Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab014. Serumah Dengan Si Pengkhianat


__ADS_3

"Ini kok belum ada sarapan sih udah siang gini". Ucap Wina dengan berkacak pinggang.


Saat ini ada Dina yang sedang bermain dengan kucingnya.


"Kamu lagi, bukannya pagi pagi bikin sarapan malah mainin kucing gak ada kerjaan banget". Kembali, Wina ngedumel.


Dina pun menoleh seraya berkata. "Ya kalau laper, bikin sendiri lah, mbak disini tuh bukan nyonya".


Dina pun berlalu ke arah samping sambil menggendong kucingnya tersebut.


.....


Go food!


"Ya mas, sini saya yang terima". Tiba tiba Wina menyongsong ke depan setelah terdengar suara kurir go food tersebut.


"Maaf! Dengan mbak Rahma, di sini tertera pesanannya atas nama mbak Rahma". Ucap Kurir tersebut.


"Udah sini sama aja, yang penting udah bayar kan". Tutur Wina sambil melayangkan tangan hendak mengambil kantong makanan dari tangan kurir tersebut.


"Tunggu!.. Itu makananku dan aku yang udah membayarnya". Tiba tiba Rahma keluar dari dalam dan berjalan ke arah Wina.


"Makasih ya Pak!. Nih uang tipsnya sekedar buat beli es". Ucap Rahma kemudian berlalu, setelah si kurir mengucapkan terima kasih.


Wina pun berjalan kembali masuk ke dalam, dan mengikuti langkah Rahma menuju meja makan.


"Satu buat aku ya Ra, aku laper nih". Ucap Wina hendak mengambil satu kotak bubur tersebut.


"Enak aja!. Kalau mau ya beli, kalau gak mampu beli tinggal bikin". Tutur Rahma kemudian menyuapkan bubur tersebut ke mulutnya.


"Itu bubur nya ada dua kotak, jatah buat mas Dhika buat aku aja, dia gak bakalan marah kok". Kembali Wina berucap.


"Siapa bilang ini buat mas Dhika". Delik Rahma.


"Lalu!. Masa dua kotak bubur mau kamu habiskan sendirian, rakus banget ternyata kamu Rahma". Ucap Wina kesal.


"Terserah aku dong, aku yang beli pake uangku sendiri, kenapa kamu yang protes". Kembali Rahma menjawab dengan mendelikan mata nya ke arah Wina.


"Din, sini temenin mbak sarapan, barusan mbak beli bubur, nih buat kamu". Ucap Rahma saat tiba tiba melihat Dina berjalan dari arah samping.


"Oya mbak, kebetulan banget nih cacing di perut udah pada demo". Kekeh Dina dan berjalan ke arah meja makan detik berikutnya duduk dan membuka satu kotak bubur yang di sodorkan Rahma.


"Mbak Wina mau?" Tanya Dina.


"Kalau mau ya beli.." Rahma menimpalinya dan detik berikutnya kedua nya tertawa puas.


"Sialan! Liat akan aku adukan sama mas Andhika.." Tutur Wina tak terima.


"Dih bisanya cuma ngadu aja.." Ledek Rahma lalu iya berlalu dari tempat duduknya.


"Awas! Kamu Rahma, akan ku buat mas Andhika mengusirmu dari rumah ini, lihat saja nanti". Lirih Wina dengan sorot mata tajam ke arah Rahma.


Sedangkan Dina pun telah berlalu setelah menghabiskan buburnya.

__ADS_1


...


"Yes!. Uang masuk lagi, kalau kaya gini terus lama lama makin gendut nih ATM ku". Ucap Rahma sambil menatap ponsel di tangannya.


"Ra. Bagi uang dong, mas gak ada pegangan buat makan siang nanti". Tiba tiba Andhika muncul di balik pintu kamar.


Rahma pun menoleh dan memicingkan matanya.


"Kok minta uang ke aku, gaji kamu yang hanya kamu berikan ke aku, udah abis emang?". Tutur Rahma kemudian.


"Ya habis, kan sekarang istri mas ada dua, jadi otomatis mas bagi uang nya." timpal Andhika.


"Oh begitu! Lalu kamu kasih uang belanja ke aku cuma satu juta, sedangkan kamu ngasih ibu serta adikmu lebih dari itu hanya untuk foya foya saja." Sorot mata Rahma menajam.


Ia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan suami serta ibu mertua nya


"Itu kan udah kewajiban kamu Ra, mengurus segala keperluan rumah tangga." timpal Andhika kembali.


"Lalu jika ada kekurangan kewajiban aku juga harus nambahin gitu mas. Kamu tau tidak suami tidak ada hak dalam uang yang di hasilkan keringat istri."


"Kita kan udah berumah tangga Ra, jadi ya apa apa harus sama. Lagian kerjaan apa yang bikin kamu berkeringat, tibang duduk lalu nulis doang mah gak bikin kamu capek kan apalagi berkeringat." kembali, Andhika bicara dengan entengnya.


"Keterlaluan kamu ya mas, kamu manjain ibu serta adikmu juga istri muda mu itu, tapi kamu buatku tersiksa." Ucap Rahma.


"Sudahlah gak usah berdrama seperti itu, mana sini cepet uangnya, aku mau berangkat." Ucap Andhika dengan tidak tau malu nya.


"Gak ada mas, minta saja sama ibu mu."


Kemudian Rahma keluar kamar dan berlalu ke lantai bawah.


...


Ia sangat kesal kepada istri tua nya itu.


"Istri baru mu lagi nganggur kan, kenapa gak suruh dia aja sih yang bikinin kamu sarapan, itu kan kewajiban dia juga."


Kemudian Rahma berlalu tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Mau kemana kamu, pagi pagi bukannya siapin sarapan malah keluyuran." kembali Andhika mengomeli Rahma.


"Aku ada keperluan mas, tuh istrimu lagi nganggur kan, pagi pagi enak udah selonjoran sambil nonton televisi". Ucap Rahma kembali. Ia pun mempercepat langkahnya, agar tidak berseteru yang berkepanjangan.


Andhika melangkah gontai ke arah istri muda nya.


"Win, mas pinjam uang kamu dulu, buat beli sarapan sama makan siang, mas udah gak pegang uang lagi, mas janji nanti mas ganti."


"Mas ini kenapa nggak sama Rahma aja sih minta nya kok ke aku, uang yang udah masuk ke kantong aku gak bisa balik lagi sekali pun itu meminjamnya." Ucap Wina dan beranjak dari duduknya.


"Kok kamu gitu sih Win, mas cuma minjam nanti mas ganti". Kembali Andhika berucap setengah mengiba.


"Gak ada mas. Tuh minta aja sama ibu kamu." lagi. Wina kekeh tidak mau ngasih pinjam uang nya.


"Ya udah kalau gitu bikinin mas sarapan dulu, mas mau berangkat kerja takut telat." kembali Andhika mengiba.

__ADS_1


"Males ah! Udah mandi nanti aku bau asap dapur, iiiuwww. Gak mau ah." Ucap Wina seraya bergidik.


"Kok kamu gitu sih Win, katanya sayang sama mas". Ucap Andhika.


"Iya sayang sih. Tapi aku bukan pembantu mas harus bikinin kamu sarapan, makanya pake jasa pembantu dong, biar apa apa tuh gampang gak nyusahin istri, denger ya mas aku gak biasa nyium bau dapur, aku alergi." Lagi Wina berucap.


"Ya udah aku berangkat dulu, udah telat." Ucap Andhika dengan suara melemah.


"Yaudah berangkat sih, ngapain masih diem di situ, masih mau minta duit, gak ada mas".


"Kamu gak salaman dulu sama mas". Ucap Andhika


"Udah kaya lebaran aja pake harus salaman segala, yaudah sana, aku juga mau siap siap pergi sama temen temen aku". Ucap Wina, kemudian ia pun berlalu ke kamarnya.


Begitu juga dengan Andhika, ia berjalan ke luar rumah menuju mobil yang terparkir di halaman.


Sesaat ia melihat Dina sedang menyiram tanaman, kemudian ia menghampiri adik bungsu nya tersebut.


"Din.."


"Iya bang.."


Hening beberapa saat...


Kemudian Dina berucap kembali.


"Ada apa ban?".


"mmm.. Anu- ee itu.."


"Itu apa bang yang jelas dong". Ucap Dina seraya mematikan kran airnya.


"Mas mau pinjam uang kamu boleh tidak!. Tadi mas ganti setelah gajian, mas sudah gak pegang uang sama sekali, mas perlu buat sarapan sama makan siang." akhirnya Andhika berucap dengan lugas.


Terdengar helaan nafas Dina.


Kemudian ia merogoh celana pendek yang ia kena kan.


"Ini mas, cuma ada segini, ini juga di kasih mbak Rahma tadi pagi sebelum ia berangkat." Dina menyodorkan dua lembaran warna merah ke arah Andhika.


Ada keraguan saat Andhika menerima uang itu.


"Ambil aja bang, gak usah di ganti." Ucap Dina dengan seulas senyum ia berikan.


"Ma-makasih ya Din." Akhirnya Andhika menerima uang itu.


"Sama sama bang, ya udah berangkat sana nanti telat." Ucap Dina.


Andhika pun berlalu setelah ia berikan seulas senyum pada adik bungsu nya itu.


Setelah kepergian Andhika ke kantor, ada kehebohan kembali di ruang makan, apalagi masalahnya kalau bukan perihal sarapan yang tak tersedia pagi itu.


Saat Dina masuk ke dalam, ternyata sang ibu lah biang kehebohan pagi itu.

__ADS_1


Dina pun menghela nafasnya kembali dan berlalu pergi ke arah samping kolam ikan, guna memberi si kucing makan.


-Bersambung...


__ADS_2