
Terik matahari tak menyurutkan aktivitas Rahma siang itu, di temani Dina, sudah di anggap sepertii keluarganya sendiri.
"Semoga berhasil ya mbak pembangunannya." tutur Dina kala itu.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan panti asuhan. Setelah rumahnya laku di jual Rahma segera mengutarakan keinginannya pada sang abang, tentu saja Zein mendukung keinginan adiknya tersebut.
"Aamiin,, makasih ya Din." ucap Rahma tersenyum seraya menoleh ke samping kirinya.
"Sama-sama mbak, aku turut bahagia ya keinginan mbak akhirnya tercapai juga."
"Kalau bukan dukungan dari bang Zein dan kamu, mungkin mimpi itu masih nge gantung." Ucap Rahma kembali seraya tersenyum kecil.
"Oyaaa Din, gimana tawaran bang Zein kemarin biar kamu pindah aja kuliah di sini gak usah jauh-jauh." kembali Rahma berucap.
"Duh gimana ya mbak, aku gak enak sama kalian, udah baik mau nampung aku, biayain kuliah aku." jawab Dina menunduk sambil *******-***** jari jemarinya.
"Udah gak perlu fikirin itu, yang penting kuliah kamu bener dan kejar mimpi kamu." senyum Rahma terbit saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku iya aja deh mbak." tutur Dina sedikit ragu.
"Nah gitu dong, itu baru adik mbak." ucap Rahma seraya mengacak rambutnya Dina.
.
"Udah sampe mana pak pembangunannya." tanya Rahma pada mandor, setelah beberapa menit yang lalu sampai di lokasi tersebut.
"Nih seperti yang neng liat, tapi kalau misalkan gak ada yang cocok neng bilang aja ke saya nanti biar anak buah saya yang kerjakan kembali." tutur pak mandor tersebut.
"Gak ada pak, semuanya bagus. Oya pak untuk arena permainan nanti di tempatkan sebelah mana." tanya Rahma kemudian.
"Untuk tempat bermain saya bikin seperti aula tapi lantai nya rumput dan untuk langit-langitnya memakai kaca." gimana menurut mbak Rahma.
"Wahh bagus itu pak, jadi kalau saat hujan pun mereka masih bisa bermain ya." ucap Rahma lagi kemudian.
"Iya neng."
"Ya udah kalau gitu saya permisi dulu ya pak, makasih ya pak atas kerja sama nya." tutur Rahma.
"Iya neng sama-sama."
.
"Ini adik-adik abang pada dari mana kok baru pada pulang." protes Zein saat ia sedang duduk di kursi teras dan melihat kedua wanita berjalan beriringan.
"Abang ini kepo aja sama urusan perempuan ya Din." tutur Rahma dan hanya anggukan kepala dari gadis itu sebagai jawabannya.
"Beli apa tuh, enak kaya nya." tanya Zein lagi.
"Baso mercon, abang mau, nih kita beli lima porsi sesuai anggota rumah kita." jawab Rahma seraya mengangkat kresek isi baso mercon nya.
__ADS_1
"Pedes itu Ra." tanya Zein lagi.
"Yaelah abang namanya juga baso mercon ya pedes, abang nih kalau nanya suka gak masuk akal." timpal Rahma seraya meninggalkan abang serta Dina di teras depan.
"Diiinn ayooo mumpung masih panas, kamu kelamaan di situ nanti ketularan bang Zein loh!" ucap Rahma kemudian tergelak dan meneruskan langkahnya ke ruang makan.
"Apa itu neng gelis, meni bareureum kitu." tanya asisten rumah nya.
"Ini baso mercon teh enak tau." tutur Rahma seraya menumpahkan baso tersebut ke dalam mangkok.
"Kaya nya pedes nya neng.?"
"Nih teteh coba aja sendiri, sekalian buat mang Jaya, pasti cocok nih cuaca panas gini buat dia." tutur Rahma kembali seraya menyodorkan dua plastik baso mercon.
"Nuhun nya neng." ucap teh Sumi seraya berlalu ke dapur.
"Wih udah nyuap aja nih." Dina tiba-tiba datang kemudian duduk di sebrang meja Rahma.
"Dari mana aja, dari tadi mbak panggil-panggil." tutur Rahma sambil meniup-niup kuah basonya di sendok.
"Tangan aku di cekal mbak sama bang Zein, katanya biarin makan baso sendirian." gitu kata bang Zein.
"Hih awas ya abang, liatin nanti." tutur Rahma geram.
"Tuh bang Zein." ucap Dina seraya menunjuk Zein yang muncul dari arah ruang tengah.
"Jangaaan ini, tuh jatah abang cuma level satu, ini mh level lima belas, abang gak akan kuat." timpal Rahma seraya menjauhkan mangkoknya dari jangkauan sang abang.
Bukan apa-apa, hanya saja laki-laki tersebut akan sakit perut dan bolak balik kamar mandi jika memakan sambal yang begitu pedas.
"Iya bang,nanti abang sakit perutnya." Dina ikut menimpali.
"Hmmm.. Oke dehh!" tutur Zein akhirnya kemudian ia pun menuangkan baso merconnya ke dalam mangkok.
"Ada yang mau air dingin gak." tawar Dina.
"Boleh Din, duhh pedes." timpal Rahma.
"Abang juga yaaa."
"Siippp."
Dina pun berdiri lalu sedikit berlari ke arah kulkas guna mengambil air mineral dingin.
.
"Gimana tadi pengecekan pembangunannya udah sampai tahap mana." tutur Zein saat mereka sedang duduk santai setelah beberapa saat makan malam.
"Bentaran lagi sih kaya nya." tutur Rahma seraya matanya tak lepas dari ponsel yang ia genggam.
__ADS_1
"Kamu Din, gimana udah dapet keputusannya." tanya Zein menoleh ke arah Dina.
"Aku terserah abang sama mbak Rahma aja." jawab Dina sedikit ragu.
"Nah gitu dong, itu baru adik abang. Oyaaa masalah cita-cita kamu mau ambil jurusan apa." tanya Zein kemudian.
"Aku sih pengennya jadi dokter bang, nerusin kuliah yang kemarin aja." tutur Dia kembali.
"Oke nanti abang cariin fakultas kedokteran terbaik di kota ini, kejarlah mimpi kalian." tutur Zein seraya menatap keduanya.
'kamu anak baik Dina, kamu penolong adikku, maka dari itu akan ku cari siapa keluargamu.' ucap Zein di dalam hati seraya menatap gadis tersebut yang sedang mengelus hewan berbulu itu.
..
"Kemana aja PE'A sini main ke tempat gue, gue perlu bantuan lo sedikit." ucap Zein kala itu sedang duduk santai di balkon kamarnya dan menelpon sahabatnya itu.
"Ah lo giliran butuh nya baru inget sama gue " ucap seseorang di seberang telepon Zein.
"Lo biasa juga suka dateng sendiri kaya jaelangkung datang tak di undang, pulang minta di antar." tutur Zein kemudian tergelak.
"Oke dehh! Besok gue dateng mumpung sepi job."
"Sipp gue tunggu lo Pan, kalau gak dateng awas lo." ancam Zein pada sahabatnya yang bernama Pandu tersebut.
Kemudian keduanya pun mengakhiri percakapannya di telepon.
Saat Zein ingin menyimpan ponselnya, ada sebuah notifikasi pesan masuk.
(Faa, apa kabar, aku udah di indonesia, aku kangen kamu fa. Besok bisa kan main ke apartemenku)".
Zein pun hanya membacanya sekilas kemudian ia beranjak dari duduknya, lalu mengunci dan nenutup pintu kaca kamarnya.
Untuk kedua kalinya ponsel tersebut bunyi kembali dengan nyaring, menandakan ada telepon masuk. Zein pun hanya melihatnya sekilas tanpa berniat menjawab telepon tersebut.
"Apalagi sih mau nya, bukannya dia dulu yang mengakhirinya" Gumam Zein.
Ting!
( Faaa. Kita bicarain lagi ya, kita kejar dan raih kembali mimpi kita). Kembali sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
Zein pun hanya membacanya kembali sekilas, kemudian ia lempar ponselnya ke arah kasur, kemudian ia juga menghempaskan tubuhnya, beberapa menit kemudian matanya terpejam.
.
"Bangun tempat asuhan tinggal sedikit lagi selesai, selanjutnya aku mau bangun rumah makan." gumam Rahma seraya matanya menatap atap-atap kamarnya.
"Aamiin Rahma, semoga mimpi dan cita-cita mu terwujud". Ucapnya sambil mengadahkan kedua tangannya kemudian di usapkan ke wajahnya. Sesaat kemudian ia pun tertidur berkelana ke alam mimpi nya.
-Bersambung...
__ADS_1