
Una masih tertegun dengan ucapan Zein..Zein yang dulunya orang yang hangat kini sudah berubah begitu dingin..apakah status pekerjaan membuatnya jadi begitu banyak berubah
" kenapa kamu datang ke rumah Una??" tanya Zein pada Maliq
" aku sedang ingin istirahat bang..aku sedang malas ketemu wartawan"
" seharusnya kamu senang karena banyak yang tertarik dengan mu..bukan malah menghindar..mulai sekarang berhenti menemui nya di luar jam kerja..hanya ketemu jika itu urusan pekerjaan"
" aku juga ingin merasakan hidup bebas meski hanya sebentar bang"
" kalau kamu memang sangat ingin hidup bebas , berhenti saja jadi artis"
Zein terdengar begitu keras, sifat dia memang sudah sangat berubah
" sudahlah bang..biarkan saja..lagian Una juga bukan orang lain buat kita"
" berhubungan lah dengan orang yang menguntungkan buat mu..lagian kenapa kamu mau bekerjasama dengan perusahaan iklan seperti itu"
" mereka juga bagus lho bang..mereka banyak berhasil dengan yang mereka buat"
" kita harus lebih menaikkan image kita..lain kali berpikirlah lagi untuk menerima iklan"
Regan lebih memilih diam, dia tau akan semakin tak terkendali jika dia meladeni Zein..sementara Maliq, dia terlihat begitu sedih..
keesokan harinya, saat Maliq bertemu dengan Una di kantor, Maliq terlihat begitu diam..dia yang biasanya sangat ceria, seperti tak ada gairah..Una yang melihat itu langsung mendekatinya..
" kamu baik-baik saja??"
Maliq hanya tersenyum
" apa mereka menekan mu lagi??"
Maliq menghela nafas panjang, dia menatap ke atas, seolah ada hal berat yang sedang dia rasakan saat ini
" aku tak akan memaksa mu untuk mengatakannya pada ku..tapi jika kamu butuh seseorang, maka kamu bisa mengandalkan ku..jaga hati, jaga pikiran dan jaga kewarasan"
Maliq melihat Una..
" apa salahmu??"
" aku??"
" aku tak ingin mengatakannya..hanya saja aku heran dengan sikap bang Zein.."
" dia kenapa??"
Una teringat apa yang terjadi semalam..kata-katanya masih teringat jelas di benak Una
" bukankah kalian dulunya adalah partner..bahkan katanya kak Una juga sangat dekat dengan mereka..tapi kenapa bang Zein sepertinya sangat tidak suka saat aku dekat dengan mu"
" apa dia mengatakan itu??kalau dia tidak menyukai ku??"
" tidak sih .hanya saja sikap dan juga kata-katanya sangat mengganggu ku..aku sangat suka dekat dengan mu..aku juga merasa nyaman dan seperti biasa melepas semua beban saat kita bersama..tapi kenapa dia melarang aku menemui mu??"
Una menghela nafas..sepertinya Zein menganggap dia adalah penyebab dari setiap masalah, karena itu dia takut kejadian yang terjadi pada Regan dulu terulang lagi pada Maliq..tapi tentu ini beda situasi..jika dulu Regan dan Una saling mencintai..berbeda dengan Maliq yang hanya di anggap sebagai adik oleh Una
" sebaiknya kamu dengarkan saja dia.."
" lalu kita tak akan bisa ketemu seperti biasanya lagi??"
" tentu saja kita akan tetap ketemu..dan aku akan tetap mendukung mu..hanya mungkin porsi nya yang akan berbeda"
" aku tak yakin bisa melakukannya.."
uan tau bagaiman perasaan Maliq..jika dia bisa membuat nyaman orang lain, bukanlah salah dia..dia hanya berusaha untuk bisa menjadi teman yang baik...
Una berjalan di koridor, pikirannya seolah sedang berselancar entah kemana..dia bahkan tak menyadari ada aji yang sedang berjalan di sampingnya...aji terus mengikutinya, dan hanya menatapnya..
Una menghela nafas panjang dan dalam..
" apa itu sangat berat??" aji berbisik..membuat Una berteriak karena kaget
" kaget aku!!"
" itu salahmu..kenapa kamu berjalan sambil melamun seperti itu..kamu bahkan tak menyadari aku sudah berada di sampingmu dari tadi"
" benarkah??"
" nah kan..apa yang sedang kamu pikirkan??apa teman-teman mu memberimu begitu banyak pekerjaan??apa mereka tak baik pada mu??"
" bukan itu..tentu saja mereka sangat baik pada ku..hanya ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran ku"
" apa kamu sedang sibuk sekarang??"
__ADS_1
" tidak begitu sih.."
" ayo ikut aku"
" ini masih jam kerja..jangan memperlihatkan kedekatan kita karena mereka akn salah paham nantinya"
" aku sedang ingin berbicara masalah pekerjaan dengan mu..jadi tak masalah kan??"
aji menyeret Una pergi..
Maya melihat mereka dari jauh..terlihat tidak suka dengan situasi itu
Maya memang sudah lama menyimpan rasa pada aji, hanya saja aji tidak pernah menanggapinya..meski Maya sudah banyak memperlihatkannya..
" kenapa pak aji mengajak anak itu??dia hanya seorang pegawai baru"
penasaran yang terus menggelitik di pikiran Maya..dia memutuskan untuk mengikuti kemana Una dan aji pergi..
" minum ini" aji menyodorkan minuman kaleng pada Una
" ku pikir bapak akan mengajak ku makan atau apalah gitu.."
" apa kamu berharap begitu?? dan apa itu tadi??bapak??" aji tertawa terbahak-bahak
" kenapa memangnya??ini kantor..dan kamu adalah atasan ku..apa jadinya jika aku terus memanggil mu kakak..kakak..terus..."
" aku hanya tidak terbiasa dengan panggilan itu"
" mulai sekarang harus mulai terbiasa.."
" jadi apa yang membuat mu kepikiran??"
" kamu masih ingat Zein kan ?? yang manager nya mas Regan"
" tentu saja..aku sudah pernah bertemu dia juga"
" oh ya?? dia banyak berubah kan??"
" kamu pun berpikir begitu?? aku pun juga berpikir dia sangat banyak berubah"
" kami dulu sangatlah dekat..tapi sekarang..dia bahkan melarang ku untuk terlalu dekat dengan Maliq"
" dia adalah artis yang bekerjasama dengan mu..bagaimana bisa kalian bekerja bersama jika tidak ada keakraban"
" apa dia sedang terkena sindrom bos??"
" di dulunya hanya seorang manajer artis..bisa saja setelah dia menjadi direktur dia menjadi sangat bersemangat..jiwa bisnisnya meronta..makanya dia menjadi sangat kaku"
" apa kamu terganggu dengan perubahan itu??"
" sebenarnya buat aku pribadi bukan lah jadi masalah..selama itu tidak mengganggu pekerjaan dan hidup ku..bagi ku semua baik-baik saja..hanya saja aku kasian pada Maliq"
" kenapa??"
" dia sangat tertekan dengan perlakuan agensinya yang selalu menekan dan mengekang nya"
" apakah seperti itu??bukan kah Regan adalah CEO di sana??"
" tapi sepertinya semua mobilitas dalam agensi di atur sama kak Zein..saat aku membicarakan apa yang terjadi pada Maliq, Regan bahkan tak tau apapun"
" kamu juga sering bertemu Regan??"
" hanya beberapa kali saj..itu juga hanya membicarakan tentang pekerjaan dan juga maliq"
" sepertinya kalian memang di takdir kan untuk selalu bertemu"
Una menoleh, apakah aji masih menganggap dia sebagai wanita pilihannya,,
" aku berusaha keras untuk memisahkan kalian dengan cara yang adil, tapi pada akhirnya kalian malah bertemu kembali"
" kenapa membicarakan itu lagi..kita tadi membicarakan soal Maliq"
" aduuhh..kok aku jadi baper gini ya" aji jadi merasa sedih..
" aku tidak bermaksud membuat teringat dengan yang lalu-lalu"
" tak apa-apa..aku saja yang mungkin tidak bisa lepas dari mu.."
aji adalah penolong bagi Una, tapi entah kenapa Una bahkan tak bisa merasakan cinta sedikit pun, meski dulu pernah Una mengejarnya, tapi perasaan itu sama sekali tak di rasakan nya lagi..Una hanya menyayangi aji sebagai teman yang selalu ada buat dia
Maya mendengarkan semua obrolan mereka, hatinya tidak terima dengan apa yang sudah dia dengarkan
melihat Una dan aji akan segera pergi, dia segera berlari menghindar..
__ADS_1
" dia bukan gadis hebat..dia hanya gadis biasa yang sedang beruntung karena di dekati sama pak aji"
waktu berjalan begitu cepat, hari ini gak ada lembur..semua merasa begitu senang
" apa ada yang mau nongkrong??" tanya pak Ferdi
semua terdiam tak ada yang menjawab
" kita pulang lebih awal dari biasanya..bukan kah jiwa muda kalian sedang meronta-ronta sekarang??"
" kemarin-kemarin kita sudah sangat bekerja keras pak..sekarang saat nya untuk pulang ke rumah dan istirahat..anggap ini membayar tenaga kita yang sudah terkuras akhir-akhir ini"
" aku pulang duluan ya" pamit Una
" ayo bareng" kata alex , mereka berdua keluar ruangan bersama..
" ayo ku antar kamu pulang"
" gak usah mas .aku pengen naik bis aja"
" baiklah kalau begitu.."
" aku keluar duluan ya" Una pamit, dia harus segera menuju bis agar tak ketinggalan
di depan gedung Una bertemu dengan Maya..
" mau pulang ya??"
" iya mbak"
" mau bareng??"
" tidak terimakasih..saya mau naik bis saja"
" Una..Una..sini sebentar"
Maya memanggil Una, dia melambaikan tangannya berharap Una cepat-cepat mendekatinya
" ada apa mbak??"
" kamu sudah punya pacar belum??" tiba-tiba saja mata bertanya kepada Una
" memang kenapa mbak??"
" apa tidak boleh?? aduuuh..maaf ya..aku tidak bermaksud untuk ingin tau..hanya saja aku lihat kamu selalu pulang sendirian..bagaimana kalau aku kenalin ke cowok??"
" saya sudah biasa mbak seperti ini..tidak terima kasih"
" dia kaya lho..dia seorang pengacara.."
" aaahh..iya" Una menanggapinya dengan tersenyum
" kamu mau gak??dia memang agak tua..umurnya udah 50an gitu..tapi gak apa-apa lah..daripada kamu kerja keras seperti ini kan..lumayan lho..dapat om-om kaya"
Una yang mendengarnya jadi tidak paham dengan maksud Maya..dia sedang menuju ku atau sedang mengatai ku..kenapa itu terdengar seperti dia sedang mengolok-olok Una..
" jika memang itu bagus..kenapa gak buat Mbak Maya saja"
muka Maya seketika berubah
" kamu pikir aku cocok dengan orang seperti itu??aku ingin mengenalkan mu karena aku pikir itu cocok buat mu..aku sedang berusaha baik dengan mu"
" terimakasih atas perhatian yang Mbak Maya berikan ke saya..hanya saja maaf..saya tidak tertarik dengan tawaran itu..saya pergi dulu"
Una hendak pergi, dia berjalan dengan perasaan kesal
" kamu pikir dengan dirimu yang sekarang bisa mendapat pria yang lebih baik??"
Una menghentikan langkahnya, berbalik menghadap ke arah maya
" kamu pasti berpikir untuk mendapatkan pria yang kaya kan di sini??karena itu kamu mendekati pria-pria dengan posisi tinggi di sini"
" apa maksud mbak Maya??"
" jangan pernah berpikir kamu bisa mendapatkan pak aji"
akhirnya Una tau arah tujuan dari Maya
" jika tujuan mbak Maya untuk mendapatkan pak aji..salah jika mbak membully seperti ini..silahkan saja mbak Maya memilih siapa yang ingin mbak Maya kencani..saya tidak peduli.."
" kamu pikir kamu siapa??sombong sekali kamu berani bicara seperti itu pada ku"
" aku seperti ini karena masih menghormati mbak Maya..karena jika rasa hormat saya sudah hilang, saya tidak seperti ini lagi..dan juga jika mbak Maya berpikir saya ada di sini untuk merayu para pria kaya..sepertinya itu lebih cocok buat mbak Maya"
__ADS_1
Una melangkah pergi dan tak menoleh lagi..Maya merasa begitu geram..mental nya serasa terbanting dengan ucapan Una..
" kamu akan tau akibatnya jika bermain dengan ku" ucap Maya dengan nada marah