
-PoV Rahma
Setelah Pernikahan yang ku jalani dengan mas Andhika ternyata tidak semulus yang aku fikirkan sebelumnya.
Menginjak usia dua tahun tanpa aku duga, mas Andhika berkhianat dengan sahabatku sendiri. Mereka diam diam telah melangsungkan pernikahan itu dan tanpa seizinku.
Sakit! Jangan di tanya. Tentu sangat sakit. sakit sekali, aku begitu tulus mencintai mas Andhika, tetapi ketulusan cintaku ternyata tak terbalas.
Apakah aku akan terima begitu saja dan kalah lalu menangis meminta mas Andhika meninggalkan istri muda nya?.
Tentu tidak! Aku dengan sukarela memberikan mas Andhika pada Wina sahabatku. Mendenger kata sahabat sepertinya sudah tidak berarti untukku juga Wina. Dia juga berkhianat, sungguh aku tidak habis fikir.
Aku harus kuat, harus bisa membalas perbuatan mereka aku tidak bisa seperti ini terus.
Kalian nikmati saja dulu masa indahnya pernikahan kalian kalau sudah saat nya lihat apa yang akan aku lakukan.
Mungkin saat ini kalian fikir aku wanita bodoh yang bisa kalian bohongi seenak kalian.
..
"Mbak, ngelamun nanti ke sambet loh.!".
Tiba tiba Dina mengagetkanku dari arah belakang. Dari ketiga kakak beradik itu, cuma Dina yang baik dan sopan tentunya menghargaiku sebagai kakak iparnya.
"Enggak siapa yang ngelamun, mbak lagi liatin tanaman mbak yang minggu lalu mbak tanam, dan sekarang baru mekar, tuh kamu liat, cantik cantik kan bunga nya". Ucapku seraya menatap bunga bunga itu dan menoleh ke arah Dina seraya tersenyum.
"Iya cantik cantik kaya yang nanemnya.." kekeh Dina sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Anak itu selain baik juga ceria. Padahal yang aku lihat ibu mertuaku seperti membeda kan kasih sayang nya terhadap mas Andhika dan Rina.
"Ih cewek cewek seneng nge gombal.." Ucapku seraya menyubit pelan lengannya.
"Aw!! Sakit mbaakk.." Tuturnya pura pura meringis.
Aku ingin sekali menanyakan perihal ibu mertua yang membedakan dirinya dengan kedua kakak nya. Tapi rasanya aku lancang sekali menanyakan hal itu.
💟
__ADS_1
Malam kian merangkak. Kini aku duduk dikamarku sambil membuka ponsel dan mengecek sampai bab berapa aku menulis, tentu membaca segala komentar dan saran dari para pembaca, ada yang suka, ada yang benci, dan mengeritik tokoh antagonis yang aku buat di cerita novel tersebut, tentunya banyak lagi komentar komentar yang lainnya.
Cerita yang aku buat di novel tersebut tidak jauh seperti kisahku, tentu lucu bukan. Aku seperti menceritakan kehidupanku dan masalah keluargaku sendiri.
Baru saja aku menyimpan ponselku di atas nakas, sebuah pesan masuk.
"Ra, malam ini mas gak pulang ya, ada meeting dadakan dari kantor, dan mungkin pulangnya takut kemaleman, nanti biar mas nginep di kossannya si Julian, kebeteluan tempat meetingnya deket sama kossannya."
Setelah aku membaca pesan tersebut aku sudah tidak percaya lagi, aku tau kamu berbohong mas.
"Iya mas". Balasku singkat, tanpa panjang lebar, aku sudah malas, aku sudah muak, kebohongan apalagi yang akan kamu buat selanjutnya mas Andhika.
Mas Andhika pun tak membalas pesanku lagi, mungkin ia senang akan memadu kasih dengan istri barunya.
Silahkan nikmatin malam panjang kalian, dan aku sudah tidak sudi lagi kamu sentuh mas.
Sakit sungguh sakit. Tapi apa boleh buat aku harus kuat menghadapinya.
Lebih baik aku meneruskan bab yang tertunda, biar aku bisa melupakannya semuanya.
Saat baru saja aku membuka aplikasi novelku. Ponselku berbunyi pertanda ada yang menelpon. Tertera ID pemanggil tersebut. Abangku Sayang.
"Hai baby, kok lama sekali sih angkat telpon abang, kamu lagi ngapain sudah makan". Tanya abangku di sebrang sama, setelah aku mengucapkan salam dan ia menjawabnya.
"Aku barusan lagi tanggung bang, lagi pake cream". Ucapku berbohong.
"Oh gitu kirain abang lagi sayang sayangan sama suaminya". Terdengar tawa di sebrang sana, abangku ini orangnya humoris dan suka bercanda.
"Dihh abang, makanya nikah dong biar bisa mesra mesraan". Jawabku dengan di iringi tawa terpaksa. Andai abangku melihat wajahku sekarang, dia sudah pasti tau apa yang aku fikirkan.
"Abang nanti lah, belum nemuin yang cocok, abang cuma takut kalau nanti istri abang gak sayang sama kamu".
Selalu begitu alasan abangku, sebegitu sayangnya terhadapku.
Bang.. Aku sakit, hatiku terluka...
"Ra, Rara.. hey my baby girl apa kau masih di sana".
__ADS_1
"Eh iya bang kenapa, maaf aku lagi liatin tingkah si Thomas yang lagi ngintip cicak di dinding". Ucapku kembali berbohong padahal aku sendirian di kamar sunyi ini.
"Kamu itu kalau udah main kucing, inget yaa jangan sampe ke isep bulunya, nanti kamu sakit".
"Iya abang bawel deh udah kaya emak emak aja" . Timpalku.
"Abangkan sekarang di utus jadi ayah serta emak kamu". Terdengar lagi tawa di sebrang sana.
"Oya tadi abang nanya, kamu udah makan belum, jangan bilang lagi det, no no !". Ucap abangku kalau ada di depanku pasti sambil menggerakan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Udah abang, abang sendiri lagi ngapain, jangan jangan lagi ngekhayal punya istri yaaa, hahaha abang jangankan punya istri pacar aja gak punya". Ledekku
"Awas ya kalau ketemu. Eh kok abang gak denger suami kamu". Tanya abangku kemudian.
"i-itu mas Andhika lagi meeting bang, mungkin sebentar lagi pulang, tadi pesannya kaya gitu ada meeting dulu katanya dan pulang agak telat". Untuk ketiga kalinya aku berbohong terhadap abangku.
"Benerkan gak bohong, kok abang curiga yaa kaya ada bau bau kebohongan, kamu bohong ya, kamu ada masalah sama Dhika, cerita sama abang, jangan di pendem sendiri".
Seketika airmata ku luruh, sebisa mungkin tangisku gak boleh terdengar oleh abangku.
Sesaat kemudian aku menetralkan suaraku.
"Ih abang mah udah kaya paranormal aja nebak nebak, nggak kok bang, aku sama suamiku baik baik aja". Akhirnya aku bisa mengucapkan kata kata itu dengan lancar.
"Ya sudah, abang cuma gak mau aja kamu tersakiti kamu adik abang satu satu nya Rahma. Kalau ada apa apa bilang sama abang ya jangan di pendem sendirian dan jangan ceroboh kalau memutuskan suatu masalah, ada abang di sini. Untuk kamu my baby girl".
"Iya abang, makasih yaaa".
"Cih pake bilang makasih segala, aku ini abangmu Rahma Anisa, kau adik yang harus benat benar di jaga".
"Iyaaaa baweeelll, udah ah aku mau tidur, udah ngantuk nih hoaaammm.. Abang juga tidur gih jangan ngkhayal mulu kerjaannya". Ucapku menggoda abangku.
"Dasar yaaa kamu awas kalau ketemu, ya sudah sana tidur good night my baby girl, jangan lupa baca doa".
Tut!
Telpon pun berakhir, aku gak kuat tanpa aba aba air mataku luruh, aku menangis sejadi nya, menangisi hidup dan rumah tanggaku yang miris.
__ADS_1
Tunggu pembalasanku mas Andhika.
-Bersambung...