Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab041. Aku Takut


__ADS_3

Sore ini cuaca tampak cerah, dengan matahari masih menampakan sinar nya.


Rahma baru saja tiba di rumah, setelah menyelesaikan aktivitasnya, ternyata setiap hari berada di rumah membuat ia cepat bosan. Akhirnya ia memutuskan setiap hari datang ke rumah makannya atau sesekali memantau panti asuhannya.


Di usia yang baru menginjak 25 tahun. ia berhasil mewujudkan cita-citanya yaitu memilik panti asuhan dan memiliki usaha sendiri tanpa harus bekerja sama orang lain yang tentunya akan banyak menuntutnya.


"Assalamualaikum.." ucap Rahma, saat memasuki pintu utama yang terbuka lebar.


"Waalaikumsalam... Eh neng Rahma udah pulang."


"Iyaaa teh, duh gerah banget, aku langsung naik aja ya mau berendam." kekeh Rahma seraya tertawa.


"Oh iya sok neng."


Kemudian Rahma berjalan menaiki undakan tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Saat ia sampai di anak tangga terakhir, ia melihat Dina yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Semangat banget sih belajarnya." sapa Rahma dan kemudian tersenyum ke arah gadis itu seraya berjalan.


"Eh mbak, udah pulang.?" tutur Dina, ia pun beranjak dari duduknya lalu menyalami mbaknya itu.


"Ya udah lanjut aja belajarnya mbak mau mandi dulu, berasa pada lengket nih badan." timpal Rahma lagi.


"Oke mbak!. Abis mbak mandi, kita jalan-jalan sore yuk enak nih cuaca nya." ucap Dina kembali seraya memandang ke arah pintu luar yang berada di balkon ruangan tersebut.


"Mmmm.. Boleh tuh." jawabnya kembali.


"Kalau gitu mbak mandi dulu, aku juga mau siap-siap, ini tinggal dikit lagi kok." tutur Dina lagi, dan anggukan kepala sebagai jawaban Rahma.


.


Keduanya kini telah sampai di taman kota dan mereka sedang berjalan-jalan santai, sambil melihat orang-orang yang sedang bermain dengan anaknya. Sesekali terlihat juga muda-mudi yang berpasangan.


"Rahma yaaa.?" sapa seseorang tiba-tiba menghampirinya.


Lalu Rahma pun menolehkan kepalanya pada orang yang memanggil namanya tersebut.


"Eh Sinta..?? Yaaa ampuuunn kok bisa kita ketemu di sini." tutur Rahma pada orang yang bernama Sinta itu.


"Kamu ngapain di sini Sin, sama siapa.?" tanya Rahma antusias.


"Aku sendirian aja Ra, aku kesini sekedar cuci mata aja." kekeh Sinta.


"Duduk situ yuk, biar anak ngobrolnya." ajak Rahma kemudian.


Dan ketiganya pun kini duduk di bangku yang telah tersedia di taman kota tersebut.


"Terus kamu tinggal dimana.?" tanya Rahma lagi, sebab temannya itu bukan asli orang situ melainkan pendatang saat mereka kuliah di universitas yang sama.

__ADS_1


"Aku nginep di hotel sama om, tante juga sepupu ku, mereka baru pindah dari Bali, dan lagi nyari rumah buat di sewain atau ada yang jual gitu." tutur Sinta lagi.


"Oh gitu, udah berapa lama emang.?" tanya Rahma kembali.


"Baru tiga hari yang lalu. Oya Ra, sorry ya katanya suami mu di rebut sama si Wina yaaa." tanya Sinta dengan memelankan kalimat terakhirnya.


"Yaa gitu deh, kamu tau dari mana.?" ucap Rahma seraya menyipitkan matanya.


"Ada kan, temen nongkrong nya si Wina, dia pernah ketemu sama aku lalu ceritain masalah itu." ucap Sinta kembali.


"Bangga kali yaaa, punya suami dari hasil ngerebut sampe harus cerita sana-sini." tutur Dina yang dari tadi hanya memperhatikan kedua nya.


"Nah betul.! Oya ini siapa Ra.?" tanya Sinta akhirnya.


"Oh iya lupa, ini Dina adik aku." ucap Rahma yang menepuk jidatnya itu, karna kelupaan memperkenalkan gadis yang sedari tadi duduk di sampingnya.


"Adik?." kening Sinta berkerut, sebab yang ia tau Rahma tidak mempunyai adik.


"Panjanglah cerita nya." tutur Rahma kembali.


Setelah Dina dam Sinta berkenalan kini ke tiga nya pun larut dalam obrolan.


"Aku haus nih, mau pada beli minum gak.?" tutur Sinta.


"Boleh tuh, aku mau cappucino boba aja, kamu Din." tanya Rahma.


"Bebas mbak apa aja." jawab Dina.


"Oya Ra, kamu gak ada niatan buat maried lagi." tutur Sinta setelah kembali membawa tiga cup minuman itu.


"Entahlah Sin, aku takut, takut gagal lagi, takut di khianati lagi, pokoknya gak ada fikiran buat ngebina rumah tangga lagi." ucap Rahma pasrah.


"Ra, gak boleh gitu, gak baik tau, gak semua lelaki sama kok, mungkin Andhika bukan yang terbaik buat kamu, tapi mungkin Tuhan punya rencana lain buat kebahagiaan kamu nanti." ucap Sinta dengan pelan dan hati-hati.


"Apa yang di bilang mbak Sinta, betul mbak, mbak gak boleh pesimis apalagi sampe putus asa. InsyaAllah nanti ke depannya mbak akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh saat bersama bang Dhika." tutur Dina juga ikut menasehati mbaknya itu.


Lalu Rahma tersenyum ke arah Dina juga Sinta.


"Makasih yaaa. Tapi untuk saat ini beneran aku belum kefikiran buat nikah lagi." jawab Rahma akhirnya.


"Aku ngerti, itu terserah kamu karna kamu yang jalani, saran kita hanya kamu gak boleh putus asa, harus percaya bahwa kebahagiaan itu pasti ada." tutur Sinta lagi dengan mengelus sebelah lengannya Rahma.


Senyum Dina pun merekah melihat teman mbaknya begitu peduli.


"Oyaa tadi mbak Sinta lagi nyari rumah yang di sewa kan bukan.?" tutur Dina mengalihkan topik pembicaraan agar Rahma tidak larut dalam meratapi kesedihannya.


"Iya kenapa, ada yang mau sewain atau yang jual sekalian." jawab Sinta dengan antusias.


"Mbak Rahma kan punya rumah yang gak di huni, kenapa gak di sewa in aja mbak, daripada kosong kan sayang." tutur Dina menoleh ke arah Rahma.

__ADS_1


Rumah yang di beli Rahma dulu saat masih berstatus istri Andhika, masih kosong belum sekalipun ia tinggal di sana atau sekedar menginap saja.


Lalu sinta menatap Rahma.


"Kamu kok gak bilang sih sama aku." tutur Sinta.


"Hehehe sorry aku lupa, emangnya om sama tante kamu mau nyewa rumah aku." tanya Rahma kemudian.


"Ada foto nya gak, kalau ada kirim ke WA aku, kamu masih nyimpen WA aku kan." tutur Sinta dengan beberapa pertanyaannya.


"Iyaaa masih aku simpen, nanti aku minta fotoin dulu sama orang yang jaga di sana." timpal Rahma akhirnya.


"Untung ada kamu Din, ngingetin mbak mu." tutur Sinta seraya tertawa pelan.


"Aku cuma nyaranin aja sih daripada gak di tempati kan sayang."


"Iya bener Din!. Ngomong-ngomong kalian tinggal dimana." tanya Sinta lagi.


"Kita tinggal di rumah bang Zein." jawab Rahma, lalu menyedot minumannya itu.


.


"Kalau menurut abang, lebih baik kamu jual aja rumah itu, uangnya bisa kamu tabung, kamu kan disini sama abang." usul Zein, setelah kepulangan dari taman kota tadi Rahma menceritakan bahwa ada temennya yang nyari rumah untuk om nya.


"Gitu ya bang.?" jawab Rahma seraya mengerucutkan bibirnya.


"Iya, kenapa lagi?. Bener kan apa yang abang bilang Din." Zein meminta dukungan sama Dina yang sedang memainkan ponselnya.


"Aku setuju apa yang di bilang sama bang Zein, nanti uang hasil penjualannya bisa buat mbak nambah modal atau bikin usaha lain" susul Dina dan di anggukan oleh Zein.


"Nah betul Din." ucap Zein kembali.


"Iya deh nanti aku fikirin lagi." tutur Rahma.


"Itu terserah kamu abang sama Dina hanya memberi saran saja, daripada gak di tempati rumahnya."


"Iya bang, makasih ya, Din makasih." tutur Rahma memberi senyum pada kedua nya.


"Ya sudah abang mau mandi dulu, jangan pergi-pergi lagi yaa, udah mau malem." ucap Zein, kemudian ia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah kamarnya, tidak jauh dari ruangan itu.


.


[Ok! Thanks ya Ra, nanti aku liatin foto rumahnya sama om ku]. balasan pesan dari Sinta, setelah Rahma mengirim beberapa foto rumahnya isi dan segala bentuk sudut-sudut rumahnya.


[Santai aja Sin, belum tentu cocok sama om kamu rumahnya]. Balasan Rahma untuk temannya itu.


[Aku yakin pasti cocok, rumahnya mewah dan elegan].


[Oke deh, kalau gitu aku mau istirahat dulu, bye!].

__ADS_1


[Oke bye juga, Ra].


-Bersambung...


__ADS_2