
"Ra.. Ini mas buatin kopi buat kamu, kamu kan kalau lagi nulis novel suka sambil minum kopi." Kala itu Andhika menyodorkan secangkir kopi untuk Rahma.
"Bisa gak kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu lebih dulu." Ucap Rahma tanpa menolehkan kepalanya pada lawan bicaranya.
"Biasa juga kan seperti itu Yank, ini kan kamar kita kenapa aku harus ketuk pintu dulu." sanggah Andhika kemudian.
"Apa kamu bilang kamar kita.? Denger mas sejak kamar pun pindah dengan istri mu itu, kamu udah gak ada hak masuk ke kamarku, kamu tidak ingat saat kamu pindah bawa bawa semua barangmu, ada gak kamu izin ke aku dulu, dan sekarang dengan seenaknya kamu main masuk ke kamarku." Ucap Rahma, kemudian menyimpan ponselnya di atas meja nakas.
Andhika pun terdiam beberapa saat, ia bingung mesti dari mana dulu untuk melancarkan aksi kebohongannya.
"Ra, mas kesini sebenarnya, mau bicara sesuatu yang penting sama kamu." Ucap Andhika dengan pura-pura tertunduk.
"Bicaralah, aku mau istirahat." tutur Rahma.
"Kamu bisa kan cabut gugatan kamu ke pengadilan, kita mulai lagi hidup yang baru Ra, mas gak mau kehilangan kamu. Mas minta maaf udah duain kamu, tapi mas gak punya pilihan lain. Mas juga mencintai Wina." tutur Andhika dengan sedikit tergugup, tentunya berpura-pura agar sandiwaranya tidak terlihat oleh Rahma.
"Enteng sekali mas kamu bicara seperti itu minggu depan kita udah mulai sidang mas, terima saja, aku juga menerima kamu yang telah berkhianat di belakangku, tapi maaf aku bukan istri yang rela di madu, kalau kamu mencintai Wina, silahkan mas, aku ikhlas melepaskan kamu, tapi ingat jangan menyesal di kemudian hari." tutur Rahma kembali. Dengan pandangan di arahkan ke kaca balkon.
"Tapi Ra, mas sungguh tidak ingin meninggalkanmu, mas sayang sama kamu, kita pasti bisa kok hidup bahagia, aku kamu dan Wina." Andhika masih kekeh dan melancarkan aksinya itu, sebenarnya ia tentu berharap Rahma tetap menjadi istrinya dan membantu menopang kehidupannya serta kehidupan sang ibu.
"Keluar mas, aku mau istirahat." timpal Rahma, tanpa menjawab lagi ocehan Andhika dan tatapan matanya masih terarah ke arah balkon menatap pekatnya malam itu.
'Sial..!' umpat Andhika di dalam hatinya.
"Oke mas keluar, tapi mas akan tetap pertahankan rumah tangga kita."
"Terserah.." Ucap Rahma.
Andhika pun kemudian keluar dari kamar Rahma, setelah beberapa saat kepergian Andhika, Rahma turun dari ranjangnya dan bergegas cepat mengunci pintu kamarnya itu.
.
"Gimana mas berhasil, si Rahma mau minum kopinya atau dia mau turutin yang udah aku bilang tadi." Ucap Wina dengan rentetan pertanyaannya.
__ADS_1
"Belum, dia masih kekeh ingin melanjutkan perceraian ini." tutur Andhika seraya menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang berada di kamar Wina.
"Lalu kopinya di minum, biarpun dia menolak bujukan kamu yang penting kopinya di minum mas, itu yang lebih penting." tutur Wina dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"Itu juga belum, tadi kan mas ngajak ngobrol dia dulu, kamu tenang aja setelah aku keluar dari kamarnya, dia pasti melanjutkan nulis nya, dan tentu akan meminum kopinya." ucap Andhika dengan senyuman merekah.
"Yaudah mas, yuk kita tidur, aku ingin segera menikmati kelemahan si Rahma." tutur Wina dan segera merebahkan dirinya diatas ranjang, beberapa saat kemudian Andhika pun menyusul istrinya itu dan sesaat setelahnya mereka pergi ke alam mimpinya.
.
Di kamar atas, Rahma masih terbengong dengan ponsel di genggamnya, setelah melanjutkan bab nulisnya, ia berfikir keras ada apa dengan suami nya itu. menit berikutnya ia beranjak dari ranjang dan menuju meja rias, ia melihat secangkir kopi di atas meja riasnya, tumben begitu fikir Rahma, ia pun sama sekali tak berniat untuk meminum kopinya itu, karna sudah terlalu lama dan tentu kopinya sudah dingin, ia sudah tak berselera lagi, tidak enak kopi sudah dingin di minum, begitu fikirnya.
Beberapa saat kemudian setelah Rahma memakai cream malamnya ia pun beranjak dari tidurnya dan berjalan ke arah ranjang guna menyambut mimpinya malam itu.
...
Matahari yang baru muncul dari permukaan dan masuk ke sela-sela gordeng membuat tidur Rahma terbangun, setelah menunaikan kewajibannya subuh tadi, ia tidur kembali. Yang biasanya kalau bangun setelah shalat ia langsung turun ke dapur membuatkan suami sarapan dan mempersiapkan segala keperluan kantornya, kini kebiasaan itu sudah lama Rahma tinggalkan, toh sekarang suaminya itu sudah berpindah kamar di bawah bersama istri muda nya.
"Hoaaammmm..." Rahm mengibaskan selimut tebalnya dan merenggangkan otot-ototnya, kemudian ia meraih remote AC yang tergeletak di samping tempat tidurnya. Kemudian ia menekan tombol on/of remote tersebut.
Kemudian ia berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandi guna menguyur tubuhnya pagi cerah itu. Setelah setengah jam Rahma menghabiskan ritual mandinya. Dan segera memakai pakaiannya, kemudian ia beranjak ke meja rias guna merias wajahnya, hanya polesan tipis-tipis di pipinya sudah membuatnya cantik.
Beberapa saat kemudian ia keluar dan turun ke bawah, tak lupa kopi yang semalam masih utuh itu ia bawa juga. Guna untuk membuang kopinya.
"Kopi taun kapan tuh mbak." Tiba-tiba Dina juga keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi.
"Udah berapa tahun yaaa, lupa mbak." kekeh Rahma.
Kemudian keduanya pun berjalan beriringan turun dari tangga.
"Itu kopi kasian sekali gak mbak minum, biasanya kan habis tak tersisa." Canda Dina dengan tertawa sedikit keras.
"Ini kopi spesial, makanya nggak mbak minum." Rahma menimpali candaan adik iparnya juga dengan kekehan yang nyaring.
__ADS_1
"Kalau spesial di minum dong, bukannya di biarin dan di bawa-bawa seperti itu." omel Dina setelah tawanya terhenti.
"Ini kopi buatan masmu." bisik Rahma di telinganya Dina.
"Masku." Dina pun cepat menjawabnya dan menunjuk dadanya sendiri.
"Iya, semalem tiba-tiba dia masuk ke kamar mbak, dan ngasih kopi ini." tutur Rahma, keduanya telah sampai di area dapur dan keduanya pula duduk di kursi mini bar.
"Lalu kenapa nggak mbak minum.?? Takut di racun yaaa.." sanggah Dina dengan bokong sedikit di majukan ke arah Rahma.
"Hih!. Ngaco kamu, mbak tuh sama sekali gak ada punya fikiran jelek atau curiga terhadap masmu itu, cuma semalem dia ngajak ngobrol dan setelahnya kopi ini udah dingin, kopi kalau udah dingin beda rasanya, gak enak dan mbak suka sakit perut kalau minum kopi yang sudah dingin." tutur Rahma, kemudian ia turun dari duduknya dan membuka lemari es guna mengambil satu kotak susu sebagai peganjal laparnya.
"Hehe becanda mbak." tutur Dina dengan sedikit senyum ia suguhkan untuk kakak iparnya itu.
Ia teringat akan rencana Wina juga abangnya yang akan sedikit demi sedikit mencelakai Rahma.
"Mbak, hati-hati aja ya kalau di kasih makanan atau minuman sama mas Andhika, atau mbak Wina, ibu. Juga kak Rina." ucap Dina seraya memelankan suaranya.
Tiba-tiba Rahma tersedak susunya.
"Kenapa emangnya Din, kok raut muka kamu tegang begitu." Ucap Rahma kemudian ia mengambil air hangat untuk menghilangkan tersedak di tenggorokannya.
"Yaa pokoknya hati-hati aja ya mbak, aku mau pergi mbak ada janji sama temen.. Daaahhh." tutur Dina seraya turun dari duduknya kemudian sedikit berlari ke arah pintu utama.
"Dasar bocah aneh." omel Rahma kemudian ia pun kembali berjalan menapaki satu persatu anak tangga.
.
"ini kan kopi yang aky bikin semalem buat si Rahma, SIALAN!!! Rupanya sedikitpun kopinya tidak dia minum, tapi tenang Rahma masih banyak waktu untuk membuatmu sekarat di tanganku."
Umpat Wina seraya mengepalkan kedua tangannya.
-Bersambung...
__ADS_1