
"Bos, kita bareng mereka?" seru Dewi excited ketika melihat Dokter Eri, dokter Ilham dan dokter Safa di samping dokter Lia.
Apalagi melihat dokter Eri. Tapi sayang, Tedi sang menejer keuangan rumah sakit ngga ikut.
Adhi dan Sita juga sangat senang, karena idola mereka ada di sini.
Akhirnya mereka pun mendekati rombongan tenaga medis itu yang juga baru sampai di parkiran kafe.
"Ayok kita ke dalam," seru Sita senang. Matanya dari tadi terus menatap dokter Eri, dokter muda spesialis jantung. Benar benar suami idaman.
Tapi mata Sita dan Dewi jadi kecewa mendengar sapaan dokter idola mereka ke Wina.
"Ngga makan siang bareng pacar?"
Wina tersenyum kecil.
"Engga."
"Jadi penasaran sama pacarnya Wina," sela dokter Safa ceria.
Di antara tiga gadis di depannya, cuma dengan Wina dia merasa cocok. Apalagi melihat make up kedua teman Wina. Tiap minggu kayaknya belinya saking tebalnya. Sedangkan Wina sama seperti dirinya hanya menggunakan bedak tipis saja.
Wina lagi lagi tersenyum dan ngga menjawab.
"Pacarnya mantan pembalab," cerocos Sita. Antara mangkel dan sengaja memberitahu kalo Wina sudah ada yang punya.
"Oiya? Ngga nyangka," sahut Dokter Ilham sambil menatap intens pada Wina.
"Udah jangan dibahas. Ayo kita ke dalam," lerai Gaga yang tau Wina merasa ngga enak.
Dasar, jadi cewe tenang dikit ngapa. Kalo gitu cowo juga ngeri, cibirnya membatin.
"Iya, ayo," sambut dokter Lia yabg langsung menggamit lengan kekasihnya dan melangkah ke dalam kafe.
Wina pun melangkah di samping dokter Safa diikuti dokter Eri dan dokter Ilham.
"Eh, aku kok merasa dua dokter ini suka dengan Wina ya," ucap Sita kesal.
Dewi hanya diam. Walau dia juga merasa begitu. Tapi dia tau, Wina sama sekali ngga melakukan apa apa buat menarik perhatian.
"Makanya jadi perempuan itu yang pelan pelan. Jangan grasa grusu," sindir Adhi sambil melewati keduanya.
"Huuu," sembur Sita kesal.
Dewi hanya diam. Mumgkin benar juga kata kata Adhi, dia dan Sita terlalu agresif.
Akhirnya keduanya menyusul yang lainnya ke dalam kafe.
"Safa dan Adhi udah dekat juga ya," goda dokter Ilham melihat keduanya duduk bersisian.
Adhi dan Safa hanya tersenyum.
Tanpa setahu yang lain, keduanya cukup sering ngopi bareng.
__ADS_1
"Kok Tedi ngga ikut?" tanya Adhi ingin tau.
"Rapat dia dengan direktur rumah sakit," kata dokter Lia sambil melirik dokter Eri yang terlihat cuek.
"Rapat pertanggungjawaban ya," tebak Sita.
"Iya," sahut dokter Lia manis.
Kini mereka pun sibuk dengan makanan yang sudah tersaji.
"Kapan kapan kita liburan ke vila dokter Eri," tawar dokter Ilham.
"Dokter Eri punya vila?" tanya Sita antusias.
"Boleh dok," lanjutnya lagi dengan penuh semangat.
Dokter, punya vila. Pasti kaya, tebak Sita dalam hati.
"Boleh," jawab dokter Eri santai.
"Pasti asyik nih," respon Sita lagi lagi excited.
"Iya, Vilanya bagus. Yang di Bogor, kan, dokter?" sambut dokter Safa.
"Iya."
"Kamu pernah ke sana?" tanya Adhi kepo.
"Kita udah dua kali nginap di sana. Betah banget," puji dokter Safa lagi.
"Boleh dong kita ikut," ucap Dewi ikut merespon.
"Boleh dong," sahut dokter Ilham membuat Dewi senang.
Ngga dapat dokter Eri, dokter Ilham juga ngga pa pa, batin Dewi senang
"Gimana Ga. Kamu mau, kan?" tanya dokter Lia pada kekasihnya.
"Aku setuju. Apalagi yang punya vila udah oke," tanggap sambil menggenggam tangan kekasihnya.
"Aku juga mau ikut," tukas Adhi sambil melirik tangan bosnya.
"Cepat cepat diresmikan, Bos," ganggu Adhi membuat yang lain tertawa.
"Sabar aja," sahut Gaga ringan.
"Bulan depan aja gimana," tambah Gaga lagi. Kalo bulan ini dia sedang sibuk memeriksa hasil kerja semua divisinya.
"Boleh,,,, dua hari ya, sabtu minggu. Gimana, Er?" respon Ilham.
"Gue oke aja. Jangan khawatir. kamarnya banyak, kok. Nanti tidurnya misah," kata dokter Eri ketika melihat Wina yang belum juga merespon.
Mantan pembalap? Siapa ya, kepo dokter Eri dalam hati.
__ADS_1
"Pada ikut semua?" tanya dokter Safa sambil menatap Wina yang masih diam.
"Win, kamu ikut ya," ajak dokter Safa berharap. Ngobrol dengan Wina mungkin lebih menyenangkan dari dua wanita yang suka membahas foundantion ini.
"Kalo.saya belum tau. Lihat nanti ya," tolaknya halus.
Apa mungkin Ardan akan memberikannya izin?
"Pacarnya ngga apa dibawa," ucap dokter Eri.
"Iya, kita sekalian kenalan," sambung dokter Ilham
Wina hanya tersenyum saja.
"Iya, diajak aja, Win," ucap Sita bersemangat.
Ketambahan satu lagi pria tampan dan kaya, pasti sangat menyenangkan.
Wina ngga menjawab hanya tersenyum saja.
"Er, mamanya dokter Dina tadi kontrol jantung ya," tanya dokter Ilham mengalihkan topik.
Walaupun suaranya pelan, tapi Wina terkejut juga mendengarnya.
Apa ibunya Dina? Atau namanya aja sama? batinnya curiga
"Iya."
"Kasihan juga ya," kata dokter Ilham pelan.
"Siapa yang sakit?" tanya Sita kepo.
"Ibunya teman. Biasa pasien tetap dokter Eri," sahut Dokter Ilham berahasia.
Sita yang mengerti dan ngga mau tau lebih dalam lagi, tersenyum.
"Sudah cocok sama dokternya, jadi ngga mau ganti dokter ya," responnya ringan.
"Iya, aku juga kalo udah cocok ke satu dokter, pasti ke dokter itu aja," tanggap Adh.
"Benar, soalnya kecocokan dokter dan pasien menimbulkan sugesti juga. Jadi pasien juga akan cepat sembuh," terang
dokter Safa panjang lebar.
"Bener itu," kata Dewi setuju. Dia juga begitu.
Wina membuka hpnya yang bergetar. Ternyata ada pesan masuk dari Mama Ardan. Agak malas malasan dia buka.
Hatinya memcelos. Rasanya kesal banget melihat beberapa foto Ardan yang sedang menikmatu sotonya bersama gadis sangat cantik.
Keduanya terlihat akrab.
Ini kerjaan kamu sampai ngga bisa ngajak aku makan siang? batin Wina keki.
__ADS_1
Ekspresi kesal Wina pun dilihat dengan jelas dokter Eri yang sudah menatapnya sejak Wina mengutak atik hpnya. Dia tersenyum miring.
Lagi cemburu?