
Pagi ini Rahma tidak di sibukkan dengan membuat sarapan untuk sekeluarga.
Saat Rahma bangun dan menuju meja makan menu sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan.
Ada cah kangkung, cumi balado dan goreng tempe.
"Pantesan perut mbak langsung laper dari wanginya aja udah enak". Puji Rahma dengan tersenyum ke arah Dina yang sedang menuangkan air putih untuk Rahma dan untuknya.
"Ah mbak bisa aja, aku masih belajar mbak, kalau gak enak harap di maklum ya". Ucap Dina di iringi tawanya yang ringan.
"Udah ini pasti enak banget, mbak tau dari aroma dan bentuknya aja udah enak di makan". Jawab Rahma kembali, kemudian ia mendudukan dirinya di kursi meja makan.
"Ayo makan tunggu apa lagi, nanti kalau kamu nya bengong mbak abisin nih makanannya". Canda Rahma.
"Eh iya mbak".. Jawab Dina kemudian ia pun duduk dan mereka sarapan bersama di iringi obrolam ringan di pagi yang cerah itu.
Pukul sebelas siang...
Rahma seperti biasa menyelesaikan bab menulisnya di novel, sebelum beranjak dari tempat tidur, ia pun iseng membuka aplikasi berlogo hijau tersebut, dan tidak sengaja ia melihat status Rina.
"Alhamdulillah akhirnya sah juga, selamat menepuh hidup baru", caption dalam status foto yang Rina buat.
Akan tetapi ada yang membuat Rahma aneh, tangan itu.
Seperti tangan sang suami ia paham betul jari jari itu milik tangan sang suami.
Sesaat kemudian Rahma menepis fikirannya itu, mungkin saja tangannya ada yang sedikit mirip, begitu batin Rahma mengsugesti dirinya sendiri.
Kemudian ia pun berjalan ke kamar mandi guna membuang hajatnya yang sedari tadi ia tahan gara gara melihat status Rina.
Tok!
Tok!
Tok!...
"Mbak Rahma lagi ngapain..?" ucap Dina di balik pintu kamar Rahma.
Rahma pun berjalan ke arah pintu tanpa menjawab panggilan Dina.
Saat membuka pintu baru ia menjawabnya.
__ADS_1
"Iya Din, ada apa.?" jawabnya..
"Barusan aku dari supermarket, terus kebetulam ada baso, aku beli deh, makan yuk aku sengaja beli dua buat mbak juga". Ucap Dina.
"Wih kebetulan panas panas gini makan baso, kamu tau aja apa yang mbak mau saat panas panas gini". Ucap Rahma dengan tawa berderai.
Mereka pun berjalan ke arah meja makan setelah Rahma menutup pintu kamarnya.
Saat keduanya menikmati baso, Rahma bertanya.
"Din, sodara almarhum bapak yang nikahan siapa?". Tanya Rahma se hati hati mungkin.
Uhuuk!!!
Dina kaget dan terbatuk, Rahma pun menyodorkan air putih.
"Minum Din, pelan pelan makan nya". Ucap Rahma dengan menatap ke arah Dina. Sorot mata Dina mengisyaratkan kebingungan jawaban apa yang tepat untuk di berikan kepada sang kakak ipar.
"Pedes mbak, aku kebanyakan ngasih sambelnya". Ucap Dina setelah di rasa tenggorokannya kembali normal.
"Jangan terlalu banyak makan pedes Din, nanti kamu sakit perut". Saran Rahma disertai senyuman.
"Iyaaa mbak". Jawabnya kemudian.
Dina pun menoleh ke arah sang kakak ipar, Dina berfikir pasti mbaknya itu telah melihat status Rina yang di posting di Aplikasi hijau tersebut.
Dina bukannya ingin menyembunyikan pernikahan abangnya dan ikut serta mengkhianati kakak iparnya tersebut, akan tetapi ancaman sang ibu membuat ia mati kutu.
"Maafkan aku mbak, aku bukannya ingin ikut serta menyakiti mbak, tapi ancaman ibu membuat aku takut". Batin Dina berucap.
"Din kok ngelamun, udah sih gak usah di fikirin". Ucap Rahma dengan seuntai senyum ia berikan.
"Bukan aku gak mau ngasih tau mbak, tapi aku juga kurang tau sodara sodara dari bapak, di karna kan jaraknya yang jauh jadi aku gak terlalu tau dan mengenal mereka". Akhirnya Dina bisa ngasih alasan yang tepat kepada sang kakak ipar, meski di dalam hati ia sangat bersalah telah membohongi kakak ipar yang sudah baik dan lemah lembut itu.
"Oh gitu pantesan kamu tadi sempat bingung, maafin mbak yaa..". Ucap Rahma kemudian.
Kening Dina berkerut dan menatap sang kakak ipar, sungguh ia sangat menyesali perbuatan ibu juga abangnya itu.
"Santai mbak, kenapa harus minta maaf segala sih, harusnya aku yang minta maaf karena tidak mengetahui sodara sendiri". Jawab Dina dengan senyum yang di paksa kan.
Setelah kenyang makan baso kedua nya kembali bersantai, kini mereka duduk berdua di bangku teras belakang sambil melihat ikan hias yang kolam.
__ADS_1
"Kamu setelah lulus nanti mau cari kerjaan dimana Din?". Tanya Rahma.
"ini aku lagi nyari mbak, bingung juga sih mau nyari kerjaan dimana, aku gak mau kaya kak Rina setelah lulus kuliah malah nganggur nyusahin bang Dhika sama ibu, apalagi sekarang kita tinggal di sini pasti ngerepotin mbak Rahma". tutur Dina panjang lebar.
"Enggak nyusahin sama sekali kok, justru mbak seneng rumah ini jadi ramai nggak kaya dulu dulu di rumah sendirian palingan tuh si thomas kadang kadang nemenin". Jawab Rahma kembali.
"Thomas..?" Kening Dina berkerut.
"Itu loh Din kucing mbak namanya Thomas, beberapa hari ini mbak kurung karna ibu tidak menyukainya". Ucap Rahma kemudian.
Ya! Rahma memang menyukai binatang tersebut selain tingkah yang lucu dan menggemaskan juga sekali kali menemani kesepian Rahma sebelum kedatangan ibu mertua nya.
"Hah! Mbak ada kucing kok gak bilang sih, mana sekarang dimana dia, duhh kok di kurung sih mbak, kasian tau dia kesepian pasti sedih". Ucap Dina dengan antusias.
Rahma pun di buat tertawa akan tingkah sang adik ipar, ternyata Dina juga salah satu pecinta hewan tersebut.
"Tuh di pojok sana, mungkin lagi ngorok" kekeh Rahma.
Dina pun melesat ke arah yang di tunjuk Rahma dan benar saja hewan tersebut sedang tidur terlentang.
Saking gemasnya Dina ia pun bergegas membuka pintu kandang kucing tersebut dan segera menggendongnya sambil di ciumin bulu bulu tebalnya.
"Meong... Meong.."
"Apa sayang, kamu kesepian ya kesel ya di kurung terus sama mami". Ucap Dina dengan menatap sang kucing sambil berjalan kembali ke arah Rahma, kata mami yang di ucapkan Dina tentu itu untuk sang kakak ipar.
Rahma yang melihat ke arah Dina serta kucing yang di gendong Dina tertawa.
"Ada ada saja kamu Din.."
"Aku bawa tidur boleh gak mbak, buat temen ngobrol di kamar". Ucap Dina seraya mendudukam dirinya di samping Rahma dan mengelus bulu bulu hewan tersebut.
"Boleh asal kalau pup atau pip di kasur kamu sendiri yang bersihin oke" kekeh Rahma kembali.
"Siaaapp!! Mbak apapun akan ku lakukan untuknya. Oke honey" ucap Dina kepada sang kucing.
"Meong.."
Mereka berdua pun tertawa mendengar jawaban si kucing.
"Kalau kamu mau bawa dia tidur, kamar mandinya buka sedikit biar nanti kalau dia mau pup atau pip ke kamar mandi". Ucap Rahma kembali.
__ADS_1
"Oke mbak siipp" Tutur Dina dengan mengacungkn jempolnya.
-Bersambung...