
Akhirnya keluarga Dina menikmati jamuan makan malam di rumah Ardan. Mama tentu excited dengan Dina. Calon mantu kebanggaannya.
"Om dengar kamu banyak memenangkan tender," puji papa Dina akhirnya. Selama ini dia agak memandang sebelah mata karena ketidak seriusan Ardan dalam mengurus bisnis papanya
Ardan mengangguk dan tersenyum.
"Iya, Om."
"Asal Ardan serius, pasti sukses. Balapan yang sulit aja banyak pialanya. Apalagi bisnis ya," ucap Mama Dina ikut memuji.
"Aku juga kaget Ardan berhasil membantu papanya memenangkan tender," kata mama bangga.
"Ardan mulai serius memikirkan masa depannya," ucap papa ringan sambil memotong daging steak nya.
"Ardan juga banyak membantu Dina selama di rumah sakit ," ucap Mama Dina mengerling pada mamanya.
"Wajiblah Ardan membantu Dina," kata Mama kemudian tertawa kecil bersama Mama Dina.
Ardan mulai gerah dengan pembicaraan yang mulai menjurus ke arah yang ngga dia sukai.
"Pasti sekarang banyak anak anak relasi yang minta dijodohkan, ya," pancing Papa Dina penuh makna.
"Begitulah," sambar papa langsung.
"Sangat wajar, kamu sekarang sudah sukses. Kamu sekarang bisa memiliki pilihan dengan kriteria istimewa," ucap Papa Dina lagi.
Ardan hanya tersenyum kecil.
"Dulu kalan berdua pernah dekat ya," ucap Mama Dina penuh makna.
"Kalian ngga ingin dekat lagi seperti dulu?" tanya Mama Dina lagi.
__ADS_1
"Aku sih dari dulu maunya Ardan dengan Dina. Karena itu aku memaksa Ardan membantu papanya dalam bisnis. Dina sangat istimewa, dia berhak mendapatkan pria yang istinewa juga," tuntas mama cepat.
Ardan lamgsung tersedak dan batuk batuk.
"Kamu kenapa, nak?" tanya mama cemas sambil mengulurkan segelas air putih.
Begitu juga mama Dina dan Dina menatap Ardan dengan cemas. Sedangkan papa dan Papa Dina hanya melirik Ardan saja.
Setelah beberapa kali meguk minumnya. Ardan baru bisa menghilangkan batuknya.
"Aku juga suka sama Ardan. Biarpun dulu suka balapan, aku tau Ardan anak yang bertanggungjawab," puji mama Dina setelah batuk Ardan reda.
"Bagaimana kalo kita tanya anak anak kita secara lamgsung," tukas Papa Dina sambil melihat Dina dan Ardan bergantian.
"Aku rasa anak anak kita setuju," potong mama cepat. Beliau takut Ardan akan mengajukan penolakannya. Terbayang di ingatannya Ardan yang tetap teguh memilih Wina.
"Ma," kata papa sambil menggenggam tangan istrinya, mengabaikan protes sang istri melalui tatapan matanya.
Dina terdiam. Dia menunduk. Sebenarnya dia sangat menyukai Ardan sejak mereka masih SMA. Bahkan mereka sempat bersama beberapa tahun yang lalu.
Tapi sikap Ardan yang menganggap mereka hanya teman setelah mereka putus, membuat rasa percaya dirinya berkurang.
"Dina.... " Dina menggigit bibirnya. Wajahnya merona.
"Katakan sayang," ucap mama penuh semangat.
Dina menatap.Ardan yang kini memainkan sendok dan garpunya.
"Dina ikut kata mama aja, Om," ucapnya pelan.
Mama sangat senang mendengarnya. Beliau saling berpandangan dengan mama Dina dengan mengembangkan senyum senang.
__ADS_1
Ardan ngga kaget dengan kata kata Dina. Sejak Ardan memutuskan Dina, gadis itu masih sering mengirim pesan ingin kembali padanya. Tapi Ardan selalu menolaknya.
"Kalo Ardan, bagaimana?" tanya papa Dina tenang.
Sebagai laki laki, dia memahami gestur tubuh Ardan yang siap menolak putrinya. Mungkin juga salahnya, waktu mereka berpacaran dulu, Beliau selalu memberikan isyarat lamou kuning. Sampai akhirnya keduanya benar benar putus dan tidak berhubungan lagi.
Mamanya menendang kakinya di bawah meja. Ardan tau itu kode keras mamanya.
"Ardan?" panggil mama Dina penuh harap.
Ardan menghela nafas. Terbayang wajah Wina yang memang sudah siap menyerah.
"Tante, Om, saya sekarang bersahabat saja dengan Dina. Apalagi kita sudah lama ngga bertemu," jawab Ardan akhirnya.
Papa Dina tersenyum. Beliau ngga marah dengan jawaban Ardan. Walaupun papa Dina melihat kekecewaan di wajah istrinya.
"Ardan, kalo sahabat, berarti kamu masih ada rasa dengan Dina, kan," ucap mamanya lagi dengan penuh tekanan.
"Berikan mereka waktu," kata papa yang mulai cemas melihat raut tegang istrinya.
"Om, tante, sebelumnya saya minta maaf. Saya sudah punya gadis yang saya suka. Bahkan jauh sebelum saya mengenal Dina," kata Ardan mantap ketika mendengar ucapan papanya yang ternyata ngga benar benar membantunya.
"Ardan," seru mamanya yang ngga bisa menahan emosinya.
Dina meraaa sakit di hatinya. Pasti Wina, duganya yakin dalam hati. Sebetulnya, dia yang sudah merebut Ardan dari Wina.
Mama Dina menatap suaminya yang hanya tersenyum.
"Om, salut dengan keberanian kamu. kita memang harus berani membuat keputusan," ucap papa Dina ringan.
"Sudah, Ma," bujuk papa berusaha menenangkan perasaannya.
__ADS_1
Ardan kega mendengar kata kata papa Dina. Dari dulu papa Dina memang kurang menyukainya.