
Tok! Tok! Tok!
"Masuk..."
Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop Zein menyuruh seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Pak ada yang mau ketemu sama bapak." ucap sektetarisnya.
Zein mengerenyitkan keningnya. "Siapa.."
Sekretarisnya itu sedikit gugup, karna mengetahui sang atasan tak ingin bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya di depan. "Ada mbak Emily di depan maksa mau ketemu sama bapak."
"Oke! Suruh dia masuk."
"Baik pak.".
Lalu sekretarisnya itu kembali keluar dan setelahnya masuklah sosok Emily dengan penampilannya yang mempesona, baju ketat dan terbuka, membalut tubuhnya sehingga lekukan tubuhnya terlihat jelas.
Senyum Emily merekah ketika melihat sang pujaan hati berada di depannya, ia menyongsong masuk dan berhambur ingin memeluk Zein, namun sedikit lagi Emily sampai, Zein melambaikan tangannya di udara. "Stop, silahkan duduk."
Zein berdiri lalu melangkahkan kakinya pada sofa di ruangannya itu dan Emily pun mengikutinya dari belakang dengan perasaan dongkol karna keinginannya yang ingin memeluk laki-laki pujaannya tidak kesampaian.
"Mau apalagi kamu." tanpa basa basi Zein langsung mengucapkan kalimatnya dengan datar.
Emily pun sedikit agak kaget dengan sikap Zein yang berubah.
"Aku pengen ketemu sama kamu gak boleh."
"Ada keperluan apa, kalau tidak penting silahkan keluar." ucap Zein kembali dengan tatapan dingin.
"Zei, beri aku sedikit waktu buat bicara sama kamu, aku kesini kangen sama kamu, pengen ketemu sama kamu, aku ingin bersama kamu lagi seperti dulu." ucap Wanita itu dengan senyuman menggodanya.
Zein hanya berdecih dan meliriknya sebentar. " Omong kosong."
"Zein aku serius, selama di luar negeri aku gak bisa lupain kamu, aku inget kamu terus." Emily tak ingin kalah ia terus saja menyakinkan laki-laki di depannya.
"Oyaaa, masaaa?.. Lalu laki-laki yang sering kamu posting itu di IG kamu dengan mesranya, itu siapa?. Dan kamu masih bisa ngomong gak bisa lupain aku." Zein meliriknya dengan tatapan mengejek.
"Aku udah putus sama dia." Emily antusias mengucapkan kata-kata itu berharap Zein percaya dan segera kembali ke pelukannya.
"Udahlah Em. Diantara kita udah gak ada kecocokan lagi, kamu kan dulu yang menginginkan perpisahan ini."
"Iya itu dulu, tapi aku ga-."
"Stop! Silahkan pergi, sebelum aku melakukan kekerasan." tunjuk Zein pada pintu ruangannya menyuruh wanita itu segera keluar.
__ADS_1
"Zein, tolong jangan beg-."
Kembali Zein memotong ucapan Emily. "Keluar atau aku panggil security."
Dengan pasrah Emily berjalan menuju pintu keluar.
"ingat Zein, kamu bakalan nyesel telah menolakku." ucapnya sebelum pergi dari ruangan Zein.
Tanpa menjawab ucapan Emily, Zein kembali ke meja kerjanya. 'Bodo amat pada apa yang Emily ucapkan'. Begitu fikirnya, dan ia pun kembali fokus pada pekerjannya.
..
"Siall.. Kenapa Zein menolakku sih, apa kurangnya aku, awas kamu Zein." wanita itu mengepalkan tangannya di udara, setelah keluar dari gedung kantor Zein.
"Aku harus susun rencana dari sekarang." senyum wanita itu terbit, lalu merogoh tasnya dan mengambil ponselnya untuk segera memesan taxi online.
Lima belas menit kemudian ia sampai di apaetementnya dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.
Hal apa yang harus ia lakukan ke depannya dengan job yang sepi dan keuangannya pun mulai menipis apalagi setelah putus dari Reyhan. Emily menyesal pun sudah tak berarti lagi kini Reyhan juga susah untuk ia hubungi, Emily baru menyadarinya bahwa sosok Reyhan tulus mencintainya sehingga apapun yang Emily inginkan Reyhan selalu memenuhinya dan tepat waktu, tapi apalah daya cinta dan hati Emily sudah terpatri pada sosok seorang Zein Alfian, ia menerima Reyhan dulu hanya mengisi kebosanannya waktu di luar negeri dulu.
[Maaf mbak, masih belum ada tawaran untuk mbak Emily.] balasan pesan dari seseorang yang di hubungi wanita itu.
"Sialaaannn.." Emily emosi dan membanting ponselnya.
Lalu ia pun berdiri kemudian melangkahlan kakinya menuju kamar mandi.
Setengah jam Emily bergelut dengan make-up nya ia pun segera keluar dari apartementnya untuk pergi ke diskotik sesuai ajakan temannya itu.
Hingar bingar musik diskotik memenuhi pendengaran Emily, matanya celingak-celinguk mencari sosok Dewi, lambaian tangan ia lihat dan segera menuju tempat temannya itu.
"Apa kabar lo Em.. Kusut banget tuh muka."
"Bete gue." ucap Emily yang sudah duduk di samping temannya itu.
"Gak udah bete-betean, gue kenalin sama seseorang mau gak." ucap Dewi dengan senyumnya yang khas.
"Siapa, kalau gak tajir gue ogah yaaa." Emily melirik temannya itu yang sedang menuangkan minuman win kedalam gelas kecil.
Dewi pun tertawa setelah minuman itu di teguknya dalam sekali tegukan. "Lo tenang aja, bukan hanya tajir ini mah, bener-bener kaya, asal lo mau temenin dia, apapun yang lo minta pasti di kasih sama dia."
"Temenin bagaimana maksud lo Wi." Emily bukannya tidak mengerti apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.
"Ya elah masa lo gitu aja gak ngerti sih, bentar ya gue panggil dulu orangnya..! Om.. Sini."
Tak jauh dari tempat mereka duduk muncullah seorang laki-laki yang bisa dikatakan lebih pantas jadi Ayahnya Emily.
__ADS_1
"Nih om, kenalin temen aku, Em nih om Broto."
Lalu keduanya pun bersalaman, dan menyebutkan nama masing-masing.
Emily sedikit risih saat duduk harus berdempetan dengan om-om tersebut.
"Kamu gak minum.? Minumlah sedikit biar fresh." ucap Broto dengan menyodorkan segelas win pada Emily, Emily menerimanya dengan sedikit gugup.
"Jangan gugup begitu, kalau kamu emang gak biasa minum itu gak usah di paksain, temenin saya ngobrol saja." ucap laki-laki itu lalu mengambil lagi gelas win yang di pegang Emily.
"Apa pekerjaan kamu." tanya laki-laki bernama Broto itu sambil menghisap rokoknya.
"Model om, tapi beberapa minggu ini lagi sepi." jawab Emily apa ada nya.
"Oh!. Jadi gak ada pemasukan ya, gak bisa shopping dan seneng-seneng dong." ucap Broto seperti mengerti kalau perempuan seusia Emily lagi seneng-senengnya menghamburkan uang.
"Om bisa aja." tutur Emily dengan senyum kikuknya.
Lalu keduanya pun larut dalam obrolannya dan Emily pun sedikit sudah bisa santai menanggapi ucapan laki-laki di sampingnya itu, sedangkan Dewi entah kemana tadi ia pergi begitu saja dengan laki-laki yang usianya sama seperti laki-laki di depannya sekarang.
"Kamu tinggal dimana." tanya Broto di sela obrolannya.
"Di apartement om." Emily menjawabnya.
"Punya sendiri atau masih menyewa." kembali Broto menanyakannya.
"Sewa om, dan saya bingung bentar lagi harus udah bayar sewaan, kalau ada kerjaan boleh om tawarin ke saya." tutur Emily.
"Gak usah kerja, orang secantik kamu sayang kalau harus kerja." ucap Broto dengan mengelus sebelah pipi Emily.
Emily hanya bisa tersenyum canggung, kemudian laki-laki di depannya itu merogoh saku jasnya dan keluarlah sebuah amplop tebal.
"Ini buat bayar sewaan apartement kamu dan kebutuhan kamu, kalau kurang kamu ngomong sama saya." ucap Broto seraya memberikan amplop tersebut ke tangan Emily.
Emily senang bukan main hatinya sudah bersorak gembira, hanya dengan menemani ngobrolnya saja sudah sebanyak itu uang yang di keluarkan om-om di depannya, bagaimana kalau lebih bisa-bisa di beliin rumah bahkan mobil, begitu fikiran Emily telah melayang jauh.
Dengam senyum yang merekah Emily terima amplop itu. "Makasih ya om, om baik banget."
Broto pun tersenyum. "Sama-sama cantik."
Keduanya pun saling melempar senyum, Broto bukan tak ingin sekarang melakukan hal itu, akan tetapi ia ingin secara perlahan mendapatkan gadis di depannya sekarang.
"Boleh om minta nomor kamu, kalau sewaktu-waktu om pengen di temani ngobrol lagi.?"
"Tentu boleh om." Emily pun segera mencatat nomornya di ponsel om-om itu.
__ADS_1
Dan setelah beberapa saat kemudian Broto pamit karena di telepon anaknya bahwa penyakit sang istri kambuh.
-Bersambung...