
"Kita mau pergi dan tinggal dimana Dhik." tutur sang ibu.
saat ini mereka sedang di dalam mobil dan belum tau mau pergi dan tinggal dimana.
"Kamu kenapa gak tegas sih mas. Jadi laki-laki kok lembek." timpal Wina dengan mendelikan kedua bola matanya.
"Apa kamu gak denger rekaman tadi, rekaman tadi udah jelas, aku gak mau mendekam di penjara." ucap Andhika dengan tatapan lurus ke depan.
"Udah-udah kenapa mesti berantem sih, yang harus kita fikirin, dimana kita tinggal sekarang." tutur sang ibu, sambil memegang kedua pelipisnya.
"Bang, nih aku dikasih rekomendasi sama temen aku, sekitaran gang depan ada rumah yang mau di sewakan." tutur Rina seraya memberikan ponselnya tersebut ke arah sang kakak yang sedang menyetir mobilnya.
Hanya mobil yang dapat mereka bawa saat ini, karna mobil itu atas nama Andhika, ia membelinya sebelum menikah dengan Rahma.
Kemudian Andhika pun mengambil ponsel yang di sodorkan adiknya tersebut.
"Lumayan sih rumahnya tidak buruk-buruk amat, apalagi pas ada tiga kamar." tutur Andhika.
Wina pun yang tadinya hanya cemberut kemudian ia menoleh ke arah sang suami.
"Mana coba aku liat." tutur Wina seraya merebut ponsel yang ada di tangan laki-laki itu.
"Hah kecil banget mas rumahnya, aku gak mau." ucap Wina merajuk dan mengembalikan ponsel itu ke tangan suaminya.
"Tapi Win dengan keadaan kita yang sekarang dan gaji mas kecil belum mampu membeli rumah seperti keinginan kamu, ini hanya sementara kok. Nanti setelah mas naik jabatan. Apapun yang kamu mau, mas kabulkan." bujuk Andhika seraya mengelus kepala istrinya itu.
Beberapa hari ke belakang di tempat bekerja Andhika bakalan ada kenaikan jabatan, dan salah satunya Andhika atas rekomendasi teman sejawatnya.
"Bener mas." tutur Wina kembali dengan sengaja mengerucutkan bibirnya.
"Iya sayang, mas janji." ucap laki-laki itu dengan seulas senyum.
"Buruan Dhik, ibu udah capek nih, udah ambil aja dulu rumah itu." sarkas sang ibu.
Kemudian tanpa menjawab ocehan ibunya, laki-laki itu membelokan mobilnya ke arah perumahan yang akan mereka sewa.
.
Dina masih tergugu. Tangisnya tiada henti, Rahma yang sedari tadi disampingnya tak lepas segala macam bujukan.
Sebuah kotak yang dijatuhkan bu Lia masih tergeletak begitu saja di lantai.
Sedangkan Zein, masih di selimuti rasa bersalah terhadap almarhum kedua orangtuanya. Ia sangat menyesalinya karna telah gagal menjaga adik satu-satunya itu.
Beberapa menit berlalu tangisan Dina tidak terdengar lagi, kemudian ia pun merangkak dan meraih kotak yang tergeletak di lantai itu.
__ADS_1
Saat Dina berdiri dan ingin melangkahkan kakinya ke undakan tangga, tiba-tiba Rahma pun ikut berdiri.
"Mau kemana Din.?" tutur Rahma.
"Aku juga mau pergi mbak, aku gak ada hak di sini, ini bukan rumahku, apalagi setelah ucapan ibu tadi." tutur Dina kembali dengan suara tergugu.
"Kamu gak boleh pergi, temenin mbak di sini, mbak sendirian, kemana pun mbak pergi kamu ikut, sekarang kamu adik mbak." tutur Rahma seraya merentangkan kedua tangannya. Ingin memeluk dan merengkuh Dina.
"Apa yang di bilang mbak mu benar Din, kamu tetap ikut dan tinggal bersama Rahma." tutur Zein kemudian.
Dina pun menangis, meraung dan berhambur kepelukan Rahma.
Lama sekali ia menumpahkan kesedihannya itu di pundaknya Rahma. Rahma pun dengan tenang mengelus punggung gadis malang itu.
"Ra, lebih baik untuk beberapa hari ke depan kamu sama Dina tinggal di rumah mas saja, mas cuma khawatir sewaktu-waktu mereka kembali, sekarang kemasi barang-barang kalian, mas mau mengunci semua pintu dan jendela." tutur Zein seraya berdiri dan kemudian berjalan ke arah pintu dan jendela-jendela yang terbuka.
Rahma pun menuruti saran abangnya itu, kemudian ia berjalan ke lantai atas, tak lupa Dina di sampingnya.
Beberapa saat kemudian keduanya turun dari undakan tangga, dengan kopernya masing-masing.
"Pintu sama jendela atas udah kamu kunci Ra." tanya sang abang.
"Beres." timpal Rahma seraya mengacungkan kedua jempolnya.
"Ayo ladies." ucap Zein seraya menjinjing pet cargo di tangannya.
"Iya dong, kalau kita tinggal siapa yang mau ngasih si anak bulu ini." tutur Andhika dengan sedikit tawa nya.
"Kita malah gak kefikiran ya Din." tutur Rahma.
"Hehe iyaaa mbak."
"Meeoonggg.." seketika tawa ketiga nya pun tergelak.
Sesaat Dina bisa melupakan kesedihannya.
"Bang, kayanya percuma deh abang kunci semua pintu, orang mas Andhika punya semua kunci cadangan rumah ini, kecuali yang atas, kalau yang atas kan gak ada akses buat masuk dari luar." tutur Rahma seraya berjalan beriringan ke depan pintu utama.
"Nih, abang tadi bawa ini, semuanya udah abang rantai dan gembok, tenang aja toh semua jendela juga pake teralis kan." tutur Zein seraya menggandeng adiknya itu.
"Abang kapan bawa itu, kok kita gak ngeliat.?" tutur Dina.
"Ya tadi waktu kalian ke atas, abang ambil ini ke depan."
"OH!" Rahma dan Dina kompak, kemudian tawa ketiga nya tergelak.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, Mobil yang di tumpangi ketiga nya pun melesat dari perumahan itu, sedangkan mobil Rahma di masukkan ke garasi tak lupa juga Zein menguncinya dengan rapi, biar kapan-kapan saja ia ambil mobil adiknya itu jika di perlukan, toh di rumah Zein juga masih ada satu mobilnya yanf nganggur.
.
Dua jam kemudian mereka sampai di rumah nya Zein, di sambut mang Jaya satpamnya.
Kemudian ketiganya turun dari dalam mobil setelah Zein memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.
Teh sumi pun lari tergopoh menghampiri majikannya. Dengan senyum yang di kembangkan ia menoleh pada gadis di samping Rahma.
"Ini teh siapa meni gelis." tanya teh Sumi.
"Ini adik kita baru kita teh, namanya Dina." tutur Zein.
"Oh neng Dina atuh meni gelis kieu ih, eta kunaon panonna merah-merah kitu.?" tutur teh Sumi lagi.
"Ah bibi ini kepo, udah bawa masuk sana neng gelisnya, dan suruh dia memilihnya kamarnya." tutur Zein
"Ayo neng masuk." ajak teh Sumi kemudian membawa kopernya Dina.
Saat Zein melangkahkan kakinya mengikuti dua wanita di depannya, tiba-tiba ia menoleh ke samping kiri, ia melihat Rahma yang sedang memetik bunga melati kesukaannya.
Zein pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah sedangkan kopernya Rahma telah lebih dulu di bawa masuk sama satpam tadi.
.
Pukul delapan malam, makan malam telah tersaji rapi di meja makan, hari ini teh Sumi sangat senang sekali, sebab ada gadis yang membantunya memasak, meskipun teh Sumi sudah melarangnya untuk menemani saja, tapi kekeh gadis itu ingin membantunya memasak dan akhirnya teh Sumi mengalah.
"Si neng jago ya masak nya, enak-enak." puji teh Sumi seraya menatap makanan yang tersaji di meja makan tersebut.
"Ayam meren teh jago mah." tutur Dina kemudian keduanya pun tergelak.
Tiba-tiba Rahma pun turun dari lantai atas dan menghanpiri yang sedang tertawa di ruang makan.
"Duhh ketawanya gak bagi-bagi nih." ucap Rahma mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tanganya di dada.
"neng Rahma dari mana aja atuh, jadi gak kebagian ketawa deh." tutur teh Sumi dan kemudian di ikuti tawa dari Dina
"Hmm.. Au ahh, aku udah lapar nih, udah bereskan masaknya, aku mau panggil bang Zein dulu." tutur Rahma dan di angguki oleh teh Sumi.
.....
Malam kian merangkak ke peraduan.
Rahma masih terjaga dari tidurnya ia sandarkan punggungnya di sandaran ranjangnya.
__ADS_1
"Semoga setelah kepergian keluarga mas Andhika aku bisa menatap kehidupanku dengan tentram." ucapnya seraya tersenyum manis di bibirnya.
-Bersambung...