Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab037. Dia Lagi


__ADS_3

Hari terus berganti, begitu juga dengan aktivitas Rahma selalu berjalan tanpa kendala, meski di pantau dari rumah, ia tidak melepaskan begitu saja tanggung jawabnya sebagai pemilik rumah makan tersebut.


Setelah menimbang-nimbang saran abangnya waktu itu, ia pun akhirnya memutuskan untuk di rumah saja, sesekali keluar kalau ada keperluan atau hanya sekedar menghilangkan penat nya.


Setelah selesai menulis bab selanjutnya, Rahma kemudian iseng membuka akun sosmednya untuk berselancar sebentar di dunia maya tersebut. Tanpa sengaja Rahma melihat satu pengikut baru di istagramnya itu, ia memicingkan mata sejenak.


"Alan" gumam nya pelan.


Tanpa mengikuti akun Alan tersebut kemudian Rahma keluar dari sosmednya tersebut dan menyimpan benda pipih itu di atas meja nakas samping tempat tidurnya.


Lalu ia turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar menuju lantai bawah guna mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Tentu saja Rahma lapar ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah satu siang.


"Masak apa teh hari ini". Tanya Rahma pada asistennya.


"Itu neng ada sop baso, ayam rica-rica sama udang balado" jawab asistennya.


"Oh", tutur Rahma, kemudian ia berlalu dari samping meja makan dan berjalan menuju dapur. Kemudian ia membuka kulkas nya dan mengambil satu plastik jengkol.


"Neng Rahma mau bikin apa.?" tanya asistennya setelah menyiapkan makan siang tadi di meja.


"Aku mau goreng jengkol teh, enak kaya nya, di makan sama sambel terus ikan asin, uuhhh" tutur Rahma seraya tertawa.


"Pantesan dari kemarin teteh liat itu di kulkas, kirain punya mang jaya." ucap asistennya.


"Aku kemarin beli teh, tumben aja kemarin ada tukang sayur lewat jadi aku beli deh" tutur Rahma, lalu mengambil pisau guna untuk mengupas kulit jengkol tersebut.


"Ya udah sini atu biar teteh bantu."


"Boleh teh, kalau gitu aku mau bikin sendiri ah sambalnya" kata Rahma kemudian ia kembali membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan untuk membuat sambal.


Keduanya pun larut dalam pekerjaan masing-masing, Rahma yang suka makanan beraroma bau itu membuat pola makannya tinggi, rasa ingin nambah dan nambah, apalagi sama si ular hijau alias peute Rahma jago nya dalam memakan makanan bau itu.


"Assalamualaikum... Duhhh bau apa inii.?"


Tiba-tiba Zein datang sambil mengibas-ngibas tangannya di depan hidung.


"Waalaikumsalam". jawab Rahma dan Sumi berbarengan.


"Bau-bau enak ya bang" tutur Rahma seraya terkekeh.

__ADS_1


"Abang kira kamu udah lupa sama makanan itu." ucap Zein kemudian.


"Enak saja, makanan seenak ini mana bisa aku lupain" kekeh Rahma.


Kemudian ia membawa goreng jengkol, sambal goreng, juga ikan asin yang di panggang, ia bawa ke meja makan menggunakan nampan.


"Ayo bang, kita makan bareng, tuh di meja udah di sediain kok buat abang makan" tuturnya, kemudian ia pun berlalu ke arah meja makan.


.


Setelah makan siang tadi, kini Rahma telaj bersiap untuk pergi, sekedar mencari udara segar di sore hari dan akan menjemput adik angkat nya Dina.


Ya! setelah menimbang-nimbang Rahma akhirnya mengangkat Dina sebagai adiknya, tentu atas persetujuan Zein sang abang, yangdi sisi lain Zein sedang mencari orangtua kandung Dina itu.


Rahma pun turun dari lantai atas, jeans warna hitam yang dipadukan dengan kemeja biru tosca, tas gendong hitam senada dengan jeansnya menjadi outfit sederhana nya, di tambah sepatu warna putih semakin menyempurnakan penampilannya. Dengan rambutnya yang di kuncir kuda memperlihatkan leher putihnya itu.


"Mau kemana Ra,?" tanya sang abang yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.


"Cari angin bang, suntuk di rumah terus sekalian mau jemput Dina." tuturnya.


"Itu mulut udah gak bau jengkol kan, takut aja nanti ada cowok ngajak kenalan, eh mulutnya bau jengkol, gak etis dong masa cantik-cantik mulutnya bau jengkol." canda sang abang dengan di iringi tawa berderai.


"Ih abang enak aja!. Nggk dong udah wangi, aku punya penangkalnya."


"Siaappp komandan" ucap Rahma seraya meragakan tangan diatas alisnya, seperti menghormati bendera.


..


Setelah Rahma menjemput Dina tadi di kampusnya, kini kedua nya duduk di sebuah taman kota, sambil minum es boba cappucino tersebut kedua nya becanda ringan dan terkadang tertawa, entah apa yang mereka bicarakan.


Tanpa mereka sadari ada sosok yang memperhatikan keduanya, ia ingin segera menemui wanita pujannya, tapi bagai mana cara nya, masa tiba-tiba datang dan ikut nimbrung ngobrol di sana. Akhirnya ia hanya melihat wanita itu berharap si wanita menoleh dan menyapa nya, namun nihil si wanita itu tidak menengok sedikitpun.


"Mbak, aku pengen makan cimol ini, ada gak ya yang jualan sekitar sini." ucap Dina di sela pembicarannya.


Rahma pun melihat-lihat semua abang penjual di taman itu, dan saat Rahma menoleh ke belakang, ia melihat gerobak cimol yang di cari Dina.


"Itu cimol Din, yuk ke sana mbak juga pengen"


Lalu keduanya pun beranjak dari duduknya menghampiri si abang cimol tersebut.

__ADS_1


"Bang, cimolnya dua bungkus yaa" ucap Rahma pada si abang cimol.


"Siap neng, mau campur sama kentang gak.?" tawar si abang itu.


"Boleh bang campur aja, kamu mau Din." Dina pun menganggukan kepalanya tanpa bersuara.


Saat keduanya ingin kembali duduk ke tempat asal, tiba-tiba.


"Rahma..?"


Rahma pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Kamu di sini juga, lagi ngapain sama siapa." tanya si lelaki itu beruntun tak lain lelaki tersebut adalah Alan, mantan kekasihnya yang memutuskannya secara sepihak tanpa ingin mendengar penjelasannya dulu.


"Main, cari angin, nih sama adikku." jawab Rahma


"Sama aku juga lagi main disini, bosen di rumah terus." jawab Alan dengan salah tingkah.


"Oyaaa! Tadi kamu bilang adik" tanya Alan dengan kening berkerut.


"Iya kenapa, ada yang salah." jawab Rahma biasa saja.


"Ahh e-enggak, Ra boleh aku gabung sama kalian." tutur Alan akhirnya memberanikan diri.


"Duhh maaf yaaa, bukannya aku sombong, tapi ini acara aku sama adikku, gak bisa di ganggu" jawab Rahma dengan tegas.


"Oh gitu yaaa, mmm boleh gak aku minta kontak kamu" ucap Alan lagi memberanikan diri demi meraih Rahma kembali.


"Duh sorry ya Lan, aku buru-buru nih, lain kali aja ya. yuk Din nanti kita telat" ucap Rahma seraya menarik tangannya Dina yang ingin menyuapkan cimolnya tersebut.


Setelah keduanya berada di dalam mobil sambil memakan cimol yang mulai agak dingin.


"Itu tadi siapa mbak, kok mbak kaya yang males gitu diajak ngobrol sama dia" cecar Dina.


"Mantan mbak waktu kuliah dulu" jawab Rahma dengan lugas sambil memakan cimolnya


"Oh pantesan mbak kaya yang males gitu nanggepinnya apalagi pas dia minta kontak mbak, pasti masalahnya dulu besar ya mbak." tebak Dina dengan memamerkan giginya menampilkan sebuah senyum jaim.


"Panjanggg banget, nanti deh kapan-kapan mbak cerita in, sekarang kita pulang." tutur Rahma kemudian menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


Dina pun hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab ucapan Rahma.


-Bersambung...


__ADS_2