Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab034. Awal Bangkit


__ADS_3

Akhirnya setelah melewati beberapa tahap, panti asuhan yang Rahma bangun mulai beroperasi, ia juga langsung menemukan pemimpin panti asuhan tersebut atas rekomendasi Dina. panti asuhan yang di beri nama PELUKAN BUNDA itu berdiri megah, Rahma sangat bersyukur atas apa yang telah ia capai selama ini, juga rumah makan yang akan segera di buka.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas rezeki yang Kau berikan." doa Rahma setelah menyelesaikan shalat tiga rakaatnya.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu di kamar Rahma membuat Rahma seketika menoleh ke arah Pintu.


"Siapa." sapa Rahma.


"Ini abang baby."


"Oh, masuk bang, gak di kunci kok." tutur Rahma, dan setelahnya Zein pun masuk.


"Gimana tadi beres, urusannya, maaf ya abang gak bisa temenin kamu"


"Alhamdulillah semuanya lancar, gak apa-apa bang aku bisa kok atasi sendiri." tutur Rahma dengan seuntai senyum.


"Lalu gimana kuliah nya jadi." tanya Zein seraya duduk du kursi rias nya Rahma.


"Mmm.. Kaya nya nggak bang, aku harus kelola sendiri rumah makan itu, dengan jadi manager sendiri." tutur Rahma lagi.


"Ya sih abang lebih setuju begitu, lagian kuliah apa yang mau kamu kejar, uang kamu udah banyak, rumah udah punya sendiri, sekarang punya dua usaha, belum lagi jadi penulis, wahh abang kalah nih." tutur Zein seraya terkekeh.


"Aku cuma bisa bersyukur atas apa yang sekarang aku capai, dan Alhamdulillah semuanya lancar".


"Selamat ya, semoga adik abang ini tambah sukses ke depannya, aamiin."


"Aamiin".


Tok! Tok! Tok!


"Mbak, Bang, makan malam nya udah siap" ucap Dina kala itu yang melihat pintu kamar Rahma terbuka.


"Iya siappp, yuk turun" kekeh Zein.


Kemudian ketiga nya pun turun menuju lantai bawah dimana makan malam telah tertata rapi di meja makan.


Dina tipe gadis yang rajin, sering membantu teh Sumi memasak, menumis atau sekedar mencuci bekas masak.


Setelah makan malam selesai ketiga nya pun kini duduk santai di ruang tengah, tak lama kemudian teh Sumi mengantarkan hidangan terakhir sebagai penutup makan malam, irisan buah mangga, melon, serta semangka. Menjadi makanan penutup untuk ketiga nya, sambil memakan buah tersebut, terdengar canda tawa dari ketiga nya, membuat rumah yang cukup besar itu kini terasa hangat tidak seperti dulu saat Zein hanya tinggal bersama asisten rumahnya serta satpam nya.


"Oya Ra, udah ada niatan buat nikah lagi." canda Zein di sela tawa nya.

__ADS_1


"Untuk sekarang nggk dulu deh, abang aja yang nikah dulu ya, masa abang mau di lewati untuk yang kedua kali nya" kekeh Rahma lalu di sertai gelak tawa nya.


"Abang belum nemu yang cocok Ra, entahlah".


"Alesan!!!. Abang bukan belum nemu yang cocok dasar abangnya aja susah buka hati, masih teriang-iang tuh wajah nya Emily" tutur Rahma dengan memoyongkan bibirnya.


Rahma dan Emily hanya seumuran dan itu membuat Rahma tidak menyukainya, bukan hanya faktor umur yang sama dengannya, akan tetapi mantan kekasih abangnya tersebut terkesan angkuh dan sombong.


"Ih siapa bilang, nggk kok, sejak dia putusin abang dan kejar karier nya, seketika rasa itu hilang gitu aja" tutur Zein kembali.


"Jadi kalau misalkan Emily gak pergi ke luar negeri, perasaan itu sampe sekarang pasti ada, dan mungkin abang udah nikah sama dia." ucap Rahma seraya mendelikkan sebelah mata nya.


"Enggak gitu juga baby, sebulan sebelum dia pergi ke luar negeri abang udah naruh curiga sama dia"


"Curiga bagaimana bang maksudnya" tutur Rahma.


"Kaya nya dia ada hubungan sama manager nya." tutur Zein.


"Kata siapa.?" tanya Rahma kenudian.


"Kata temennya, tapi abang waktu itu gak mau ambil pusing, bodo amatlah gitu fikir abang waktu itu."


"Siipp bagus dehh, dan sekarang abang waktunya cari pacar lagi, iya gak Din". Dina yang sedang main ponsel pun mengarahkan jempolnya ke arah Rahma.


"Terus kalau nanti abang nemuin yang cocok sama abang, apa kamu bakalan setuju." tutur Zein akhirnya.


"Kalau dia baik, bisa nerima aku sebagai adik abang apalagi sekarang ada Dina, aku sih setuju aja, menurut aku nih bang, nyari calon istri tuh dari kalangan biasa aja, gak usah kaya kemaren si Emily, udah sombong, terus kalau pake baju kaya kekurangan bahan aja." tutur Rahma panjang lebar


"Iya dehh, tapi nanti yaaa, abang lagi fokus sama kerjaan abang dulu, kalau udah saatnya abang pasti nikah kok."


.


"Alhamdulillah rumah makan nya hari ini cukup ramai pengunjung" gumam Rahma seraya berdiri dari duduk nya untuk ber siap-siap pulang.


Saat tiba di parkiran ia di kejutkan kembali dengan kehadiran sang mantan, namun kali ini bukan mantan pacar melainkan mantan suami nya.


"Ra-rahma."


Rahma kemudian menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu apa kabar.?" sapa Andhika dengan sorot mata yang takjub melihat penampilan Rahma yang jauh berbeda saat jadi istri nya dulu.


"Mas Andhika?. Alhamdulillah aku baik mas, kamu sendiri.?" tanya balik Rahma dengan seuntai senyumnya yang manis dan itu membuat Andhika semakin terpesona pada mantan istri nya itu.

__ADS_1


"A-aku juga baik Ra." jawab Andhika sedikit salah tingkah dan juga gugup.


"Syukurlah, aku duluan ya Mas, di rumah udah di tunggu bang Zein." tutur Rahma beralasan, padahal ia tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki itu, bukan masih ada perasaan terhadap Andhiks, melainkan jika ketahuan Wina akan lain situasinya.


"I-iya Ra hati-hati, salam buat bang Zein dan juga Dina."


"Oke nanti aku sampaikan."


Kemudian Rahma pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Jam pulang kantor yang belum ramai, membuat Rahma lebih cepat sampai rumah.


"Assalamuallaikum..."


"Waalaikumsalam.. Eh neng geulis tos uih." sapa teh Sumi.


"Iya teh, duh capek banget, boleh minta tolong gak bikinin jus jeruk, kaya nya seger." tutur Rahma seraya menghempaskan tubuhnya di sofa panjang ruang tengah.


"Mangga neng!. Sebentar ya teh Sumi bikinin dulu."


"Iya teh makasih ya .?"


"Sami-sami neng, sok istirahat dulu sambil nunggu jus nya." ucap teh Sumi, kemudian ia berlalu ke arah dapur.


Tak lama Dina pun pulang dari aktivitas kampus nya.


"Eh mbak! Udah pulang?" sapa Dina.


"Udah Din baru aja nyampe. Gimana kuliah kamu lancar."


"Sejauh ini lancar mbak." jawab Dina dengan senyum manisnya.


"Syukur dehh".


"Aku mau minum, mbak mau sekalian aku bawain atau bikinin apa gitu." tutur Dina.


"Nggak! Makasih, mbak lagi di bikinin jus jeruk sama teh Sumi."


"Oh oke deh, aku ke dapur dulu yaa."


Rahma pun menganggukan kepala nya, dan setelahnya Dina juga beranjak ke arah dapur.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2