
Pagi ini Zein di sibukkan dengan pekerjaannya. Sekretarisnya baru saja memberitahukan bahwa hari ini ada meeting penting dengan pengusaha dari perusahan teman Almarhum papanya.
"Jam berapa meetingnya San.?" tanya Zein pada Santi sekretarisnya.
Santi pun menoleh dan tersenyum hormat. "Pagi ini jam delapan Pak, berkasnya sudah saya siapkan, tapi katanya meeting hari ini di wakilkan sama anaknya, Pak Broto sedang menemani istrinya di rumah sakit."
"Oke baiklah, lima belas menit lagi kita berangkat, kamu siapkan saja semuanya." Zein menanggapinya dengan santai.
Lima belas menitpun berlalu, kini Zein dan sekretarisnya telah sampai pada tempat yang di janjikannya untuk melakukan meeting.
"Dengan bapak Zein Alfian." ucap seseorang di depannya.
Zein pun mengadahkan kepalanya menoleh pada sumber suara. "Iya.. Anda utusannya pak Broto Suryo.?"
"Betul saya di utus pak Broto untuk mewakili meeting dengan pak Zein, Perkenalkann saya Nayla." ucap gadis di depannya dengan mengulurkan tangannya Zein dan Santi pun menerima uluran tangan dari Nayla.
Lalu ketiganya larut dalam bisnis yang akan segera mereka kerja sama dalam satu proyek.
.
Siang itu Emily baru terbangun dari tidurnya, setelah semalaman ia menghabiskannya di sebuah diskotik, lalu ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping kepalanya. Ternyata waktu telah menunjukan pukul sebelas siang. Ia pun segera terbangun dari tidurnya, dan teringat pada amplop yang di berikan om-om itu semalam.
Senyum Emily merekah, ia senang bukan main jumlah uang yang di berikan om bernama Broto itu cukup banyak.
"Waw amazing.. Kalau kaya gini gak usah capek--capek kerja nyari duit, tinggal temenin om-om ngobrol dapet cuan." tawa Emily tergelak di tengah kamarnya yang cukup luas.
Lalu ia meraih ponselnya kembali dan mencari kontak seseorang yang bernama Dewi. "Hallo bestie! Lagi ngapain?. Thanks yaaa, gue seneeeng banget."
"Baru aja gue bangun tidur, kannn apa gue bilang. Tidak perlu keluar keringat, cuan dateng dengan sendirinya." tutur Dewi dengan gelak tawq nya.
"Lo bener Wi, ya udah lo gak ada acara lain kan, kita hang out yuk, terus shopping sepuasnya." kembali Emily tertawa di akhir kalimatnya.
"Oke! Setengah jam lagi gue jemput lo, lo harus udah siap." tutur Dewi, Emily pun menjawabnya sebelum teleponnya berakhir.
__ADS_1
.
pukul dua siang, Rahma pergi ke rumah sakit untuk menjenguk temannya Sinta, ia baru saja mendapat kabar bahwa Sinta di rawat.
"Kamu kenapa Sin, kalau misalkan gak kuat makan pedes jangan maksain, kan ujungnya kamu juga yang ngerasain." tutur Rahma setelah sampai di ruangan rawat Sinta.
Sinta hanya mengulas senyumnya mendengar celoteh temannya itu. "Aku tuh suka ngiler Ra, kalau ngeliat orang-orang mukbang baso yang super pedas, apalagi dengan kuah yang merah, bikin ngeces aku tuh." Sinta terkekeh diakhir kalimatnga itu.
Rahma hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari temannya itu. "Kamu ada-ada aja Sin, mungkin mereka udah terbiasa, sedangkan kamu kapan aku liat kamu makan yang pedes-pedes"
Sinta hanya tersenyum melihat temannya itu mengomelinya. "Iya deh maaf, lain kali gak kaya gitu lagi. Janji." kedua jari Sinta teracung di udara.
"Terus siapa yang bawa kamu kesini, bukannya kamu sendirian di hotel." tutur Rahma kembali.
"Dianter kak Rey, dua hari setelah kepindahan mereka aku juga ikut kesana." tutur Sinta lagi.
"Pantesan pas tadi aku iseng buka hp dan liat story nya bu Mega, kamu sedang sakit, aku langsung aja telpon bu Mega dan nanyain rumah sakitnya." tutur Rahma di sela senyumnya.
"Kamu apa-apaan sih Sin, kamu kan teman aku wajar dong kalau aku khawatir, udah jangan mellow begitu, nih makan jeruknya dari tadi aku bawain oleh-oleh di anggurin." tutur Rahma lalu mengupas satu jeruk dan memberikannya pada Sinta, dan keduanya pun asyik dalam membahas masa-masa kuliahnya dulu.
"Sin, kamu inget gak sama si Alan.?" tutur Rahma di sela obrolannya.
"Iya aku inget kenapa emangnya.?" tanya Sinta menatap Rahma yang sedang duduk di kursi samping ranjangnya.
"Dia ngechattin aku ngajak balikan." tutur Rahma.
Sinta pun sedikit kaget. "Hah yang bener Ra, dia juga sering chattin aku, ngajak ngedate lah, jalan-jalan lah."
"Terus pernah kamu jalan sama dia." tanya Rahma sedikit penasaran.
"Enggak pernah soalnya bukan tipe aku sih." Sinta terkikik geli.
"Aku juga gak ada niatan buat kembali sama dia." tutur Rahma kembali.
__ADS_1
"Yupz! Jangan mau Ra, dia bukan laki-laki baik, mending kita hempaskan saja.!" tutur Sinta lalu di iringi gelak tawa keduanya.
Setelah satu jam lamanya Rahma menemani Sinta ngobrol, ia pun pamit untuk pulang, karna hari sudah semakin sore.
"Thanks ya Ra, udah temenin aku." tutur Sinta sebelum Rahma beranjak dari duduknya.
Rahma tersenyum seraya menganggukan kepalanya. "Santai Sin kaya sama siapa aja, aku pamit ya, cepet sembuh jangan makan pedes-pedes lagi."
"Siap bu Rahma yang cerewet." lalu senyum keduanya pun terurai sebelum Rahma benar-benar pamit.
.
Di lorong rumah sakit yang sama seorang gadis berjalan tergesa, tanpa melihat ke arah depan ia terus berjalan dengan cepat.
Dari arah berlawanan Rahma berjalan sambil menatap ponselnya, ia sedang membalas pesan dari abangnya, menyuruhnya untuk segera pulang.
Bruuukkkk!!!!
"Ma-maaf mbak, saya gak hati-hati jalannya." ucap seorang gadis itu dengan raut muka khawatir bercampur sedih.
"Gak apa-apa mbak, saya juga salah, jalan gak liat-liat." tutur Rahma dengan senyum ia berikan pada lawan bicaranya.
"Mbaknya tidak apa-apa kan."
"Enggak, gak apa-apa kok." ucap Rahma kembali.
Lalu senyum gadis itu sedikit terukir di bibir tipisnya. "Kalau gitu saya duluan ya mbak, saya buru-buru."
Rahma pun membalas senyuman gadis itu. "Iya mbak, hati-hati ya."
Gadis itu hanya menganggukan kepalanya dan kembali berjalan melewati Rahma.
-Bersambung...
__ADS_1