
Waktu terus berlalu, kemajuan resto yang di kelola Rahma pun melesat sukses.
"Alhamdulillah,, aku sampai di titik ini, terimakasih ya Allah." ucap Rahma kala itu ia mengecek laporan mingguan yang di berikan oleh Erina.
Tak henti senyum bahagia terpancar dari wanita yang menyandang status janda di usia muda nya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi... Mbak." sapa seseorang di balik pintu ruangan wanita tersebut, tak lain seseorang itu adalah Erina.
"Masuk Rin.." jawab Rahma yang sudah hafal dengan suara di balik pintu ruangan pribadi nya.
Lalu beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
"Mbak, ada yang mau bertemu sama mbak, kata nya penting." tutur gadis yang bernama Erina tersebut.
"Penting??.." kening Rahma mengerut. "Siapa Rin.."
"Katanya mantan mertua mbak, sekaligus calon mertua lagi." tutur Erina hati-hati dan memelankan suara di akhir kalimatnya.
Rahma terkekeh sambil menggelengkan kepala nya.
"Suruh dia masuk.." tutur Rahma menatap pada gadis di depannya itu.
"Baik mbak."
Beberapa menit berikutnya, muncullah seseorang dengan bertubuh gempal. Ia tak henti mengembangkan senyumnya.
"Rahma.." ucapnya tiba-tiba setelah beberapa langkah memasuki ruangan wanita tersebut.
"Ibu, apa kabar..?" tanya Rahma, lalu berdiri dan mengomando langkah wanita di belakangnya untuk ikut duduk di sofa ruangan pribadi nya.
"Iya ini ibu, kamu pasti kangen kan sama ibu, makanya jauh-jauh ibu datang ke sini hanya untuk bertemu sama kamu." tutur wanita itu dengan bangga, berharap apa yang ia ucapkan benar jika mantan menantu nya itu merindukannya.
Rahma hanya menanggapi dengan senyum tipisnya. "Ibu mau minum apa.?" tanya Rahma, tanpa menanggapi ucapan mantan ibu mertua nya.
"Apa aja Ra..?" tutur nya.
__ADS_1
Lalu Rahma berdiri dan menuju meja kerjanya, ia menelpon Erina untuk mengantarkan minuman serta cemilan ke dalam ruangannya.
"Rahma, ibu bangga sama kamu, sekarang kamu bisa sesukses ini.." Lia berucap sambil pandangannya mengintari ruangan tersebut.
Lagi-lagi Rahma yang memberikan senyuman tipisnya, tanpa menjawab ucapan mantan ibu mertuanya itu.
"Tapi ibu lihat kamu masih sendiri aja, Andhika juga sekarang sendiri, udah lama cerai dengan wanita ular itu."
"Wanita ular..?" Rahma mengulangi ucapan mantan mertua nya itu.
"Iya itu si Wina, siapa lagi, seandainya dulu kamu gak cerai dengan Andhika mungkin kalian masih bersama dan akan lebih sukses dan berkembang usaha kamu ini. Andhika kan pinter." ucap Lia panjang lebar.
"Jodoh itu gak ada yang tau kan bu, mungkin memang harus sampai di situ jodoh aku dan mas Andhika." tutur Rahma.
"Kamu pasti nyeselkan cerai dengan Andhika, buktinya sekarang kamu masih single, tunggu apa lagi Ra, ibu akan sangat setuju dan merestui jika kamu ingin kembali bersama Andhika lagi." ucap wanita tua itu antusias.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk..."
Beberapa menit kemudian Erina baru mengantarkan minuman yang di pesan oleh bos nya itu.
"Kamu dari tadi ngapain aja, Rahma udah lama loh nyuruh kamu buat antar minuman ini." Lia berucap dengan sesuka hati nya. Tanpa memikirkan rasa malu siapa pemilik dan bos di tempat itu.
Erina pun refleks kaget, dan bergantian menatap Rahma serta Lia.
"Maaf bu, tadi di depan lagi rame, jadi saya gak bisa tinggalkan meja kasir." tutur gadis itu dengan menundukan kepalanya.
"Alah alesan kamu, Ra, seharusnya karyawan lelet kaya gini kamu pecat, buat apa di pertahanin gak penting." sungut bu Lia berucap dengan nada jengkel.
"Mbak saya minta maa-.."
"Udah gak apa-apa, kamu kembali ke depan." Rahma menenangkan gadis tersebut dengan mengelus lengan gadis itu.
"Ra, kamu jangan terlalu baik sama bawahan kamu, nanti dia ngelunjak."
"Mereka karyawan aku, aku yang gaji, jadi apapun yang mereka lakuin selama itu tidak merugikan resto, tidak masalah." tutur Rahma lalu meminum jus mangga di depannya itu.
__ADS_1
"Kamu ini di bilangin orang tua ngeyel, oyaa tawaran ibu tadi buat kamu kalau ingin rujuk sama Andhika ibu tunggu Ra."
Rahma hanya tersenyum. " Maaf bu, aku harus keluar, ada janji sama bang Zein." ucapnya beralasan.
"Kok pergi sih, ibu kan masih betah dan ingin cerita banyak sama kamu."
"Lain kali aja ya bu, soalnya ini penting."
Wanita tua itu berdiri lalu menghentakkan sebelah kaki nya. "Iya deh, tapi janji ya kalau ibu ke sini nanti pengen yang lama." tutur Lia kembali.
Rahma hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu ia pun berdiri dan meraih tasnya yang teronggok di meja kerja nya.
Lalu dengan terpaksa Lia keluar lebih dulu dari ruangan mantan menantunya itu, dalam hati wanita tua itu berharap Rahma mau kembali rujuk dengan anaknya, dengan begitu ia bisa membanggakan kekayaan yang di miliki Rahma pada teman-temannya di kampung.
'Kalau Rahma rujuk sama Andhika, aku akan minta restoran ini untuk aku yang kelola' ucapnya dengan bangga.
"Hey kamu, lihat saja nanti, setelah restoran ini jadi milikku orang pertama yang aku pecat itu kamu, sebentar lagi bos kamu itu akan rujuk dengan anak saya." ancam Lia pada gadis yang sedang berjaga di meja kasir.
Setelah mengucapkan itu, Lia melenggang meninggalkan restoran tersebut.
"Rin, udah pergi ibu yang tadi..?" tanya Rahma saat menelpon kasirnya.
"Udah mbak.. Barusan mengancam aku loh." adu Erina pada bos nya itu.
"Ngancam gimana maksudnya..?"
"Dia bilang, katanya setelah restoran ini jadi miliknya, orang pertama yang di pecat itu aku." tutur Erina di balik sambungan telepon.
Sontak Rahma kaget, lalu tawa nya berderai. "bilangin jangan mimpi. yaudah aku tutup telpon nya yaaa, semangat kerja nya.." tutur Rahma lalu telpon itu terputus.
Baru beberapa saat Rahma merentangkan otot-ototnya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Awalnya Rahma ragu untuk membuka pesan tersebut, namun ia juga penasaran dengan si pengirim pesan tanpa nama itu.
Dengan malas Rahma membuka pesan itu, dari sana ia baru mengetahui siapa pemilik nomor tersebuy, terlihat dari foto profil yang di gunakan si pengirim pesan itu.
[Ra, apa kabar? Ini mas, bisa gak kita bertemu sebentar saja, ada yang ingin mas bicarakan penting, mas juga minta maaf udah banyak salah terhadap kamu, mas nyesel udah ceraikan kamu, kamu bisa kan kita ketemu nanti malam. Mas tunggu ya balasannya. Andhika].
Setelah membaca pesan itu, dengan malas Rahma sedikit melempar ponselnya ke meja kerja nya.
__ADS_1
'Antara kita sudah berakhir mas, tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.' tutur Wanita itu di dalam hatinya. Lalu ia menyandarkan punggung ke kursi yang di dudukinya, ia sedikit mengadahkan kepalanya, setitik buliran bening meluncur dari pelupuk mata nya.
-Bersambung...