Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab08. Pulangnya Ibu Mertua


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, kini sang ibu mertua telah kembali.


"Akhirnya Andhika punya istri seperti yang aku inginkan, aku harus segera menyuruh Andhika menceraikan Rahma dan mengusirnya dari rumah ini tidak sudi aku punya menantu dekil seperti dia". Gumam bu Lia saat menatap Rahma yang sedang memasak di dapur.


"Ibuuu.." Tiba tiba Dina datang.


"Dina, bikin kaget aja, kalau ibu jantungan gimana". Ucap sang ibu.


"Lagian ibu ngapain pagi pagi udah ngelamun, awas loh nanti ke sambet, rumah ini ada setan nya loh". Ucap Dina menakuti ibunya.


"Ada ada saja kamu mana ada hari gini, di rumah elite seperti ini ada hantunya, ngawur kamu, kebanyakan nonton film horor". Timpal sang ibu.


Tanpa bu Lia sadari, Dina telah mengetahui rencana sang ibu yang menyuruh abangnya untuk menceraikan Rahma.


Ya! Saat Dina akan berjalan melewati ibunya tak sengaja ia mendengar gumaman ibunya itu. Sungguh tidak habis fikir kenapa sang ibu tidak menyukai kakak Iparnya tersebut, padahal begitu baik dan penyanyang.


Sebisa mungkin Dina akan melindungi sang kakak ipar dan menyelamatkan pernikahannya, apapun dan bagaimana pun caranya akan ia lakukan meskipun ia sendiri tidak yakin mampu atau tidaknya.


"Giliran kamu sekarang ngelamun Dinal." Sentak sang ibu.


"Apaan sih ibu, enggak, Dina lagi mikirin setelah lulus kuliah nanti mau cari kerjaan dimana". Kilahnya.


"Awas ya kalau nyari kerjaan jangam bikin malu ibu dan keluarga di kampung, kamu harus bisa seperti abangmu, kerja di kantor yang besar dan tentunya gaji yang besar juga, ingat itu Dina". Ancam sang ibu.


"Bu orang orang kerja tuh dengan bidang dan kemampuannya sendiri, kalau misalkan aku kerja bukan di bidangku itu tentu susah bu, udah deh yang penting nanti apapun yang aku kerja kan halal, itu udah lebih dari cukup bu". Jawab Dina.


"Kamu ini bisa nya ngelak dan melawan saja sama ibu, tidak seperti abang dan kakakmu, mereka selalu menuruti apa yang ibu mau". Ucap sang ibu dengan suara meninggi.


"Lalu kak Rina sampai saat ini belum kerja juga tuh. Padahalkan ibu sering nyuruh dia nyari kerjaan, tapi ibu gak banyak menuntut seperti sama aku". Kilah Dina kembali.


"Ya karna kalian tuh beda, kamu sama Rina beda tidak.bisa di sama kan Dina, dan ingat apapun yang kakak mu lakukan kamu jangan banyak protes, dia beda denganmu ingat itu". Ucap bu Lia seraya berdiri dan meninggalkan Dina sendirian dengan segudang pertanyaan di benaknya.


Siang makin beranjak, Rahma telah selesai memasak untuk makan siang, Rahma tidak pernah sedikitpun mengeluh perihal ibu mertua nya yang se mena mena terhadapnya, ia tetap menyanyangi ibu mertuanya itu walaupun sesekali Rahma suka melawannya.


Saat Rahma sedang mencuci piring, muncul dari arah depan ruang keluarga.


"Mbak, biar aku aja yang nyuci bekas masaknya, hari ini bang Andhika kan mau pulang, mbak harus dandan yang cantik dan wangi buat menyambut kepulangan bang Andhika, udah gih sana". Usir Dina secara halus.

__ADS_1


"Kamu bisa aja Din dan adik mbak yang paling ngerti, kalau giru mbak mandi dulu yaaa, oya Din si Thomas udah dikasih makan belum?". Tanya Rahma.


"Udah mbak tenang aja, tuh sekarang dia lagi bobo ganteng di kamarku". Jawab Dina.


"Oke deh makasih yaaa".


"Sama sama mbak".


Pukul sepuluh malam, Andhika baru tiba di rumahnya.


Ia segera masuk setelah sang istri membuka kan pintu untuknya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam,, kok baru nyampe mas". Tanya Rahma setelah mencium tangan suaminya.


"Tadi di jalan ke jebak macet sayang, kan kamu tau sendiri jakarta kalau malam minggu pasti macet", timpal sang suami beralasan.


Padahal ia baru saja dari rumah Wina istri keduanya. Setelah kepulangannya bersama ibu serta adiknya mereka berpisah di bandara. Mereka lakukan itu agar tidak membuat Rahma curiga.


"Ta-tadi mas, ehh mas kurang enak badan sayang,mas mau langsung tidur aja ya, capek banget dan mas gak selera makan tadi udah makan di pesawat". Kilah Andhika.


"Oh yaudah mas.." timpal Rahma.


Kemudian Andhika pun berjalan ke arah tangga menuju kamarnya, pergulatan dengan Wina tadi di ranjang membuatnya lelah dan ingin segera tidur.


Rahma pun mengingkuti sang suami dari belakang dan bertanya tanya, gak enak badan tapi muka nya terlihat begitu segar, begitu batin Rahma berucap.


Malam pun kian larut, Rahma tidur di sisi kanan sang suami setelahnya ia tertidur dan berkelana ke alam mimpi.


Di tempat lain..


"Rahma, sorry ya aku telah jatuh cinta pada suami mu saat pandangan pertama, aku tergoda dengan ketampanan yang dia miliki. Nasib kamu selalu beruntung Rahma sejak masa sekolah hingga kita kuliah kamu selalu di kelilingi pria pria tampan, dan sekarang apa yang kamu miliki tentu harus jadi milikku termasuk mas Andhika. Mari kita nikmati dan berbagi suami wahai sahabatku" Ucap Wina dengan senyum kemenangan.


💟


Pagi hari menyapa, Rahma kembali berkutat di dapur kini ia tidak sendirian, melainkan di temani sang adik ipar yaitu Dina.

__ADS_1


Keseruan mereka berdua membuat nasi uduk serta ***** bengeknya membuat masakan itu cepat selesai.


Setelah tersaji hidangan sarapan pagi ini, Rahma dan Dina pergi untuk memanggil anggota keluarga yang lainnya.


Rahma beranjak ke atas untuk memanggil sang suami begitupun Dina ke ruangan tengah dimana letak kamar sang ibu dan kakak berada di ruang tengah tersebut.


Saat di meja makan..


"Rahma itu teman kamu yang kemarin kesini kok gak kesini lagi sih, kapan kapan ajak lah main lagi kesini, ibu seneng ngobrol sama dia". Ucap sang mertua saat menyantap menu sarapannya.


Kening Rahma berkerut sambil menoleh ke arah sang ibu mertua.


"Wina.." ucap Rahma.


"Nah itu, hari ini kan hari minggu pasti dia ada dong di kontrakannya, nanti kamu telpon dia ya, kalau enggak ibu minta nomor nya biar nanti ibu yang telpon dia". Timpal bu Lia kembali.


"Iya bu nanti setelah sarapan biar Rahma telpon Wina". Jawab Rahma kemudian.


"Nah good. Bagus itu". Ucap mertua Rahma seraya tersenyum merekah di bibir merahnya.


Dina bisa melihat raut curiga di muka Rahma, meskipun ia belum ketemu dengan Wina, tetapi dia tau nama istri kedua dari abangnya adalah Wina, akan tetapi Dina belum mengetahuinya bahwa Wina yang menjadi madunya Rahma adalah sahabat Rahma sendiri.


Kasian sekali mbak Rahma, begitu kira nya batin Dina berucap.


Setelah sarapan selesai, bu Lia dan Rina seperti biasa meninggalkan meja makan begitu saja, tanpa sekedar menyimpan bekas makannya di wastafel dan membiarkannya begitu saja di meja makan.


Dina hanya bisa menatap punggung sang kakak, sungguh ia sangat geram terhadap kakak nya itu, sudah pengangguran, pemalas pula.


Dina pun segera membereskan bekas makan dan sisa sarapan tersebut ia tidak ingin membuat Rahma capek sendiri.


"Biar aku aja mbak, mbak kasih makan si ganteng aja kasian pengen di suapin sama mami katanya". Kekeh Dina


"Kamu ini kaya yang ngerti aja bahasa kucing". Timpal Rahma.


Sedetik kemudian tawa mereka berderai.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2