Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menduga


__ADS_3

Mama.dan papa Ardan segera menghampiri putranya yang sudah membuka matanya. Dina menghapus air matanya melihat laki laki yang selalu di cintainya akhirnya sadar juga.


"Wina...." bisiknya lemah dengan mata memcari keberadaan Wina membuat hati Dina mencelos.


"Wina belum sadar," sahut papa sambil mengelus kepala Ardan. Matanya pun berkaca kaca. Bersyukur dan penuh haru. Akhirnya anaknya sadar juga.


"Papa panggil dokter dulu," kata papa Ardan yang melihat Ardan mengernyit menahan sakit ketika akan bangun.


Tapi sebelum pergi papa menekan tombol tempat tidur hingga bisa membuat anaknya nyaman dengan sudut tiga puluh derajat.


Rasanya sangat bahagia melihat anaknya sudah sadar.


Waktu beliau mendekati kamar Wina, papa Ardan membuka pintu yang ngga rapat. Kamar itu sudah kosong. Hatinya merasa kecewa.


"Pak Putra?" sapa dokter Burhan yang sedang memantau pasien.


"Kebetulan bertemu, dokter Burhan," ucap papa Ardan dengan ekspresi cerah.


"Ardan sudah sadar."


"Syukurlah. Mari, kita lihat," sambut dokter Burhan penuh semangat.


"Wina masih belum sadar kata dokter Eri," cicit dokter Burhan membuat papa Ardan terdiam.


"Mungkin sebentar lagi," lanjut dokter Burhan sambil menepuk bahu papa Ardan.


"Semoga dokter," kata papa Ardan juga berharap.


Wina sebagai perempuan tetap lemah di fisiknya. Walaupun Ardan sudah melindunginya, tetapi pasti tetap ada efek benturan itu di tubuhnya.


Dokter Burhan tersenyum melihat Ardan yang sedang diberikan minum oleh dokter Dina. Dalam hatinya bertanya tanya tentang hubungan keduanya. Padahal desas desus yang berkembang, Ardan adalah pacar Wina yang sama sama menjadi korban tabrakan truk.


"Bagaimana Ardan? Ada yang sakit?" tanya dokter Burhan ramah.


Ardan tersenyum, menggelengkan kepalanya. Tadi awalnya memang terasa perih di dada dan punggungnya, mumgkin karena gerak refleknya yang ingin cepat cepat bangun. Tapi sekarang udah ngga terasa.


"Syukurlah. Kamu jangan memaksakan diri dulu ya, jarus pelan pelan. Cedera yang kamu alami cukup parah," kata Dokter Burhan menjelaskan.


"Ya dokter," jawab Ardan dengan suara pelan.


"Wina belum sadar," tukas papa Ardan seakan tau apa yang Ardan pikirkan, dan membuat Ardan memejamkan mata.


"Jangan khawatir, Wina juga dalam fase pemulihan. Mungkin sedikit lebih lama," kata dokter Burhan menenangkan Ardan.


Syukurlah, batin Ardan lega. Tapi kalimat terakhir mamanya yang mengatakan Wina akan bertunangan dengan dokter Eri, betul betul mengganggu pikirannya.


Ardan ingin nelihat Wina. Tapi dia merasa tubuhnya sangat lemah. Ardan merindukan gadis itu


Sementara mama Ardan melengos, dia berharap gadis itu mengalami sakit yang terparah agar ngga bisa mengganggu putranya lagi.


"Kamu masih harus diinfus, ya. Agar kondisi kamu cepat fit. Fisikmu sangat kuat, om yakin kamu akan sembuh," kata dokter Burhan lagi.


"Ya, Om," balas Ardan dengan suara lemahnya.


"Saya ngecek pasien yang lain dulu. Kalo ada apa apa, hubungi saya," pamit dokter Burhan.


"Terimakasih, dokter," ucap Dina sopan. Sementara mama Ardan hanya memganggukkan kepalanya.


Papa Ardan mengantarkan dokter Burhan keluar.


"Jangan khawatir tentang Ardan. Dia akan cepat sembuh," kata dokter Burhan sambil pergi.


"Semoga, dokter," balas papa Ardan sambil melihat kepergian dokter Burhan.


"Orang tuamu mau ke sini?" tanya mama Ardan senang.


"Iya, tante. Sedang dalam perjalanan," kata Dina juga senang.


"Ardan, kamu lapar kah?" tanya Dina perhatian.

__ADS_1


"Tidak. Makasih," tolak Ardan pelan.


"Oke, aku pamit ya. Om, tante, saya pamit, mau ngecek paaien," katanya sambil menyalami tangan orang tua Ardan.


"Hati hati sayang," ucap mama Ardan lembut.


"Ya, tante," kata Dina sambil membuka pintu ruang rawat inap Ardan dan menutupnya.


"Kamu lihat, betapa setianya dia. Bukan seperti seseorang, yang bahkan belum sadar tapi sudah menetapkan hari pertunangan," kata mama Ardan menyindir tajam.


"Wina.... nggak.... begitu," bela Ardan dengan suara lemahnya.


"Dia dan keluarga miskinnya sama sekali ngga menghargai kita. Mentang mentang.udah disetujui Oma Rahayu, langsung saja mencampakkan kamu," kata mama Ardan mulai meninggikan suaranya.


"Bahkan papanya pun ngga berpamitan pada papamu. Padahal tadi malam papamu menjenguk calon mantunya, tapi kasiannya tetap ngga dipamitin," sindir mama sinis.


Ardan menatap papanya yang sudah memerah wajahnya menahan marahnya.


Kata kata mama sangat keterlaluan, batin Ardan juga geram.


Suasana pun menjadi hening.


Lima detik.


Sepuluh detik.


Dua puluh detik.


TOK TOK TOK


Mereka semuanya menoleh ke arah pintu yang dibuka.


"Pagi, tante, om," sapa.Tiara super ramah


"Hai, Ardan sudah sadar," seru Tiara antusias, berjalan cepat menghampiri Ardan.


"Syukurlah Ardan sudah sadar," kata Pak Zen yang bersama istrinya mendekati mama dan papa Ardan.


"Bu Karin udah sehat?" sapa mama Tiara ramah.


Mama Ardan mengembangkan senyum manisnya.


"Sudah mendingan Bu Astari. Silakan bu," kata mama.Ardan sambil menekan tombol kursi roda sehingga bergerak ke arah sofa rumah sakit.


"Tiara ngga sabar ingin melihat Ardan. Khawatir banget," kata Mama Astari dengan mata menatap anaknya yang kini sudah di samping Ardan.


"Memang kemarin kemarin keadaan Ardan mengkhawatirkan," kata mama Ardan membenarkan.


Dadanya bangga, di saat anaknya sedang lemah ngga berdaya, sudah ada dua gadis cantik dan berkelas tinggi yang tetap mau bersamanya.


Wina lewat aja,, ngga ada apa apanya, sinisnya dalam hati.


"Ardan mengalami cedera parah, ya?" tanya mama Tiara-Bu Astari dengan nada khawatir.


"Lumayanlah, Bu. Mungkin butuh waktu sebulan untuk pemulihannya," kata Mama Ardan menjelaskan.


"Mungkin karena benturan, ya..Tega banget supir truk itu," kata mama Tari menyalahkan supir truk membuat mama Ardan menahan nafas sebentar.


Itu keponakanku, batin mama Ardan sedikit kesal. Biar bagainanapun, Berdy adalah keponakannya yang penurut. Pasti dia juga merasa bersalah kareana menabrak Ardan. Sekaramg terpaksa menyembunyikan diri untuk melindungi tantenya.


"Bu Karin, maaf saya agak kepo. Gadis itu yang di pesta Oma.Rahayu, apakah pacar Ardan?" tanya mama Tiara sedikit berbisik.


Mama Ardan tertawa kecil.


"Mereka sudah lama putus," jawabnya ringan dalan tawanya.


Wajah Mama Tiaara memancarkan harapan.


"Syukurlah. Saya kaget waktu Ardan mengaku jadi pacar gadis itu," ucap mama dengan menyunggingkan senyum senang

__ADS_1


,"Apalagi saya. Mungkin Ardan hanya ingin membantu saja agar gadis itu tidak mendapat malu."


"Gadis itu pun sekarang akan bertunangan dengan dokter Eri, " cibir mama Ardan sinis.


Papa dan Ardan yang mendengar ucapannya saling tatap dengan jengah.


Padahal belum tentu benar, batin keduanya kesal.


"Oh ya? Kami malah baru tau, iya kan, Pa," respon mama Tiara sambil menatap suaminya.


"Iya, saya juga baru dengar," ucap Pak Zen menanggapi perkataan istrinya.


"Istri saya hanya menebak," kata papa cepat untuk memutus aliran sumber gosip.


"Pasti benar lah, Pa," kata mama Ardan keras kepala.


"Wina aja belum sadar, Ma," tukas papa Ardan berusaha sabar, berusaha menutupi kekesalannya.


Orang tua Tiara saling pandang dengan perasaan ngga enak.


"Nanti saja kita konfirmasi ke Oma Rahayu," lerai pak Zwn berusaha memadamkan api.


Papa Ardan tersadar dan mengembangkan senyum lebarnya.


"Maaf ya, kami malah berdebat sendiri."


"Iya, saya juga belum memastikan. Hanya mengira saja," kata mama Ardan yang mulai paham situasi.


"Tapi memang berita panas ya, kalo cucu Oma Rahayu jadi bertunangan dengan Wina," kekeh mama Tiara.


"Mama," cicit suaminya sambil menyenggol lengan istrinya agar jangan diteruskan lagi.


"Saya juga berpikir begitu," tanggap mama Ardan ikut tertawa.


Papa Ardan dan papa Tiara saling pamdang sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan istri istri mereka.


"Mamaku terlihat cocok.dengan mama kamu," ucap Tiara yang dari tadi memperhatikan perdebatan orang tua mereka.


Ardan hanya menarik sedikit sudut bibirnya


Sebenarnya Ardan ingin memejamkan matamya, membayangkan Wina yang sangat dia rindukan.


"Kamu ngantuk?" tanya Tiara lagi ketika melihat mata Ardan yang sayu.


"Iya."


"Aku senang kamu sudah sadar. Aku ikut menunggu operasimu sampai selesai," kata Tiara lembut.


Ardan ngga bereaksi apa pun, selain tangannya mulai menutup mulutnya yang menguap.


"Besok aku datang lagi ya," ucapnya sambil tanpa tau malu akan mengecup pipi Ardan, tapi Ardan menahab bahu Tiara sambil memggelengkan kepalanya.


"Oke," kata Tiara mengerti walau hatiyua terasa sakit akan penolakan Ardan.


*


*


Ardan yang sedang terlelao kaget mendengar jeritan penolakan mamanya..


"Maaf, nyonya. Kami harus membawa anda ke kantor polisi," ucap seorang polisi yang kira kira seumuran dengan Ardan.


Ardan menatap sekelilingnya. Mamanya terlihat histeris dalam pelukan.suaminya.


Mengapa ada polisi? batin Arda merasa mgga enak hati.


"Pal Polisi, ada apa sebenarnya?" tanya Ardan pelan.


"Mengapa mama saya dibawa ke kantor polisi?" lanjut Ardan bertambah heran melihat papanya yang berekspresi datar dan membiarkan istrinya memeluknya sambil menangis.

__ADS_1


"Ibu anda di duga terlibat dalam kecelakaan yang dialami anda dan teman wanita anda," jelas polisi membuat Ardan seakan mendengar suara petir menggelegar di depannya.


__ADS_2