Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Setahun Kemudian


__ADS_3

"Akhirnya kamu kembali, Win," seru Dewi sambil memeluk sahabatnya di bandara. Dia khusus menjemput Wina ketika tau sahabatnya akhirnya pulang juga ke tempat penuh cinta dan lukanya.


Wina tersenyum lebar membalas pelukan sahabatnya yang sudah setahun ngga bertemu.


"Kamu tambah cantik aja," puji Dewi sumringah.


Wina hanya tertawa sambil meneliti penampilan sahabatnya. Sangat berbeda.


"Kamu udah ngga menor lagi," cetusnya sambil mengagumi dandanan minimalis Dewi.


"Dulu aku menor?" tanya Dewi sewot.


Wina tertawa lagi. Sangat lepas.


"Kamu ngabisin lipstik sama bedak cuma semimggu. Bayangin aja sendiri," ledek Wina membuat wajah sewot Dewi lumer. Dia pun ikut ngikik bersama Wina.


"Iya, aku ngga nyangka banget, dulu aku boros banget sama make up," kekeh Dewi.


"Kamu sendiri aja?" tanya Wina karena ngga melihat yang lain. Mereka melangkah santai keluar dari bandara. Wina hanya menenteng satu koper saja.


"Kamu nyari Ardan?" Dewi balas meledek membuat wajah Wina merona.


Dadanya selalu berdebar. Padahal hanya namanya saja yang dia dengar, tapi hatinya pasti dipenuhi bunga bunga.


"Maksudnya bos Gaga, Adhi sama Sita," ngeles Wina.


Dewi malah tertawa karena Wina ngga bisa menyembunyikan perasaannya.


"Mereka nunggu di parkiran. Biasa, Sita dandan dulu," jelas Dewi dengan nada riang.


"Belum berubah ya," kekeh Wina. Sahabatnya yang satu itu ribet banget kalo dibawa bawa pergi. Pasti sekarang dia lagi membetulkan dandanannya dulu. Seperti Dewi di masa lalu.


"Belum update dia," cela Dewi masih ngikik. Mumpung orangnya ngga dengar. Paling bersin bersin.


"Aku ketemu papa kamu dua hari yang lalu. Ngasih tau kalo kamu mau pulang. Ih, jahat, ngga ngasih kabar apa apa," kata Dewi gemas sambil mencubit pinggang Wina yang langsung saja berlari menghindar.


Keduanya pun tertawa tawa senang. Dalam tawanya Dewi tau, ada luka yang disembunyikan Wina.


"Anak hilang, Lo balik lagi," seru Adhi sambil berlari lari kecil menghampiri keduanya. Sita menyusul di belakang bersama Gaga.


"Wina,,,, tega Lo ngga ngasih kabar sama kita kita," teriak Sita senang. Dia ngga peduli perhatian orang orang tertuju padanya. Di hatinya hanya ada rasa gembira karena bertemu Wina.


Mereka berdua pun berpelukan


"Aku senang kamu pulang," ucap Sita tulus. Ada keharuan menyeruak.di dadanya. Tanpa sadar matanya berkaca kaca. Begiti juga Wina dan Dewi yang sudah menahannya sejak tadi.


"Jangan nangis wooooiii... Nanti gue dikira yang bikin kalian patah hati," seru Adhi meledek, menyembunyikan perasaan terharunya.


"Mimpi Lo ketinggian," hina Sita sinis.


"Ngarep Lo ya," sarkas Dewi ngga mau kalah.


Adhi tertawa tergelak hingga air mata yang mereka tahan sejak tadi menetes juga.

__ADS_1


Wina tersenyum menatap Gaga yang berdiri sambil melipat tangannya di dada. Tapi bibir Gaga mengembangkan senyum lebarnya.


"Kamu kembali Win."


Gaga masih ngga percaya melihat Wina berdiri ngga jauh darinya. Gadis itu masih tetap sama seperti dulu.Hanya sekarang yang melekat di tubuhnya barang barang branded semua.


Ketika Dewi mengabarkan kalo Wina akan pulang hari ini, Gaga benar benar terkejut. Gaga mengira kalo Wina akan menetap di Amerika, bersama opa dari mamanya. Selama setahun tanpa kabar. Untung orang tua Wina yang baru kembali sebulan yang lalu memberitau Dewi yang sedang berkunjung ke rumah Wna, kalo putri mereka akan kembali hari ini.


"Ya."


Wina tersenyum pada mantan bosnya.


"Belum nikah juga?" ledek Wina membuat ketiga sahabatnya tertawa, lebih tepatnya mentertawakan Gaga membuat laki laki ini jadi kesal.


"Bulan depan aku nikah. Awas kalo kamu ngga datang," kata Gaga setengh mengancam membuat keempatnya tertawa senang.


"Aku senang dengarnya. Bosku yang sudah kelebihan umur akhirnya melepaskan masa lajangnya juga," ledek Wina panjang lebar, kembali ketiganya menterawakan Gaga.


Dasar anak buah ngga ada ahlak, batin Gaga ngedumel.


"Mantan bos," ralat Adhi.


"Oh iya, kamu sekarang udah jadi bos juga ya Win," sergah Dewi baru ingat.


"Bukan bos, staf aja," kata Wina merendah. Opa Hadikusuma memintanya membantu sepupunya di perusahaan textile nya. Makanya Wina akhirnya kembali. Walaupun perasaannya sangat berat. Karena kenangan Ardan terlalu kuat tertanam di hatinya.


"Win, aku ikut kerja sama kamu ya," kata Dewi merayu. Dia teringat akan komitmennya dengan Dimas. Sampai sekarang hubungan mereka sangat manis.


"Ngga ada ceritanya kamu pindah kerja," larang Gaga galak.


"Aku juga pengen nikah sama Dimas, Ga. Emang kamu udah revisi peraturan kantornya," cibir Dewi kesal.


Wina tersenyum melihat Gaga yang menatap Dewi kesal.


Tentu Gaga ngga mau kehilangan anak buahnya yang potensial. Cukup divisi analis data yang kehilangan Wina.


"Nggak. Biar Dimas aja yang resign," tukas Gaga seenaknya membuat Dewi mencak mencak.


Wina, Adhi dan Sita ngga bisa lagi menahan tawanya


Dasar bos egois, cela Sita dalam hati.


Bos ngga ada hati, hina Adhi membatin.


Kapan kamu mikir nasib pegawaimu, Ga, batin Wina geli.


"Aku dengar makian kalian," sergah Gaga membuat ketiganya makin tertawa.


"Gaga, aku aja yang resign. Jangan Dimas," kesal Dewi setengah berteriak sambil menghentakkan kakinya.


Seperti Sita tadi, Dewi pun ngga mempedulikan orang orang yang memperhatikan mereka.


Rasa kesalnya udah sampai ke ubun ubun. Padahal dia dengan mudah keterima di tempat Wina. Pasti gajinya juga sebanding dengan gaji yang diterimanya selama ini.

__ADS_1


Enak aja nyuruh nyuruh Dimas resign. Padahal karir Dimas lagi bagus bagusnya. Gimana Dewi ngga ngeredek dengan bosnya.


"Dimas aja yang ikut kerja ke tempatku. Nanti aku ngomong sama sepupuku," kata Wina sengaja memancing di air keruh.


"Kamu jangan macam macam Win. Berani banget kamu ngambil karyawan di tempat kamu pernah bekerja," tuding Gaga dengan mode marahnya.


Wina kembali terkikik.


"Trus nanti Dimas kerja dimana. Susah tau langsung dapat kerjaan dengan gaji gede," Dewi balas memarahi Gaga.


"Dasar matrealistis," hina Gaga terang terangan.


"Biarin. Udah tau aku dari dulu kan," sentak Dewi tambah galak.


"Udah, kita makan makan dulu ke kafe. Urusan kerjaan Lo sama Dimas nanti aku omongkan ke papa," kata Gaga mengalah membuat keempatnya langsung menyatukan tangan mereka masing masing di udara saking girangnya.


"Berhasil. Yes!" seru Dewi senang. Begitu juga Adhi, Sita dan Wina ikut tertawa senang melihat kegembiraan Dewi.


Sementara di balik salah satu mobil yang terparkir, Ardan menatap wajah ceria Wina dengan hati sendu.


Gaga menelponnya tadi malam.


"Besok jam sepuluh kami akan menjemput Wina."


Ardan diam ngga menjawab. Jantungnya berdebar kencang. Winanya sudah kembali. Winanya.


Ardan memejamkan mata dengan hati sedih bercampur rindu.


Tiga bulan setelah dia sembuh, Ardan menemui Oma Rahayu, berniat memohon maaf atas perbuatan mamanya.


Tapi Oma Rahayu dengan dingin memintanya meninggalkan Wina. Ternyata Wina mengalami koma setelah melakukan operasi jantung. Dan sampai hari itu Wina masih belum sadar. Mungkin karena itu keluarga besar Wina masih membencinya.


Keluarga besarnya sudah pasrah, tapi masih tetap belum mau memberitau Ardan tentang keberadaan Wina.


Ardan sudah menyuruh banyak orang untuk mencari Wina, tapi kekuasaan keluarga Opa Hadikusuma bukan kaleng kaleng. Wina sama sekali ngga bisa dia temukan.


"Heh, kenapa kamu diam aja. Kamu jangan jadi pengecut, Ardan," sentak Gaga membuyarkan lamunamnya.


"Terimakasih infonya," kata Ardan, kemudian menutup hpnya.


Gaga melirik ke bayangan laki laki yang kini bersembunyi di belakang mobil.


Lo udah lihat Wina, kan, bro, batin Gaga sambil tersenyum miring.


Sampai kapan Lo mau jadi pengecut.


Wina mengikuti arah lirikan Gaga. Tapi dia ngga melihat orang yang dia kenal.


Hatinya berdetak halus. Tanpa sadar kaki Wina melangkah mendekati tempat Ardan yang sedang menyembunyikan diri.


Gaga ngga menahan, malah membiarkan.


Kegep Lo, tawa Gaga dalam hati.

__ADS_1


"Win, ngapain ke situ. Nih, mobil si bos. Ngga ganti dia. Udah lupa?" seru Adhi menahan langkah Wina yang sudah semakin dekat ke arah tempat persembunyian Ardan.


Reseh Lo, Dhi, maki Gaga sewot. Padahal beberapa langkah lagi mereka bakal ketemu. Gagal sudah, omel Gaga ngga berhenti dalam hati.


__ADS_2