
sepertinya Una tetap harus menerima ajakan Regan, jika dia menolaknya akan semakin terlihat kalau Una berusaha menghindarinya..
" mas Alex duluan aja.."
Alex merasa tidak rela jika gadis itu pergi dengan pria lain..aahh pikiran apa ini..sepertinya Alex sudah mulai terlihat berlebihan
" ada apa mas?"
Regan menatap Una, menghela nafas panjang seolah ingin melepaskan beban pikirannya
" apa kamu merasa terganggu dengan adanya aku??"
" kenapa bertanya begitu??"
" hanya saja aku takut..dengan adanya aku di sini akan menghalangi pekerjaan mu dan merasa tidak nyaman..kau tau kan ada artis ku di sini..aku datang hanya untuk melihat"
" aku tau..mas Regan tak usah mengkhawatirkan aku..aku baik-baik saja..benar jika kita memang pernah ada hubungan, tapi bukan berarti hal itu akan mengubah semuanya..itu dulu buka sekarang"
maksud hati ingin membuat Una mengakui kalau hatinya masih berharap Regan, tapi sepertinya Regan justru menerima jawaban di luar keinginannya..sepertinya Una memang sudah tak menganggapnya lagi
" syukurlah jika memang seperti itu..tolong jangan terbebani dengan apapun..tentu aku tak akan kesini jika tak ada yang di kerjakan"
Una mengangguk..
" ngomong-ngomong..apa tawaranku kemarin sudah kamu sampaikan pada kepal tim mu??"
" sudah..hanya saja beliau akan meninjau kembali sebelum di serahkan kepada mu"
" padahal tak perlu melakukan itu..aku ingat proposal yang pernah di berikan pada ku sudah cukup baik"
" tetap saja kami harus mengoreksinya kembali..jika tidak ada yang di bicarakan lagi..saya pamit" Una meminta ijin
" datang lah ke kantor ku sekali-sekali..bang Zein juga ingin menemui mu..hanya saja dia tak sempat datang karena sangat sibuk"
" baiklah..aku akan datang lain kali"
perlahan langkah Una tertahan, dia masih penasaran dengan sesuatu, meski ini di luar pekerjaan tapi Una tetap ingin mengetahuinya
" maaf mas..apakah mas Regan masih tetap menerima amplop hitam itu??"
Regan terlihat serius saat Una menanyakan hal itu,
" maaf jika aku lancang menanyakannya..hanya saja ini masih sangat mengganggu ku .aku tau aku tak berhak menanyakan apapun tentang hidup mu"
" kamu berhak tau tentang apapun dari ku..aku mengijinkannya..benar..surat itu masih datang..hanya saja aku tidak ingin lagi terjebak dalam alur yang orang itu buat..aku memutuskan untuk mengabaikannya..jika dia sangat ingin aku bertanggung jawab..seharusnya dia muncul langsung pada ku kan??bukan malah meneror dengan surat semacam itu"
Una merasa lega dengan jawaban Regan, memang harus begitu..
" benar..jangan di hiraukan lagi .mas Regan fokus saja pada pekerjaan dan mas Regan..jika memang itu sangat penting bagi si pengirim, bukankah sebaiknya dia datang langsung.."
" apa kau sedang mengkhawatirkan ku??"
" tentu aku mengkhawatirkan mu..sebagai teman, aku harus mengetahui itu..karena aku sudah terlanjur masuk"
" seperti hal nya dirimu yang meminta ku untuk tak khawatir dengan hidup mu..kamu pun juga begitu, jangan khawatir dengan hidup ku"
jawaban Regan sedikit membuat Una kecewa dan juga sedih, tapi kenapa dia sedih..mungkinkah Una masih berharap kepada Regan?? bukan kah akan memalukan jika itu benar..
Una pergi meninggalkan Regan, memang semua harus berakhir .pertemuan ini hanyalah bagian dari takdir mereka, tapi bukan berarti mereka akn kembali bersama, bisa saja ini hanya salah satu dari ujian bagi mereka berdua..
Alex melihat Una yang masuk ke ruangan, dilihatnya Una yang berubah menjadi agak murung, tadi dia terlihat ceria, kenapa setelah bertemu dengan Regan dia jadi murung, ada apa dengan mereka..bukan kah mereka hanya kenal dari masa lalu..
Alex mendekatkan kursinya kepada Una,
" kamu baik-baik saja??"
__ADS_1
Una kaget dan segera terbangun dari posisinya yang awalnya menunduk bersandar pada kedua tangannya..
" eh..iya..ada apa mas??"
" tidak ada..aku hanya melihatmu berbeda saja"
" berbeda??"
" sepertinya kamu ada masalah..setelah bertemu dengan pak Regan kamu tampak berubah"
" tidak ada..itu hanya pembicaraan biasa saja .kau tau kan??kamu sudah saling mengenal sejak lama"
" hanya itu saja??"
" iya..tapi kenapa mas Alex ingin tau??"
" kita teman kerja..dan kita sedang mengerjakan proyek bersama .aku tak mau Maslah pribadi mengganggu mu dan pekerjaan kita"
" itu tak akan terjadi"
Leo melihat Una dari jendela ruangannya..Leo memang dingin, tapi di balik dinginnya dia masih ada keinginan untuk bisa bicara dengan Una, hanya saja dia tidak tau harus memulai darimana, Leo takut akan menjadi pembicaraan jika dia memperlihatkan niatnya secara umum..
Una berjalan menuju halte bis, hari ini pekerjaan berjalan dengan sangat baik, dan bisa pulang tepat waktu..
mobil itu mendekat dan berhenti tepat di samping Una, Una menoleh..tampak Leo berada di dalamnya
" ayo ku antar pulang"
" tidak usah pak..saya akan naik bis"
" naik saja..kita berada di arah yang sama..mobilku akan menghalangi bis yang masuk jika kamu tak segera masuk ke mobil ku"
Una pun segera masuk, dia tak bisa membiarkan mobil Leo terus menghalangi laju kendaraan lain karenanya
" sekalian saja aku melihatmu .tidak Maslah ini sejalan dengan arah jalan pulang"
" mereka sejenak terdiam, terasa canggung..Leo terkenal atasan yang arogan dan juga dingin, tapi sekarang dia sedang bersama Una
" kamu baik-baik saja??"
" iya??"
" kamu terlihat sangat tegang..apa karena bersama ku??"
" aahh.bukan seperti itu pak"
" sudah ku bilang jangan terlalu formal jika hanya kita berdua"
" tetap saja saya tak bisa seperti itu..ini sudah jadi kebiasaan..dan saya merasa lebih nyaman dengan panggilan itu"
" baiklah terserah kamu saja..selama itu membuatmu nyaman"
tak ada topik yang bisa di bicarakan, Una seperti nya buntu pikirannya..
" kamu betah kerja bersama kami??"
" tentu saja..semua orang sangat baik dan menyenangkan"
" syukurlah..aahhh..bukan kah sangat canggung jika seperti ini terus..kamu pasti berpikir aku orang yang sangat dingin kan?"
apa Leo membaca pikirannya
" aku hanya seperti itu saat bekerja .dan juga aku tak sedingin itu jika kita semakin dekat.."
" begitu kah??"
__ADS_1
" sepertinya aku terlalu bersemangat dalam mencoba dekat dengan mu"
Una semakin tak mengerti dengan alur perkataan Leo..
" maksud ku..aku selalu berusaha dekat dengan bawahan ku..hanya saja sepertinya mereka sudah menganggap ku sebagai orang yang terlalu kaku dan arogan"
Una melihat sikap Leo..sepertinya memang di sangat ingin bersikap baik kepada nya..apakah sekarang dia sedang curhat..
" kau tau..kenapa aku kadang keras saat bekerja??"
Una menggeleng
" sama seperti kalian, aku juga di tuntut untuk bekerja dengan baik..jika aku lunak dengan kalian tentunya kalian tidak dapat bekerja dengan sangat baik seperti sekarang..aku hanya ingin menunjukkan kalau bekerja harus dengan benar...aku takut mereka berbuat sesukanya saat dekat dengan atasan"
" bukan kah itu prasangka yang buruk??"
Leo menoleh ke Una, dia tidak menyangka jika Una mengatakan itu
" seorang atasan bukankah memang harus bersikap baik kepada bawahannya??bagaimana mereka akan menghormati anda dengan tulus jika anda bersikap keras kepada mereka..yang ada mereka hanya akan patuh saat di depan anda, tapi mereka akan menggunjing jika anda tidak ada"
Leo diam mendengar kata-kata Una
" memang benar jika dalam sebuah perusahaan itu tetap menempatkan sisi atasan dan bawahan..tapi atasan yang baik adalah dia yang bisa mengayomi dan menjadikan perasaan nyaman kepada karyawannya..dengan begitu mereka akan berpikir untuk melakukan semuanya dengan tulus tanpa paksaan..berbeda jika mereka di perlakukan dengan sangat kasar hanya karena pekerjaan yang tidak benar, seharusnya mereka di arahkan bukan di marahi..bukankah begitu??"
Una menatap ke depan, Leo menanggapi perkataan Una
" apakah harus seperti itu??" Leo dengan muka dinginnya
" yang seperti ini, ini sangat tidak ramah..cobalah untuk menambah senyuman pak..senyummmm"
Leo berusaha untuk mendengarkan Una, dia menambahkan sedikit senyum di wajahnya
" lihat itu..itu manis sekali..mulai sekarang cobalah untuk belajar tersenyum..sapalah bawahan anda dengan hangat dan berikan senyuman..mungkin awalnya itu akan sulit dan menimbulkan pertanyaan..tapi itu akan menjadi terbiasa pada akhirnya" Una mengatakan itu dengan berbinar-binar
Leo menatapnya dan tersenyum tipis, apakah Una melihat senyumnya seperti yang Una katakan, dia merasa senang dengan pujian itu
" apa saya terlalu banyak bicara??" Una menutup mulutnya, dia menyesal karena sudah menasehati Leo, dia takut Leo salah paham akan niatnya
" ku senang mendengarnya..mungkin benar yang kamu bilang..sudah seharusnya aku merubah sikap ku"
" benar kan??syukurlah kalau bapak tidak marah..saya takut anda tidak menyukai saya karena terlalu banyak bicara"
" bagaimana bisa aku melakukan itu"
Leo tersipu, mobil melaju membawa mereka ke arah yang sama, seolah ada hati yang bertebaran di atas mobil..
Leo menurunkan Una di dekat rumah Una
" terimaksih kasih banyak sudah memberikan tumpangan pak"
" segera masuk dan istirahatlah..besok masih bekerja"
" bapak juga...hati-hati berkendaranya..oh ya..jangan lupa belajar tersenyum..saya akn evaluasi besok"
" evaluasi??"
" saya akan lihat apakah apa yang saya katakan hari ini akan merubah bapak atau tidak..saya akn sangat senang jika itu berhasil"
Leo mengangguk..dia melambaikan tangannya, dan Una membalasnya..
" ternyata dia tidak seburuk yang di ceritakan..dia hanya tidak tau bagaimana caranya bersikap yang baik"
Una masuk ke dalam rumah, dan menyegarkan dirinya..hari ini saat nya untuk tidur lebih awal agar besok bisa bangun pagi..
wajah Una sepertinya sudah mulai meracuni pikiran Leo, sepertinya dia kembali jatuh cinta pada Una, mereka dulunya pernah jadi pasangan meski masih sangat muda, wajah Una masih sama seperti dulu dan sekarang semakin tambah cantik..Leo hatinya sedang tak baik-baik saja..virus Una sudah mulai menyebar ke Leo..
__ADS_1