
Sepulang dari bekerja Andhika uring-uringan mendapati istrinya, Wina tidak ada di rumah, dan ibunya juga bilang bahwa Wina sering keluar kala Andhika berangkat bekerja, ibunya juga bilang bahwa Wina sering membawa barang-barang setelah dari luar, sedangkan Andhika hanya memberikan istrinya uang setengah dari gaji nya tersebut.
Saat Andhika sedang mondar-mandir di depan teras rumahnya, terdengar suara mobil tepat berhenti di depan pagar rumahnya yang tidak begitu tinggi itu.
Sosok Wina menyembul dari dalam mobil itu, lalu di susul seorang laki-laki, Andhika memperhatikan gelagat keduanya, ia melihat dengan jelas kening sang istri do cium lelaki itu sambil memeluk pinggangnya dengan mesra.
Rahang Andhika pun mengeras melihat hal itu emosinya pun semakin naik saat Wina membalas kecupan lelaki itu.
"Winaaa.." teriak Andhika, dengan berjalan cepat ke arah pagar rumahnya itu.
"Mas Andhika.." Wina sedikit kaget namun tidak dengan laki-laki di sampingnya, ia malah menggandeng bahu Wina dengan santai nya.
Tanpa berfikir panjang, Andhika menampar pipi mulus wanita itu. "Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku."
Wina tak dapat menjawab pertanyaan dari Andhika ia memegang pipinya yang sedikit memerah itu.
"Hey bro santai dong!. Kalau istrimu itu berpaling darimu, itu tanda nya dia kurang bahagia, iya kan sayang." tutur laki-laki itu lalu melirik Wina di sampingnya.
__ADS_1
"Maaf mas, tapi emang itu kenyataannya, sekarang kamu udah gak bisa lagi penuhi permintaan aku dan segala kebutuhanku." tutur Wina lugas.
Laki-laki yang di samping Wina tersenyum kemenangan. "Dengerkan, kupingmu masih berfungsi kan."
Tangan Andhika terkepal keras tapi ia tak dapat melakukan apa-apa. Apa yang di katakan Wina barusan benar adanya bahwa ia sudah tak mampu lagi memberikan segala keinginan dan kebutuhan Wina, istrinya.
"Sayang, sekarang kita udah tertangkap basah, kamu mau terus bertahan dengan suamimu yang miskin ini atau ikut denganku, dengan segala kemewahan yang aku berikan." ucap Laki-laki itu melirik Andhika.
"Winaaa.." tutur Andhika.
"Ayolah sayang, jangan berfikir terlalu lama, laki-laki seperti dia tidak pantas menjadi suamimu." tutur laki-laki itu lagi.
"Ayo sayang,," lalu laki-laki itu kembali membawa Wina masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar wanita sialan, wanita laknat awas kamu Wina." Andhika mengumpat dengan menatap kepergian Wina.
.
__ADS_1
Siangpun berlalu di ganti malam.
Saat sedang makan malam Andhika menceritakan semuanya pada sang ibu juga Rina adiknya.
"Ya sudah Dhik, kamu gak usah mikirin wanita itu lagi, kamu tinggal cari lagi wanita kaya raya atau kamu kembali lagi sama Rahma, pasti ia belum menikah lagi kan." tutur Lia dengan lugas.
"Nah aku setuju banget bang, hidup kita terjamin ya bu gak pernah kekurangan apapun, tinggal dirumah mewah. Apalagi coba, dasar abang sih dulu kenapa harus kepincut sama wanita ular itu." Rina menimpali ucapan ibunya.
Andhika sontak menggelengkan kepalanya keras. "Gak mungkin aku bisa kembali lagi bu."
"Apanya yang gak mungkin, mungkin-mungkin aja kok, coba aja kamu dekati Rahma lagi, ibu nyesel udah dukung kamu ceraian si Rahma dan nikah sama si Wina, ujung-ujungnya kita juga yang susah." Lia berucap menyesali perbuatannya dulu.
Apa yang ibunya katakan memang benar adanya, Andhika juga menyesal teramat menyesal telah membuang seorang Rahma, hanya karna terbuai oleh rayuan Wina.
Tapi apakah Rahma mau kembali lagi padanya dan membina rumah tangga lagi, Andhika tidak yakin dengan hal yang ia fikirkan saat ini.
Malam pun kian merangkak ke peraduan kedua mata Andhika masih belum terpejam, semakin mengingat sosok Rahma semakin dalam penyesalannya.
__ADS_1
'Aku harus mendapatkan Rahma kembali, yaaa aku harus bisa apapun itu caranya.' gumam nya dalam hati, lalu senyumnya terbit.
-Bersambung...