Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab020. Zein Murka


__ADS_3

Pukul empat sore, seperti biasa Andhika keluar dari kantornya, ia pun berjalan ke arah parkiran.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kerendarao Andhika sampai di halaman rumah.


"Mobil siapa itu". Gumam Andhika seraya turun dari mobilnya.


Kemudian ia pun masuk ke dalam memastikan ke dalam siapa yang datang kerumahnya sore begini, ia berfikir mobil orang yang hendak bertamu ke rumah itu.


Saat di ruang tengah, Amdhika melihat ibunya sedang duduk sambil nonton sinetron ikan terbang, kesukaannya. Tanpa banyak basa-basi Andhika menghempaskan bokongnya serta menyimpan tas kerja di samping ia duduk.


"Bu, mobil yang di depan punya siapa." Tanya Andhika pada sang ibu.


"Mobilnya si Rahma, baru tadi siang ia beli dan kayanya dia beli pake uang cash, kamu kasih uang ke dia buat beli mobil itu." tuding sang ibu.


"Mana ada Andhika punya uang sebanyak itu bu." Tutur Andhika kemudian.


"Lantas dia dapet uang dari mana, apa mungkin ia jadi pelacur di luar sana." kembali tudingan dilayangkan pada menantunya.


"Ibu jangan ngomong sembarangan, pake nuding-nuding mbak Rahma melacur." tiba-tiba Dina datang dari arah tangga sedari tadi ia mendengarkan percakapan ibu serta abangnya itu.


"Kamu anak kecil tau apa." tutur bu Lia dengan mendelikkan matanya.


"Bukan aku sok tau bu, tapi uang yang di beliin mobil itu uang dari hasil mbak Rahma nulis novel terus selebihnya uang simpanan dari warisan almarhum orang tua nya." tutur Dina panjang lebar.


"HAH! Warisan?... Andhika emang kamu gak tau Rahma punya warisan kalau gitu kenapa gak minta hak kamu juga dong." sarkas sang ibu.


"Ibu ini ngaco ih.!" turur Dina sambil mengibaskan tangannya.


"Apanya yang ngaco Din, jelas dong kan Dhika suaminya Rahma."


Dina seketika terkekeh. "suami dari hongkong, bukannya ibu nyuruh bang Dhika buat ceraikan mbak Rahma."


Ibunya pun tiba-tiba berfikir sejenak. "Kalau gitu kamu tidak usah cerai saja sama Rahma, ternyata si Rahma itu kaya raya, udah punya rumah geude dan mewah, mobilnya mewah juga, di tambah punya warisan." ucap bu Lia dengan mata berbinar.


"Rahma sudah mengajukan perceraiannya bu, dan kemarin surat panggilan sidang udah aku terima." Ucap Andhika seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Baru panggilan kan, kamu bujuk aja si Rahma gimana ke cara nya, agar dia cabut gugatannya." kembali bu Lia menyarankan anaknya.


"Lalu dengan Wina.?" tanya Andhika seraya menatap ibu nya.


"Ya! Wina tetep jadi istri kamu juga dong. Kamu gimana sih bukannya bangga punya istri dua." delik sang ibu.


Beberapa saat hening tidak ada yang bicara, termasuk Dina masih duduk di sofa bersama sang ibu juga abangnya tersebut.

__ADS_1


Dina berfikir keras bagaimana menyadarkan ibu serta abangnya dari keserakahan harta.


'Apa aku harus bilang langsung ke mbak Rahma, termasuk rencana pembunuhan yang mereka rencana kan.' gumam Dina di dalam hatinya.


'Tapi bagaimana caranya.' kembali Dina bergumam lagi sambil berfikir keras, langkah mana yang akan ia ambil.


Di satu sisi ia juga tidak mungkin membongkar rencana keluarga nya, bagaimana pun mereka ibu serta abangnya, akan tetapi ia juga berfikir kasihan terhadap Rahma. Rahma sudah terlalu baik terhadapnya juga.


Tiba-tiba Wina muncul dari balik pintu kamarnya.


"Lagi ngapain kok pada ngelamun.". Ucapnya sambil menyandarkan kepala di pundaknya Andhika.


"Win, kamu tau kan si Rahma baru saja membeli mobilnya." tutur bu Lia.


"Iya tau bu, makanya aku dari tadi kesel, aku juga pengen punya mobil kaya Rahma." Ucap Wina merajuk!.


"Nah gini aja biar kamu juga nikmatin itu mobil, gimana kamu bantu Rahma buat ngebujuk agar cabut gugatan cerainya, dengan begitu kamu bisa pake kan mobilnya itu, kamu baik baikkin tuh si Rahma gimana pun caranya. Ternyata dia kaya Win, mobil itu juga katanya di beli pake warisan dari orang tua nya." tutur bu Lia dengan amtusias.


"What?... Jadi aku akan tetep jadi istri keduanya mas Andhika, aku gak jadi dong berkuasa di rumah ini, apalagi menjadi nyonya Andhika satu satunya." terang Wina


"Tapi Win, kalau kita pengen hidup enak ya di sini, Kalau Andhika cerai dari si mandul Rahma." lah kita di hempaskam Win, ibu gak siap miskin, apalagi tinggal di rumah yang tidak ada AC nya, ibu tidak mau Win." turur bu Lia kembali.


"Tapi bu nggak seperti itu pula ceritanya, kita kembali ke rencana awal kita, kita bumuh pelan-pelan si Rahma, apa kek bikin di lumpuh atau bisu. Kan gampang bu." tutur Wina dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Kamu harus bantu Wina, Dhik. Melenyapkan wanita sialan itu."


"Iya dong mas, apa yang di katakan ibu bener, kalau kita gak kerja sama akan lama prosesnya, oke sayang." Ucap Wina sambil mengelus pipi Andhika.


"Terserah kalian, yang penting tidak ada satu orangpun yang tau rencana kita." Andhika berucap sambil menghelakan nafasnya.


"Tentu sayang, kita main cantik, kamu tinggal ikutin alurnya aja, soal rencana biar aku yang susun." Tutur Wina dengan bangga.


Tanpa bersuara Dina pun pelan-pelan beranjak dari tempat itu, kemudian ia berjalan ke area samping kolam renang, dengan nafas yang ngos-ngosan. "Aku harus bilang semuanya sama bang Zein, ya bang Zein itu lebih baik." Gumam Dina yang tiba-tiba teringat pada sosok laki-laki itu.


Tiba-tiba Dina menepuk jidatnya "Aku kan gak punya nomor nya bang Zein, gimana mau ngasih tau nya, rumahnya aja aku gak tau, kesini baru sekali doang selama aku disini."


"Kamu kenapa Din bolak balik kaya setrikaan aja."


Rahma muncul dari arah depan.


"Eh mbak Rahma, ah nggak aku lagi berjemur aja, hehehe." Ucap Dina salah tingkah.


Rahma pun heran dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Berjemur sore-sore gini gak salah kamu Din." Ucap Rahma kembali sambil menggelengkan kepalanya.


Dan hanya di jawab kekehan saja sama gadis itu.


...


Beberapa Hari Kemudian..


"Bagaimana pun caranya aku harus dapetin nomornya bang Zein." Ucap Dina kala itu. Ia sedang duduk bersandar di ranjangnya.


"Ah kan ada buku telepon di samping telepon ruang tengah".


Dina pun bangun dan beranjak dari ranjangnya.


Setelah di luar kamar, ternyata di sana sepi dan itu di di manfaatkan banget untuknya. Ia pun segera menuju arah telepon rumah yang tertata di samping televisi.


Dengan penuh keyakinan ia buka lembar per lembar buku telepon tersebut dan akhirnya ia menemukan apa yang ia cari, segera Dina menyalin kontak itu dan bergegas kembali ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian ia menelpon abangnya Rahma itu panggilan pertama tak ada jawaban dan setelah panggilan berikutnya baru telpon itu diangkat dan terdengar suara seseorang di sebrang sana.


"Hallo!. Dengan siapa.?" Ucapnya.


"Ha-hallo bang, ini Dina adiknya bang Andhika, aku ada sedikit perlu sama abang, abang ada waktu gak buat kita ketemu dan ngobrol." Ucap Dina.


"Oh Dina, yapz perlu apa ngomong aja dulu intinya, sebab beberapa hari ini abang sibuk." jawab Zein kemudian.


Dina pun di landa kebingungan.


"Hallo Dina apakah masih disana.?"


"I-iiya bang!, ini soal mbak Rahma, mbak Rahma dalam bahaya." tutur Dina dengan suara yang gugup.


"Bahaya?.. Bahaya apa maksud kamu Din, coba yang jelas ngomongnya." Tutur Zein kembali.


"Abangku, ibu serta mbak Wina merencanakan pembunuhan buat mbak Rahma." tutur Dina dengan suara bergetar.


"APAAA??.. Mau macem-macem sama adik saya, tunggu kalian di rumah besok saya akan beri si Andhika pelajaran." terang Zein dengan suara yang meninggi.


"Kamu tenang Din, abang tidak akan apa apain kamu, justru abang terimakasih sama kamu. Kamu yang tenang ya, abang masih banyak kerjaan."


Klik!.. Telepon di matikan sebelah pihak oleh Zein.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2