Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab056.


__ADS_3

Seperti biasa Rahma akan meluangkan waktu senggang nya, untuk menulis karya novel nya di salah satu aplikasi novel tersebut.


Yang awalnya rencana ingin pergi ke resto ia urungkan niat itu, tak lain adalah malas, itulah keburukan dalam diri janda cantik itu.


Tok! Tok! Tok!..


"Masuk.." tutur Rahma tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.


"Pagi mbak..." sosok Dina menyembul dari balik pintu kamar Rahma.


"Eh Dina, pagi juga.." senyum wanita itu terbit dari bibirnya kala menolehkan kepala nya ke arah gadis itu.


"Kok masih santai, gak kuliah kamu.." tanya Rahma kemudian.


Dina pun duduk di bibir ranjangnya Rahma. "Ada nanti jam satu siang mbak."


"Oh..!"


Lalu Rahma kembali fokus pada layar laptopnya itu.


"Mbak, masih suka nulis." tanya gadis di samping nya itu.


"Yaaa gitu deh, tapi gak sesering dulu, sekarang kalau pengen dan lagi mood terus ada ide nya juga, baru nulis." jawab Rahma, sambil jari jemari nya lihai mengetik di laptopnya.


"Oh gitu, gimana sih mbak cara bikin ide-ide cerita gitu, kaya nya susah yaaa..?" tanya gadis itu kemudian ia rebahkan tubuhnya di ranjang nya Rahma.


"Ya gitu susah-susah gampang.."


Dina pun hanya menganggukan kepala nya tanpa ingin bertanya lebih jauh lagi.


"Selesai, upload." gumam Rahma sambil senyum merekah di bibir nya. Lalu ia menutup laptop nya itu.


"Udah mbak.? Sarapan yuk.." ajak gadis itu lalu bangun dari rebahan nya.


"Yuk..!" tutur Rahma, dan kedua nya pun keluar untuk turun ke bawah untuk sarapan bersama pagi hari itu.


...


Mata tambun seorang wanita tua berbinar kala melihat sebuah foto di ponsel anaknya.


"Yaa Allah.." lirihnya.. "Pandu, ini benar-benar adik kamu nak yang hilang 20 tahun yang lalu, dimana dia sekarang, mama ingin segera bertemu dan memeluknya."


"Mama yakin itu adik aku maaa..?" laki-laki itu masih belum percaya dengan kenyataan di depan matanya itu.


"Nak, kamu tau sendiri kan, ibu juga mempunyai kalung yang sama, karna waktu itu almarhum papa buat kalung ini dua, satu untuk Jihan dan satu untuk ibu."


Senyum laki-laki itu terbit. "Iya Pandu tau, nanti biar Pandu ngomong dulu ke Zein, bisa atau nggak nya kita ke rumah nya."

__ADS_1


"Iya Ndu,," wanita itu menerbitkan sebuah senyuman di dalam tangis bahagia nya.


...


Pukul 5 sore, Zein baru saja sampai di rumah nya. Laki-laki itu menghempaskan bokong nya di sofa ruang keluarga.


"Baru pulang bang, mau aku bikinin kopi." tutur Rahma yang tiba-tiba datang dari arah pintu samping kolam ikan.


"Mmm.. Bolehh.."


Rahma pun melangkahkan kaki nya ke arah dapur.


"Hallo dimana lo, udah balik.?" tanya Pandu di sambungan teleponnya dengan Zein.


"Ada apa, gue baru aja nyampe rumah.."


"Gini bro, gue udah kasih liat foto yang lo kirim itu, dan nyokap gue minta ketemu langsung sama Dina malam ini juga, boleh gak kalau gue datang ke rumah lo.." tutur Pandu.


Zein terkekeh setelah mendengar permintaan dari sahabatnya itu. "Du, lo kenal gue berapa tahun sih, kaya gitu doang lo mesti ngomong dan izin, lo dateng aja ke sini nanti malem sama nyokap lo.."


"Gue cuma nge hargain lo sama adik lo aja Zei, secara kan sekarang dia tinggal sama lo, segala kebutuhannya lo yang tanggung, thanks yaaa, nanti malem jam delapan gue ke rumah lo.."


"Santai bro, gue tunggu.."


"Oke..!"


Sambungan telepon itu terputus begitu saja, dan selalu begitu kelakuan dua sahabat itu.


"Siapa yang mau dateng bang.." tanya Rahma, sambil menyimpan cangkir kopi di hadapan abang nya itu.


"si Pandu sama mama nya, kata nya mau kesini pengen ketemu langsung sama Dina.."


"Tante Susi mau kesini. waaahh harus masak dong, gak enak kalau ada tamu, gak di suguhi makan." tutur Rahma antusias.


Zein tersenyum lalu menyesap kopi nya. "Yaaa terserah kamu, kalau tidak membuatmu capek dan kerepotan."


"Enggak lah bang.. Yaudah aku mau ke dapur dulu, mau ngecek ada apa aja di sana." sambil berdiri Rahma memanggil asisten rumahnya itu.


...


Pukul 7 malam, Rahma baru saja selesai dengan acara masak-memasak nya, tentu nya juga di bantu sama Dina juga Sumi, asistennya.


"Selesaiii,, tinggal mandi." tutur Rahma sesaat setelah menata menu makan malam di meja makan.


"Din, mandi terus dandan yang cantik oke, malam ini ada tamu spesial yang ingin bertemu sama kamu."


"Ah mbak bisa aja, apa nya yang spesial sih." tanya gadis itu sambil terkekeh.

__ADS_1


"Udah-udah gak usah banyak tanya, yuk mandi." ajak Rahma sambil menarik lengan gadis itu.


Tepat pukul delapan Pandu dan ibu nya, baru saja sampai di rumah Zein.


Kedua nya kini sedang duduk di sofa ruang tamu menanti yang punya rumah menghampiri nya.


"Mama udah gak sabar Ndu, pengen ketemu sama Jihan." ucap wanita tua itu.


"Iya ma sabar yaaa.."


"Eh bro baru nyampe,, malam tante.." sosok Zein datang dari arah ruang keluarga, lalu di belakang nya terlihat Rahma dan Dina berjalan ke arah ruang tamu itu.


"Malam tante, apa kabar.." tanya Rahma sesaat setelah Zein bersalaman dengan wanita tua itu dan d ikuti oleh Rahma serta Dina.


"Malam juga sayangg, duhh makin cantik aja nih." ucap Susi sambil menoel dagu janda cantik itu.


"Tante bisa aja,, oya kenalin Tan, ini Dina.."


"Ji-jihan.." ucap wanita tua itu terbata.


"Kamu Jihan anakku yang hilang 20 tahun yang lalu.."


Dina yang di tatap serta di sentuh kedua pipinya hanya terpaku di tempat.


"Sini peluk mama nak, mama rindu sama kamu, kamu memang anakku Jihan, Jihan Wijaya. Matamu sangat mirip dengan almarhum papa nak."


"Tunggu ada apa ini, aku tidak mengerti, siapa ibu ini." akhirnya mulut Dina berucap demikian.


"Din, sebaiknya kamu dengerin dulu penjelasan dari kita semua, ayo duduk sini." timpal Zein.


Dan kelima orang tersebut pun duduk di sofa ruang tamu dengan posisi masing-masing.


Sebelum menceritakan kejadian 20 tahun yang lalu, Sumi membawa minuman serta makanan ringan untuk menemani ke lima orang itu ngobrol.


"Silahkan tante, ceritakan semuanya dari awal kejadian kehilangan putri tante." Zein membuka suara lebih dulu.


"Waktu itu tante lagi membawa main Jihan kecil di taman kota, saat itu tante hanya berdua dengan Jihan kecil, sedangkan Almarhum om sedang mengikuti Pandu untuk membeli jajanan aromanis. Dan tante hanya sendirian di sana, dan taman kota waktu itu masih agak sepi belum banyak yang main kesana, bodohnya tante, hanya karna tergiur dengan sebuah jajanan di sebrang jalan taman kota itu, ibu meninggalkan Jihan kecil di kereta bayi nya. Saat tante kembali Jihan kecil udah di bawa lari sama orang gila. tante gak bisa ngelakuin apa-apa saking shock nya hanya bisa nangis dan berteriak memanggil Jihan kecil." tutur Susi dengan tergugu menyesali kejadian 20 tahun silam itu.


"Ja-jadi aku anak ibu, juga adiknya bang Pandu." tutur gadis itu.


"Iya kamu anakku, lihat ini, kalung ini sama kan, sama kalung yang ada di kotak itu, mama dulu sengaja selalu menyimpan kotak kalung itu di sisi kepala mu." tutur wanita tua itu kembali.


"Sebentar aku ambil dulu, kotak kalung nya." lalu Dina berdiri dan melangkahkan kaki nya ke lantai atas.


Dina menyodorkan kotak kalung itu ke hadapan wanita yang bernama Susi itu.


Dan setelah wanita tua membuka kotak itu, senyumnya merekah sambil menangis, wanita tua itu menatap kalung yang berada di dalam kotak itu, lalu secara refleks ia memeluk gadis itu erat sambil tergugu. "Kamu anakku, anak gadisku, terimakasih Tuhan." lirihnya. tepat di telinga gadis yang sedang ia peluk dengan penuh kerinduan.

__ADS_1


-Bersambung...


__ADS_2