Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab024. Sidang Pertamaku


__ADS_3

-PoV Rahma


Hari ini aku akan menjalani sidang pertamaku, kedua kalinya aku menginjakkan kaki di gedung ini, rasanya aku tidak percaya pernikahanku dengan mas Andhika akan segera berakhir di ujung palu yang di ketuk hakim.


Sekuat apapun aku mempertahankan rumah tanggaku, ternyata badai itu lebih dahsyat menghantam dinding rumah tanggaku. Dan kenapa harus Wina yang menjadi duri dalam pernikahanku.


Tanpa bisa ku cegah tetesan bening meluncur dari pelupuk mataku, bukan aku kalah ataupun tidak ikhlas melepas suamiku untuk perempuan lain, aku menangis meratapi nasibku.


Sebelum jam persidanganku di mulai aku duduk di kursi besi yang tersedia di sana. Tak lama sosok gagah nan rupawan berjalan ke arahku, tapi kok bareng dia.?


"Hai my baby girl. Sudah siap.??" tanya nya seraya mendudukan dirinya tepat di sebelahku, sedangkan pria itu hanya berdiri menatapku lekat. Kenapa?.. Ada yang aneh dengan diriku..?


Ku berikan seulas senyum untuk abangku satu-satunya, kemudian segera ku anggukan kepala tanda aku sudah siap menjalani proses persidanganku.


Beberapa saat kemudian.. Mas Andhika serta maduku tiba, mereka pun duduk di sebrang kursi ku. Mas Andhika sempat menyapa bang Zein dan pria itu yang ternyata bang Pandu, aku baru ingat hahahaa. Maklum udah lama tidak bertemu, tapi kok agak jutek gitu ya, biasanya kan kalau bertemu denganku dia suka jailin aku, suka perintilin rambutku, ah sudahlah tak penting, tapi tunggu bukannya dia sekarang pengacara dan akan membimbing proses perceraianku.


.


Sidang pertamaku rumit, mas Andhika kekeh meminta haknya. Hak apa sih maksud dia?. Setelah di beri beberapa pencerahan sidangku akan di lanjutkan minggu depan.


Aku pun segera keluar dari ruang persidangan itu. Sebelum aku masuk ke dalam mobil. Mas Andhika mencegahku.


"Ra, sebaiknya kamu mengalah saja, biar perceraian kita cepat selesai bukan itu mau mu kan. Tinggal kamu bagi dua rumah itu beres, kita selesai." ucapnya dengan nada bicara sedikit meninggi.


Aku pun tak menjawab ucapannya kemudian aku masuk ke mobilku dan segera melajukan kendaraan roda empat ini.


.


Satu jam kemudian, aku sampai di rumahku, rumah yang mas Andhika anggap sebagai harta gono gini.


"Heh Rahma kamu itu jadi perempuan licik sekali ya, kamu mau kuasai harta anakku, Andhika masih berbaik hati membagi dua rumah ini, kamu dengan rakusnya mau menguasai semuanya, dasar perempuan gak tau diri."

__ADS_1


Baru satu langkah kaki ini menginjak lantai ruang tamu, aku sudah di semprot dengan ucapan ibu mertuaku, dengan bringas dan kata-kata kasarnya mampu semakin menghancurkan hatiku. Apa tidak cukup pengkhianatan yag anaknya lakukan.


Seandainya aku punya hati yang jahat ingin segera ku usir mereka semua dari rumahku. Tapi aku tidak ingin melakukan itu semua, biarkan mereka sadar dengan sendirinya nanti.


"Aku capek bu mau istirahat." tanpa ku jawab ocehannya aku pun melanjutkan langkahku ke lantai atas.


"Heh dasar perempuan sialan gak tau diri, awas ya akan ku pastikan Andhika mengusirmu dari rumah ini, tanpa barangmu yang kau bawa, ingat itu perempuan laknat."


Sakit, sakit sekali kata-katanya, aku hanya bisa mengelus dada ini sambil beristigfhar dan meminta kekuatan sama Allah.


Baru saja ku hempaskan bokong ini di tempat tidur, setelah aku mengunci kamarku.


Dering telepon terdengar dari tas tanganku yang baru saja ku letakkan, ku rogoh benda pipih itu saat ku lihat siapa yang menelponku. Terpampang nama Abangku Sayang sebagai si penelepon tersebut.


"Hey baby! Kenapa kau pulang tidak menunggu abang dulu, apa kau tidak kangen dan sedikit berbincang dengan abangmu yang kece ini." kekeh bang Zein di seberang telpon sana.


Aku pun tertawa mendengar ucapan abangku yang super pede ini. Tapi emang ganteng sih, tapi sayang masih jomblo. Hahahaa... Kalau ada pembaca yang tertarik sama abangku boleh daftar!!!...


"Maaf ya bang, aku capek, pengen cepet nyampe rumah dan istirahat."


Abangku ini emang suka berlebihan hanya mendengar kata capek saja, main bawa ke dokter aja. Dan si curut yang di maksud bang Zein tak lain adalah bang Pandu, emang unik mereka itu.


"Abang jangan lebay deh, aku hanya capek aja kok, sebentar tiduran dan minum vitamin, nanti seger kembali kok. Abang jangan khawatir, urusin aja tuh si curutnya abang, bilangin mukanya jangan asem, nanti ganteng nya ilang." ucapku sertai gelak tawa.


"Oke oke baby! Tapi kalau ada yang sakit periksa ya jangan di biarin, abang gak mau princesnya abang jatuh sakit. Dan soal si curut ini, dia baru abis putus sama yayang nya." ucap bang Zein dan ia tergelak kemudian meringis entah apa yang di lakukan mereka berdua disana.


"Iya abang, kalau gitu tutup dulu ya telponnya, bilangin sama BangPan, jangan galau-galau gak baik buat jantung." ucapku dengan tergelak.


"Hey Rara, awas ya kalau ketemu, BangPan perintil lagi tuh rambutnya."


Klik!.. Telepon di matikan sepihak, pasti bang Pandu pelakunya. Kemudian aku mencharger benda pipih itu, kemudian aku baringkan tubuh ini dan ku pejamkan mata ini.

__ADS_1


.


Tok! Tok! Tok!..


Aku terbangun dari tidur siangku setelah ku dengar ketukan di pintu kamarku.


Bergegas aku aku turun dari tempat tidurku, kemudian berjalan ke arah pintu, saat ku tekan knop pintu.


Sosok Rina berdiri dengan nampan di tangannya, di atas nampan itu ada segelas jus mangga. Tumben fikirku seorang Rina mau mengantarkan segelas jus mangga untukku, ada angin apa?..


"Hai mbak, baru bangun tidur ya, kebetulan nih tadi aku abis bikin jus mangga dan aku teringat sama mbak, mbak kan paling suka sama jus ini." Ucapnya seraya menyodorkan isi nampan tersebut.


"Oh oke, makasih Rin, harusnya kamu gak usah repot-repot kalau mau mbak tinggal bikin sendiri." jawabku, kemudian ku raih gelas yang berisi jus mangga tersebut.


"Ah enggak repot kok mbak, jangan lupa di minum yaaa, abisin." Ucapnya kembali, ia pun berlalu turun kembali ke bawah setelah anggukan ku berikan.


Saat aku berbalik kembali ke kamarku, tiba-tiba Dina berlari ke arahku.


"Mbaaaak tunggu.?" suaranya terdengar memekik dan dari raut wajah nya terlihat ada rasa khawatir dan takut, ada apa?.. Kenapa dengan gadis itu.?


Tanpa aba-aba Dina merebut gelas jus itu, kemudian ia berjalan ke arah toilet sebelah kiri kamarku, aku pun refleks mengikutinya dan ku lihat ia membuang semua isi gelas itu ke dalam closet.


Keningku berkerut, kenapa gadis itu membuang jusku, padahal baru saja akan ku teguk. Setelahnya ku lihat dari raut muka nya ada ke legaan.


"Din, kok di buang jusnya padahal baru aja mbak mau minum." ucapku seraya mengerucutkan bibir ini, aku tak bisa marah toh hanya segelas jus.


"aaa-ee.. I-itu jus yang di bikin kak Rina, mangga nya jelek mbak, mangga asem, tadi aku udah nyobain, ih asem bener." jawabnya dengan sedikit gugup, kenapa harus gugup sih bilang seperti itu, kenapa dengan gadis ini, segudang pertanyaan menumpuk di benakku.


"Oh gitu yaudah deh, nanti kita beli mangga yang bagus dan manis ya." ucapku, tak lupa ku berikan senyuman untuknya agar anak itu tidak merasa gugup.


"Iya mbak, kalau gitu aku masuk dulu ke kamar ya." ucapnya kembali, kemudian ia menyimpan gelas bekas jus tadi di atas meja, setelahnya ia menghilang di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


Aku harus selediki kenapa tingkah Dina akhir-akhir ini berubah.


-Bersambung...


__ADS_2