
-Pov Andhika
Semakin hari semakin banyak perubahan pada mantan istriku, selain bertambah cantik, usahanya pun berkembang pesat semakin kaya saja sekarang. Aku menyesal??..
Ya! Kalau boleh jujur aku menyesal telah melepaskan Rahma begitu saja, selain rasa cintaku yang baru ku sadari sekarang, kesuksesannya sekarang telah menjunjung namanya, ah seandainya aku masih jadi suaminya, teman-teman kantorku pasti iri mempunyai istri secantik dan sekaya Rahma.
Tapi sialnya, sekarang dia susah aku luluhkan.
..
Pagi ini seperti biasa aku berangkat kerja, meski rasanya malas sekali tapi kalau tidak kerja siapa lagi yang menafkahi ibu juga adikku, seandainya aku kembali sama Rahma, aku hanya ongkang-ongkang kaki saja di rumah secara udah jadi bos masa harus capek-capek kerja.
"Dhik, sarapannya udah ibu siapin.."
Suara ibuku dari arah dapur terdengar, mungkin ia menyadari bahwa anaknya sudah siap bekerja.
"Iya bu, ini aku mau sarapan." tuturku, kemudian kulihat ibuku dari arah dapur membawa secangkir teh untuknya sendiri.
"Gimana Dhik, kamu berhasil dekati Rahma lagi, rasanya ibu sudah tidak sabar lagi pengen kehidupan normal seperti dulu lagi." ucap ibukku tanpa berbasa-basi, setelah ia menghempaskan bokongnya di kursi meja makan kemudian menyesap teh manisnya.
__ADS_1
"Sabar bu, semuanya butuh proses, ibu doakan saja agar semuanya lancar." tuturku sambil memberi senyuman pada wanita tua yang telah melahirkanku ini.
"Kamu harus gercep Dhik, takut nanti Rahma diembat laki-laki lain, kamu fikir saja laki-laki mana yang tidak mau dengan wanita sukses seperti Rahma, semuanya pasti mau kok."
Ibu terus saja memanasiku. "Iya bu, ibu tenang aja, Rahma masih sendiri kok. Aku pasti dapetin dia." ucapku lagi dengan percaya diri.
"Ngomongin apa sih pada serius banget."
"Ini loh Rin abangmu, suruh cepet-cepet buat kembali sama Rahma. Ibu udah gak sabar lagi pengen pindah ke rumah besar itu lagi."
Lagi-lagi ibu, terkadang aku heran sama tingkah ibu yang mata duitan dan haus akan kekayaan, padahal hidup kami pun sekarang kurasa tidak begitu kekurangan, semasih bisa makan dan tidur nyenyak, apa mungkin ibu dulu sudah terbiasa hidup mewah saat pernikahanku dengan Rahma.
"Kamu fikir gampang, semuanya butuh proses, dan tidak semudah itu, pelan-pelan tapi pasti, abang tidak mau kembalinya abang sama dia itu karna dia sudah kaya sekarang."
"Iya-iya deh terserah abang, tapi kalau sampai abang gagal berarti abang cemen."
Ucap adikku kembali, sambil berlalu keluar rumah, entahlah apa yang ia lakukan sekarang sering keluar setiap hari dan pulang hampir larut malam.
Aku sampai lupa memperhatikan pergaulan adikku sendiri saking sibuknya dengan kerjaan juga permintaan-permintaan ibu yang terus-menerus agar aku segera kembali sama Rahma.
__ADS_1
"Yaudah bu, aku berangkat kerja dulu, ibu hati-hati di rumah jangan terlalu capek." ucapku, melihat ibu yang semakin berlanjut usia, aku semakin tak tega membiarkannya kecapekan mengurus rumah sendirian, sedangkan Rina, aku tidak tau apa yang adikku lakukkan di luar sana, semoga hal-hal positif yang ia lakukan itu.
"Iya Dhik, kamu juga hati-hati, dan jangan lupa pesan ibu."
Pesan yang dimaksud ibuku, tak lain adalah pesan aku harus segera kembali pada mantan istriku.
..
Jam makan siang usai, aku pun segera kembali melangkahkan kaki untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Akan tetapi saat aku keluar dari kafe, aku melihat sosok wanita cantik sedang mengobrol dengan seorang laki-laki, terlihat dari keduanya sangat akrab, terlihat juga tawa dari bibir wanita itu tak lain adalah Rahma.
Rasa cemburu pun tiba-tiba hadir dan rasa sesak di dada ini, ingin rasanya aku mencabik-mencabik laki-laki itu.
Siapa laki-laki itu aku tidak tau pasti karena posisinya membelakangiku. Ingin menghampiri mereka tapi jam istirahatku tinggal beberapa menit lagi.
Baiklah untuk saat ini aku simpan dulu rasa cemburuku. Memang aku harus segera merebut hatinya Rahma kembali sebelum laki-laki itu lebih dulu mendapatkan hatinya.
-Bersambung...
__ADS_1