Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab017. Menyusun Rencana


__ADS_3

"Baru pulang mas,". ucap Wina sore itu sekitar pukul empat.


"Iya mas capek banget hari ini,". Timpal Andhika seraya melonggarkan dasinya kemudian merebahkan diri di kasur.


"Mas, tadi abangnya Rahma kesini". Tutur Wina seraya mendudukan diri di bibir ranjang.


"Apaaa..?" Andhika sontak kaget dan terbangun.


"Iya bang"..


"Lalu, apa dia tau tentang pernikahan kita." Andhika bertanya antusias.


"Ya enggaklah mas, bisa mati kita kalau ketahuan bang Zein, mas kaya gak tau aja se sayang apa bang Zein terhadap si Rahma itu." Timpal Wina seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Syukurlah, mas lega dengernya". Tutur Andhika seraya mengelus dada nya.


"Tapi mas lama lama dia pasti tau tentang pernikahan kita, apalagi sekarang aku tinggal di sini, tadi aja pas dia dateng ngeliat aku duduk santai di rumah ini, dia nanya. Ngapain katanya di sini sedangkan Rahma gak ada di rumah". Tutur Wina panjang lebar.


"Terus kamu kasih alasan apa ke bang Zein." Tanya Andhika kemudian.


"Ya aku bilang aja pas kesini Rahma nya tidak ada di rumah".


"Huh!.. Emang pinter kamu". Timpal Andhika seraya mengelus pipi Wina kemudian mengecup bibir merahnya sekilas.


"Tapi mas, kita harus atur rencana, bagaimana cara nya supaya pernikahan kita tidak tercium oleh bang Zein". Tutur Wina setelah melepaskan bibirnya dari ciuman Andhika.


"Gimana kalau kamu ngontrak aja, nanti biar seminggu di sini dan seminggu temenin kamu". Ucap Andhika seraya menatap Wina.


"Ih enggak, aku gak mau ngontrak mas, apalagi harus tinggal di kontrakan kecil, aku mau nya tinggal di rumah ini atau kalau enggak kamu beliin aku rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah ini, aku gak mau kalah dari Rahma" Tutur Wina.


"Tapi Win, rumah ini, rumahnya Rahma, mas belum mampu membeli rumah yang seperti kamu minta, gaji mas belum cukup." jawab Andhika.


"Ya udah lebih baik mas usir saja tuh si Rahma. Bosan aku melihat wajahnya". Tutur Wina seraya berdiri dan meninggalkan suaminya di kamar.


...


"Apasih yang mesti gue lakuin buat mas Andhika ceraikan si Rahma." Gumam Wina, yang saat ini sedang duduk di bangku teras menghadap kolam renang.


"Kamu tidak usah repot repot memikirkan perceraian aku dengan mas Andhika Win, karna aku sendiri yang akan mengajukan perceraianku ke pengadilan, tunggu saja tanggal mainnya. Nanti setelah itu gelar nyonya Andhika akan segera kamu dapatkan, bukan itu keinginanmu, wahai sahabat pengkhianat". Tutur Rahma yang saat itu tiba tiba berada di belakang Wina dan mendengar semua yang Wina ucapkan.


"Bagus deh kalau kamu sadar diri, dan jangan lupa setelah kamu bercerai dengan mas Andhika, segera angkat kaki dari rumah ini." Ucap Wina dengan tatapan membenci.


Rahma pun hanya bisa tersenyum simpul, tanpa menjawab yang di ucapkan Wina.


"Dan satu lagi."


Seketika langkah Rahma terhenti tanpa menoleh ke arah Wina.

__ADS_1


"Kamu bukan sahabat aku lagi, dan dari dulu juga aku gak pernah anggap kamu sebagai sahabatku, kamu tau kenapa?. Karna semua yang kamu dapatkan, kamu dengan mudah mendapatkan itu semua nya. Dari perhatian cowok cowok jaman SMA sampai kuliah pun, hampir semua cowok tertuju sama kamu, dan saat kamu berpacaran dengan Alan aku iri Rahma, karna aku juga mencintainya, sangat mencintainya, dan kamu tau akulah yang membuatmu hancur sama Alan. Pasti kamu tidak menyangka kan, hahahahaa.. dasar bodoh!. Dan sekarang aku bisa merebut apa yang kamu miliki, contohnya mas Andhika telah resmi jadi suamiku meskipun hanya suami siri, tapi sebentar lagi aku yang akan memilik seutuhnya. Thanks ya Rahma.!" Ucap Wina dengan begitu lugas.


Rahma pun kemudian berjalan kembali tanpa menjawab kebenaran yang di utarakan Wina barusan.


....


"Brengsekk!!! Keterlaluan kamu Wina, selama ini aku anggap kamu lebih dari sahabat, tetapi begini balasan kamu, aku bodoh ya emang aku bodoh telah tertipu sama wajah manismu Wina" Lirih Rahma, tak terasa sebutir cairan turun dari manik matanya.


'Enggak aku gak boleh lemah, aku gak boleh kalah, aku harus kuat dan bangkit. Aku harus segera mengajukan surat perceraian itu' Gumam Rahma dalam hatinya.


"Apa aku harus kasih tau bang Zein.?"


"Tidak! Tidak! Bang Zein tidak boleh tau, tapiii kalau gak di kasih tau takut marah, Huh! Biarlah nanti aku fikirin lagi mengenai abangku ini". Kemudian ia pun merebahkan badannya di atas kasur nya yang empuk.


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa..?"


"Aku mbak sama si Thomas, kangen mami kata nya".


"Masuk Din, gak di kunci kok". Rahma menyahut dari dalam kamarnya.


"Kamu, makin hari makin lengket aja Din sama si Thomas". Ucap Rahma, seraya mengelus hewan kesayangannya.


"Hehe.. Gak tau nih mbak, aku jadi punya kebahagiaan tersendiri". Jawab Dina, lalu melepaskan hewan itu di atas kasur Rahma.


"Oya mbak, kemarin kesini ada bang Zein nyariin mbak." Tutur Dina.


"Oh iya itu, bang Zein juga ada telpon mbak, cuma kemarin mbak nya masih ada keperluan jadi gak bisa buru buru pulang". Timpal Rahma kemudian.


"Mbak tau gak.?"


"Enggak.."


"ihh mbak aku belum selesai ngomong". Kesal Dina, kemudian kedua nya pun tertawa.


"Apa sihh, mau cerita apa?" Tutur Rahma, setelah tawa kedua nya terhenti.


"Gini mbak, kemarin aku perhatiin, mbak Wina tuh kaya yang suka gitu sama bang Zein, intinya tertarik gitu lahh. Apalagi kemarin penampilan bang Zein cool abis". Tutur Dina panjang lebar.


"Masa sih..?" kening Rahma berkerut seraya menaikan satu alisnya.


Tidak heran sih sekarang menurutnya kalau Wina juga tertarik sama abangnya itu, apalagi ucapan Wina tadi siang. Membuat Rahma sudah tak asing lagi, akan tetapi kalau sampai benar ada nya Wina menyukai kakaknya tersebut, benteng permusuhan akan lebih ia tinggi kan.

__ADS_1


"Udahlah biarin aja, tipe bang Zein bukan seperti Wina". Tutur Rahma kemudian.


"Iya sih mbak, tapi aku cuma takut aja, setelah dia merebut bang Andhika, takutnya merebut bang Zein juga" kembali Dina melontarkan akan ketakutan yang terjadi pada diri kakak ipar nya itu.


"Udah jangan di fikirin yang belum pasti!. Oya mbak boleh nanya sesuatu gak.?" Tutur Rahma kembali seraya menatap wajah teduh Dina.


"Boleh, mbak mau nanya apa". Jawab kembali Dina, seraya memeluk bantal di sampingnya.


"Maaf ya sebelum nya, mbak cuma mau tanya kok kamu kaya kurang deket gitu sama mas Andhika juga Rina, terlebih ibu, selama kamu tinggal di sini mbak jarang sekali ngeliat kamu ngobrol sama mereka, kaya cuek dan gak peduli gitu". Tutur Rahma dengan hati hati. Apalagi beberapa minggu yang lalu Rahma mendengar ancaman terhadap Dina.


Terdengar helaan nafas berat Dina.


Kemudian Dina menundukan kepalanya setelah ia menatap dan memperhatikan pertanyaan kakak ipar nya barusan. Detik berikutnya Dina menangis pelan.


"Kok nangis.? Maaf ya mbak udah lancang seharusnya mbak gak nanya yang tidak seharusnya mbak ketahui". Tutur Rahma dengan ucapan rasa bersalahnya.


"Enggak kok mbak, gak ada yang salah. Mereka memang kurang dekat sama aku, terlebih perhatian ibu sangat beda memperlakukan aku sama bang Dhika juga kak Rina". kembali Dina menangis sesegukan.


Rahma pun yang merasa bersalah atas pertanyaannya, segera memeluk Dina dan menenangkannya.


"Udah jangan nangis, kamu masih punya mbak, apapun yang terjadi nanti jangan sungkan sama mbak ya". Tutur Rahma seraya tersenyum.


"Makasih ya mbak, mbak emang baik, tapi sayang kebaikan mbak tak terlihat oleh bang Dhika juga ibu". Ucap Dina, kemudian menghapus air mata nya yang masih mengalir di pipi nya.


"Dari pada sedih sedihan, mending kita main yuk ke taman kompleks, biasanya jam segini banyak pedagang kaki lima mangkal, kamu harus cobain siomay disini, enak pokoknya". Tutur Rahma seraya berdiri kemudian ia mengambil tas kecilnya dan blazer nya.


"Din.. Ayo tunggu apalagi.?"


"Eh iya mbak bentar aku ambil ponselku sama dompetku dulu". Kemudian Dina berdiri dan setengah berlari menuju kamarnya yang bersebrangan dengan kamar kakak ipar nya.


Saat Rahma sedang menunggu Dina di luar, tak lama Dina pun keluar seraya menyilangkan tas kecilnya juga, ia berubah fikiran, ternyata lebih simple bawa tas saja, tidak perlu menggenggam dompet.


"Din, mau bawa si Thomas gak" Tanya Rahma.


"Mana bocahnya.?" Timpal Dina seraya terkekeh.


"Ada lagi tidur sih"


"Jangan deh kasian". Ucap Dina, ia emang tidak tega saat melihat mahluk kesayangannya tertidur pulas.


"Ya udah yuk kita berangkat, tunggu apa lagi". Tutur Rahma.


"Come on"..


Keduanya pun turun menapaki anak tangan, bermain di taman kompleks sambil menikmati siomay.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2