oke boy." tutur dia kembali, aku pun kembali juga memberikan senyuman di sertai anggukan.
"Kalau gitu gue pamit dulu yaaa. Gue ada janji sama yayang gue, kalau ada apa-apa hubungi gue, oyaaa satu lagi jangan kelamaan jomblo ntar lu karatan." Ucap Pandu kembali di sertai gelak tawa nya.
Kemudian ia pun lekas pergi, setelah beranjak dari duduknya.
__ADS_1
-Bersambung...