
"Kamu sadar nak," seru mama Wina kaget.
Mamanya membelai rambutnya dengan lembut dan penuh sayang. Anak tunggalnya akhirnya sadar kembali.
Ini hari ketiga, syukurlah, batinnya penuh haru.
Bukan hanya mama dan papanya yang ada di sekitarnya, juga ada Oma Rahayu, dokter Eri, mama dokter Eri dan dua orang laki laki tua yang hampir sebaya dengan Oma Rahayu. Semuanya menatap senang melihat dia membuka matanya.
"Ma.... ini... di... mana....?" tanya Wina bingung sambil mengamati sekeliling kamarmya.
Kamar yang sangat mewah. Sangat luas sekali.
"Ini di rumah Oma, sayang," kata Oma Rahayu dengan wajah lembut membuat Wina tambah bingung. Seingatnya Oma Rahayu selalu berwajah kesal padanya karena selalu saja membangkangnya.
Mengingat itu Wina jadi tersenyum membuat orang orang yang mengelilingi ikut tersenyum.
"Kamu heran ya," kata Oma Rahayu sedikit judes membuat Wina kembali tersenyum.
Mama papa dan orang orang yang ada di situ tersenyum geli.
Pantas aku senang berdebat denganmu. Ternyata kamu cucuku, batin Oma Rahayu penuh sesal. Karena sama sekali ngga menyadari ikatan mereka selama ini.
Betapa banyak waktu terbuang. Betapa lamanya cucunya harus hidup seperti orang susah dan di hina hina orang. Oma Rahayu ngga akan pernah memaafkan orang orang yang sudah menyakiti cucunya. Apalagi sampai berani berniat menghilangkan nyawa cucunya.
"Makasih.... nek," ucap Wina pelan membuat senyum di bibir tua Oma Rahayu mengembang manis.
"Sama sama," jawabnya masih dengan suara judesnya.
Wina kembali menatap orang orang yang berada di sekitarnya yang kali ini melebarkan senyumnya. Mencoba berpikir.
Seingatnya dia sedang menyeberang dan ada truk yang datang ke arahnya dengan kencang. Ardan datang untuk mendorong tubuhnya, tapi dia malah memeluknya.
Ardan, jantung Wina berdetak kencang. Ardan, kamu dimana? Kamu ngga apa apa?
Air mata bergulir pelan di kedua pipinya.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya mama Ardan panik melihat putrinya yang tadi tersenyum tiba tiba meneteskan air mata.
"Iya, apa yang sakit?" tanya papa yang berada di sampingnya ikut panik.
"Eri, telpon dokter Michael," perintah Oma Rahayu.
"Ya, Oma," sahut dokter Eri sambil beranjak pergi.
"Ardan....," kata Wina pelan tapi masih bisa di dengar semua orang yang ada di situ, bahkan dokter Eri berhenti melangkahkan kakinya
Suasana terasa hening.
Lima detik.
Delapan detik.
"Ardan udah sadar sayang. Malah sejak dua hari yang lalu," kata mama Wina lembut.
"Syukurlah," bisik Wina lega. Dia takut sekali kalo sampai kehilangan Ardan. Kalo Ardan ngga selamat. Salahnya memaksa menyeberang sendiri. Padahal Ardan menawarkan membawa mobilnya ke seberang. Dia sungguh keras kepala.
Hati Mama terasa sedih melihat wajah senang anaknya. Papa pun sampai memalingkan wajahnya. Sulit baginya untuk memecahkan hati putrinya kalo putrinya sampai tau kenyataan yang sebenarnya.
"Eri, kenapa diam di situ. Panggil dokter Michael," titah Oma Rahayu.
"Ya Oma," kata dokter Eri kemudian melanjutkan langkah kakinya. Dia harus cepat menemui Ardan, sebelum laki laki yang dicintai sepupunya pergi.
__ADS_1
Kali ini Eri sudah ngga bisa menahannya lagi. Segala rahasia ini terasa berat.
"Wina sayang, kenalkan ini Opa Megantara, dan ini Opa Hadikusuma," ucap Oma Rahayu mengenalkan.
Wina tersenyum walaupun hatinya masih terasa aneh. Keberadaannya di sini pun membuat dia bingung. Apalagi sikap Oma Rahayu yang lebih 'ramah' dengannya membuatnya makin bertanya tanya dalam hati.
Dua orang yang disebutkan menatapnya dengan maata uang berkaca kaca.
"Oma akan mendomgeng," kata Oma Rahayu membuat kening Wina berkerut dengan bibir tersenyum tipis.Tapi yang membuatnya heran, mama dan papanya dam orang orang yang ada di sekitarnya menatapnya serius.
"Nenek... mau.... dongeng... apa...?" tanya Wina sangat heran.
"Kamu ini, sakit parah gini masih aja tetep cerewet," omel Oma Rahayu sambil mencibir.
"Denger baik baik. Ternyata dongeng cinderela itu ada. Bedanya bukan dinikahi pangeran, tapi karena asli keturunan konglomerat."
DEG
Jantung Wina berdebar dan rasanya aneh.
Kenapa bukan pangeran? firasat jelek yang datang tiba tiba membuat dirinya menjadi ngga tenang.
Tadi apa kata nenek dokter Eri ini? Keturunan konglomerat? Konglomelarat kali, nek, tawanya dalam hati walau debaran jantungnya makin menjadi.
"Mama sama papamu sebenarnya adalah anak orang kaya yang memghilang dan mencoba hidup menjadi orang miskin."
Mata Wina sampai membulat karenanya.
Ini sungguhan atau beneran dongeng? batinnya bertambah ngga mengerti.
Wina menatap mama dan papanya bergantian. Kedua orang itu tersenyum maklum.
"Ini papanya mama sayang," ucap mama pada laki laki tua berkemeja biru di dekat mamanya.
Wina menatap keduanya kagum. Sama seperti Oma Rahayu, keduanya masih gagah dan gurat gurat ketampanannya masih tersisa di wajahnya.
Memang mirip dengam keduanya orang tuanya.
Kepala Wina terasa pusing. Apa maksudnya? Setiap Wina bertanya kenapa dia ngga punya kakek dan nenek, orang tuanya selalu menjawab kalo neneknya udah tiada. Tapi ngga pernah mau bercerita tentang kakeknya.
Sekarang malah dua duanya muncul. Tapi kenapa harus ada nenek dokter Eri ini juga? Pikiran buruk kembali melintas di kepalanya. Ngga mungkin kan mereka dipaksa untuk dijodohkan? Wina benar benar panik dengan segala macam praduga di kepalanya.
"Dulu papamu terjerat narkoba sangat parah. Makanya papamu membawa mamamu menghilang agar para bandar itu ngga menghubunginya," jelas Oma Rahayu memnbuat papa Wina tersenyum tipis.
Benarkah? Wina menatap papanya ngga percaya.
"Dulu papa anak yang susah di atur. Untung ada mamamu yang selalu sabar bersama papa. Ada kamu putri kecil papa yang sangat manis. Makanya papa bisa jadi orang yang baik," ucap papa Wina lembut.
Mama menggemggam tangan suaminya dengan penuh perasaan.
Wina tersentuh mendengarnya.
"Wina... sayang... papa.... mama...."
"Iya sayang. Papa dan mama juga sangat sayang sama kamu," ucap Papa lembut. Mama pun memganggukkan kepala.
"Kabar baiknya, papamu itu ternyata keponakan ku yang menghilang," kata Oma Rahayu menambahkan.
Opa Megantara tersenyum mendengar kata kata kakaknya. Beliau ngga menyangka kakaknya yang super jutek itu bisa dicuri hatinya oleh Wina, cucunya yang baru bisa ditemuinya.
Haaahh, bahaya ini, batin Wina tanpa sadar menampilkan wajahnya yang meringis.
__ADS_1
"Kenapa?.Kamu ngga suka?" omel Oma Rahayu galak.
Wina tersenyum. Tapi tiba tiba dadanya terasa sakit. Wina berusaha menahan tapi ngga bisa.
"Ada apa Wina?" tanya mama dan papa khawatir melihat wajah anaknya yang pucat seperti menahan sakit.
"Dokter Michael mana? Eri mana?" teriak Oma Rahayu cemas.
"Sudah datang, Ma," kata Tasya tergopoh gopoh menghampiri mamanya bersama dojter Michael dan para asistennya.
Dada Wina terasa sangat sakit.
Ngga lama kemudian Wina pun memuntahkan darah segar.
Matanya terpejam. Keadaan kembali diselimuti kepanikan. Dokter Michael yang baru datang langsung memeriksa Wina.
"Wina, kenapa dia?" Oma Rahayu yang paling panik.Tasya-mama dokter Eri menahan bahu mamanya yang hampir jatuh
Dokter Michael yang di datangkan dari Amerika bersama asistennya dengan cepat menangani Wina.
"Aku ngga akan membiarkan wanita iblis itu keluar dari penjara," sentak Opa Hadikusuma ngga dapat menahan emosinya.
"Betul. Dia harus menerima ganjarannya," kata Opa Megantara ngga kalah marahnya.
Keduanya semakin kalut melihat keadaan cucu yang baru mereka dijumpai dalam keadaan cukup parah.
Mama memangis dalam pelukan suaminya. Begitu juga Tasya yang mencoba kuat untuk menenangkan mamanya-Oma Rahayu yang benar benar panik dan menangis.
"Kita harus segera secepatnya membawa Wina ke Amerika," kata dokter Michael setelah memeriksa Wina.
"Ya, dokter. Baskoro, kamu juga harus bersiap untuk operasi," titah Opa Megantara.
Beliau dan keluarga besarnya susah tau tentang penyakit anaknya.
"Iya Pa," kata Papa Wina patuh.
"Kamu juga harus sembuh, Bas," kata Opa Hadikusuma dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dadanya. Cucu dan menantunya harus mendapatkan pengobatan intensif.
Mama Eri yang tau tujuan Eri untuk menemui Ardan, langsung mengetikkan pesan.
"Tasya, kamu ngapain. Kita harus segera berangkat!" seru Oma Rahayu kesal melihat anaknya masih sibuk dengan hpnya.
"Ya, ma," ucapnya sambil menekan tombol send setelah mengirim pesan dengan sangat singkat dan cepat untuk anaknya.
Di rumah menjadi sangat sibuk. Mereka harus segera ke bandara. Papa Eri dan adiknya sudah menunggu di pesawat pribadi mereka.
Mama menghampiri Wina yang kini sudah membuka matanya dan menatap sayu mamanya yang menangis.
Dengan lemah, Wina menggerakkan tangannya memegang lengan mamanya.
Hatinya sedih melihat mamanya menangis.
Maaf ma, bisiknya dalam hati.
Andai saja dia tidak egois, tetap menurut dengan Ardan, tentunya mereka akan baik baik saja.
Dia bodoh dan egois. Ardan, aku ingin ketemu kamu. Aku takut ngga bisa lihat kamu lagi.
Air matanya menetes perlahan.
Mama Wina mengusapnya lembut.
__ADS_1
"Kamu harus kuat. Ardan akan menunggu kamu," bisik mama pelan di telinga putrinya yang kemudian tersenyum sebelum memejamkan matanya.