
Una masih berdiri mematung di depan lift, ada 5 pria tampan di hadapannya..Una bingung mau masuk atau tidak..ini terasa begitu canggung..semua menatap ke arah Una..pintu lift akan segera menutup, Maliq menekan tombol terbuka..
" kak Una..jadi mau masuk tidak??" tanya Maliq
Una pun tersadar
" silahkan duluan..saya ikut yang berikutnya"
" masuk saja..kami tak akan memakan mu" kata Alex
Una merasa ini seperti tantangan berat, dia berada di dalam lift di antara para pria tampan..
" kak un..kau cantik pagi ini" Maliq membuka obrolan
bukan merasa senang karena di puji, Una justru merasa malu, Maliq memuji nya di depan banyak orang, dan beberapa dari mereka seolah tidak menyukai itu..
" kenapa kamu datang ke sini??" tanya Una pada Maliq
" aku ada rapat sehubungan dengan kontrak yang ku tandatangani"
" oh ya??kenapa aku tak mengetahui nya??"
" kamu tak tau?? mas Alex apa kak Una tak di beri tau??"
" kamu sudah buka grup?" tanya Alex
" grup??" Una melihat ponselnya, benar saja tak ada notifikasi sama sekali, ternyata ponselnya dalam mode tanpa jaringan
" maaf..saya belum melihatnya" Una sadar dia melakukan kesalahan
" lain kali selalu standby dengan ponsel mu..karena pekerjaan kita berhubungan dengan itu" aji menambahkan, senyum sumringahnya selalu saja ada buat Una
Una mengangguk
" apa kamu matikan ponsel karena sengaja menghindari ku??" tanya Maliq
pertanyaan Maliq membuat semua penasaran
" kenapa Una harus menghindari mu??kamu modelnya..." Leo menyahut dengan nada sedikit keras khas dia
" aahh..pak Leo jangan memarahinya..itu karena aku terlalu banyak bicara padanya"
" bukan kah memang harus seperti itu??kamu menandatangani kontrak dengannya"
si perfeksionis ini mulai mengkritik, dia tidak tau betapa berisiknya si bocil Maliq ini
" saya tidak akn melakukannya lagi.." jawab Una, dia tak mau memperpanjang masalah ini lagi
" heyy..aku juga tak akan seperti itu lagi..jangan memarahinya..aku terlalu semangat mengejarnya..hehehe"
semua menoleh ke arah Maliq, Maliq langsung terdiam, aura gelap apa ini, kenapa semua langsung suram mendengar ucapannya
mereka pun keluar dan menuju ruangan masing-masing
" ayo kita bicara lagi nanti" Maliq menepuk bahu Una
Leo, aji, Alex dan restu langsung menoleh..
maliq langsung pergi mengikuti Alex
" kenapa semua orang seperti tidak suka saat aku bicara dengan kak Una??"
" kamu tanya pada ku??" tanya Alex
" lalu sama siapa??hanya ada kita berdua mas"
__ADS_1
" kalian terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru saling mengenal..apalagi kamu adalah artis dan Una hanyalah karyawan yang membawa mu"
" sungguh karena itu??tapi sepertinya bukan"
" duduklah .gak usah di bahas tentang itu lagi.."
" apa kak Una tidak ikut disini??"
" dia akan segera datang bersama dengan tim yang lain"
beberapa saat kemudian manager Maliq datang, dan mereka memulai rapatnya, banyak hal yang mereka bicarakan...
" bagaimana??apa kamu setuju dengan konsep yang kami ajukan??" tanya Alex
" kak Una??"
" ya??"
" bagaimana menurut mu??ini cocok tidak buat ku??"
" kenapa tanya padaku??" Una bingung dengan pertanyaan Maliq, bukankah di modelnya, di yang harusnya memutuskan setuju atau tidaknya dengan konsep yang di tawarkan
" kenapa kamu malah bertanya pada nya??"
" aku akan setuju apapun yang kak Una katakan"
semua melihat ke arah Una, ada apa dengan mereka, kenap Maliq seperti sangat bergantung kepada Una
" bagaimana menurut mu un??" tanya Alex
" ya??"
" Maliq bilang dia akan mengikuti mu"
" tentu saja konsep ini sangat cocok untuk nya..dengan wajah yang sangat alami, akan memunculkan kemewahan serta keindahan yang di tonjolkan dalam produk yang di bawa"
managernya pun seakan tak mengerti dengan jalan pikiran Maliq, kenapa dia sangat ingin Una yang menilainya
setelah rapat selesai, Maliq keluar terlebih dahulu, dia hendak menemui aji selalu direktur di perusahaan ini
" aku akan menemui mu kalau sudah selesai" Maliq berbisik pada Una
beberapa dari mereka heran dengan kedekatan Una dan Maliq
" apa kalian benar-benar baru saling kenal??" tanya besti
" tentu saja..kamu baru kenal beberapa hari kemarin"
" tapi kenapa kalian tampak sangat dekat..dia bahkan meminta pendapat mu untuk menentukan proyek yang dia jalani..aku iri dengan mu" besti menyenggol Una
Una tersenyum kecut, dia sendiri tak tau kenapa Maliq seperti itu padanya..
" jangan terlalu dekat dengan artis yang kamu pegang.."
Alex tiba-tiba buka suara
Una merasa tidak enak dengan sikap itu
" iya mas.."
Alex pun segera keluar, dia harus ikut rapat dengan direktur dan juga maliq
Una sedang mengerjakan beberapa tugas nya, ketika tiba-tiba Maliq menghampiri mejanya
" apa kau sibuk??"
__ADS_1
Una kaget melihat Maliq tiba-tiba muncul
" kenapa kamu di sini??" Una berbisik
" kenapa??aku ingin menemui orang yang bertanggung jawab dengan pekerjaan ku"
" ayo keluar" Una menggandeng tangan Maliq mengajaknya keluar ruangan
Alex melihat mereka, dan saat Una dan Maliq keluar ,terlihat restu yang sedang memperhatikan mereka berdua
Una membawa Maliq ke lantai atas
" kamu gak bisa kayak gini, Maliq"
" apa aku menyulitkan mu??"
" mereka berpikir kita sudah sangat saling kenal..ingat ya..kita hanya partner kerja, jadi jangan berlebihan "
" apa salah jika aku ingin akrab dengan partner kerja ku??"
" enggak salah sih..hanya saja orang akan berpikir aku mendapatkan mu karena kita dekat"
" aku akan jelaskan semuanya pada mereka..mas Alex pun tau kan"
" iya memang..tapi tetap saja ini tak nyaman buat ku"
" kak Una.." Maliq memegang kedua bahu Una, Una menjauhkan wajah nya, ini terlalu dekat
" sebenarnya aku tak peduli dengan pendapat orang lain..tapi karena ini sepertinya mengganggu mu..okey..aku akan lebih berhati-hati..ayo kita bertemu di luar jam kerja saja"
" apa maksudmu bertemu di luar jam kerja??"
" aku ingin lebih dekat saja dengan mu"
" apa kamu memang tipe pria yang suka tebar pesona??ingat ya..aku lebih tua dari mu"
" sudah pernah ku katakan kalau aku suka wanita yang lebih tua" Maliq tersenyum dengan n percaya diri
" ayo kita berhubungan layaknya artis dan partner bisnisnya..okey" Una pun bicara sambil berjalan keluar
" aku akan terus berusaha..jangan khawatir dengan perkataan orang lain..aku akan mendukungmu!!!" Maliq berteriak, berharap Una mendengar ucapannya
Una merasa penting dengan sikap Maliq yang seperti ini, apa dia memang punya kebiasaan gampang akrab dengan semua orang, atau memang ada maksud lain
Una menghela nafas panjang, dia merasa begitu lelah hari ini, bukan karena pekerjaan yang menumpuk, tapi karena sikap Maliq yang membuatnya begitu lelah...
Una berjalan menuju ruangannya, dia hendak duduk di kursinya, tapi Edo meminta nya untuk masuk ke ruangan pak direktur
Una pun menuju ke sana, Una mengetuk pintu dan membuka pintunya, ketika Una berbalik arah..tiba-tiba pandangan nya langsung menuju ke arah pria yang sedang menatap nya juga, pria yang dia kenal...
di sisi lain ada aji yang juga melihat kearahnya, Alex dan Leo juga menatapnya..hanya saja pandangan Una tak bisa berpindah dan hanya menatap ke arah pria itu...
Maliq tiba-tiba masuk
" sudah datang bang??"
Una menoleh ke arah Maliq
" dia CEO ku" dan segera berlalu menuju ke arah yang lainnya
Una kembali tertegun, dia setengah tak percaya dengan apa yang sekarang dia hadapi..
" lama tak bertemu Una..gimana kabar mu??"
mata Una berkaca-kaca..di sini banyak orang..tidak seharusnya dia mengeluarkan air mata, entah ini air mata apa, dia harus menahannya
__ADS_1
pria itu tersenyum, senyum yang selalu Una rindukan..Regan datang ke hadapannya tanpa dia ketahui..ini adalah kebetulan..kebetulan yang nyata..seperti takdir...