
"Andhika.. Jelaskan sama ibu, ini rumah siapa?". Tanya bu Lia dengan nada suara menggebu.
"Bu, sebenarnya ini rumah mutlak miliknya Rahma, aku tidak ikut andil dalam rumah ini, sebelum aku nikah sama Rahma, rumah ini sudah ada, dan kata Rahma ini rumah warisan yang di terima nya dari kedua almarhum orang tua nya". Tutur Andhika seraya mendudukan bokongnya kembali.
"Tapi tetep aja kan kamu juga ada hak atas rumah ini Dhika, jangan sampai rumah dan isinya jatuh ke tangan wanita sialan itu". Ucap ibunya tidak terima.
"Yang ibu bilang bener loh mas, kalau kalian cerai rumah ini harus di bagi dua. Sebagai harta gono gini, atau kalau nggak usir aja sekalian tuh si Rahma, biar rumah serta isinya jatuh ke tangan kamu mas". Wina, ikut menimpali ucapan sang mertua.
Ia tidak ingin perjuangannya selama ini sia sia, jauh di dalam hatinya, sungguh ia ingin memilik rumah milik Rahma tersebut.
"Harta gono gini gimana maksud kamu Win, rumah ini aja sertipikatnya atas nama Rahma. Dan di situ tertera tanggal dan tahunnya saat di bangun, bagaimana datangnya harta gono gini, udah deh kamu jangan ngada ngada. Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikan Rahma, ingat itu". Kembali, Andhika berucap.
Setelah itu, ia beranjak ke lantai atas guna menyusul Rahma dan ingin membujuknya supaya Wina juga bisa tinggal disini bersama nya. Ia sangat yakin bahwa Rahma dan Wina bisa hidup rukun.
Tok!
Tok!
Tok!...
"Ra, buka pintu nya, mas mau bicara, kita selesaikan masalah nya". Ucap Andhika di balik pintu kamar yang di kunci Rahma.
"Gak ada yang harus di bicarain lagi mas. Semuanya sudah jelas". Tutur Rahma dari dalam kamar.
"Gak ada masalah yang bisa di selesaikan, semuanya pasti selesai kok, asal kamu mau terima Wina sebagai adik madu mu. Dia juga sahabat kamu bukan, tentu kalian bisa hidup rukun, dan kita bertiga akan bahagia selamanya". Suara Andhika menggebu masih di balik pintu kamar yang terkunci.
Rahma pun tersulut emosi kemudian ia berjalan dan membuka pintu nya.
"Apa kamu bilang hidup rukun dengan si pengkhianat itu, enteng sekali kamu berbicara mas, tanpa memikirkan perasaan aku".Tutur Rahma.
"Dengarkan aku Rahma, aku tidak mau cerai dan kehilangan kamu, aku sayang sama kamu, Ra.". Suara Andhika memelan.
__ADS_1
"Juga sayang sama Wina dan kamu gak bisa meninggalkan keduanya, begitu maksud kamu mas, Egois!.." Tatap Rahma dengan nanar.
"Ra, aku nikahin Wina atas keinginan ibu, ibu ingin cepet cepet punya cucu, maka nya ibu nyuruh aku nikahin Wina, awalnya aku gak ada niat buat nikahin dia, karna kamu yang cuma mas cintai". Tutur Andhika kembali seraya menatap dalam wajah Rahma.
Rahma pun berpaling dari tatapan Andhika.
"Gak niat nikahin tapi hubungan kamu dengan Wina sudah sejauh itu mas. Aku tau semuanya mas, aku tau. Jadi jangan berbohong lagi, mari kita bercerai dan berpisah baik baik, pulangkan aku kepada abangku, sebagai mana kamu dulu memintanya untuk merestui pernikahan kita". Ucap Rahma dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Enggak Ra, itu gak akan terjadi, kita tidak akan bercerai". Kembali Andhika berucap dengan mantap.
"Terserah kamu mas, tapi cepat atau lambat aku akan ajukan perceraian kita ke pengadilan". Jawab Rahma kembali sambil berlalu meninggalkan Andhika yang masih mematung di depan pintu kamar yang terbuka.
Setelah perseteruan Andhika dengan Rahma
Andhika kembali turun dan menghampiri kamar ibu nya, yang kebetulan pintunya sedikit terbuka, terlihat sang ibu sedang berbaring di atas kasur nya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Andhika nyelonong masuk.
"Kenapa Dhika, jadikan kamu cerai sama Rahma dan usir dia dari rumah ini." Tutur ibu nya.
"Enggak bu, perceraian itu tidak akan terjadi, aku sama Rahma tidak akan bercerai sampai kapan pun". Andhika menjawab ucapan ibunya tanpa menatap sang ibu.
"Kenapa seperti itu Dhika, kamu ceraikan saja istrimu yang mandul itu, dan kamu hidup bahagia dengan Wina. Lagian ibu sudah terlanjur bilang sama orang orang sekitar, kalau rumah ini, rumah kamu, hak kamu, Rahma yang menumpang sama kamu, apalagi ke kampung semuanya percaya kalau ini rumahmu, kalau mereka tau ini bukan rumah kamu, yang malu kan ibu, apalagi kamu lebih malu Dhik." Ucap ibunya kembali.
"Ibu apa apaan sih pake ngaku ngaku segala. Ibu ini ada ada aja". Timpal Andhika dengan sorot mata sedikit marah.
"Ya ibu fikir ini rumahmu Dhik, lagian kapan lagi coba bisa pamer". Ketus ibunya kembali.
Andhika pun beranjak dari duduknya tanpa menjawab ucapan ibunya.
Saat keluar dari kamar sang ibu, terlihat Wina sedang menikmati salad buah yang biasa Rahma simpan di kulkas.
__ADS_1
"Win, itu salad punya Rahma, kamu jangan sembarangan makan". Ucap Andhika kemudian ia duduk di sisi kursi yang di duduki Wina.
"Emangnya kenapa, ini kan rumah kamu mas, jadi apa yang ada di sini aku juga berhak termasuk makan salad ini" Ucapnya sambil menyuapkan salad tersebut ke mulutnya.
"Tau nih bang Dhika, cuma salad aja di permasalahin". Tiba tiba suara Rina terdengar menyahuti ucapan Wina.
Wina pun merasa di atas awan saat ada yang membela nya.
"Iya Rin, padahal cuma salad ya, berapa sih harga nya, aku bisa borong semua salad". kembali Wina berucap dengan nada angkuh.
"Lalu, kalau mampu beli, kenapa makan, makanan punya orang". Tiba tiba Rahma muncul dam berjalan ke arah kulkas. Mengambil satu minuman dingin.
"Ra, sudah.. Nanti kamu bisa beli lagi". Ucap Andhika menimpali.
"Tau nih mas istri tuamu, enggak ngerti apa aku lagi ngidam". Ucap Wina dengan mengelus perut rata nya.
Andhika serta Rahma pun sontak kaget.
"Ka-kamu ham-.." Ucap Andhika terjeda.
"Waw tokcer banget ya baru beberapa hari nikah tapi udah hamil aja" . Ucap Rahma dengan tersenyum dan berlalu meninggalkan dua orang yang telah mengkhianatinya. Sedangkan Rina sendiri sudah kembali ke kamarnya sejak kedatangan Rahma, entah kenapa gadis itu menghindar dari Rahma.
"Kamu bener hamil Win.?" Tanya Andhika setelah kepergian Rahma.
"Kalau aku hamil kenapa, justru bagus dong, ini kan yang ibu kamu inginkan segera menimang cucu, lagian kenapa juga kamu harus kaget jauh sebelum kita menikah, kita sering melakukannya bukan, dan kamu ingat kan waktu kita melakukan itu di gudang belakang, kamu begitu bernafsu". Ucap Rahma dengan senyum bahagia nya.
"Iya aku inget kok Win, kamu emang beda dan bisa membuatku puas di ranjang". Ucap Andhika seraya menyentuh pipi istri muda nya itu".
Dan tanpa mereka sadari, Dina mendengar percakapan abang dengan istri baru nya.
"Abang keterlaluan, tega sekali menyakiti mbak Rahma, padahal mbak Rahma kurangnya apa, udah cantik pengertian sebagai istri, kasian sekali mbak Rahma". Gumam Dina, sambil mengelus ngelus bulu halusnya si Thomas.
__ADS_1
-Bersambung...