Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab048.


__ADS_3

Malam yang di guyur hujan di sertai hembusan angin, tak dapat membuat tubuh seseorang yang sedang duduk di tepi ranjang kedinginan.


Ia tatap sebuah cincin di dalam kotak merah itu. "Sudah tak berarti lagi aku simpan ini."


Reyhan kemudian menutup kembali kotak itu dan melemparnya ke sembarang arah, niatnya untuk melamar sang pujaan hati musnah sudah setelah ia mendengar ucapan wanita itu tadi siang.


"Em, selama aku selalu berusaha yakinin mama supaya merestui hubungan kita, tapi nyatanya apa, kamu hanya memanfaatkanku." ucapnya dengan bibir berdecih.


Lalu ia bangkit dari duduknya kemudian ia bercermin dikaca besar lemari pakaiannya. "Reyhan..? Kok lo lemah sih hanya karna satu wanita yang tidak tulus mencintaimu."


Tawanya pun berderai di tengah hujan yang masih belum reda. "Oke, gue harus buktiin bahwa gue tidak segalau yang Emily fikir, gue harus bangkit, ya apa yang di bilang si Alan benar, gue tidak boleh terpuruk hanya karna satu wanita."


Siang tadi Reyhan tak sengaja bertemu dengan Alan dan menceritakan semuanya, sahabatnya itu pun meresponnya dengan baik dan beruntung telah tahu wanita seperti apa sosok Emily itu.


Reyhan kenal Alan dan menjadi sahabatnya itu, saat setelah dua hari Alan pindah ke kampusnya. Dan mereka kenal lalu menjadi sahabat karib hingga sekarang.


Reyhan masih menatap dirinya di pantulam cermin lemari pakaiannya.


Tok! Tok! Tok!


"Den Rey, di suruh ibu turun buat makan malam." ucap sang asisten rumahnya, ia baru saja seminggu kerja di tempat Mega.


"Iya bi, sebentar lagi saya turun." sahut Reyhan dari dalam kamarnya.


Sesaat kemudian Reyhan pun turun. Mega yang melihat sosok anaknya turun segera memberikan senyum khasnya.


"Makan dulu sayang, tadi mama masakin sop daging kesukaan kamu."


Reyhan pun langsung duduk setelah sampai di lantai dasar. "Mama gak perlu repot-repot ma, Rey bisa kok makan apa aja yang di masakin bi Surti."


Mega kembali tersenyum dan menatap anak bujang nya itu. "Mama gak repot kok sayang, Ayo makan gak usah tunggu papa, kata papa. Papa ada meeting ngedadak jadi katanya gak usah tunggu papa pulang."


Reyhan pun menurut dan menganggukan kepalanya lalu ia menyendok nasi ke piringnya.

__ADS_1


Makan malam yang menggugah selera itu membuat Reyhan terlihat lahap memakan sop daging buatan sang mama itu, apalagi dalam kondisi hujan, makan makanan yang panas serta berkuah sangatlah cocok untuknya.


"Mama tau gak, masakan mama tuh paling enak sedunia." pujinya di tengah mengunyah nasi nya.


Mega pun tersenyum mendengar pujian anaknya. "Kamu bisa aja sayang."


Setelahnya keduanya pun terdiam larut dalam makan malamnya masing-masing.


.


Di tempat lain dan cuaca yang sama pun ketiga anak manusia sedang asyik bercengkrama, sambil tertawa sesekali jika ada yang lucu.


"Hujan gini enaknya makan apa yaaa, yang panas serta berkuah gitu." ucap Dina sambil mengadahkan kepalanya di sandaran kursi ruang keluarga.


"Oh iya Abang lupa, tadi ada kurir yang nganterin pempek khas palembang,"


"Dari bang Pandu yang bang." ucap Rahma yang mengetahui sahabat abangnya itu orang Palembang.


Rahma pun menganggukan kepalanya.


"Kalau gitu aku yang goreng deh." Dina tiba-tiba bangkit dari duduknya.


"Ide bagus." Zein dan Rahma serentak mengacungkan jari jempolnya, lalu ketiga nya pun tertawa.


Saat Dina sedang membuka frezzer, Sumi tergesa menghampirinya.


"Cari apa neng."


Dina pun menjawab tanpa menolehkan kepalanya ke arah Sumi. " Pempek teh, aku mau goreng."


"Biar teteh aja atuh yang goreng, neng Dina duduk aja ya." ucapnya Sumi lalu segera mengambil pempek yang sudah berada di tangan Dina.


Dina pun tersenyum. "Makasih yaa teh, sekalian buat teteh juga sama mang Jaya."

__ADS_1


Lalu Dina kembali menghampiri Rahma dan Zein yang sedang menonton acara televisi.


"Mana pempeknya." ucap Zein sambil mengadahkan tangannya.


Rahma hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah abangnya itu.


"Lagi di goreng teh Sumi." ucap gadis itu lalu duduk kembali di tempat sebelum ia duduk tadi.


Kemudian ketiga nya pun kembali larut dalam obrolan-obrolan ngaler ngidul sambil menonton televisi.


...


Reyhan kembali ke kamar nya, setelah makan malamnya usai, ia tak memperdulikan lagi kotak cincin itu yang tergeletak begitu saja di lantai.


Kemudian ia membuka ponselnya yang tersimpan di meja nakas samping tempat tidurnya. Lalu ia mengambil benda pipih itu dan membuka tombol on/off nya.


Ada beberapa pesan serta panggilan dari Emily, tak berniat untuk membalas apalagi membaca nya, Reyhan kemudian lempar benda pipih itu ke kasurnya, dan ia pun beranjak dari duduknya menuju kamar mandi guna membasuh mukanya sebelum tidur.


...


Ditempat lain, di sebuah apartement.


Emily uring-uringan karna pesan dan panggilannya tak ada respon dari Reyhan.


"Aaarrggghhh sial, sial... Bagaimana Reyhan bisa ada sih di restoran itu kan semuanya kacau, kalau aku tidak bisa kembali ke pangkuan Zein, gimana nasib aku nanti. Job model ku sedang sepi, siapa nanti yang akan membayar sewaan apartemenku nanti."


Sungguh sial fikirnya saat ini. "Bagaimana pun aku harus bisa kembali sama Zein, bodo amat sama si Rahma yang udah melihatku kemarin lagian aku sama Reyhan juga sudah putus."


Lalu Emily kembali duduk di sofa yang berada di kamarnya.


"Tenang Em tenang, mulai sekarang kamu harus susun rencana dengan baik, pertama-tama aku harus dekati Rahma dulu, dia kan lugu, gampang luluh juga hatinya." senyum Emily terbit dari bibirnya lalu ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan itu.


-Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2